Pertemuan

1367 Kata
Pertemuan   Pagi ini aku duduk manis di meja makan Avika. Bang Andy serius makan, di pangkuannya ada koran pagi. Kapan dia baca kalau istrinya seligat Avika? Belum-belum sarapan telah terhidang, tinggal makan dan berangkat. Nanti sore hari pertama mengajar ngaji. Jarak dari rumahku kurang lebih satu jam. Capek juga setiap hari nyetir selama itu. Aku kepikiran untuk cari kos-kosan. Atau kalau ada sekalian mengontrak rumah agar punya privasi. Aku juga niatnya ingin cari kerja di sini. “Bang, kira-kira di komplek ini ada rumah yang dikontrakin nggak ya?” Bang Andy selesai makan. Dia membaca koran. “Sepertinya. Kenapa? Kamu ingin tinggal di daerah ini?” Bang Andy melipat surat kabar. Tangannya ia lipat di atas meja. Aku menggeser piring yang ada di hadapan agar Avika mudah untuk menjangkaunya. Maaf Vika, kali ini aku enggak bantu. “Rencanaku kerja di kota ini, Bang. Biar sekalian dekat ke TPA gitu.” Setelah piring yang ada di meja pindah ke bak cuci, Avika duduk lagi di sebelahku. “Nanti aku tanya-tanya tetangga, aku yakin masih ada rumah yang kosong.” Avika memberikan masukan. Bang Andy pun mengangguk setuju.   ***   “Chika, giliran kamu Nak. Sini.” Seorang gadis kecil empat tahun memakai baju panjang dan hijab instan dengan hiasan boneka di dadanya maju ke depan. Wajah putih dengan pipi tembam membuatku tak tahan untuk tersenyum. Anak ini cantik banget. “Sampai mana temannya tadi?” Aku menguji apakah dia menyimak atau tidak. Chika menunjuk batas yang kumaksud. Aku mengangguk. Chika pun mulai membaca iqro-nya. Setelah semua anak mendapat giliran, kudengar ada yang memanggiku. Bang Andy. “Chika biasanya dijemput neneknya, tapi tadi neneknya bilang nggak bisa jemput. Beliau minta tolong salah satu di antara kita yang antar, kamu bisa nganterin, Von?” Aku mengiakan dan sekarang minta persetujuan Chika. “Chika pulang sama Bunda Voni, ya?” Anak itu mengangguk. Dia cukup pendiam untuk anak seumuran yang biasanya cerewet dan bertanya hal apa saja pada orang dewasa. “Yuk, beresin tas Chika.” Kubantu mengumpulkan barang-barangnya ke dalam tas Frozen ungu. Saat memegang tangan kecilnya, perasaan sedih itu datang lagi. Cepat-cepat kuusir. Aku harus bisa merelakannya. “Rumah Chika yang mana, Nak?” Aku melajukan mobil dengan pelan ketika kami sudah berada di komplek yang diberitahu Bang Andy tadi. Chika diam. Mungkin dia belum melihat rumahnya. Setelah beberapa meter, Chika menunjuk sebuah rumah besar. Wah anak orang kaya rupanya. Aku meminggirkan mobil ke depan pagar. “Kita sudah sampai.” Kami keluar dari mobil. Seorang ibu membuka pagar. Kelihatannya itu nenek Chika. Ibunya pasti lebih muda dariku. Neneknya tersenyum ramah. “Assalamualaikum, Bu. Saya Voni.” Nenek Chika menerima uluran tanganku. “Baru, ya?” Nenek Chika melepaskan tas ransel cucunya dan ia pegang di tangan kiri. Tangan kanannya menggenggam tangan Chika. “Iya. Saya menggantikan Avika, teman saya yang sedang hamil.” Nenek Chika mengangguk sebagai respon jawabanku. “Terima kasih banyak sudah mengantarkan Yolin. Papanya sedang sakit dan tidak bisa ditinggal. Biasanya kalau bukan saya yang jemput, ya, papanya Yolin.” “Jangan terlalu dipikirkan. Saya senang bisa melihat Chika aman sampai di rumah, Bu. Mau maghrib, sebaiknya saya pulang sekarang.” “Hati-hati ya, Nak. Sekali lagi terima kasih.” Aku mengangguk. Dan segera masuk ke mobil. Sebelum pergi, aku mengedarkan lagi pandangan ke rumah besar Chika Yolinda. Kok jantungku bisa aktif gini waktu melihat ke balkon atas? Aku pastikan tidak salah lihat kalau di sana ada sosok yang menatap tajam ke mobilku. Dalam temaram dia bagai bayangan orang yang berdiri tegap dengan tangan di saku celana.   ***   “Damelo! Astagfirullah, kamu ngagetin aja!” Gimana nggak syok kalau sampai rumah disambut oleh sosok dalam gelap seperti di rumah Chika tadi. Aku segera membuka kunci pintu dan menekan sakelar lampu teras. “Dari tadi, ya, berdiri di sana?” Aku meletakkan tas di atas meja lalu mengempaskan tubuh di sofa. Melo duduk di sebelahku, otomatis aku bergeser. “Vifey pergi ke mana aja seharian ini?” Melo tampak cemberut, duh makin imut aja wajahnya. “Aku dari rumah Avika. Mulai hari ini aku mengajar ngaji di TPA sana.” Melo kelihatan kaget. Ya silakan saja, pasti semua orang yang mengenalku akan terkejut dengan berita ini. Melo memperbaiki ekspresinya. Dia selalu mendukung apa pun yang kulakukan. Jadi jangan harap Melo akan berkomentar aneh-aneh. “Ngajarnya setiap hari?” “Hhm ....” Melo semakin cemberut. Ini anak kok bisa manja banget kayak gini sih? Usia kami hanya terpaut dua tahun, hanya dua tahun. Oke baiklah, jangan pakai hanya. Dia adik sepupuku dari saudara papa. Maksudku, Tante Vana mamanya Melo itu adalah adik kandung papa. “Sekarang aja Damelo sudah rindu banget nggak lihat Vifey.” Aku tertawa dan melancarkan serangan sekali lagi. “Aku sudah cari kontrakan di kota. Rencananya kalau selesai urusannya, aku bakalan tinggal di sana.” Melo tersentak. Dia melebarkan bola mata, aku mangangguk untuk meyakinkan pendengarannya. “Vifey akan tinggal di sana?” “Hm.” Melo berdiri. Wajahnya enggak enak diajak ngobrol. Laki-laki di mana-mana sama saja. Kalau sedang emosi, enggak bisa bicara baik-baik. Dia bisa manja, bisa baik, bisa kasar, dan bisa diam. Biasanya dia menarik-narik rambutnya. “Kenapa kamu harus pindah? Oke, aku senang kamu hijrah. Tapi nggak harus hijrah tempat tinggal juga! Kamu nggak suka diomelin Mama setiap hari? Aku akan tahan mulut Mama supaya enggak ngomong sama kamu.” Melo menaikkan tangannya agar aku tidak menyela saat dia bicara. Dia pun meneruskan ucapannya. “Atau kamu nggak enak sama kita yang tahu masalahmu? Aku jamin Mama tidak akan menyebarkan berita itu ke mana-mana. Atau kamu ingin ngejar mantan?” Aku ingin menyangkal semua argumen Melo. Tapi aku tidak dibiarkan mengeluarkan suara. “Aku nggak akan mengingat-ingat apa yang pernah terjadi sama kamu. Aku tidak akan mengungkit masalah itu lagi. Aku akan menerima kamu dan masa lalumu.” “Melo sudah, cukup!” Aku enggak akan biarkan dia terus bicara yang enggak-enggak. “Dengerin aku!” Melo diam. “Aku hanya pindah ke kota. Aku ingin memulai hal baru di sana. Aku capek bolak-balik dari rumah ke kota.” “Kamu capek? Aku yang antar jemput kamu kalau gitu.” Melo kembali duduk di bangkunya. “Aku hanya move, Lo.” “Nggak ada jalan lain.” Melo menatap lurus mataku. “Kamu harus jadi istriku.” Kutimpuk ia dengan tas. Panjang kali lebar dibalut dengan emosi, tapi akhirnya ke sini lagi muara ucapannya. Lama-lama nyebelin. “Terus aku gimana? Aku bakal kangen terus sama kamu. Atau aku ikut pindah juga?” Capek. Bicara sama Melo harus punya kesabaran yang tinggi. Kutinggal saja dia yang masih duduk di sofa. Padahal rencana awal, aku hanya ingin mengerjainya. Bahkan aku belum tahu, apakah rumah yang dimaksud Avika ada atau tidak.   ***   Aku telah berada di masjid pukul tiga sore. Jadwal belajar nanti selepas Ashar. Di depan masjid ada sebatang pohon mangga. Di bawahnya disediakan bangku panjang. Aku duduk di sana dan membuka Al-Quran kecil yang kini menjadi penghuni tetap tasku. Belaian angin terasa sejuk membelai pipiku. Sesekali angin yang agak kencang menerbangkan hijabku ke samping. Perasaanku sangat nyaman, tenang, dan damai. Kenapa tidak dari dulu aku mendekatkan diri kepada Allah? Suara mobil masuk ke halaman masjid membuatku menoleh dari kitab yang k****a. Aku meletakkan pembatas lalu menutup Al-Quran, kemudian menciumnya. Aku berdiri melihat siapa yang datang. Firasatku mengatakan itu adalah salah satu muridku. Ya benar. Itu adalah Chika. Anak itu berlari kecil ketika papanya membukakan pintu mobil. Berlari ke arahku lalu mencium punggung tanganku. Aku mengusap puncak kepalanya. Ia berlari ke dalam masjid. “Assalamualaikum, Fey.” Deg. Kenapa orang ini tahu nama panggilanku? Padahal panggilan itu hanya digunakan oleh dua orang, dia yang sudah ingin kulupakan dan Melo. Darimana dia tahu panggilan ini? Kuberanikan mengangkat wajah untuk melihat wajahnya. Sekilas aku yakin, tidak pernah kenal dengan lelaki itu. Dia tinggi, kira-kira 180 sentimeter. Aku harus mengangkat wajahku agar dapat melihat wajahnya. Dan itu kulakukan sebentar, aku tak ingin melanggar batas lagi, dengan menatap lawan jenis terlalu lama. Cukup aku tahu, bahwa aku tidak pernah mengenal dia. “Benarkah ini kamu, Fey? Femitha?” Suaranya kembali terdengar. Sarat akan rasa rindu? Ah aku ngaco. “Waalaikum salam.” Hampir saja aku lupa menjawab salamnya. “Iya saya Femitha, Pak.”   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN