Tamu

1787 Kata
9. Tamu   Voni, kamu harus sabar! Tarik napas, kemudian embuskan. Tarik napas, embuskan pelan-pelan. Tolonglah juga Tuhan, buatlah aku sabar menghadapi Tante Vana. Seorang bapak separuh abad duduk bersandar di sofa ruang tamu rumahku. Cerutu yang terjepit di bibirnya mengepulkan asap. Sungguh, aku nggak tahan dengan asap rokok. Kenapa aku bertahan sama Anel? Karena dia bukan perokok. Masya Allah, aku telah membuka buku usang lagi. Ini semua karena melihat orang dengan peringai tidak menyenangkan yang menjadi tamuku ini. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak menginginkan dia menjadi tamu. Tapi apalah daya jika bapak dengan kemeja body fit ini sudah datang. Tanpa aku persilakan, sudah duduk saja karena Tante Vana yang membawa ia masuk. “Bagaimana menurut kamu, Gon? Keponakanku sangat cantik, bukan?” Apakah tadi malam aku nggak tidur? Mungkinkah aku sedang bermimpi saat ini mendengar Tante Vana bilang aku cantik? Aku rasa dunia sepertinya sedang error seperti aplikasi membaca gratis kemarin. Tumben banget Tante Vana muji-muji aku, di depan orang lain lagi. Bapak sulah di puncak kepala ini mengangguk seperti telah paham dengan menilai penampilanku siang ini. Cerutunya ia jentikkan, menerbangkan api kecil-kecil ke udara. Aroma tembakau yang terbakar mengakibatkan aku terbatuk. Aku melakukannya dengan menutup mulut dan berusaha menahan agar batukku tidak kencang. Aku nggak ingin dianggap tidak sopan sama tamu. “Wajah keseluruhan dapat kuberikan delapan puluh. Untuk bagian dalam, belum bisa kunilai. Apa kau memang memakai pakaian selebor ini setiap waktu?” Bapak sulah bertanya kepadaku. Sejak dia menatap tanpa berkedip ke arah tubuhku, singa dalam diriku terbangun. Ia ingin mencakar-cakar wajah tua ini dan mencongkel mata si sulah dengan cerutunya. Ya Allah, sabarkan aku meladeni tamu yang tak tahu sopan santun ini. Tante Vana dapat dari mana lelaki tua ini sih? “Yang di dalam, percayakan padaku. Dia baru saja menutup auratnya. Sebelum ini dia seperti wanita tipemu sekali. Aku kenal seleramu, Gon. Nah, karena itulah aku bawa kau kemari untuk melihat apa yang aku punya yang juga kauinginkan.” Tante Vana ngomong apa sih? “Hhem ... Dia punya kulit putih, seleraku memang. Wajahnya seperti wajah keturunan orang asing. Apakah dia ada darah kebarat-baratan?” Haaaah? Aku blasteran? Mimpi dari mana coba? Kalau memang iya, kenapa aku harus terdampar di kampung kecil ini bersama seorang tante yang ‘sangat menyayangiku’? “Hahaha ... Itulah kelebihan keponakanku, Gon. Dia ini pribumi, ayahnya Minang dan ibunya Jawa asli. Tapi wajah sama sekali bukan wajah ayu pribumi seperti ibunya. Kau lihat matanya, dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kepribadiannya juga kuat.” Yang dimaksud Tante Vana adalah diriku? Voni? Siapa sih nama bapak sulah yang masya Allah, mata keranjang ini? Gon? Gogon? “Siapa namamu, Gadis?” Aku mencebik. Dia memanggilku gadis? Tapi bapak ini kok kayaknya bisa tahu isi pikiranku, ya? “Namaku Goni Salamander. Panggil saja Bang Gon.” “Bmhhhmm ...” Susah banget menahan ketawa dan aku terpaksa membekap mulutku agar nggak mentertawakan tamu ini. Jadi namanya Gon-Gon itu adalah Goni? Goni itu bukanya karung? Warna kuning seperti sabut kelapa? Atau kayak keset kaki? “Namaku Voni, Om Gon.” Pak Sulah berdecak barangkali kesal dipanggil om. Ia membuang sisa cerutunya ke lantai. Aaaaih. Ya Allah, bapak ini kira aku baik budi dan lapang d**a sekali apa? Masa buang puntung rokok di lantai keramik putih yang sekali seminggu baru aku pel? Aku melihat ke lantai di mana ia mencampakkan puntung rokoknya. Kuembuskan napas keras dan menatap Tante Vana. Tante Vana kelihatan tidak terusik dengan kelakuan Pak Gon Sulah. Apakah mereka dulunya punya hubungan khusus? Atau, Tante Vana ingin menikah lagi dengan Pak Sulah ini? Wah, aku baru kepikiran. “TANTE!” “Kenapa kau berteriak, Voni?! Kamu kira Tante tuli?!” balas Tante Vana dengan galak. “Tante mau menikah lagi?” “Menikah lagi? Yang benar saja! Kau kira Tante janda kembang?” Tante Vana menarik napas lalu mengomeliku. “Sepertinya aku sudah jatuh cinta.” Perkataan Tante Vana yang keluar laksana ledakan boom molotov tadi terpotong oleh kalimat Pak Gon Sulah. “Aku sangat suka kepada keponakanmu ini.” “APA?” Aku teriak dan berdiri dari duduk saking kagetnya. “Duduk, Voni! Dengar, ya. Ada yang mau Tante sampaikan secara jelas kepadamu. Duduk yang tenang. Tante bilang duduk!” Aku pun menuruti perintah Tante Vana. Coba bayangkan bagaimana rasanya, seorang lelaki tua, mengatakan jatuh cinta kepadamu? Hanya dalam waktu dua puluh menit saja. Rasanya aku ingin berenang deh biar sebel ini hilang. “Kalian sudah berkenalan.” Kalimat Tante Vana ini kenapa bikin aku mau nangis ya? Kenalan di sini maksudnya apa? Ta’aruf, begitu? “Goni ini adalah teman semasa SMA Tante. Dia dulu terkenal sebagai lelaki parayu ulung, tetapi akhirnya hanya satu wanita yang ia ajak serius. Mereka menikah setelah lulus SMA. Kamu ada anak, Gon?” “Satu orang putra.” Pak Gon Sulah menanggapi pertanyaan Tante Vana. Tante Vana lalu lanjut bercerita kisah cinta Pak Goni, “Istrinya Goni meninggal dua belas tahun lalu. Waktu selama itu sudah mampu membuat ia melupakan istrinya dan ia ingin melanjutkan hidup yang baru. Makanya, Tante mengenalkan kalian berdua. Siapa tahu kalian cocok dan berjodoh.” Ini salahTante Vana menjodohkan aku? Kenapa Tante Vana baik banget? “Goni memiliki seratus hektar kebun kelapa sawit di Dharmasraya. Hidupmu akan terjamin jika menikah dengannya. Kamu juga tidak usah khawatir soal status keperawananmu. Aku sudah mengatakan ini kepada Goni sebelum ia memutuskan untuk datang ke mari.” Pak Goni dengan wajah jemawa tersenyum kepadaku. Ya Allah. Aku udah nggak tahan, beneran. Aku udah nggak tahan dengan pertemuan ini. Jadi, Tante Vana sudah menyebar aibku? Aku ingin menangis. Aku nggak tahu mau ditaruh kemana wajahku sekarang. Oke, aku salah. Aku kotor. Aku nggak sama dengan perempuan lain. Aku hidup dalam kubangan dosa. Tetapi, tidak bolehkah aku menyimpan aibku ini rapat-rapat? “Aku sudah tahu soal masa lalumu, Voni. Jadi masalah itu janganlah kau risaukan. Asal kau mau menerima statusku sebagai duda dengan seorang putra, aku juga akan menerima kau apa adanya dirimu. Aku akan perjelas statusmu sebagai istriku. Aku akan memberikan kau kehidupan yang layak. Jangan khawatir kau akan kekurangan materi. Bahkan aku tidak akan membiarkan kau bekerja di luar. Cukup kau layani saja aku di rumah, maka hidupmu akan senang. Untuk apa bekerja di luar kalau suamimu mampu memberikan banyak materi dan kasih sayang untukmu?” Kepalaku berat. Mataku juga terasa sakit. Ada apa ini? Mana Voni yang berani membantah Tante Vana? Jemariku rasanya gemetar. Ketika aku letakkan kedua tanganku di atas paha, aku bisa melihat kalau tanganku memang bergetar. “Benar itu, Von. Tante memilihkan Goni untukmu karena Tante tahu mana yang terbaik untukmu. Sekarang kamu sedang mencari pekerjaan? Kalau kamu menikah dengan Goni, kamu tidak perlu bekerja. Kamu bangun pagi untuk bekerja di rumah. Di rumah juga hanya pekerjaan rumah tangga saja, iyakan, Gon?” “Hhm.” “Habis itu kamu bisa mencari kegiatan lain di luar, bertemu teman-teman baru.” “Aku nggak mau menikah, Tante.” Kurasakan ada yang menyumbat di kerongkonganku sehingga saat aku berbicara, sakit sekali. “Tunggu dulu, jangan memotong penjelasan Tante.” Aku diam lagi. Entah kenapa, aku menurut sekali pada perintah Tante Vana. “Kemana kamu akan cari laki-laki yang tulus menerima dirimu, Voni? Sudahlah bukan perawan, janda juga bukan. Bukannya sudah pernah Tante bilang, jangan pasang tarif terlalu tinggi! Tak akan ada yang mau melelangnu. Goni sudah ingin serius denganmu, jangan main tolak begitu saja!” “Tapi Tante, aku tahu siapa diriku. Aku tahu bagaimana keadaanku. Jangan hanya karena masalah itu, Tante menjodohkan aku dengan lelaki asing seenaknya. Aku bukan barang yang bisa Tante lelang!” “Masih saja sombong kata-katamu, Voni. Bersyukurlah kamu, Tante tidak mengatakan kepada orang-orang di lingkungan ini siapa dirimu. Kalau tidak, mungkin hidupmu tidak akan tenang karena warga di sini sangat tidak senang dengan perilaku liar seperti yang kau punya.” Jadi, sekarang Tante Vana memaksaku dengan sebuah ancaman? Warga di sini, iya aku mengetahui sifat mereka dengan jelas. Sama dengan warga di desa tetangga, desa dimana Zura tinggal, mereka semua suka mencampuri urusan orang lain. Mereka membicarakan orang lain sebelum mengetahui kebenarannya. Tante Vana ingin mengumpan aku kepada mereka? “Aku nggak mau menikah apalagi dengan Bapak ini! Kalau tidak ada yang mau menikah denganku setelah ini, aku nggak akan meminta tolong kepada Tante. Tante tenang aja, aku nggak akan meminta bantuan Tante.” “Voni! Apa kurangnya Goni? Tante sudah berbuat baik mengenalkan dirimu dengan dia. Lalu kenapa kamu langsung menolak begitu saja? Coba kau pikirkan dulu, lalukanlah pertemuan beberapa kali, mungkin kamu akan merasa cocok dengannya.” “Demi Allah, Tante. Jangan memaksa aku! Aku nggak ingin menikah, Tante. Aku nggak ingin melakukan hal yang satu itu. Aku nggak pernah memikirkan hal itu lagi semenjak dia menghancurkan aku seperti ini!” Ya Allah. Anel kenapa jahat sekali? Kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku, Anel? Seandainya, kita tidak pernah bertemu, seandainya kita tidak jatuh cinta, seandainya kita tidak mendengarkan bisikan setan, seandainya kita mampu membawa hubungan ini ke jalan yang benar. Kenapa kamu meninggalkan aku dengan masalah ini? Dadaku terasa sakit. Sejak tadi aku telah menangis mendengarkan perkataan Tante Vana yang sangat menyakitkan. “MAMA APAKAN VONI?!” Aku menoleh ke pintu masuk. Melo datang dengan kemeja kerjanya yang sudah ia gulung sampai siku. Rambutnya kelihatan berantakan. Kurasa ia melepaskan helm dengan buru-buru. Melo melesat ke samping Tante Vana. Lalu ia melihat Pak Goni. “Siapa pria ini, Ma?” Kudengar Melo masih digulung oleh ombak emosi. “Dia teman Mama yang ingin menikahi Voni.” “HAH? Menikahi Voni Mama bilang? Apa yang Mama lakukan? Mama mau menjodohkan Voni dengan pria ini?” “Iya. Dia menyukai Voni,” kata Tante Vana. Intonasinya mampu menyayat-nyayat telingaku. “Voni nggak akan menikah dengan siapa-siapa, Ma. Sekarang bawa teman Mama ini pulang. Jangan pernah datang lagi ke sini!” “Siapa dirimu beraninya mengusirku, heh?!” Pak Goni sepertinya tidak tahu berhadapan dengan siapa. “Aku adalah orang pertama yang akan mengusir laki-laki tidak punya malu sepertimu. Sekarang aku minta, angkat kaki dari rumah ini!” usir Melo. “DAMELO! Yang sopan sama teman Mama! Gon, maafkan putraku. Sebaiknya pertemuannya kita lanjutkan lain kali saja. Akan aku pastikan putraku tidak macam-macam lagi.” “Baiklah. Aku maklum dengan jiwa muda putramu. Aku juga memiliki putra yang bertempramen seperti ini. Kitalah yang harus sabar menghadapi kelakuan mereka.” “Jangan banyak bicara, Pak Tua! Cepat keluar dari sini! Jangan pernah perlihatkan wajahmu di hadapanku lagi apalagi berusaha menemui Voni!” Setelah Melo mengusir Pak Goni, juga Tante Vana, Melo kembali kepadaku. “Mana Vifey Damelo yang kuat? Kok Vifey nggak berani melawan niat jahat Mama?” Tangisanku semakin luruh ketika mendengar suara Melo. Hanya dia yang selalu membantuku. Dia yang selalu mendukungku dalam berbagai keadaan. Suaranya membuatku semakin lemah.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN