6. Berakhir
Karena tidak ingin melihat wajahnya, yang kulakukan adalah memperhatikan pergelangan tangannya. Lelaki ini memiliki lengan yang panjang, tapi bukan panjang tangan. Dari luar kemeja biru, jelas terlihat dia memiliki lengan yang kokoh. Di pergelangan kirinya melingkar dengan gagah sebuah arloji hitam yang sepertinya mahal. Itu menambah kesan lebih lelaki ini.
Ya Allah, apa yang sedang kulakukan?
Untunglah, suara azan mengganggu semua setan yang ada di antara kami, aku dan papa Chika.
“Nah, sudah azan tuh, Pak. Saya ingin bersiap solat. Bapak juga jamaah sekalian di sini?” Lelaki ini diam. Tampaknya dia sedang merenungi suara azan. Jadi, suaraku nggak kedengaran lagi.
Aku mengambil tas yang tadi kuletakkan di bangku. Namun, saat membelakangi papa Chika untuk masuk ke masjid, lelaki itu memanggilku. Aku berbalik agar dikira nggak kurang ajar sama orang tua.
“Jangan panggil pak. Panggil nama saya saja. Awan.”
Masa aku manggil bapaknya Chika langsung namanya aja gitu? Nggak sopan banget. Lagi pula kelihatannya dia jauh lebih tua dariku. Panggil mas aja kali ya?
“Baik, Mas. Erm... Saya pamit dulu, assalamualaikum.” Kulihat ia tersenyum.
Nggak boleh lihat lama-lama, Von! Pokoknya, aku harus selalu mengingatkan mata, tangan, mulut, dan langkahku agar menjaga kelakuan. Makanya aku hanya tersenyum sekilas kepada Mas Awan.
Usai mengaji, aku mendengar suara tangisan di luar masjid. Ternyata Adiba tengah mencari-cari sesuatu. Kudekati anak itu.
“Adiba sedang cari apa?” Adiba menyeka matanya. Dia terisak di hadapanku.
“Sendalku nggak ketemu, Bunda Voni. Ada yang nyembunyikan kayaknya.”
Kutenangkan Adiba dengan mengelus jilbab gadis kecil itu. Sepertinya memang ada yang ngerjain Adiba. Tapi mau dicari ke mana sandalnya? Aku juga bingung. Dia pasti sudah mencari di sekitaran masjid ini. Lalu gimana dia pulang kalau nggak pakai sandal?
“Ini sendalnya Diba.” Tengku menyerahkan sepasang sandal berwarna pink kepada Adiba. Napas anak lelaki itu sesak, sepertinya ia habis lomba lari.
“Kamu temukan di mana sendal Adiba, Tengku?”
“Tadi dibawa lari Taufik, Bun.”
Ya Allah, dasar anak-anak.
“Besok panggil Taufiknya, suruh ngadap Bunda Voni ya, Tengku! Dia harus didisiplinkan. Nggak boleh nakalin teman kita. Kamu dengar itu, Tengku? Kamu juga nggak boleh bikin susah orang lain, mengerti?”
Tengku mengangguk patuh. Anak itu menyerahkan tisu kepada Adiba. Adiba mengambil pemberian Tengku dan mengucapkan terima kasih.
“Aku nggak akan jahat, Bun. Aku akan menjaga orang yang aku sayangi. Aku pulang dulu ya, Bunda Voni. Yuk Diba, bareng aku biar nggak ada yang ganggu kamu lagi.”
Adiba segera memakai sandalnya. Mereka berpamitan dengan mencium tanganku.
Apa yang baru saja kusaksikan mengingatkanku kepada Melo. Sejak kecil, perilaku Melo sudah seperti itu, seperti yang dilakukan Tengku kepada Adiba. Tanpa dikomando, bibirku melengkung menyaksikan sikap anak lelaki itu.
“Ekhm ...” Suara itu memutuskan kenanganku. Ketika menoleh ke asal suara, aku mendapati Mas Awan sudah berdiri sambil tersenyum. Aku pun langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan tas di tangan.
“Assalamualaikum, Fey.” Mas Awan kembali bersuara.
Kenapa jantungku nggak tenang-tenang saja kayak biasa?
“Waalaikum salam, Mas. Erm ... Mau jemput Chika, ya?” Voni stop!
Sejak memutuskan untuk menjaga pandangan dari lawan jenis, aku belum pernah berinteraksi dengan lelaki selain Melo dan Bang Andy. Melo, dia itu sepupuku yang dari kecil sudah kuanggap adikku sendiri. Sedangkan Bang Andy, dia itu suami sahabatku dan sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Jadi, pengaruh mereka tidak begitu besar untuk sikapku yang nggak banget kayak sekarang.
“Tuh Chikanya udah di mobil.” Mas Awan kembali tersenyum padaku tapi ketika kulihat, Mas Awan juga nggak melihat ke wajahku.
Ah, syukurlah. Lelaki ini tipe lelaki yang baik. Bukan seperti Melo yang harus dipelototi baru berhenti menatapku secara gamblang.
“Ooh ... Mas erhm ... Kita dulu pernah kenal? Aaah maaf, apakah saya mengenal Mas Awan juga sebelumnya?” Aku memainkan mainan tas sambil menunggu respon Mas Awan.
Dia membersihkan tenggorokannya. Sepertinya, itu ciri khas Mas Awan. “Kenal sedikit.” Dia bersuara. Aku melihatnya yang ternyata tersenyum canggung. Ada apa ini?
“Fey,” panggilnya saat aku kembali asyik dengan mainan di tasku. Aku hanya menyahutinya dengan gumaman.
“Kamu sudah ada yang memiliki?”
Aku kembali menjawab dengan gumaman. Tapi sepertinya aku salah tanggap. Kayaknya pertanyaan barusan agak jauh deh.
“Mas Awan tadi nanya apa, ya?”
Mas Awan tersenyum lagi. Senyuman Mas Awan itu kayak senyumannya sama Chika, seperti orang tua ke anaknya.
Apakah aku dianggap anak kecil juga?
“Kamu sudah menikah?” Mas Awan bertanya dengan suara tenang.
Nih ya, biasanya kalau nanya yang kayak gini, ada perasaan gugup atau semacamnya. Eh ini, dia lancar banget nanyanya. Ini pasti beneran dianggap anak kecil nih aku. Padahal aku cukup yakin kalau mamanya Chika, istrinya Mas Awan, nggak jauh beda umurnya denganku.
Aku menggeleng.
“Hhhm ... Akhirnya.” Mas Awan menoleh ke mobilnya.
Aku pun ikut melihat ke sana. Sepertinya tadi Chika manggil deh.
“Saya pulang dulu, ya Fey. Sampai bertemu lagi. Assalamualaikum.” Mas Awan tidak menoleh lagi. Dia masuk ke pintu mobil di sisi pengemudi lalu memberikan satu klakson sebelum pergi.
Mas Awan itu siapa, ya? Kenapa dia bisa kenal aku? Manggil Fey lagi. Oke, aku Voni Femitha. Panggilanku dari dulu adalah Voni. Laki-laki masa laluku ‘itu’, memanggil Vofey katanya biar beda sama yang lain. Melo memanggil Vifey karena nggak mau kalah dari lelaki masa laluku. Nah, sekarang pertanyannya, kenapa Mas Awan memanggilku Fey? Kapan kami kenalan?
Kupikirkan sambil pulang.
Akhirnya aku sudah tiba di rumah. Tapi aku nggak pernah menyangka akan melihat lelaki masa laluku lagi. Anel duduk di bangku depan. Walaupun dia lagi menunduk, aku bisa tahu dia dari jarak beberapa meter. Aku hafal sekali siluet lelaki itu.
Ya Allah, bagaimana ini? Aku sudah bertekad untuk melupakannya. Tetapi kenapa ketika melihatnya lagi, hatiku kembali sakit, sakit mencintai, sakit merindui, dan sakit dikecewai? Bantu aku, Ya Allah.
“Vifey!”
Ah syukurlah, ada dia. Aku berbalik ke belakang. Melo berjalan dari rumahnya yang berseberangan dengan rumahku. Dia memakai celana jeans pendek dan kaus oblong putih. Tangannya melambai sambil melebarkan senyuman kepadaku. Mau tak mau aku juga tersenyum kepada anak itu.
“Fey.”
Aku memukul tangannya yang ingin ia naikkan ke pundakku. Kebiasaannya harus diubah perlahan. Melo tertawa. Dia kelihatannya sedang happy.
“Itu siapa, Fey?” Akhirnya senyuman Melo sirna. Dia seperti sedang memastikan kalau matanya nggak salah. Aku pun menunduk.
“Hmm ....” aku menguatkan pegangan pada tas. Lagi-lagi tas ini ada gunanya selain tempat menyimpan perlengkapan.
“Cinel pahit ke sini? Ngapain dia?” Melo berjalan cepat meninggalkanku. Dia menghampiri Anel lalu menyarangkan satu pukulan di wajah Anel.
“Melo hentikan! Sudah, jangan pakai k*******n!” Aku berseru sambil berlari menghentikan Melo. Kutahan tangannya. Ia pun menurunkan tinjunya yang sudah siap dipakai lagi untuk membuat wajah Anel membiru.
“Mau apa lo datang ke sini, hah? Elo udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Voni.” Melo membentak Anel.
Aku berdiri kaku di sampingnya, mendengar suara isakan kecil keluar dari mulutku sendiri. Kurasa aku menangis. Ketika kusentuh pipiku, ternyata benar, air mata itu sudah luruh tanpa kusadari.
“Fey, maafkan aku ya.” Anel nggak menghiraukan kata-kata Melo. Yang ada dia justru mendekat ke hadapanku. Namun sayangnya, perisaiku ini nggak akan membiarkan Anel mendekat. Melo berdiri tinggi di hadapanku. Menghalangi Anel memandangiku.
Kupegang ujung kaus yang dipakai Melo sebagai tempatku bertahan. “Aku sudah memaafkan kamu,” ujarku pelan.
“Bisa kita bicara?” Anel masih bersikeras ingin melihatku. Dia merangsek ke samping. Namun Melo cukup kuat mempertahanku tetap aman di sisinya.
“Nggak, Nel. Semuanya sudah berakhir. Kamu sendiri yang memutuskan simpul itu. Aku sudah rela dan aku sudah melupakan semuanya. Aku ralat semua kata-kataku, aku nggak akan menunggu kamu.” Aku mengembuskan napas setelah mengatakannya. Melo juga sepertinya melakukan hal serupa. Mungkin dia lega akhirnya aku sungguh-sungguh ingin melepaskan Anel.
“Aku menyesal. Aku udah nyakitin kamu.”
Kata-kata Anel dipotong Melo dengan kurang ajarnya. “Asal lo tahu ya, kami udah nikah. Dan lo, jangan harap bisa lihat istri gue! Sekarang gue minta, lo pergi dari sini. Kalian sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Jauhi istri gue!” Melo bergerak ke samping.
Dari matanya, Anel menyuarakan pertanyaan kepadaku. Aku mengangguk, berbohong kalau aku sudah menikah. Aku harus membuat Anel pergi.
Anel berjalan gontai meninggalkan rumahku. Semuanya sudah berakhir, Anel.
“Vifey hebat.” Melo tersenyum hangat. Dia sama sekali tidak menyentuhku seperti biasanya. Yang ia lakukan adalah mengulurkan tisu. Aku menyambutnya dengan senyuman. Akhirnya, kisahku bersama Dovan Elrangga benar-benar telah berakhir.
***
“Fey, aku cinta banget sama kamu.” Anel memelukku. Ia meletakkan dagunya di pundakku. Kami masih duduk di tempat tidur dengan aku yang bersandar di dadanya. Tanganku berpegang pada selimut yang menutupi kami.
“Aku juga cinta banget sama kamu. Cintaku yang lebih besar.” Aku memiringkan kepala dan melihat Anel. Ia nggak suka kalau aku bilang aku yang lebih mencintai dia.
“Kamu tahu nggak, selama kita jauhan, tiap detik aku rindu. Tapi aku selalu bilang kepada diriku sendiri, jauhnya jarak kita selama ini merupakan usahaku untuk membuat kita selalu dekat di kemudian hari. Jadi, aku selalu mengingat kata-kata itu dan bekerja dengan semangat agar bisa melamar kamu.” Anel mencium pipiku.
Hatiku berbunga mendengar kejujurannya dan mendengar usahanya umtuk bersamaku.
Kami hampir saja melakukannya lagi kalau tidak diganggu oleh ketukan dan suara tangisan dari balik pintu. Aku segera berdiri dan berpakaian. Setelah pintu dibuka, kulihat seorang balita manis menangis di depan pintu kamar. Aku langsung membawa anak itu ke dalam gendonganku.
“Sayang, kenapa menangis?” Aku mendekapnya ke dadaku. Kupukul-pukul pantatnya yang berisi agar ia tenang. Ia pun berhenti menangis.
“Aku kangen sama Mama.” Entah kenapa mendengar suaranya mengatakan rindu, membuat air mataku ikut mengalir. Aku mendekap anak ini sangat erat dan akhirnya terisak bersamanya.
Aku menangis.
Aku bangun dari tidurku dalam keadaan sesenggukan. Pipiku terasa basah sanpai ke dagu. Karena mimpi itu, aku merasa kehilangan lagi. Tanganku ternyata sedang memeluk bantal boneka pemberian Anel.
Akhirnya, mimpi indah itu bukan membuat hatiku bahagia, tetapi meruntuhkan kembali kekuatan yang sudah kucoba bangun selama beberapa hari. Kedatangan Anel tadi yang mendatangkan mimpi ini. Semua harapan yang pernah aku titipkan bersamanya dibawa pergi.
***