Mungkin orang lain tak tahu apa yang kalian lakukan, tapi ingatlah Allah Maha Melihat segalanya. Dan, jangan lupa dua malaikat juga mengawasi bahkan mencatat segala perbuatan kalian.
-ALYA-
~~~~~
"Al, Lo balik ke kelas aja, gue nggak papa, kok," keduanya masih berada di UKS, sedari tadi Gina menyuruh Alya untuk balik ke kelas dan mengikuti pelajaran, tetapi Alya tidak mau karena ia tidak tega melihat Gina sendirian.
"Kamu beneran udah nggak papa?"
"Iya, Al, bener kok. Lagian kalau gue butuh apa-apa kan ada petugas PMR. Lo nggak usah khawatir, ya."
Alya mengangguk perlahan.
"Yaudah kalau gitu aku ke kelas dulu, ya. Nanti kalau sudah jam istirahat aku kesini lagi."
"Iya, Al. Thanks, ya."
Alya mengangguk lagi, lalu keluar dari ruang UKS. Saat perjalanan menuju kelas, Alya melewati lapangan utama, di sana ia melihat dua orang siswa sedang berlari mengelilingi lapangan. Ia tidak terlalu melihat wajah kedua siswa itu, tetapi menurutnya mereka pasti sedang di hukum karena telah melanggar peraturan sekolah.
Tidak mau memikirkan hal yang bukan urusannya, Alya memilih kembali melanjutkan jalannya hingga ia sampai di depan kelasnya.
"Permisi, Bu. Boleh saya masuk?" Ijinnya.
"Ohiya, silahkan masuk. Kamu dari UKS, ya?"
"Hehe, iya, Bu."
"Gimana keadaan Gina? Sudah baikan?"
"Iya, Bu, sudah kok."
"Yaudah kalau begitu kamu duduk ke tempat kamu, ya."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Alya duduk di tempatnya, beberapa sorot mata menatapnya seolah tidak suka. Alya tahu itu, karena bukan hanya di kelasnya saja banyak yang tidak suka dengannya bahkan beberapa murid yang beda kelas dengannya juga banyak yang tidak menyukai Alya.
Alya mencoba untuk tidak perduli dengan tatapan-tatapan tak suka itu, ia memilih untuk melanjutkan pelajaran yang sudah hampir ketinggalan.
Selama pelajaran berlangsung, Alya tidak fokus menatap guru Bahasa Indonesia yang tengah memberikan materi. Entah kenapa ia tak begitu mendengarkan penjelasan guru, matanya tak henti melirik bangku di sebelahnya yang kini tengah kosong. Ya, Gina tidak ada. Tadi, Alya meminta Gina tetap di UKS. Ia tahu, kondisi Gina yang terbilang kacau sangat tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan belajar. Dan alahasil, Alya duduk sendiri tanpa adanya Gina.
Tak lama, bel istirahat berbunyi menandakan waktunya istirahat. Bersamaan dengan itu guru menutup materi hari ini. Semua murid beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya dan segera ke kantin. Begitupun dengan Alya, Ia tampak sedang menyimpan alat tulis beserta bukunya di kolong meja. Setelah itu, Alya langsung memakai masker untuk menutupi separuh wajahnya. Alya bangkit dari tempatnya, sekarang ia harus menyusul Gina ke UKS karena ia tidak mau Gina merasa sendiri.
Selama di perjalanan menuju UKS, seperti biasa, Alya tak pernah memandang ke depan. Ia masih istiqamah menundukkan pandangannya sekali pun ia sering di jadikan bahan gunjingan. Seperti; itu anak sok alim banget, eleh sok pakai masker paling cuma mau nutupi wajahnya yang jelek, sok suci banget tuh anak padahal mah dalamnya siapa yang tahu. Dan, masih banyak lagi omongon jelek tentang Alya. Tetapi, Alya tak pernah memperdulikannya. Ia sama sekali tak perduli dengan pendapat mereka tentang dirinya, Alya selalu berperinsip 'tidak perlu mendengarkan omongan orang lain. Karena belum tentu dia lebih baik dari kita.' Itulah prinsip yang di anut Alya hingga saat ini.
Tak terasa Alya telah sampai di depan UKS. Pintu UKS tertutup, jadi Alya langsung membukanya. Dan saat bersamaan dengan itu, mata Alya melotot kaget. Pandangannya menatap Gina kecewa. Ya, Alya melihat Gina yang tengah berpelukan dengan seorang cowok dan sepertinya cowok itu kelas XII, karena ia memakai celana olahraga berwarna hijau, yang tidak lain pakaian kelas XII. Alya terdiam kaku, lidahnya keluh. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan Gina. Bahkan untuk memanggil Gina saja, ia tidak bisa. Dengan susah payah Alya mencoba untuk membuka suaranya, dan yang keluar hanya satu kata yaitu, "Gina."
Mendengar suara itu, sontak membuat Gina terhentak kaget. Ia langsung melepaskan pelukannya dengan cowok tersebut. Dan bersamaan dengan itu cowok tersebut berbalik untuk meliht Alya.
"Alya, lo sejak kapan di sana?" tanya Gina cemas.
Betapa shoknya Alya melihat cowok itu. Cowok yang tadi di peluk Gina, ialah cowok yang sama dengan yang kemarin ada di perpustakaan, cowok yang mengembalikan buku Alya, dan dengan lancangnya memegang tangan Alya.
Untuk beberapa detik Alya masih berpandangan dengan cowok itu. Hingga ia tersadar lalu langsung beristighfar.
"Sorry, Gin aku gak tahu." ucap Alya. Ia tak menatap Gina, kini ia kembali menundukkan pandangannya. "Gin, mungkin gak ada yang tahu apa yang kalian lakukan, tapi ingat Gin, Allah Maha tahu segalanya. Dan, aku harap kamu sadar ya, Gin, bahwa apa yang kamu lakukan adalah salah." lanjut Alya lagi.
"Al, lo salah. Gue gak ngapai-nga .... " belum sempat Gina menyelesaikan kalimatnya, Alya telah pergi meninggalkan mereka di sana.
Alya berjalan cepat meninggalkan UKS. Jujur ia kecewa dengan Gina, ia pikir setelah kejadian yang menimpanya, Gina akan sadar lalu mau berhijrah perlahan. Tapi dugaan Alya salah. Gina masih sama, sahabatya itu masih belum sadar. Entahlah, Alya bingung. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia sangat ingin membawa Gina ke jalan yang benar, tapi rasanya sangat sulit.
Lagi pula bukankah percuma jika Alya bersikeras untuk merubah Gina, tapi Gina sendiri tidak ingin berubah. Bukankah itu suatu hal yang sia-sia?
Langkah Alya berjalan menuju belakang sekolah. Entahlah, kenapa kakinya melangkah kesana. Tapi menurutnya tempat itulah yang bisa menenangkannya.
Di dalam hatinya ia terus berpikir segaligus berdoa, agar suatu saat nanti Gina menyadari segalanya dan perahan mau berjalan ke arah yang lebih baik. Ya, semoga saja.
Alya duduk di salah satu bangku yang ada di balik pohon besar belakang sekolahnya. Ia menatap keadaan sekitar yang terbilang sepi, tidak ada siswa siswi yang bermain di daerah ini. Mungkin mereka tidak tahu atau bahkan takut bermain di sekitar sini.
Alya duduk beberapa menit di sana, setelah hampir dua puluh menit ia memilih untuk kembali ke kelas. Baru saja Alya ingin berbalik seorang lelaki sedang tertidur di belakangnya membuat Alya kaget.
"Astaghfirullah, siapa kamu?"
Sontak lelaki itu terlonjak dari tempatnya. "Eh, anu-- maaf saya nggak tau ada orang di sini. Saya udah dari tadi disini."
Alya mundur beberapa langkah, memberi jarak dengan orang tersebut.
"Kamu udah lama disini?" Tanya orang itu lagi.
Alya tidak menjawab, ia hanya terus menunduk.
"Maaf, boleh minggir sedikit, saya mau pergi," ucap Alya setelahnya.
Lelaki itu hanya mengernyit bingung. Ia menganggap gadis yang ada di hadapannya ini sangat aneh.
"Nggak mau kenalan dulu, mbak? Nggak usah takut saya siswa sekolah ini juga, kok. Kebetulan emang lebih suka main di sini dari pada tempat yang terlalu ramai."
"Maaf, nggak bisa. Bisa saya pergi?"
Lelaki tersebut tak lagi menjawab, ia mengangguk perlahan lalu sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari Alya.
"Terima kasih," ucap Alya.
"Iya sama-sama. Hati-hati, mbak." Ucap lelaki itu.
Alya tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan sembari menundukkan pandangannya. Sementara lelaki itu terus menatapnya dengan tatapan aneh.
"Kok gue ngga pernah liat cewek itu, ya. Kenapa bisa aneh gitu tu cewek," gumam cowok itu setelah Alya sudah menjauh dan tidak terlihat lagi.
Sambil terus berjalan Alya melirik jam yang melingakar di pergelangan tangannya. Bel masuk akan berbunyi 20 menit lagi, berarti masih banyak waktu untuknya. Lagian ngapain juga ia di kelas, sementara Gina tidak ada bersamanya.
Alya memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman sekolah. Selain belakang sekolah, dan juga perpustakaan, Alya juga suka duduk di taman sekolah ini. Tetapi jika sepi aja, terkadang kalau rame Alya memilih untuk ke perpustakaan atau belakang sekolah karena tidak akan ada yang mengganggunya dan Alya lebih merasa tenang di sana
Alya memilih tempat yang tidak terlalu ramai dan berada sedikit menjauh dari keramaian, sehingga ia bisa duduk tenang di sana tanpa adanya gangguan dari orang-orang. Sesekali ia melihat beberapa siswa yang tertawa bersama teman-temannya, tanpa Alya sadari ia tersenyum melihat itu. Ia teringat kedekatannya dengan Gina, biasanya ia dan Gina juga seperti itu. Tetapi sekarang tidak, Gina sudah sangat membuatnya kecewa.
[]