"Mama tidak punya cucu cacat seperti dia. Dia bukan cucu mama! Ngapain kamu ajak dia ke mari?!" Bentak mamanya saat melihat Tarendra datang bersama Ara. "Mama...! Taren kan sudah bilang akan membawa Ara ke mari. Ara anakku, darah dagingku! Mau tidak mau, suka atau tidak, mama harus menerima Ara sebagai cucu mama. Ada darah Soemitro juga mengalir di tubuh Ara!" Tarendra tidak kalah emosi. Dia tidak mau lagi kehilangan Ara, tidak untuk kedua kalinya. Ara diam saja. Bingung, tak tahu harus bagaimana. Adhia semalam memang sudah memperingatkannya akan kemungkinan penolakan sang nenek. Beruntung Ara yang terbiasa hidup di panti, hingga dia tidak sakit hati lagi mendengar semua hinaan, semua cacian sang nenek yang sesungguhnya tidak pantas diucapkan. "Euum a... ayah... Lebih baik Ara pulang sa

