10. Pecurhatan
Setelah acara perjodohan yang gagal tempo hari, Tante Vana semakin gencar mencarikan aku suami. Tadi sepulangnya aku dari kota untuk mengajar ngaji, telah ada satu laki-laki tua—lagi—duduk di bangku teras bersama Tante Vana. Yang ini lebih parah dari pada Om Goni Sulah.
Lelaki itu tambun, pakai kumis dan rambutnya sudah keperakan. Dia tidak merokok, tapi dari jauh saja, bisa kulihat bibirnya hitam. Bibir hitam untuk laki-laki biasanya tipe perokok. Berdiri di sampingnya hanya akan merusak paru-paru.
Ketika baru memasuki pekarangan, aku langsung menarik perhatian kedua orang itu. Akhirnya, setelah tahu bahwa Tante Vana memiliki niat aneh lagi. Aku langsung membelokkan mobilku kembali ke arah kota.
“Kabur dari rumah hah? Kamu kayak anak gadis yang menolak dijodohkan saja.”
Avika mengambilkan baju tidur panjang miliknya dan menarik sebuah hijab instan berwarna dongker dari lemari pakaian. Ia melemparkan seperangkat pakaian itu ke pangkuanku.
“Nggak mau ah meladeni Tante Vana kayak tempo hari. Yang ada aku kalah debat.”
Aku memangku baju tidur Avika sambil berjalan ke arah pintu kamar untuk menguncinya. Takut nanti Bang Andy tiba-tiba masuk saat aku mengganti pakaian.
Aku mengganti pakaian dengan cepat.
“Lho kok kamu nggak lawan aja dia seperti biasanya? Kamukan tipe mulut jengkala, berbisa kalau digigit.”
Avika duduk menyandar di kursi goyang. Ini kursi tua kelihatannya. Waktu Avika duduk di sana, udah kayak nenek-nenek lagi hamil aja. Hm ... Kehamilan Avika udah gede, nggak tahu kapan itu isinya dikeluarkan. Ngajar anak-anak MDTA aja dia udah nggak dibolehi suaminya.
Eh, memangnya laki-laki semuanya seperti Bang Andy? Gini, aku banyak membaca novel yang dikasih pinjem Zura, mereka suka membatasi istrinya kalau sedang hamil. Padahal nih ya, aku punya tetangga waktu kos di Padang. Dia ini hamil tua, sembilan bulan, udah mau lahiran, tapi dia masih bawa sepeda motor. Dan dia ini bukan ibu-ibu biasa, di kehamilan pertamanya itu, dia tercatat sebagai mahasiswi pascasarjana di kampusku. Hebat ‘kan? Baik dia maupun suaminya tidak memanjakan diri. Pada akhirnya, kudengar dia melahirkan anaknya dengan selamat.
Balik lagi ke Avika. Avikanya juga nurut-nurut aja disuruh tinggal di rumah dan nggak melakukan kegiatan lain. Maksudnya, hey ayolah, kami ini, aku dan Avika, adalah sarjana sains loh. Masa iya Avika nggak sayang sama gelar dan ilmunya dipendam gitu aja di balik tembok rumah mereka?
Sekarang nih ya, zaman sudah berubah. Wanita itu bukan lagi hanya bertugas di tiga wilayah, tapi wanita sudah naik derajatnya dari dapur, sumur, dan kasur. Apalagi kita udah sekolah tinggi-tinggi. Masa harus bolak-balik di area itu aja?
“Eh, malah melamun!” Avika menyentil keningku.
Kurasa sakit di ujung jari Avika nggak kalah sakitnya sama hasil sentilannya di jidatku. Aku ini sudah penasaran sama yang namanya s*****a makan tuan.
“Aduuh!”
Tuh kan!
“Kenapa kamu nggak berani melawan tantemu lagi? Kamu beneran udah tobat?” Avika tertawa di ujung pertanyaannya.
Kuembuskan napas kecil. “Nggak tahu, Vik. Kurasa apa yang dibilang Tante Vana memang benar. Jadi aku nggak bisa membela kehormatanku yang udah melambung jauh terbang tinggi, terbang jauh hingga jatuh ke dalam jurang.”
“Hey!”
Aku menangkap tangan Avika yang akan ia sentuhkan lagi ke salah satu bagian tubuhku.
“Bahasamu itu loh! Mulut s***s pandai pula kau beristilah.” Avika kembali menyandarkan punggungnya di kursi goyang.
“Eh Vika, aku pernah cerita nggak tentang Mas Awan-Awan dulu sama kamu?” Aku alihkan topik pembicaraan dari topik yang bikin aku sakit hati.
“Mas Awan siapa? Avika duduk tegak, maksudnya dia nggak bersandar lagi kayak muda-mudi pemalas yang suka nongkrong di pinggir pantai di bawah tenda pelangi.
“Masa aku nggak pernah cerita sama kamu? Tapi kok dia bisa kenal aku gitu ya, Vik?”
“Mana-mana orangnya? Kamu nyimpen fotonya nggak?” Avika udah berdiri dan duduk di sebelahku.
“Nggak adalah! Kamu kira-kira dong kalau nanya!” jawabku sebal.
“Yah ... Masa kamu nggak nyimpen nomor apa kek gitu, biar aku lihat. Siapa tahu teman sekampus kita dulu.”
“Nggak ad—Eh, bentar dulu.” Aku berdiri dan jalan ke arah meja rias lalu mengambil tas tanganku. Kukeluarkan ponselku dari sana.
“Ini dia nomornya,” ujarku senang. Yah siapa tahu Avika kenal sama nomor ini.
“Kalau cuman nomor gimana aku bisa tahu siapa pemiliknya?! Kacau nih, Voni.”
Avika kembali ke kursi goyang dengan lesu. Dia menyandarkan tubuh gendutnya dan menggoyangkan kursi itu.
“VONI!”
“Ada apa?” Aku mengangkat kepala dan melihat ke arah Avika.
“Sudah kamu simpen kan nomornya?”
Aku mengangguk.
“Lihat WA sama line kamu deh, siapa tahu nomornya terhubung ke aplikasi itu. Kan kalau jodoh, dia pasang foto dia tuh di sana.”
Ide bagus. Aku segera berselancar ke dua aplikasi itu. Pertama aku lari ke line. Ketika aku lihat foto profilnya, aku langsung menggeleng kepada Avika. Lalu Avika mendesak agar aku mengecek di WA Mas Awan.
“Vika ....” Aku meneguk ludah.
“Ada nggak?” Avika penasaran, tapi dia masih duduk bersandar di bangkunya. Bukannya kalau kita sangat-sangat ingin tahu, kita akan berlari ke sumbernya?
Aku pun mengangkat pinggulku dari ranjang untuk mendekat ke kursi goyang Avika. Lalu kusodorkan ponselku kepadanya.
“Lihat ini?”
“Masya Allah! Cakep banget, Voni! Kamu kenal sama dia dimana sih?”
Avika tidak berhenti melihat foto Mas Awan yang dia jadikan sebagai foto profil untuk w******p-nya.
“Aku kenal dia di masjid tempat ngajar ngaji,” tapi sepertinya aku melewatkan sesuatu. Kalau Avika baru terpesona sama foto Mas Awan sekarang, lalu selama ini apa dia nggak pernah sadar dengan kecakepan Mas Awan seperti yang dia katakan? Ataukah ini hanya karena hormon ibu hamil yang berlebihan?
“Kamu nggak pernah lihat Mas Awan di masjid?”
Avika kelihatan sedang berpikir. Ia melihat layar ponselku yang masih menampilkan foto Mas Awan lalu menerawang ke atas langit-langit kamar. Lalu dia menggeleng.
“Kok kamu nggak pernah ketemu dia? Dia itu ayahnya Chika lho!”
Avika berdiri dengan cepat. Dia melihat layar ponselku lagi. “Ayahnya Chika kok ganteng banget?”
Ckckck ... Kurasa ini memang karena hormon kehamilan deh. Avika biasanya nggak terpengaruh dan nggak akan memuji-muji laki-laki. Jangankan lelaki asing yang baru dilihat, cowok cakep kayak Zahfiyyan aja dia lihatnya biasa aja. Untung ini anak dapetnya yang cakep juga macam Bang Andy. Coba dia iya-iya aja dijodohin sama orang yang namanya Tarman, Paijo, Jono atau Maskum!
“Masa kamu nggak pernah lihat Mas Awan sih? Diakan selalu nganter jemput Chika dan datangnya paling cepat lagi!”
Avika menggeleng. “Memang nggak pernah, Von. Biasanya yang antar jemput Chika adalah neneknya. Nggak pernah ayahnya.”
Sekarang aku yang heran. Sejak aku mengajar, nggak pernah tuh aku melihat Chika diantar neneknya. Yang datang pasti Mas Awan sama mobil gedenya. Mas Awan itu datangnya jam tiga, sebelum salat Asar. Jadi, sebelum azan kami ngobrol ringan di teras masjid. Nggak tahu deh kenapa aku nggak lihat nenek Chika yang mengantar jemput anak manis itu. Barangkali neneknya sedang kurang sehat.
“Aku mencium bau-bau pedekate nih.”
Avika memajukan hidungnya ke udara, seperti sedang mencari aroma sesuatu.
“Dia pedekate sama aku?”
Avika segera mengacungkan dua ibu jarinya membuatku meringis.
“Kenapa?” tanya Avika dengan nada herannya.
“Jangan sampai aah ... Aku nggak mau.” Avika justru terbahak mendengar ringisanku.
“Kenapa malah ketawa sih? Udah malam loh!”
“Kamu itu sok kepedean. Bilang nggak mau sama orang, padahal orang itu belum tentu mau sama kamu.”
Iyakan inilah makanya aku nggak ingin menjalin kedekatan dengan lawan jenis. Aku takut jatuh cinta. Nanti ketika jatuh cinta, aku takut akan dijatuhkan lagi. Kalau orang yang aku cinta mencintaiku juga, kalau enggak gimana?
Setelah kami sama-sama mencinta, lalu apa yang harus aku jelaskan kepadanya tentang keadaanku yang telah rusak seperti ini? Bagaimana reaksi lelaki itu? Dia pasti akan menghujatku lalu memutuskan semua harapanku. Lalu aku akan mengais tanah lagi untuk menghilangkan rasa sakit itu. Aku nggak ingin mengalami hal itu.
“Voni ... Voni ... Aku salah bicara? Maaf ya, Von. Aku nggak bermaksud untuk—”
Aah ... Aku menangis. Kok aku jadi cengeng gini? Ya Allah, sampai kapan penyesalan ini akan menyiksaku?
“Nggak apa-apa. Hhm ... Aku nggak mau menjalin hubungan lagi, Vik. Kalau ada orang yang memancarkan tanda-tanda itu, aku akan segera mem-block-nya.”
“Voni. Aku hanya becanda. Akukan udah bilang, aku rasa Mas Awan sedang melakukan pendekatan sama kamu. Gini ya, selama aku ngajar di MDTA itu, nggak pernah sekali pun aku melihat bagaimana wajah ayahnya Chika. Kadang aku mikir gini, ini anak kenapa bisa cantik banget? Bagaimana wajah kedua orang tuanya? Pasti ayahnya ganteng dan ibunya cantik banget.”
“Dan sekarang kamu udah tahu kalau Chika bisa cantik banget kayak gitu karena ada darah Mas Awan mengalir di dalam tubuhnya.”
Avika tertawa menanggapiku. “Kalau Mas Awan mau deketin kamu, artinya Mas Awan itu duda dong?”
“Oh iya, kenapa kita jadi ngomongin suami orang? Ya Allah ... Avika, udah deh ngomongin Mas Awannya. Dia mungkin lagi becanda sama istrinya dan Chika. Bisa-bisa dia batuk-batuk lagi kita omongin. Lah tadi itu niat awal aku ingin bertanya, dari mana Mas Awan kenal sama aku eh malah sampai kemana-mana bahasannya.”
“Iya juga sih. Mungkin dia lagi nggak sibuk, makanya bisa anter jemput anaknya.”
Aku mengangguk. Lalu kulihat foto Mas Awan sekali lagi. Ketika akan menekan panel kembali, satu chat masuk ke dalam ruang obrolan kontaknya.
Mas Awan
Assalamualaikum, Fey. Apakah kamu baik-baik aja?
Hampir saja aku mencampakkan ponselku akibat terlalu shock dengan pesan yang dikirimkannya. Aduh, jawab apa? Dia tahu kalau aku udah membaca pesannya.
“Kamu kenapa kayak lihat setan begitu?”
Avika tidak kuhiraukan. Yang ada di pikiranku saat ini adalah, siapakah Mas Awan ini? Kenapa dia mengirimkan pesan seolah-olah tahu kalau aku akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja?
Aku selidiki ke nomor kontaknya, mungkin aja dia pakai nama akun.
Syafwan Masyaril
Ya, itulah nama lengkapnya.
***