Pengakuan

1773 Kata
11. Pengakuan   “Siapa sih yang kirim WA sama kamu?” Aku nggak mau meladeni Mas Awan. Aku nggak mau hubungan ini sampai keluar koridor dari orang tua murid dengan guru. Aku nggak tahu apakah maksud Mas Awan mengirimi diriku pesan. Malam hari lagi. “Lihat, Von!” Avika mengeluarkan jurus ibu hamilmya. Akhirnya, aku mengalah dan memberikan apa yang ia mau. “Dia nanyain kabar kamu!” teriak Avika heboh, lalu wanita hamil ini menutup mulutnya. Avika melihat ke arah pintu, takut mungkin Bang Andy sampai mendengar teriakannya. “Aku harus jawab apa, Vik? Aku harus menekan rasa geer-ku dan menjawab dengan benar atau aku abaikan saja pesan ini?” Dengar! Pasti kalau kalian mengenal siapa aku dan Avika akan mempertanyakan situasi kami ini. Soalnya, di antara aku dan Avika, akulah yang lebih dahulu mengenal hubungan lawan jenis dan hanya aku yang berpacaran di antara kami berempat. Tapi apa, sekarang aku bertanya bagaimana cara menanggapi seseorang yang sedang menaikkan antena. Ini bukan perkara cara membalas bagaimana, ini hanya perkara, apakah aku harus atau tidak membalas pesan ini? Untuk sekali saja, aku pikir akan membalas pesan dari Mas Awan. Selain karena dia pasti suami orang, aku juga sedang menjauhi laki-laki. Aku nggak mau mengulangi kesalahan itu lagi. Niatku berhijrah, sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Aku ingin membenahi diri sehingga menjadi manusia lebih baik. Kuketik balasan untuk Mas Awan.   Mas Awan Alhamdulillah Allah masih selalu memberikan nikmat kesehatan sehingga aku baik-baik saja, Mas.   ***   Pagi hari aku sedang menyapu pekarangan rumah ketika mobil gede itu berbelok dari jalan ke rumahku. Melihat kedatangannya, jantungku bertalu-talu. Mobilnya berhenti lalu ia keluar dari pintu di bangku pengemudi. Ia tersenyum kecil kepadaku lalu berlari kecil ke pintu mobil di sisi satu lagi. Otot-otonya terlihat bekerja ketika tangan besarnya terulur ke dalam mobil dan mengeluarkan seorang anak dengan baju tidur baby doll. Chika di tangan kanan dan sebuah ransel unyu di bahu kirinya. Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan aman, Mas Awan berjalan ke arahku. Dan kalian harus tahu, melihat penampilannya pagi ini, imanku seakan ingin rontok. Luluh lantak melihat kharisma papah muda ini. Kau ingin menjauhinya? Hoax! Batinku benar-benar durhaka. Seenaknya saja dia mengatakan niatku kemarin hanya bualan belaka. Memangnya dia tahu bagaimana rasanya didatangi pria keren pagi-pagi ke rumahmu? Kurasa dia akan guling-gulingan di tanah saking senangnya. Astagfirullahal’adzim, Voni Femitha! Ini masih pagi, dan kau sudah memikirkan lelaki yang bukan mahram! Bersihkan kepalamu segera! Aku menggeleng-geleng untuk merontokkan keterpesonaan terhadap Mas Awan. Ingat baik-baik, Mas Awan adalah seorang suami dan ayah untuk keluarganya! Akhirnya, aku bisa tenang dan dapat tersenyum kepada ayah dan anak itu. “Mas Awan, kok bisa sampai ke sini?” Mas Awan berdiri tinggi di hadapanku dengan bawaan di kiri dan kanan. Rambut panjang Chika yang menutupi wajah Mas Awan ia sibakkan. Lalu ia lagi-lagi tersenyum. “Mas dapat alamat kamu dari Andy,” jawab Mas Awan dan kupikir memang dari siapa lagi kalau bukan Bang Andy? “Chika numpang mandi di sini, ya?” Sapu lidiku sampai jatuh dan benda panjang itu sukses menusuk-nusuk punggung kakiku. “Ayo, masuk Mas!” Kuajak kedua orang itu masuk ke dalam rumah. Rumah ini hanya rumah biasa, tidak seperti rumah mewah Mas Awan di kota sana. Aku nggak yakin Mas Awan akan betah lama-lama di rumah ini. Tapi ya sudahlah, aku nggak mungkin melarang tamu untuk berkunjung bukan? “Chika masih mengantuk?” Aku berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan Chika yang sudah diturunkan Mas Awan. Anak kecil itu mengucek matanya yang kecil kelihatan merah. Mungkin akibat dibangunkan paksa oleh papanya. “Dimana kamar mandinya, Fey?” Mas Awan kembali dengan beberapa alat mandi khusus anak kecil. Ada sabun dan shampo bergambar strawberi. “Di dekat pintu bagian belakang. Aku aja yang mandikan Chika, Mas.” Mas Awan tidak mendengarkan aku. Dia mengangkat tubuh kecil Chika ke pintu yang aku tunjuk. Aku membawa kakiku berlari kecil menyusul kedua orang itu. Kurasa aku harus membuatkan mereka sarapan. Mereka pasti belum makan pagi. Maka kulangkahkan kakiku menuju dapur yang berada di sebelah kamar mandi. “Telur sama sosis ada naget juga, waah goreng aja deh.” Aku memang nggak suka makan nasi di atas pukul tujuh malam. Kecuali, ini pengecualian kalau ada yang ngajakin makan di luar. Maka untuk mengantisipasi lapar tengah malam, aku menyediakan makanan yang praktis di dalam kulkas. Ketika sedang menceplok telur ke wajan, terdengar suara tangis Chika. Segera kumatikan kompor lalu berlari ke arah kamar mandi. Kakiku berhenti melangkah saat tubuhku sudah berjarak dua meter dari pintu kamar mandi. Tangan Chika menjangkau-jangkau ke udara, sementara bibirnya mengeluarkan tangis yang menyayat hati. “Mas biar aku yang  mandiin Chika.” Aku mendekat. Air yang yang disiramkan Mas Awan ke tubuh Chika menciprati bajuku. Anak itu masih menangis dengan tubuh polos dan menggigil. “Mas.” Akhirnya Mas Awan berhenti menyiram. Ekspresi wajahnya keras, gurat-gurat emosi terpancar dari matanya. “Tolong,” ucap Mas Awan pelan. Setelah Mas Awan keluar dari kamar mandi, aku segera masuk dan menutup daun pintu. Aku singsingkan lengan bajuku, kutarik hijabku ke atas pundak, lalu jongkok di depan Chika. Aku ikut bersedih melihat raut wajah Chika yang masih berusaha menyusut air mata. “Chika dingin?” Chika mengangguk. Melihat tubuhnya yang menggingil, tetapi masih ada sisa sabun di rambutnya, mau tak mau aku harus menunda menyiramkan air kembali. Kubawa Chika ke dalam pelukanku. Tubuh basah Chika yang menempel di pakaianku membuatku juga ikut basah. Aku bisa merasa kalau getaran di tubuh Chika mulai mengecil. Ia menempelkan tubuhnya begitu erat padaku. Kucium puncak kepalanya hingga satu tetes air mata ikut mengalir dari sudut mataku. “Kita siram rambut Chika dua kali lagi ya?” ucapku di telinga Chika. Chika tidak menjawab. Kuusap belakang bepalanya. Ia hampir saja tertidur jika aku tidak melepas pelukan kami. “Tidurnya nanti dulu, sekarang kita selesaikan mandinya. Habis itu, Chika boleh tidur. Kita selesaikan mandinya ya?” Akhirnya Chika mau menurutiku. Mas Awan kenapa kasar begitu sama Chika? Mungkin dia nggak pernah mengurus hal-hal pribadi Chika, seperti mandi dan menidurkan Chika? Tapi kenapa dia bisa sampai emosi begitu? Selesai memandikan Chika, aku menggendong anak kecil ini ke ruang tamu. Mengambil baju ganti yang dibawakan papanya. Setelah bajunya terpasang rapi, kusisir rambut panjang Chika kemudian menaburkan bedak di pipinya. “Tidur di kamar Bunda Voni ya.” Kugendong Chika dan kubawa ia ke kamar. Dari dalam kamar, kulihat Mas Awan duduk di sofa ruang tamu. Matanya menatap jauh. Aku merebahkan diri di samping Chika, berbaring miring dan mengusap rambut Chika perlahan.  Chika membawa kembali ingatanku kepada anakku yang pergi. Chika tidak menolak saat aku mencium puncak kepalanya. Entah kenapa, aku merasa ikatan yang kuat dengan Chika. Anak ini membuatku nyaman, membuatku merasa menjadi ibu, dan membuat rindu kepada anakku sedikit terobati. “Bunda Voni baik.” Chika membuka mata. “Bunda Voni baik kayak Omah,” ucapnya lagi. “Memangnya ada yang nggak baik ya?” “Papah. Papah nggak baik, suka marah-marahin Chika.”   ***   Aku sudah mengganti pakaianku sebelum keluar. Kulihat Mas Awan masih duduk diam sehingga ia tidak sadar dengan kedatanganku. Ia masih dalam keadaan seperti itu sebelum aku memanggil namanya. “Chikanya tidur ya?” Mas Awan mengalihkan pandangan kepadaku. Ia membenari posisi duduknya yang tadi kelihatan santai. “Dia masih ngantuk, Mas. Rebahan bentar aja langsung ketiduran,” ucapku. “Kita mau ngajak kamu makan cokelat. Ingatkan kamu pernah janji akan mengajak Chika waktu itu?” “Oooh iya. Aku hampir lupa. Tapi Chikanya tidur, kita tunggu dia bangun dulu ya?” Mas Awan menyetujui dengan sekali anggukan. “Voni!” Ketika aku dan Mas Awan diam-diaman, nggak tahu mau ngobrol tentang apa, muncullah orang yang sangat tidak aku harapkan kehadirannya. “Siapa laki-laki ini?” Tante Vana berdiri di sampingku. Matanya menelusuri Mas Awan. “Masih ingin mengulangi kelakuan itu ha—” “Tante, aku mohon Tante jangan bicara apa-apa!” Aku menarik tangan Tante Vana dan membawanya duduk di sebelahku. Ya Allah. Jangan sampai Tante Vana mengumbar aibku lagi. Aku nggak tahu apakah akan hidup setelah ini jika Tante Vana membeberkannya di hadapan Mas Awan. “Kamu teman ponakan saya, Dik?” Tante Vana kayaknya ngerti permohonanku. “Siapa namamu?” Tante Vana melanjutkan. “Awan, Tante.” “Dari kota, ya?” Aduduh, Tante Vana kenapa jadi reporter gosip gini? “Iya, Tante. Tante ini tantenya Fey eh maksud saya Voni?” “Iya. Karena saya tante Voni, orang yang menjaga Voni, saya ingin memastikan Voni membawa orang baik ke rumah ini. Ponakan saya hanya tinggal sendirian di rumah. Apa kata tetangga kalau mereka tahu kamu bertamu ke sini sendirian?” papar Tante Vana panjang lebar. “Oh maaf, Tante,” jawab Mas Awan. “Tante! Mas Awan ini nggak dateng sendirian. Dia sama anaknya,” bisikku ke telinga Tante Vana. Tante Vana langsung menoleh kepadaku. “Anak?” “Anak, Tante. Dia datang berdua,” kukuhku. “Jadi, kamu sudah menikah?” Balik lagi ke Mas Awan, Tante Vana menilai penampilan Mas Awan dengan menyipitkan mata. Aduh, Tante malu-maluin. “Saya sekarang sendiri, Tante” “Hah?” Kontan saja aku mengeraskan suara! Mas Awan nggak ada istri! “Oooh. Istri kamu kemana?” “Tante, aku izin keluar sama Mas Awan dan Chika, ya?” Aku nggak mau Tante Vana nanya macem-macem sama Mas Awan. Tante Vana kembali menoleh kepadaku. “Mau kemana?” “Kami mau ke kota, anak saya mengajak Voni makan coklat.” Mas Awan yang menjawab pertanyaan Tante Vana. Tante Vana kembali menghadap ke Mas Awan. Duh, pusing nggak tuh? “Oh, bawa saja. Asalkan jangan pulang kemalaman, dia masih ‘gadis’, tak baik pulang malam,” ujar Tante Vana menyindir. “Insya Allah, kita cuma makan aja, Tante.” Mas Awan lagi-lagi menjelaskan. “Jadi, kamu suka sama keponakan saya?” Aduuh, Tante! Tante Vana ini apa-apaan sih?! Kenapa harus bertanya hal memalukan seperti ini?! Tante kira orang seperti Mas Awan bakalan suka sama aku? Ini kalau bukan karena janjiku mengajak anaknya makan, kurasa Mas Awan nggak akan mau jauh-jauh datang ke sini. Mas Awan orang gedongan, Tante. Mama mau dia sama rakyat jelata kayak aku ini. Kalaupun dia mau, aku yang nggak mau. “Tidak, Tante.” Tuh, kan. Tante bikin malu aku deh. “Saya mencintai Voni.” Jantungku lepas, aduh. Ya Allah, orang ini kenapa? Kenapa bilang cinta tiba-tiba? Kenapa dia bicarahal seperti ini kepada tanteku? Tante ini, Tante Vana loh, tante yang nggak pernah akur sama aku sejak papa pergi. Tante yang nggak pernah suka apa yang aku lakukan. “Bagus, Tante merestui kalau kamu ingin menyeriusi Voni. Tante sudah mencarikan jodoh dia kemana-mana.” Mas Awan menoleh kepadaku, cukup sekilas, cukup sebentar, cukup membuatku gemetar.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN