13. Damelo
Hal yang pertama aku lihat ketika membuka mata adalah langit-langit kamarku. Kemudian aku memiringkan kepala dan menemukan plester hijau mint dinding.
Kepalaku masih terasa nyut-nyutan. Aku meringis saat ingin menegakkan tubuh.
“Aaaah.” Kepalaku terjatuh lagi di bantal.
“Fey!”
Dengan memicing aku melihat Melo telah sampai di sisi kananku.
“Masih sakit kepalanya?” Melo mengusap-usap kepalaku.
Saat ini Melo kelihatan berantakan. Rambut nggak disisir. Baju cuma pakai kaus dalam aja, dan celana pendek. Pukul berapa sekarang?
“Kamu nggak berangkat kerja, Lo?” Melo membuang napas melalui hidung saat mendengar pertanyaanku.
“Lo ....”
Tangan Melo yang berada di kepalaku segera kusingkirkan. Ia kelihatan tidak suka, namun tidak memaksa untuk menyentuh bagian tubuhku lagi.
“Fey. Kenapa akhir-akhir ini rasanya kita jauhan, ya?”
Aku berusaha duduk, nggak enak ngobrol sambil berbaring. Melo membantu menyelipkan bantal di antara kepala tempat tidur dan punggungku.
“Damelo waktu itu bilang, sekarang adalah giliran Vifey yang membuka hati untuk Damelo. Udah ya main-mainnya! Kamu pulang dan sama aku aja,” ungkap Melo.
Denger Melo bicara begini, mataku kayak ada yang mengganjal sih? Rasanya juga panas.
“Kamu tahu nggak gimana perasaan Damelo kemarin waktu melihat Vifey pulang-pulang digendong laki-laki? Damelo ingin menghajar lelaki itu, tetapi aku baru sadar ternyata Vifey lagi nggak sadarkan diri.”
Jadi kemarin aku pingsan? Yang menggendongku Mas Awankah? Memangnya kenapa aku bisa pingsan?
“Laki-laki itu sangat khawatir sama kamu. Dia nggak bolehin aku mendekat sama kamu. Kamu bayangkan, gimana rasanya aku yang sedang cemas, tapi orang asing yang sama sekali nggak aku kenal, menghalangi aku untuk melihat keadaanmu?”
“Saat Mama dateng, aku bernapas lega karena Mama mengatakan bahwa aku anaknya dan lelaki itu baru melonggarkan tangannya di pintu untuk membiarkan aku masuk. Tapi Fey ....” Melo menatap ke dalam mataku. “Mama bilang dia calon suami kamu.”
“Bukan, Melo!”
Jangan hanya karena pengakuan Mas Awan, membuat statusku berganti. Jangan hanya karena pengakuan sepihak Mas Awan, membuat Melo terluka!
“Aku tahu Fey, selama ini Mama sedang berusaha keras mencarikan suami untukmu.”
“Itu karena Tante Vana nggak mau aku menjalani hidup sebagai gadis yang bukan perawan,” gurauku. Aku upayakan untuk tersenyum. “Tante Vana ingin membuat jelas status hidupku, Melo.”
“Status? Kamu itu nggak mengerti jalan pikiran Mama, Fey. Ini bukan seperti apa yang ada dalam pikiran kamu. Semua itu Mama lakukan untuk menjauhkan kamu dariku!”
“Loh, kenapa memangnya?”
Bagian ini aku nggak mengerti. Kalau ingin menjauhkan Melo dariku, kenapa dengan menikahkan aku dengan jodoh pilihan Tante Vana? Kukira Tante Vana akan memilihkan laki-laki tua untukku, tetapi kenapa dengan Mas Awan Tante Vana bilang dia akan merestui?
“Ternyata selama ini kamu nggak pernah melihat keseriusan aku, Fey? Kamu kira selama ini aku ngikutin kamu, perhatiin kamu, hanya karena kamu ‘kakak’ aku?”
Aku melongo. Tumben banget Melo mengakui diriku adalah kakaknya. Tapi kok, rasanya nggak enak? Bukankah memang pada kenyataannya aku memang kakak sepupunya?
“Aku serius ingin menjadikan kamu istri aku, Fey. Aku ingin mengajak kamu ke KUA. Aku ingin menarik tangan kamu ke penghulu kalau kamu masih diem aja dan nggak menanggapi aku sekarang.”
Aku tersenyum mendengar leluconnya.
“Kamu tahu toh kalau Mama kamu mencarikan jodoh untukku?”
“Itu semua supaya kamu terikat dan aku nggak bisa mendekat sama kamu lagi.”
“Lucu ya. Tante Vana semangat banget nyariin laki-laki.”
“Karena Mama mau menghalangi Damelo.”
“Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Kamu pernah mendengar istilah itu, Melo? Kalimat ini ada dalam ayat Al-Quran.”
Kulihat Melo berusaha mencerna kalimat-kalimat yang kuucapkan. Aku pun lanjut menjelaskan, “Itu udah ketetapan Allah, Lo. Laki-laki yang baik seperti kamu akan mendapatkan perempuan yang baik juga. Jangan hanya melihat satu kebaikan saja, lalu kamu simpulkan bahwa orang itu baik. Orang-orang tak baik kadang bersembunyi di balik topeng kebaikan, tahu maksudku?”
“Menurut kamu aku baik atau tak baik?”
“Baik.” Melo langsung menjawab tanpa ragu.
“Maksudku yang tadi, janganlah kamu nilai aku berdasarkan apa yang kamu inginkan.” aAu menghentikan penjelasan, ingin melihat tanggapan Melo. Sepertinya dia sangat bingung.
“Kamu itu sudah mendoktrin otak kamu untuk menyukaiku dari dulu. Kita besar bersama, sama-sama nggak ada orang tua lengkap. Jadi kita selalu ada untuk masing-masing. Kamu jadikan alasan suka untuk tetap mempertahankan aku di sisi kamu. Kamu doktrin otak dan pikiran kamu bahwa aku ini baik untuk kamu. Padahal, aku udah rusak. Aku bukan orang baik, Melo. Aku akan tetap ada untuk kamu, tetapi bukan sebagai apa yang kamu mau,” paparku.
Aku nggak tahu, barusan aku bicara apa. Aku rasa Melo bukannya mengerti malah bertambah bingung. Terus, gimana caranya aku meyakinkan Melo bahwa dia hanya menyukaiku sebagai kakak yang selalu ada untuk dia?
Aku ditinggalkan ibu sewaktu masih sangat kecil. Aku hanya punya ingatan samar akan sosoknya. Kurasa ibuku seumuran dengan Tante Vana. Kurasa ibuku sangat cantik. Aku sangat ingin melihat wajahnya. Aku ingin bertemu ibu dan bertanya ‘Mengapa dia meninggalkan aku sendirian bersama Papa?’ sewaktu aku masih sangat membutuhkan dia di sampingku. Aku juga ingin merasakan kasih sayang seorang ibu.
Lalu saat papa kerap kali meninggalkanku pergi bekerja, aku sering main ke rumah Melo. Melo bayi waktu itu, aku suka melihat pipi merahnya. Tante Vana udah galak dari dulu. Aku harus curi-curi kesempatan agar bisa mencium pipi bayi Melo. Kalau sampai ketahuan, aku akan dicubitnya.
Beranjak aku besar, Papa mulai sakit. Papa kalau pulang bekerja, akan duduk lama-lama di ruang tamu. Jika aku bertanya, Papa hanya menjawab sedikit saja padahal aku ingin mengajak Papa bercerita.
Suatu sore karena kelamaan bermain bersama Melo, aku nggak lihat Papa pulang. Kucari-cari Papa di dapur dan kamar mandi, nggak ada. Lalu kuketuk pintu kamar Papa, tapi Papa nggak dengar. Akhirnya, malam itu aku tertidur di depan kamar Papa.
“Ni napa bobo sini?” Melo datang lewat pintu saat aku mengucek mata dan sadar kalau aku tertidur di lantai yang dingin.
“Ni nungguin Papa, Lo. Papa nda buka pintu waktu Ni panggil-panggil.”
“Lo bilang Mama ya, bia mama yang panggil Om Ka.” Melo berlari-lari ke luar untuk memanggil mamanya.
Tante Vana datang. Dia menatapku sekilas lalu mengetuk pintu kamar Papa. Aku berharap Tante Vana berhasil.
“Abang Ka, buka pintu Bang!” Karena capek, akhirnya Tante Vana mengambil kunci cadangan yang diletakkan Papa dekat vas bunga.
Tante Vana berhasil membuka pintu kemudian berteriak. Aku berlari ke dalam. Kulihat Papa sedang tidur. Tante Vana menangis memeluk Papa. Aku juga ingin memeluk Papa, tapi Melo kecil mengambil pelukanku terlebih dahulu. Melihat mamanya menangis, Melo juga ikut-ikutan menangis. Dia memelukku waktu itu, mengambil pelukan terakhirku untuk papa.
Sejak kepergian Papa yang waktu itu kuketahui Papa berangkat ke surga mau jemput ibu, aku dan Melo nggak terpisahkan. Melo ikut ke mana aku pergi. Karena tidak berapa lama setelah papaku meninggal, papa Melo juga menyusul. Ya, kami dua anak yatim. Namun, beruntungnya Melo karena masih ada mama di sampingnya. Sementara aku, ibuku telah pergi entah kemana.
“Kamu terlalu bergantung sama keadaan kita selama ini. Kamu nggak menyukai aku sebagai wanita, Lo. Kamu hanya membutuhkan aku sebagai kakakmu,” jelasku agar Melo mengerti.
Melo tidak putus-putusnya menatapku. Suwer, aku agak takut sama Melo. Melo adalah pemuda yang tampan, memiliki mata sedikit sipit, hidung mancung, dan bibir merah muda. Matanya yang bersih dengan dua buah alis melintang di atas bulu mata lentik. Rambut yang biasanya ia sisir rapi kini berantakan. Rambutnya yang berwarna coklat muda jatuh menutup dahinya yang putih.
Dia adikmu, Voni! Batinku terus mengingatkan agar mataku berhenti memperhatikan wajah Melo yang sempurna. Kenapa aku jadi seperti ini? Bukannya tadi aku yang mengungkapkan berbagai alasan agar Melo menjauhiku? Mengapa sekarang aku nggak bisa mengalihkan mataku dari matanya yang menatapku dengan tatapan yang nggak bisa aku definisikan?
“Jangan sama laki-laki itu, Fey. Aku mohon. Kamu tahukan, dari dulu aku selalu nunggu kamu. Aku nggak mungkin bisa menghapus tali kekeluragaan yang udah mengikat kita sejak kecil, itu mustahil aku lakukan. Tapi bisakah kamu kasih aku kesempatan untuk membuat hatimu menerima aku dan melupakan bahwa kita bersepupu?”
Kalian tahu apa yang paling aku takutkan dalam hidup ini? Aku paling nggak bisa membuat Melo bersedih. Aku paling takut, akulah yang menjadi sebab dia menangis.
Selama ini aku bisa membelokkan kata-kata Melo. Waktu dia bilang suka dan ingin menikah denganku, aku mampu membuat obrolan kami menjadi hal-hal yang tidak serius.
Melo adalah adalah anak yang ekspresif. Aku bisa melihat sekarang Melo benar-benar bersedih. Apakah kehadiran Mas Awan segitu berpengaruh bagi Damelo?
Dahulu sewaktu aku pacaran dengan Anel, Melo enggak terlalu memaksa seperti ini. Maksudku, Melo tidak sampai memohon agar aku mau membuka hatiku untuknya. Melo juga nggak sesedih ini waktu mengetahui aku tidur dengan Anel, juga saat aku keguguran anaknya Anel.
Padahal menurutku, itu hubungan yang paling parah dan harus ia waspadai kalau saja Anel mengajak menikah ketika itu. Tetapi, bukannya dia marah, justru Melolah yang menghiburku saat aku kehilangan anakku dan orang yang aku cintai. Melo nggak menyalahkan segala masa laluku.
Mengingat hal itu, aku jadi jijik dengan diriku sendiri. Nggak seharusnya Melo menunggu orang sepertiku. Nggak seharusnya Melo sampai memohon kepada wanita hina sepertiku. Tapi, ketika mendorong Melo terlalu jauh, mengapa hatiku terasa ditikam dan rasa sakitnya bisa kurasakan sekarang? Ini kenapa? Apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku?
Aku harus menjauhkan Melo dari diriku. Tante Vana benar, Melo nggak baik dekat-dekat denganku.
“Udah ah bercandanya, Melo. Aku jadi tambah pusing. Hmm ... Kalau Chika sama papanya dateng, bangunkan aku, ya.” Aku kembali merebahkan tubuh dan menarik selimut hingga ke batas leher. Kupejamkan mata, hitam dan kelam kini menyayat irisku.
Aku nggak tahu Mas Awan akan datang atau tidak. Aku sengaja mengucapkan ini agar Melo nggak lagi mengatakan hal-hal yang bisa membuat aku goyah. Demi Allah, aku menyayangi Melo. Jangan sampai aku mengiyakan semua keinginannya! Aku ingin dia mendapatkan yang terbaik. Sementara yang terbaik itu bukan diriku.
Padahal, dengan Mas Awan, aku juga nggak bisa, bahkan aku nggak ingin menjalin hubungan bersama laki-laki lagi. Maksudnya, aku tidak pantas untuk laki-laki baik-baik.
“Fey. Kamu nyakitin aku,” lirihnya.
Aku merapatkan mataku. Kurasakan air mata menuruni pipiku. Melo menghapus air mata itu dengan jemarinya. Dia mengelus pipiku.
“Mungkin Vifey lagi pusing. Cepat sembuh ya, Damelo menunggu Vifey sampai kapan pun. Kita bisa kemana bareng-bareng lagi. Istirahatlah, Damelo keluar dulu. Mau cari uang untuk membuat Vifey senang.”
Setelah kepergian Melo, aku duduk. Aku nggak tahan lagi, tenggorokanku rasanya sakit banget karena menahan untuk nggak menangis dari tadi. Aku hanya bisa membuang air mata nggak berguna. Aku harusnya dihukum karena telah membuat orang yang paling aku sayangi bersedih.
“Maaf, Melo.”
***