9. Gina dan Zikri

1272 Kata
Kamu cewek aneh. Tapi anehnya aku malah tertarik denganmu -ALYA- ~~~~~~ GINA melihat kepergian Alya dengan rasa bersalah. Ia tahu, Alya pasti berpikir hal buruk tentangnya. Bahkan bisa jadi, ia juga akan membenci Gina. Sorot mata Gina beralih menatap Zikri yang masih diam seribu bahasa. Gina kesal dengan Zikri, ini semua gara-gara dia. Tadi Zikri datang menghampirinya, awalnya ia mencoba untuk menyemangati Gina. Tapi itu tak berlangsung lama, setelah beberapa menit berlalu, Zikri malah meledeknya sehingga membuat Gina kesal setengah mati dengan pria itu. Karena kesal, Gina mencoba untuk melempar Zikri dengan bantal, tapi Zikri malah merampas bantal itu dan setelahnya langsung memeluk Gina sambil berkata, "Tetaplah jadi cewek pecicilan seperti ini, lo gak cocok jadi cewek kalem." menyebalkan memang, tapi percayalah itu adalah kalimat penyemangat untuk Gina. Dan karena itu juga, Gina jadi terbawa suasana. Ia tidak melepaskan pelukan Zikri dari tubuhnya, tapi sialnya Alya malah melihat mereka berdua. Gina sangat yakin, Alya pasti berpikiran aneh tentangnya. "Woy, tanggung jawab lo." ucap Gina. Tangannya bergerak mencubit lengan Zikri sehingga membuatnya meringis kesakitan. "Aishhh, tanggung jawab apaan?!" kesalnya. Gina menatap Zikri kesal, matanya melotot seperi mau keluar. "Lo datangin Alya, terus jelasin semuanya ke dia." geram Gina. "Jelasin apaan? Lo kok berlebihan banget, udah kaya orang yang kepergok selingkuh aja." "Heh! Alya itu satu-satunya sahabat gue yang paling alim, gue gak mau dia mikir yang aneh-aneh." "Apaan, sih Na. Lebay banget," ucap Zikri, tangannya mengambil bantal lalu melemparkan ke arah Gina. Gina kesal setengah mati dengannya, "Kalo lo gak pergi, gue gak mau kenal lo lagi." ancam Gina. Nentranya menatap Zikri menusuk. Zikri berdecak kesal, jika sudah begini Gina terlihat menyeramkan bahkan lebih seram dari harimau. "Iya, deh. Tapi, si Alya itu kemana coba? Ya kali gue keliling-keliling nyari dia," putus Zikri. Kali ini dia memang harus mengalah. "Biasanya kalau kayak gini, Alya bakalan pergi ke belakang sekolah. Lo cek aja dulu, kalau gak ada cari di perpustakaan, atau di taman sekolah yang tempatnya agak sepi gitu. Karena Alya nggak suka tempat ramai," jelas Gina. Ia sangat hafal tempat-tempat yang menjadi pelarian Alya ketika di sekolah. Zikri hanya mengangguk lalu berjalan keluar, sebelum keluar tangan jailnya mengacak rambut Gina gemes, lalu berlari meninggalkan gadis itu yang sudah sangat kesal dengannya. *** Kicauan burung terdengar merdu di telinga Alya, di tambah semilir angin menghempaskan jilbab yang di pakainya. Sesekali Alya merapikan jilbab yang tak tentu arah, lalu mencabut rumput-rumput kecil yang tumbuh di sekitarnya. Taman sekolah kini mulai terlihat sepi, mungkin karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, tetapi Alya masih memilih berdiam diri di sana. Entah kenapa kali ini dia sangat betah di taman yang sudah depi ini. Setelah kejadian tadi, Alya masih kecewa dengan Gina. Alya memang mengetahui bagaimana tabiat sahabatnya itu, tapi ini kali pertamanya Alya melihat langsung kelakuan Gina yang sangat tidak mencerminkan seorang muslimah. "Apa enaknya sendirian di tempat yang sepi kayak gini?" suara seorang cowok dari belakang Alya, sontak membuatnya terkejut. Alya terdiam kaku, ia sama sekali tak bergerak. Hingga langkah kaki cowok itu terdengar mendekatinya. Dan setelahnya duduk di samping Alya. Alya semakin terkejut, ia bangkit dari tempatnya dan bersiap untuk pergi. Tapi, suara cowok itu mengentikannya. "Gue sama Gina sepupuan," ucap cowok itu cepat. Refleks, Alya terdiam. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, ia juga tak berbalik untuk melihat cowok itu. "Nana— eh, maksud gue Gina nyuruh gue ke sini. Dia tahu kalau lo pasti ada di sini, dan dia nyuruh gue buat jelasin semuanya ke elo. Salah satunya kalau gue sama dia itu sepupuan." lanjut cowok itu lagi. Alya masih tak berkutik. "Duduk dulu, napa. Kalau gak mau ngeliat gue atau dekat-dekat sama gue, yaudah lo boleh duduk jauh dari gue, gue juga gak bakalan dekat-dekat sama lo." cowok itu menggeser tubuhnya, memberi jarak pada Alya. Oke, Alya akan turuti ucapan cowok itu. Jujur ia juga penasaran dengan cowok itu— eh, maksudnya dengan cerita Gina yang ingin di jelaskannya. Dengan pelan, Alya duduk di tempatnya berdiri tadi. Alya masih membelakangi cowok itu, ia tak mau berhadapan atau melihat wajah cowok itu. "Kalau memang mau belakangi gue gak papa. Yang penting lo dengeri penjelasan gue." ucap cowok itu lagi, ia mencoba memahami Alya. Alya hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia mendengar helaan nafas cowok itu, yang terdengar gusar. "Oke gue mulai. Pertama lo harus tau dulu nama gue. Gue, Zikri Al-Pandri, lo bisa panggil gue Zikri." jelasnya. Ia menjeda kalimatnya sebentar, "Gue sepupu kandung Nana, lo gak tau Nana kan? Nana itu ya Gina, cuma dari kecil gue emang panggil dia Nana. Oke lupain, mungkin lo gak tahu hal itu karena Nana memang gak pernah cerita dengan siapa pun. Gue tahu gimana menderitanya Nana selama ini yang mungkin lo gak tahu. Apa lo tahu alasan Gina tidak berhijab?" tanya cowok itu setelahnya. Alya menggeleng pelan. "Itu karena orang tuanya." jawab cowok itu. Lagi-lagi, ia menjeda kalimatnya. Mendengar jawaban cowok itu, membuat Alya mengeluarkan suaranya. "Maksudnya?" pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulut Alya. Zikri tampak tersenyum mendengarnya, "Orang tua Nana melarangnya untuk berhijab." jawab Zikri. "Aku masih belum paham dengan kalimat kamu," ucap Alya. "Oke gue jelasin. Orang tua Gina yang tidak lain tante dan om gue, menjodohkannya dengan anak dari rekan kerja mereka. Nana di paksa untuk menjalin hubungan dengan cowok itu, padahal Nana gak mau. Dan, apa lo tahu? Nana sangat ingin berhijab sama seperti lo, tapi lagi-lagi orang tuanya melarang," "Kenapa mereka melarang Gina untuk berhijab.  Mereka pasti tahu, hijab itu wajib untuk seorang muslim, apalagi jika sudah baligh," tanya Alya masih tak percaya. "Cowok yang mau di jodohi sama Nana itu gak suka kalau Nana berhijab. Ia merasa Nana tak pantas berhijab, ia mau Nana bertampilan sexy di depannya. Menggunakan dress selutut, baju ketat, pokoknya semua yang membuat Nana terliht sexy. Cowok itu meminta seperti itu." jelas Zikri lagi. Jujur, Alya tak percaya. Apa mungkin orang tua Gina sejahat itu? Mereka rela menjual harga diri anaknya hanya demi uang. "Mungkin lo gak percaya dengan penjelasan gue. Tapi lo harus tahu, orang tua Nana itu sangat mencintai uang, kemewahan, jabatan, atau hal lainnya yang membuat mereka semakin kaya raya, ya sebenarnya emang gak beda jauh dengan orang tua gue. Dan mereka rela melakukan apapun, salah satunya mengorbankan putri tunggalnya. "Jika Gina menikah dengan cowok itu, maka orang tua mereka akan membangun perusahaan baru, mereka akan bekerja sama tentunya saling menguntungkan satu sama lain, Tanpa memikirkan bagaimana perasaan anaknya yang jelas-jelas hancur." jelas Zikri panjang lebar. Mendengar penjelasan itu, membuat air mata Alya jatuh. Ia tahu bagaimana hancurnya Gina, bagaimana menderitanya sahabatnya itu. Alya sama sekali tak menyangka hidup Gina sepedih ini. "Gue gak bisa jelasin semuanya sama lo. Kalau memang lo mau lebih jelas, lo bisa tanya langsung sama Nana. Biar dia yang jelasi semuanya, dan gue harap lo bisa bantu dia lepas dari semua masalahnya. Nana cuma bisa harapi lo, dia gak punya sahabat yang benar-benar tulus selain lo." lanjut Zikri lagi. Ia tahu Alya tengah menangis, terlihat dari punggungnya yang naik turun. "Iya. Nanti aku bakalan temui Gina," ucap Alya pelan. "Kalau lo mau temui dia, gue bisa bantui lo. Nanti pulang sekolah, lo bisa ke UKS, gue bakalan tahan dia di sana. Dan kita bisa cari tempat yang bisa buat Nana tenang dan meluapkan semua emosinya. Gimana lo mau?" tawar Zikri. Matanya menatap tubuh Alya yang masih membelakanginya. Alya sedikit ragu. Namun, sepersekian detik kemudian ia menangguk pertanda setuju. "Yaudah, ntar pulang sekolah gue sama Nana tunggu lo di UKS, ya." Alya mengangguk. Kemudian ia berdiri dari tempatnya. "Aku balik kelas, ya. Terima kasih." ucap Alya. Namun, sebelum pergi Zikri mengucapkan sesuatu. "Al, ijinin gue berteman sama lo," ucap Zikri lantang. Alya terdiam di tempatnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Zikri menatap Alya penuh harap. "Maaf." hanya itu kata yang keluar dari mulut Alya. Setelah mengucapkan itu, Alya berlari sekencang-kencangnya. Meninggalkan Zikri yang masih menatap punggung Alya yang kini semakin menjauh. "Lo cewek aneh, tapi anehnya gue tertarik sama lo." gumam Zikri pada dirinya sendiri. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN