8. Tukaran
Aku mencoba untuk dekat kepada kitab suciku lagi. Munafik sekali kalau aku mengajarkan anak-anak huruf di Al-Quran, sementara diriku sendiri jarang melafazkan firman Allah itu. Aku memulai kebiasaan menghabiskan satu juz dalam satu hari. Insya Allah. Memang rasanya hidup semakin tenang setelah mencoba dekat kepada Pencipta.
Sehabis subuh aku lebih suka menekuri kitab suci yang ada terjemahannya. Kuakui selama ini jarang sekali membaca Al-Quran.
Drrrt Drrrt Drrrt
Segera kuakhiri bacaanku ketika suara panggilan telepon masuk ke ponsel. Aku memang mematikan suara ponsel agar tidak menganggu waktu. Lagi pula, benda kecil ini selalu berada dalam jangkauan. Jadi untuk apa ia harus menggunakan nada keras.
“Ya, Ra. Waalaikum salam.” Ternyata yang memanggil pagi-pagi sekali adalah Zura. “Oke, aku segera jemput kamu. Tunggu di rumah, ya.”
Lalu kulepaskan mukena yang masih menyelubungi tubuhku. Setelah itu bersiap untuk menemui Zura. Dia minta ditemani ke rumah sakit. Mendengar kata rumah sakit, aku tiba-tiba khawatir kepadanya. Anak itu kalau sakit sangat menyedihkan.
“Voni.” Ia berjalan keluar dari kamarnya saat aku menerobos masuk ke rumah.
Ya Allah, Zura kelihatan lemah sekali.
“Kok tiba-tiba sakit gini sih?” Aku menghampiri Zura dan memegang tangannya kemudian kupapah ia ke kursi.
“Nggak tahu. Sakitnya nggak bilang-bilang mau mampir.”
Nah kan, sakit aja masih cerewet dia. Wajah Zura kelihatan pucat. Dan suara yang ia keluarkan hanya berupa bisikan.
“Kenapa kamu baru kasih tahu aku waktu sudah begini? Suami kamu mana?”
Memang sih, rumah Zura sepi banget. Terus kalau dipikir-pikir, melihat Zura sakit kayak gini, pasti suaminya Zura udah membawa anak ini ke rumah sakit. Bukannya aku yang ditelepon pagi-pagi.
“Zahfiy lagi di Surabaya.”
Wah ini sakit karena rindu nih. Ketahuan banget ini anak nggak mau berpisah sama suaminya. Aku menoyor kepala Zura membuatnya memberikan pukulan lemah di punggung tanganku.
“Hooo. Yuk kita periksa, apa ada sesuatu yang salah sama kamu.”
Ketika aku mengeluarkan parfume, tadi aku lupa memakainya, tenaga Zura kayak kembali lagi. Ia dia cepet-cepet lari ke kamar mandi di samping kamar almarhumah Nenek. Dia dari dulu emang aneh sih.
“Yuk Von. Nanti dapat antrean di belakang lagi. Aku udah nggak kuat lagi. Muntah terus. Aku takutnya dapat muntaber.”
Masya Allah ini anak. Setelah hypersomnia, sekarang dia bilang muntaber. Apa sih yang dia pikirkan sampai menuduh tubuhnya punya penyakit yang macam-macam? Oke, kita segera ke rumah sakit, Ra.
Dalam perjalanan, aku jadi curiga sama penyakitnya Zura. Kayaknya ini bukan sakit yang mendatanginya, tetapi dia yang mendatangkan penyakit. Kalau aku mah bilang, ini sakit yang dibuat. Iya, aku rasa aku tahu kemana aku akan membawa Zura.
“Kenapa kita ke dokter kandungan?”
Zura cukup kaget karena aku bawa dia ke dokter kandungan. Ini anak ya, masa nggak tahu sama perubahan tubuhnya sendiri. Eeeer ... Aku juga sih sebenarnya. Makanya aku nggak ingin Zura seperti aku yang ‘cukup’ bodoh.
“Firasatku menuntun kita ke tempat ini,” jawabku dan nggak menunggu waktu lama menggandeng tangan Zura ke kursi tunggu rumah sakit.
“Ya Allah, Von!” Zura berhenti dengan wajah sangat kaget.
“Kenapa?”
“Aku ... telat, harusnya sebentar lagi mau dapat lagi.”
“Benar ‘kan? Ya Allah, berarti kami nggak salah. Yuk kita pastikan, benar apa enggak!”
***
Ternyata benar, Zura hamil. Dia sampai menangis terharu waktu tahu bahwa selama dua bulan ini dirinya sudah mengandung. Aku juga nggak kalah senang. Aku bahagia untuk kebahagiannya. Hidupnya sangat sempurna. Zura memiliki suami yang sangat mencintai dia, memiliki mama papa yang utuh, meskipun tidak berada di bawah satu atap, dan sebentar lagi akan menjadi ibu.
Coba saja aku tidak terlalu terpuruk dan emosi saat Anel memutuskanku waktu itu. Mungkin sekarang, usia kandunganku sama dengan Zura. Pasti kalau anakku lahir, dia langsung memiliki teman. Mereka akan menjadi sahabat seperti mama-mamanya. Anakku akan menyayangi anak Zura, seperti aku yang menyayangi mamanya. Tetapi, ini semua angan-angan, fantasi terindah, bahkan mimpi saat aku terjaga. Anakku tidak mungkin melihat dunia.
“Kok Voni jadi nangis juga? Kenapa, Von?”
“Aaaah. Aku nangis, ya? Hehee. Aku senang juga dong, Ra. Kan sebentar lagi aku jadi tante si kecil.”
Pinter ngeles kamu, Von.
Untungnya, Zura tipe orang yang gampang percaya. Dia langsung memelukku dan berkata bahwa dia sangat bahagia.
“Kamu duluan deh ke parkiran. Ini kunci mobilnya. Aku mau ke toilet dulu, ya.” Zura ingin membantah ketika aku menyerahkan kunci mobil.
“Sebentar,” ucapku sekali lagi memaksa Zura pergi. “Kamu duduk dulu di dalem, istirahat di mobil ya. Aku cuma bentar kok.”
Setelah Zura keluar, aku memutuskan mencari toilet. Emang sih dari tadi panggilan alam mengetuk-ngetuk bagian perut bawahku.
Zura dan Avika, mereka menikah dan hidup bahagia. Avika yang paling keren, tanpa kenalan dan dekat, mau aja menerima Bang Andy. Tapi emang Bang Andy baik kok. Bang Andy itu dewasa banget dan kayaknya sayang banget sama Avika. Suaminya Zura juga, dia kayak kena pelet Zura. Dulu aja Zura susah payah ngintilin Zahfi. Eh tiba-tiba ketemu, langsung dipaksa nikah tuh anak sama Zahfi. Apa nggak dipelet namanya kalau pada akhirnya Zahfiyyan yang melamar Zura duluan?
Aku mikirin ini kayak ngarep ada yang melamar aja.
Setelah menyelesaikan urusanku di toilet, aku langsung menjauhi tempat penting bagi kelangsungan umat ini, toilet.
“Lho itu seperti Chika.” Anak itu berada dalam gendongan papanya. Tapi kok dia geleng-geleng gitu?
“Hay, Chika. Assalamualaikum.”
Ayah dan anak itu berhenti dari kegiatan mereka. Mereka melihat kedatanganku yang tiba-tiba.
“Chika kenapa nangis-nangis?” Aku mendekati Chika yang masih berada gendongan Mas Awan.
“Dia nggak mau diobati, Tante.”
“Chika sakit, ya?” Langsung kuarahkan punggung tanganku ke kening anak itu. “Aaah badan Chika panas sekali.”
Ya Allah, Chika demam parah.
“Dia nggak mau dibawa masuk untuk berobat, Fey. Emang bandelnya keluar kalau lagi sakit gini.”
Sepertinya Mas Awan sudah kewalahan membujuk Chika dari tadi. Itu kelihatan jelas dari wajahnya yang khawatir bercampur kesal. Aku harus bisa membujuk Chika masuk. Nggak baik dia menangis seperti ini apalagi sedang sakit.
“Chika kenapa kok nggak mau diobati?”
Chika menggelengkan kepala. Lalu menyurukkan kepalanya ke pundak Mas Awan.
“Kalau nggak berobat, nanti Chika sakitnya lama loh. Sakit itu nggak enak, Sayang. Mau makan es krim rasanya pahit, makan cokelat juga pahit. Nah, Chika suka nggak sama eskrim dan coklat?”
Chika mengangguk. Aku membelai rambut panjangnya.
“Chika suka apa lagi?”
“Ayam.” Chika memutar tubuhnya. Wajahnya menghadapku sekarang.
“Ayam juga bakalan pahit di lidah Chika kalau kamunya masih sakit.”
“Tapi Chika takut disuntik. Chika juga nggak mau minum obat, Nda.”
“Yaaah ... Nggak sembuh dong. Nggak jadi dong Bunda Voni ngajak Chika makan cokelat.”
Mendengar kata cokelat, mata Chika langsung berbinar.
Yaah bukan hanya anak kecil, perempuan dewasa juga akan menanggalkan rasa malunya kalau dikasih cokelat. Banyak wanita yang langsung memaafkan pasangannya kalau disogok si super manis itu. Aku contohnya. Aku segera membuang kenangan dengan lelaki itu.
“Bunda Voni mau ngajak Chika makan cokelat?” Chika mulai tertarik. Ini kesempatan bagus untuk membujuk dia berobat.
“Iya. Tapi kalau Chikanya udah sembuh. Chika mau sembuh atau mau sakit terus?
“Mau sembuh, Nda.”
“Nah, Bunda janji deh. Kalau Chika udah sembuh, Bunda Voni akan ngajak Chika ke Istana Cokelat. Gimana?” Pada akhirnya, Chika mengangguk.
“Yuuk, sama Bunda.”
Sewaktu Chika sedang diperiksa, aku langsung menghubungi Zura. Tapi dia nggak menjawab panggilanku. Ya Allah, aku melupakan Zura. Dia kenapa kok nggak bisa dihubungi?
Firasatku mulai nggak enak.
“Kamu kenapa? Kok kayak nggak tenang gitu? Ada yang mengganggu pikiranmu, Fey?”
Ternyata Chika sudah selesai diperiksa. Chika merebahkan kepalanya di pundak Mas Awan lagi.
“Aku tadi ke mari sama temen, Mas. Tapi dia nggak menjawab telepon, aku jadi khawatir.” Aku menggigit bibir.
Semoga Zura nggak bosan menungguku lalu memutuskan pulang dengan kendaraan umum. Dia masih lemah, bisa-bisa dia pingsan. Katanya dia nggak makan dari kemarin. Itu yang membuat tubuhnya tidak bertenaga. Nanti kalau dia dibawa kemana-mana sama sopir taksi gimana? Atau dia muntah-muntah di angkot gimana?
Ya ampun, aku bukan takut diamuk Zahfiyyan karena nggak menjaga istrinya, tetapi memang mengkhawatirkan wanita satu itu.
“Maaf ya, Fey. Saya tidak tahu kamu tadi datang dengan temanmu. Sebaiknya kamu segera menyusul ke tempat terakhir dia berada. Mungkin dia sedang menunggu.”
Ya saran Mas Awan memang benar. Aku harus segera ke parkiran.
“Tunggu, Fey!”
Aku membalikkan tubuhku ketika Mas Awan memanggil.
“Aku boleh menyimpan nomor kontakmu?”
Aku nggak tahu Mas Awan meminta nomorku untuk apa. Sepertinya aku memang harus memiliki kontaknya juga. Jika suatu hari aku membutuhkan Mas Awan untuk Chika, aku bisa menghubunginya.
Aku segera menyebutkan nomor ponselku. Setelah bertukaran nomor telepon, aku berlari-lari ke parkiran. Semoga Zura ada di dalam.
Hah. Aku tiba di samping mobil. Mobilku hidup, sepertinya Zura ada di dalam.
Tetapi berkali-kali kuketuk kaca mobilnya, Zura belum juga membukakan pintu. Lalu kuintip melalui jendela.
Astagfirullahal’adzim!!
Zura sedang tidur!
***