12. Serius
Hening menguasai kami, mulutku terkunci, mulutnya dikunci. Mas Awan tidak berinisiatif untuk mengklarifikasi pernyataan tadi. Kusimpulkan bahwa apa yang dia katakan hanyalah untuk ‘nyogok’ Tante Vana supaya memberikan izin membawa aku pergi. Tarik garis lurus, aku simpulkan bahwa Mas Awan nggak sungguh-sungguh dengan ikrar cintanya.
“Eeeeeeee ... Hwuuuuuuuwuuu ... Hiks ... Hiks ... Omah! Bunda!”
“Itu Chika sudah bangun, Mas.” Aku mengangkat pinggulku dari kursi dan berlari ke kamar.
Chika sudah duduk dan kemungkinan dia terbangun di tempat asinglah yang membuat ia terisak. Kugendong Chika sambil menepuk-nepuk pantatnya agar tenang.
“Chika, mau Bunda Voni beliin cokelat?”
“Yang banyak boleh, Nda?” Chika bertanya dalam senggukan. Dia mulai menyusut air matanya.
Aku membawa ke papanya. “Ayok kita keluar, Mas. Chika udah mau dibawa pergi,” ajakku kepada Mas Awan, namun yang kutatap adalah wajah bangun tidur milik Chika. Yang jelas setiap aku berbicara kepadanya, aku nggak mau melihat wajah Mas Awan. Berbahaya!
“Ayo!”
***
Kami sampai di Istana Cokelat pukul dua siang. Tadi kami mampir di Masjid Nurul Bahari untuk salat Zuhur. Kami sedang menunggu pesanan.
Sebaiknya, aku jujur sama Mas Awan, untuk jaga-jaga aja. Siapa tahu dia benaran suka. Jangan sorakin aku kepedean! Aku hanya ingin mem-block tanda-tanda yang mulai terlihat. Lagi pula, aku ada keyakinan sebanyak 0,22% bahwa Mas Awan itu menaruh hati kepadaku.
“Eeeehm ... Mas.” Aku menarik perhatian Mas Awan. Dia hanya mendeham. Sepertinya buku menu lebih komunikatif darimu, Voni.
“Eeehm. Soal tadi.” Aduh kok susah banget sih mengatakannya?
“Mas Awan tadi bilang kalau—”
“Chika juga mau yang ini, Papa!” teriak Chika saat melihat Mas Awan membuka halaman buku menu yang menampilkan es krim cokelat.
Mas Awan menutup bukunya. Ia mengeluarkan napas keras setelah Chika terlihat menggoyang-goyangkan lengan kanan Mas Awan. “Hentikan, Chika!” Mas Awan memelototi Chika, akibatnya anak kecil itu terdiam lalu menunduk.
“Chika mau ganti pesenannya?” tawarku.
Chika menengadah, kelihatan nggak percaya dengan pertanyaanku. Chika menoleh ke papanya.
Apakah Chika takut banget sama Mas Awan? Oh iya, selama aku kenal Chika, anak itu memang sangat pendiam. Jarang banget aku bisa denger suara Chika. Anak seumuran Chika biasanya pasti punya seribu pertanyaan untuk orang dewasa di sekitarnya. Chika nggak. Chika nggak banyak bicara seperti anak lain. Chika suka menunduk dan Cika jarang tertawa. Masya Allah, ada apa ini sebenarnya?
“Pesen aja apa yang Chika mau,” ucapku hingga mengubah ekspresi di wajah Chika. Ada gurat kebahagiaan di wajah anak itu.
Aku mengulurkan tangan kepada Chika, lalu membawa Chika duduk di pahaku. “Kita lihat-lihat lagi yuk menunya.”
“Yang ini, Nda.” Chika tengadah kepadaku. Aduh, anak ini emang cantik banget deh, aku nggak tahan untuk tidak mencium kepalanya.
“Yang mana lagi?” Kami asyik memilih-milih ketika pelayan datang membawakan pesanan awal kami.
“Chika, pesanan kamu sudah datang. Makan yang ini aja, Chi!” Mas Awan menyudahi keasyikan kami. Kulihat Chika memperhatikan roti yang ditaburi cokelat yang ada di meja. Ia menunduk lagi.
“Chika pilih yang tadi?”
Untuk menghilangkan mendung di wajah Chika, kuikhlaskan lidahku bersentuhan dengan menu yang dipilihkan Mas Awan tadi untuk Chika. Kubisikkan kepada perut untuk sabar menerima makanan yang kurang nikmat menurutku.
“Chika! Jangan ngerepotin Bunda Voni,” tegur Mas Awan kepada putrinya.
“Nggak ada yang direpotkan, Mas. Kalau Chikanya senang aku lebih senang lagi, ya nggak Chika?” tanyaku kepada Chika. Aku menunduk sedikit untuk melihat wajah Chika, dan anak kecil manis ini pun tertawa.
“Maaf, Kak. Saya mau yang ini untuk anak saya,” ujarku kepada pelayan yang ternyata sedang berdiri menunggu negosiasi antara aku dan Mas Awan. Uuups ... Sampai lupa memesan kan jadinya?
Begitu pelayan pergi aku langsung kembali ingin mengajak Chika berbicara, namun ... yang kudapati adalah Mas Awan menatapku. Tidak seperti biasanya. Dia kali ini benar-benar melihat wajahku. Cepat-cepat kualihkan pandanganku yang kedapatan membalas tatapannya.
“Eeekm. Chika seneng nggak makan cokelat sama Bunda Voni?” Aku mencari obrloan lain daripada kedapatan salah tingkah di hadapan laki-laki ini.
Aku nggak tahu saat ini Mas Awan masih melihati diriku atau tidak. Semoga saja tidak. Aku hanya nggak ingin mencoret Mas Awan dari daftar pria baik-baik karena memiliki tatapan aneh kepadaku. Kuingin dia seperti biasanya yang menjaga pandangannya.
“Fey ...” Mendengar namaku disebutkan, aku menggerakkan kepala ke arah datangnya suara. Mas Awan masih melihat kepadaku.
“Ada apa, Mas?”
“Kamu benar-benar nggak ingat saya?”
Mas Awan menunggu jawabanku, dia melihat kedua tangannya di atas meja. Mas Awan memilih menumbukkan matanya kepada Chika yang masih ada dalam pangkuanku.
Aku menggeleng.
“Menurut kamu, kenapa saya nggak bisa melupakan pertemuan kita yang hanya sekali itu?”
Aku meluruskan punggungku sehingga Chika juga ikut bergerak. Jadi, kami hanya pernah bertemu satu kali? Kapan pertemuan itu terjadi?
“Kesan pertama itulah yang tidak bisa terhapus dalam kepala dan hati saya,” ungkap Mas Awan selanjutnya.
Jujur saja, aku nggak ingat sama sekali. Lalu bagaimana aku harus menjawab supaya kedengaran lebih sopan? Begini, aku rasa, melupakan pertemuan dengan Mas Awan sementara dirinya ingat, terasa kurang ajar buatku. Yang kulakukan saat ini hanya diam mendengarkan apabila dia ingin menjelaskan perihal pertemuan itu. Karena tentang Mas Awan yang lebih dahulu mengenalku, masih menjadi pertanyaan rumit dalam kepalaku dalam beberapa waktu ini.
“Pertemuan pertama denganmu, saya akui cinta pada jumpa pertama itu memang ada. Ini bukan seperti lirik lagu yang menurut kamu dangdut.”
“Soal yang di rumah tadi ....” Aku menggigit bibir bawahku bagian dalam. Organ kiriku mulai meronta dengan keras di saat aku menyusun kata-kata.
“Apa yang Mas Awan katakan sama Tante Vana itu beneran?”
“Iya, saya akan menjagamu dan memulangkanmu pada batas yang sudah ditentukan oleh tantemu.” Mas Awan menjadi b**o.
Mas Awan kenapa mikirin kata-kata Tante Vana lagi? Aku harus to the point. Huh berani, Voni!
“Mas Awan bilang kalau ... kalau ... Mas Awan cinta sama aku. Itu serius?” Nggak berani melihat Mas Awan, aku menunduk untuk melihat Chika yang sedang memainkan boneka pada tas kecilnya.
Krik krik krik kenapa dia diam aja? Capek menunggu jawaban Mas Awan, aku menggerakkan kepalaku untuk melihat Mas Awan, barangkali dia tidak mendengar pertanyaanku.
Ternyata Mas Awan memang nggak denger pertanyaanku, pertanyaan yang susah payah aku susun untuk kuucapkan. Laki-laki ini sedang menikmati makanannya. Oh Tuhan, Ya Allah, baru kali ini aku dibuat sekesal ini oleh laki-laki dewasa. Tugas membikin aku kesal biasanya milik Damelo.
“Kamu nggak mengerti apa yang saya katakan tadi?” Setelah beberapa menit berlalu, di saat aku sudah menyerah untuk bertanya, Mas Awan kembali membuat aku terpaksa melihatnya.
Oke, Voni! Sekarang udah, jangan lihat dia lagi kalau nggak ingin kena hipnotisnya.
“Saya nggak bisa melupakan pertemuan dengan kamu karena pada saat itu saya sudah jatuh sejatuhnya sama kamu.”
Uhuuk uhuuuk
Aduh, ada yang pernah tersedak roti nggak? Kurasa banyak yang pernah mengalaminya. Iya sama seperti yang kalian rasakan, tersedak roti itu sangat sakit. Apalagi itu adalah roti kering yang cokelatnya sudah aku comoti dari tadi. Giliran rotinya, aku nggak sadar memakannya karena berusaha melakukan hal-hal untuk mengalihkan pertanyaan bodohku yang tidak ditanggapi Mas Awan.
“Ini, minum.” Mas Awan menyodorkan air dan segera kusesap dengan cepat.
Ah, ini bukannya jus jambu, pesanan Mas Awan tadi? Kulihat gelas yang hampir tandas, isinya berwarna merah muda. Lalu aku yakin, minuman ini adalah minuman Mas Awan.
***
“Saya serius.”
Chika saat ini tertidur di pundakku. Kami berdiri di depan Istana Cokelat, terpaksa berdiri begini karena Mas Awan tiba-tiba membuat kakiku kaku dengan kalimatnya.
Yang kuat, Voni. Ada Chika sama kamu, kalau sampai kakimu lemah, kamu akan membuat kalian berdua jatuh.
“Mas.” Aku harus bilang apa sekarang? Langsung memblokade perasaan Mas Awan?
“Aku bukan remaja lagi, aku sudah memiliki Chika. Untukku, sebuah perasaan harus diselesaikan secepatnya. Aku nggak suka menggantung perasaanku dengan memberikan kode lama-lama sama kamu. Aku benar-benar serius mencintai kamu dan ingin mengajak kamu belajar serius.”
Mas Awan sudah pakai aku-kamu, nggak pakai saya-saya lagi. Lalu, kenapa ngomongin yang serius harus sambil berdiri di depan kafe pinggir jalan raya kayak gini?
“Mas aku ... Maaf ...” Aku menunduk, lalu untuk menenangkan pikiranku dari serangan Mas Awan, kuelus rambut Chika dan sesekali mencium rambutnya.
“Kenapa harus minta maaf?”
Kenapa harus minta maaf? Ya jelaslah karena aku sudah menolak Mas Awan tanpa memberikan waktu kepada hatiku untuk mencerna keseriusan Mas Awan. Karena aku nggak memberikan kesempatan kepada Mas Awan masuk ke dalam hatiku.
“Aku nggak bisa menerima ajakan—”
Mas Awan menyela ucapanku. “Fey ... Aku nggak akan mundur untuk membuatmu mengatakan iya. Jangan meminta maaf hanya karena belum bisa menerimaku. Aku bukan lelaki lemah, nggak akan mundur oleh penolakan. Kamu itu calon ibunya Chika dan calon ibu untuk anak-anak kita nanti.”
Organ sebelah kiriku sekarang lagi-lagi mengentak-entak nggak keruan. Ini pemaksaan manis namanya. Ya Allah, jangan bikin aku goyah! Mas Awan enggak mungkin berkata seperti ini jika dia tahu siapa aku sebenarnya. Nggak akan ada laki-laki yang mau menerima aku sebagai tulang rusuknya. Nasibku sudah ditentukan untuk sendirian seumur hidup sebab sudah tidak ada lagi sesuatu yang berharga yang bisa aku serahkan kepada laki-laki yang ingin menjadi suamiku.
Tiiiiiiiiin tiiiiiiiiin.
Suara klakson bersahutan diikuti suara benturan benda keras mengalihkan pikiranku. Dalam sekejap, jalan raya sudah simpang siur. Keramaian langsung terbentuk di bagian tengah jalan.
“Ada apa, Nda?” Bahkan Chika terbangun dari tidurnya akibat suara itu.
Entah kenapa, jantungku lebih hebat dentumannya dibanding ketika mendengar kalimat-kalimat Mas Awan tadi. Kakiku terseret secara otomatis ke arah keramaian. Dalam gendonganku, Chika terus bertanya ada apa. Namun aku nggak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Di balik kerumunan, aku bisa mengenali sepeda motor berwarna pink yang terguling di aspal itu. Langkahku semakin berat namun tekat dalam hatiku begitu kuat untuk memastikan apakah mataku tidak salah lihat.
“Chika sini sama Papa.” Mas Awan merebut Chika.
Ketika sudah berada di kerumunan, aku gunakan kedua tanganku yang sudah gemetar untuk mengawaskan siapa saja yang berani menghalangi jalanku. Kuhalau tubuh-tubuh yang sarat akan rasa ingin tahu itu karena aku setengah mati sangat ingin tahunya daripada mereka.
Lalu ... Para polisi datang dan menghalangi pandanganku dari sosok wanita yang tergolek di samping sepeda motor itu. Orang-orang semakin mendekat saat polisi mengangkat tubuh wanita itu ke atas tandu. Gangan kanannya jatuh dan memperlihatkan cincin di jari manis, persis seperti cincin miliknya.
Aku tersungkur di aspal. Tangisanku pecah saat melihat plat sepeda motor matic pink ini. Benar, itu dia. Itu dia, sahabatku yang paling manja. Sahabatku yang sempat bahagia karena telah dinikahi oleh cowok masjid pujaannya. Yang beberapa hari lalu mendapat kabar bahagia karena sedang mengandung buah hati ,ereka.
Ya Allah ... Tolong selamatkan dia.
Lalu kurasakan tubuhku melemah. Aku ingin mengejar dia, tapi kenapa mataku gelap? Ah aku ingin tidur dulu, barangkali di saat aku bangun nanti semua ini hanya ilusi.
***