“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
[Ar-Ra’d/13:11]
~~~~~~~~~~
SUASANA koridor kelas XII kini telah sepi, hanya ada satu atau dua murid yang melintas dan berlalu begitu saja.
Sementara Alya, gadis itu masih berada di dalam kelas. Kelasnya telah sepi, semua murid telah pulang kecuali Alya. Gadis itu menarik napas pelan, lalu membuangnya. "Bismillah, ini demi Gina, Al. Kamu harus bisa bantu dia." gumam Alya pada dirinya. Ia mencoba meyakinkan diri untuk bertemu dengan Zikri dan Gina. Ya, semoga saja lelaki itu tidak membohonginya.
Alya berdiri dari tempatnya, tangannya bergerak merapikan masker yang menutupi separuh wajahnya. Dan setelahnya ia berjalan meninggalkan kelas untuk segera ke UKS.
Sekolah sudah sepi, jadi Alya bisa berjalan dengan leluasa tanpa takut berhadapan dengan murid lain. Tapi Alya tetap berjaga-jaga, mana tahu ada siswa yang lewat bisa-bisa mereka bertubrukan.
Langkah Alya berhenti tepat di depan pintu UKS. Ingin masuk tapi Alya ragu, mau balik juga sayang, Alya telah berada di sini.
Dengan ragu tangan Alya bergerak membuka knop pintu sedikit, Alya menintip terlebih dahulu untuk memastikan bahwa Gina ada di sana. Dan benar saja, Gina berada disana. Dengan tubuh berbaring di kasur sembari memainkan handphone di tangannya.
"Kalau mau masuk, masuk aja." suara lelaki dari belakang Alya membuatnya tersentak kaget. Sontak Alya langsung berbalik dan melihat orang itu. Betapa kagetnya dia ketika menyadari orang itu adalah Zikri.
Alya langsung menundukkan pandangannya. Lalu berkata, "Maaf. Aku gak ngintip," ucapnya pelan.
Terdengar kekehan Zikri di depannya. "Gue becanda, kok. Yaudah masuk, Gina udah di dalam." ucap Zikri setelahnya.
Alya mengangguk pelan, lalu membuka pintu UKS lebih lebar dan langsung masuk. Di ikuti Zikri di belakangnya.
Langkah Alya terhenti tepat di samping kasur, sorot matanya menatap Gina sendu bercampur kesal.
Gina yang baru menyadari adanya orang lain di sana, lantas menurunkan handphonenya, ia menatap Alya lalu sebuah garis tercetak di kedua sudut bibirnya. Tubuhnya bergerak bangkit dari tempatnya lalu langsung memeluk Alya erat.
"Al, gue tahu lo gak bisa marah sama gue. Maaf, ya." ucap Gina. Pelukannya semakin erat, bahkan ia juga meneteskan air matanya.
Alya sedikit terharu, tapi cuma sedikit. Sisanya lagi kekesalannya terhadap Gina. Di balik pelukan keduanya, tangan Alya bergerak mencubit lengan Gina, sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Lo kok nyubit gue? Sakit tau, Al. Lagi sedih-sedih juga." ucap Gina sambil mengelus tangannya yang tadi di cubit Alya.
Alya hanya menggeleng pelan. Ia sama sekali tak menyangka dengan Gina, di tengah-tengah masalah yang menimpa dirinya ia masih bisa bertingkah seolah dia baik-baik saja. Mungkin Gina lupa kalau tadi pagi dia menangis di dalam kelas sampai Alya membawanya ke UKS.
"Heh! Disini bukan cuma ada kalian, gue juga ada." Zikri kesal karena terlihat seperti nyamuk. Di hadapanya dua gadis sedang berpelukan melepas rindu seperti orang yang tidak bertemu lima tahun lamanya.
Gina terkekeh. "Lo mau ikut?" tanyanya iseng.
Zikri mengangguk antusias, sementara mata Alya membulat kaget.
"Sini-sini," pinta Gina.
"Astaghfirullah. Gin, kamu apaan sih," Alya mengucap, badanya sedikit mundur menjauh dari Zikri yang kini tengah berjalan ke arah mereka.
Gina tersenyum penuh arti, tangannya bergerak mengambil bantal dari belakangnya. Dan sebelum Zikri semakin mendekat, bantal tersebut telah melayang dan menampar pelan wajah Zikri.
"Peluk tu bantal." ucap Gina di sertai tawa kerasnya.
Alya bernapas lega sambil terkekeh pelan. Ia pikir Gina serius dengan ucapanya, ternyata Gina hanya ingin menjaili Zikri dan kesalnya Alya juga ikut tertipu dengan ulah sahabatnya itu.
Alya menatap Gina salut. Sungguh Gina adalah gadis yang kuat, di saat yang paling menyedihkan seperti ini pun, ia masih bisa tertawa. Seolah memberi tahu bahwa dia baik-baik saja. Tapi di balik tawa itu, Alya tahu ada luka yang teramat besar di dalamnya. Luka yang selalu berhasil di tutupi oleh Gina, tapi sayangnya luka itu hanya di tutupi tidak di sembuhkan.
Entah sampai kapan Gina kuat dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini, mungkin untuk sekarang ia masih mampu menghadapi semuanya tetapi tidak tahu di waktu yang akan datang.
Alya terus saja menatap Gina lekat, dilihatnya kedua mata sahabatnya itu, tampak terlihat jelas senyum kepalsuan di tawanya. Alya tahu bahwa Gina sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja, ia ingin tetap terlihat kuat walau pada kenyataannya ia sangat rapuh.
Gina yang menyadari kalau Alya terus menatapnya lantas melambaikan tangannya tepat di depan wajah Alya.
"Al, lo kenapa? Kok serius banget liatin gue," ucapnya.
"Hah? Eh, nggak, kok Gin."
"Heleh, bener?" Tanya Gina lagi.
Alya diam sesaat lalu memeluk Gina erat. " Aku salut sama kamu, di tengah permasalahan yang kamu hadapi kamu masih bisa tersenyum. Stay strong ya, Gin, aku bakalan selalu bantu kamu," jelas Alya yang berhasil membuat Gina terharu bahkan meneteskan air matanya.
***
Alya, Gina, dan Zikri, kini tengah berada di rooftop SMA CADIKA. Ketiganya masih diam, fokus melihat kendaraan yang berlalu lalang di bawah mereka.
Zikri yang berada di sebelah kiri Gina, melirik sekilas. Tak ada tanda-tanda kedua gadis itu untuk membuka suara. Jarak antara Zikri dan Gina kurang lebih dua meter. Alya lah yang memintanya, bukan apa-apa walaupun mereka berdua sepupuan, bukan berati mereka bisa dekat-dekat. Karena mau bagaimana pun keduanya bukan mahram.
Kini gantian, Alya lah yang melirik Gina. Masih sama, tidak ada tanda-tanda Gina bersuara. Padahal, saat ini dia lah yang menjadi narasumber untuk Alya dan Zikri.
Alya kembali memusatkan perhatiannya pada kendaraan yang ada di bawah. Tak lama, terdengar hembusan napas gusar dari Gina. Alya melirik Gina lagi. "Gin," panggil Alya pelan.
Lagi-lagi Gina menghembuskan napasnya. "Al, udah ya gak usah di bahas lagi masalah gue. Kalau memang ini takdir gue, gue bakalan terima." Gina tampak menyerah. Ia tidak mau Alya terlibat dalam masalahnya, karena ia tahu betul bagaimana tabiat orang tuanya.
"Gak. Gue gk setuju, pokoknya kita harus buat orang tua lo sadar." Zikri yang berjarak dua meter dari Alya dan Gina, lantas bersuara. Mengucapkan bahwa dia tidak setuju dengan ucapan sepupunya itu.
Gina menatap Zikri remeh. "Ki, lo mau bantu gue? Sadar, Ki. Kita berada di posisi yang sama, lo bantui gue trus gimana sama nasib diri lo sendiri?" tanya Gina sinis.
Alya hanya mendengar perkataan Gina. Ia paham betul apa maksud sahabatnya itu.
"Iya gue tahu. Tapi kalau orang tua lo sadar, gak menutup kemungkinan orang tua gue juga sadar." ucap Zikri dari tempatnya. Netranya menatap Gina lekat.
Gina menunduk. Omongan Zikri ada benarnya juga. Papa mereka adalah abang adik, mereka berdua mempunyai sifat yang sama. Jadi jika orang tua Gina sadar, kemungkinan orang tua Zikri juga akan sadar.
Kini ketiga remaja itu kembali diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Insya Allah aku akan bantu kalian." Alya berkata mantap. Tatapannya melirik Zikri sekilas lalu setelahnya menatap Gina sembari menganggukkan kepalanya, seolah memberi tahu bahwa mereka pasti bisa.
Alya tahu ini bukan lah suatu hal yang mudah. Menyadarkan dua orang yang lebih dewasa dari mereka, sementara usia mereka masih sangat lah belia. Tapi niat Alya yang teramat besar membuat dirinya semakin yakin untuk membantu Gina dan Zikri.
Air mata Gina menetes tanpa di minta. Di saat ia sudah menyerah, mencoba untuk menerima takdir di saat itu juga Alya hadir. Memberinya semangat, meyakinkahnya bahwa mereka bisa merubah takdir yang belum sempat terjadi.
Gina memeluk Alya erat, air matanya semakin deras. Bahkan untuk mengucapkan terima kasih pun dia tidak bisa.
"Kita pasti bisa, Gin. Percaya, Allah selalu bersama dengan orang-orang yang mau memperbaiki diri." ucap Alya meyakinkan.
Gina hanya mengangguk di balik tubuh Alya. "Terima kasih... Terima kasih banyak." ucap Gina terputus-putus.
Sementara Zikri, matanya melihat kedua gadis itu tanpa berkedip. Kedua sudut bibirnya terangkat. "Thanks, Alya." gumamnya pelan. Mungkin jika tidak ada Alya, bisa jadi Gina akan menyerah dengan sendirinya. Dan takdir mereka pun akan berjalan begitu saja, tanpa adanya persetujuan dari diri mereka sendiri.
Kini Zikri makin di buat penasaran dengan Alya, melihat gadis belia sepertinya bisa begitu konsisten dan berani sangat lah jarang di temukan saat ini.
Bagi Zikri Alya seperti sebuah matahari yang menjadi sumber serta kekuatan untuk kehidupannya dan Gina. Mungkin ini terlalu terdengar berlebihan, terlebih Zikri baru mengenal Alya, tetapi entah kenapa ia sangat yakin dengan Alya. Ia percaya bahwa Alya akan membawa perubahan untuk hidupnya dan juga Gina.
[]