Kedua

1637 Kata
7. Kedua   “Harus jaga kelakuan di sana, kau dengar?!” Ya Allah ... Dari tadi nasihat Tante yang satu ini nggak kelar-kelar. Seperti aku akan menggoda pria saja di sana. Meskipun aku bukanlah wanita baik, yang pernah melakukan tindakan terlarang, tapi aku nggak pernah merayu lelaki apalagi laki orang. Tante Vana sayang banget sama aku. Sampai petuahnya tak habis-habis. “Hhhm ....” Apa lagi yang kulakukan selain menanggapi dengan bergumam? “Tante lihat kemarin ada laki-laki yang datang ke sini, siapa dia?” Huuuft “Bukan siapa-siapa, Tante.” Tante Vana berdiri. Tak lupa mengambil segenggam kacang telor yang aku sediakan di meja tamu. “Jangan jual mahal jadi perempuan. Kau hanya akan merana sampai tua kalau pasang tarif tinggi. Gini aja, kalau kau tak bisa cari sendiri, biar Tante bantu untuk mencari lelaki yang bersedia menerima dirimu. Hhaaah ... Aku kasihan kalau kau sendirian sampai tua.” Suara kacang yang dimakannya benar-benar nggak enak didengar. Dia pun melanjutkan khotbahnya setelah menelan. “Lelaki itu sudah membuangmu dan sekarang sangat susah mencari lelaki yang mau dengan perempuan dengan kegadisan yang sudah robek seperti dirimu. Baiklah, Tante akan bertanya ke teman-teman Tante. Tenang Von, Tantemu ini banyak koneksi. Teman-teman sekolah Tante juga sepertinya ada yang sedang membutuhkan istri.” Ingatkan saja terus kalau aku bukan gadis tapi bukan pula janda. Sepertinya Tante Vana akan datang setiap hari menjadi alarm agar aku tidak melupakan statusku itu. Aku bahagia karena Tante Vana mulai perhatian.   ***   Kami ada di acara pernikahan Maliya, sepupu Melo dari ayahnya. Tante Vana nggak mau menghadiri acara itu. Katanya acara itu hanya untuk pamer kalau keluarga Fatma, mama Maliya, mendapatkan menantu seorang presiden direktur sebuah hotel ternama. Nasib Maliya memang beruntung banget. Pacarnya yang selama ini kukutehui adalah seorang pekerja di pemerintahan, alias Pegawai Negeri. Lah, putus dari PNS gantinya CEO. “Lama banget sih kamu dandannya!” Melo bersungut-sungut ketika aku keluar dari kamar. Detik berikutnya dia diam tanpa sepatah kata. Sepasang matanya menatap ke wajahku. Aku mendekatinya lalu menyentil keningnya, tapi yang sakit justru jari tengahku. “Nggak baik lihat aku lama-lama.” Aku menjauh lagi dari Melo, lupa menyemprotkan parfum ke tubuhku. Sekembalinya dari kamar, Melo lagi-lagi mengeluarkan kalimat tidak masuk akal, “Nikah, yuk Fey. Kamu udah cantik, yuk ke KUA yuk!”   ***   “Woy kalian jaga mata semuanya! Jangan liatin Vifey gue sampe segitunya. Huush!” Sejak tiba di lokasi pesta resepsi Meliya, tidak satu detik pun Melo melepaskanku sendirian. Maksudku, ini pesta sepupunya. Aku juga kenal beberapa sepupu Melo. Jadi kurasa seharusnya kami menyapa mereka untuk beramah tamah sedikit karena jarang-jarang bertemu dan berkumpul gini. Sebuah meja yang diisi para sepupu Melo, aku mengarahkan langkah kaki ke sana. Aku lebih senang berinteraksi dengan yang muda. Bicara sama yang kebih tua agak bikin takut. Rasa-rasanya akan mendapatkan Tante Vana kedua. Tahu sendiri gimana Tante Vana  kepadaku. “Haai ... Voni. Banyak berubah deh adik Kakak yang satu ini. Sini gabung sama kita.” Nah ini yang baru bicara namanya Kak Hana. Kita udah kenal dari aku SMP. Waktu itu Melo diundang ke ulang tahun Kak Hana dan aku diajak. Sejak hari itu, aku selalu dapat undangan dari Kak Hana, baik waktu acara ultah maupun kumpul keluarga kayak gini. Dia orangnya baik banget. Udah kayak punya kakak kandung cewek. “Eh, Fey di sini sama Damelo.” Melo menarik satu bangku dari meja di sebelah, lalu memberikan untukku. Aku pun duduk di sana, nggak niat cari masalah sama anak ini. Di sebelah kiri Kak Hana hanya tersenyum melihat tingkah Melo. “Udah tamat kuliah, ya Von?” Kak Hana memulai. Dia sekarang kelihatan tambah cantik dan semakin dewasa. Usia Kak Hana dua tahun lebih tua dari usiaku. Dia tinggal di Bukittinggi bersama kedua orang tuanya. Ya jadi ke sanalah kami pergi bertemu keluarga Kak Hana dulu. “Udah satu tahun malah, Kak. Tapi aku belum kerja.” Aku tersenyum. Membahas soal kerjaan bikin nggak enak deh. Tapi kepalang tanggung, udah dimulai juga. “Belum kelihatan ya minat kerjanya di mana?” Kami berdua pun asyik membahas pekerjaan. Kak Hana banyak merekomendasikan perusahaan yang kira-kira bisa aku masuki. Aku mendengarkan cerita Kak Hana dengan fokus tanpa sadar kalau aku belum bertegur sapa dengan penghuni meja yang lainnya sampai suara Melo membuyarkan keasyikan Kak Hana berbicara. “Woy, gue parhatikan dari tadi, lo pada ngeliatin Vifey gue lekat banget. Mau gue colok itu mata?” Melo terlihat emosi sampai-sampai ia berdiri dari duduknya. Penghuni meja bundar ini yang memang kebanyakan laki-laki hanya berdecak. Ada juga yang menggeleng-geleng namun sepertinya maklum dengan kecerewetan mulut Melo. “Asal lo tahu, Vifey ini calon istri gue!” Kak Hana tersedak kue yang dimakannya. Segera kuberikan ia minum lalu ia menepuk dadanya. “Maaf, Melo memang jadi aneh begini,” ucapku kepada para sepupu Melo yang melongo. Tiga lelaki yang diomeli Melo saling bertatapan lalu mereka kompak geleng-geleng kepala. “Melo kamu salah makan, ya?” Kak Hana akhirnya buka suara setelah tenggorokannya kembali sehat. Gara-gara Melo nih, Kak Hana pasti kesakitan tersedak kue kering. “Aku nggak suka mereka melihat Voni kayak gitu. Aku tahu apa yang ada dalam pikiran mereka semua.” Melo menunjuk sepupunya satu-satu kecuali Kak Hana. “Terus kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan itu?” Aduh Kak Hana udah mulai, bakalan drama lagi ini si Melo. “Damelo itu takdirnya sama Voni. Damelo cinta Vifey dari Melo kenal kata suka sama lawan jenis. Satu-satunya cewek yang ada dalam hati aku cuma Voni. Dan Vifey juga sudah ditakdirkan buat Damelo. Karena walaupun Vifey pacaran lama, akhirnya putus juga. Itu adalah tanda bahwa Vifey hanya buat Damelo.” Aku menutup wajahku dengan telapak tangan. Kak Hana menepuk punggungku prihatin. Lalu satu tangan yang aku yakin banget itu tangan Melo, dengan tangkas aku tangkis. Melo meringis lalu menjauhkan tangannya dari tubuhku. “Loh itu Syafwan dateng. Kirain nggak dateng.” Kak Hana berdiri. Menarik seorang laki-laki yang belakangan familier oleh penglihatanku. “Mas Awan?” Aku juga ikut berdiri saking kagetnya saat yang kulihat memang benar sosok Mas Awan, papanya Chika.   ***   Aku mendekati Maliya bersama suaminya yang sedang berdiri menyambut para tamu. Sejak kedatangan Mas Awan, Melo bertambah-tambah aneh. “Fey, udah ngobrolnya! Kita ambil makan, yuk.” Setelah mengucapkan selamat dan sedikit doa untuk kedua mempelai, kami pergi ke meja prasmanan. Tadi Meliya sempat bertanya kemana Tante Vana kok nggak datang. Mamanya, Tante Fatma, juga bertanya hal yang sama. Aku jawab aja Tante Vana lagi nggak enak badan. Masa iya aku harus jujur kalau sebenarnya Tante Vana males dateng. “Fey suka yang ini?” Melo menunjuk piring dengan makanan penuh cokelat, membuatku bergidik, belum-belum udah ngilu di gigi. Melo menunjuk piring yang lain. Aku mengangguk. Melo segera mengambil makanan itu dan menaruhnya ke dalam piringku. “Ekhm.” Suara itu membuatku merasa dipanggil. Aneh ya? Saat aku melihat ke samping kanan, sudah ada Mas Awan dengan setelan hitam-hitam. Jam tangan itu masih ia pakai di pergelangan kiri. Untungnya Mas Awan tingginya kebangetan, jadi aku nggak bisa menatap wajahnya kalau tidak tengadah. “Mas Awan kenalan Meliya, ya?” Aku yang duluan memulai, menempatkan diri sebagai kerabat mempelai. Ini juga bicaranya sambil sok sibuk melihat-lihat makanan di meja. Suara napas agak keras pun terdengar dari samping. Siapa lagi kalau bukan Damelo. “Saya teman suaminya. Kebetulan kenal sama Meliya dan Hana.” Aku menganggukkan kepala. “Udah banyak, Fey. Kita cari meja.” Melo mengambil alih piring di tanganku. Aku mendongak untuk mengajak Mas Awan ikut kami. Enggak enak meninggalkan dia padahal kita sedang berbicara. Mas Awan mengerti ajakanku, lalu mengikuti aku dan Melo di belakang. Lagi-lagi Melo menarikkan bangku untukku. Kok aku merasa sebagai tokoh dalam FTV abege, ya? Dikit-dikit ditarikkan bangku, dikasih makan ini, dibantuin itu. “Mas Awan gabung sama kami aja,” ajakku saat Mas Awan masih berdiri. Dan kudengar Melo menggeram kecil. Ada apa dengan anak ini? “Mas kenalin ini Damelo, ad—” “Calon suaminya Voni.” Tiba-tiba Melo menyambar. Aduh kebiasaan banget kan? Entah bagaimana reaksi Mas Awan dengan sikap Melo yang kurang bersahabat ini. “Melo kamu kenapa sih dari tadi nyebelin gini?!” Aku berbisik di telinga Melo, tapi kurasa Mas Awan bisa mendengarnya. “Jadi kamu sudah ada calonnya, Fey?” Dan sekali lagi, entah kenapa pertanyaan Mas Awan membuat Melo semakin kesal saja kepada lelaki di hadapan kami ini. “Kamu kasih tahu nama kamu sama dia, Fey?” Melo berbicara dengan mengatupkan giginya. Dia berbisik sebenarnya, tapi dia juga sepertinya ingin Mas Awan dengar. “Nggak tahu, Mas Awan udah tahu gitu aja.” Jujur, aku juga heran dari mana Mas Awan kenal. Aku inginnya Mas Awan menjelaskan kapan kita kenal. Apakah aku juga kenal dia? Karena setelah beberapa kali pertemuan, aku belum ingat pernah berkenalan dengan laki-laki ini. “Kamu mau menikah dengan dia, Fey?” Mas Awan kembali dengan pertanyaan itu. Dan kurasa Melo akan kembali memulai akrobatnya. Itu kata-kata yang diucapkan Melo kayaknya udah dia hafal luar kepala deh. “Dia ini calon istri saya, Mas. Jadi nggak ada kesempatan lagi bagi pria lain deketin Vifey saya.” Aku memberikan kode kepada Melo untuk nggak usah malu-maluin. Di sini Melo sudah salah paham. Nggak semua laki-kaki yang ada di dekatku punya niat aneh untuk mengajak dekat. Kalau saja Melo tahu bahwa Mas Awan itu suami orang. “Mas Awan, maafkan Melo. Dia nggak bermaksud apa-apa kok, sungguh. Jangan salah paham ya.” Duh takutnya Mas Awan kesal sama Melo yang seolah-olah menuduh dirinya mau deketin aku. Ya Allah, aku malu sebenarnya. Aku ini siapa sih? Aku nggak mungkin menarik perhatian bagi pria-pria yang ada di sini. Melo terlalu berlebihan menjagaku kali ini. Aku hanya bunga yang sudah layu yang nggak menarik sama sekali. Lagi pula, aku juga nggak kepikiran untuk menjalin asmara lagi. Kisah cinta hanya menghabiskan air mata dan menguras energi.   ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN