Lepaskanlah

2006 Kata
14. Lepaskanlah   Setelah menangis dua jam lamanya, pernapasanku jadi terganggu. Mau napas, mampet. Cara satu-satunya adalah bernapas melalui mulut. Sungguh nggak nyaman. Drrt... Drrrt... Drrrrrt... “Assalamu’alaikum, Vika.” “Kamu dimana, Von?” “Di rumah. Kamu habis menangis? Kenapa?” “Cepet ke rumah Zura! Cari tahu kemana Zura dibawa!” “Dibawa kemana maksud kamu apa, Vika?” Avika menangis lagi. “Zura kecelakaan, Von. Cepet cari tahu kemana dia dibawa! Aku mau langsung ke rumah sakit dari sini. Aku udah nelpon suaminya , tapi nggak diangkat.” Masya Allah! Iya ... Aku melihat Zura diangkut dengan tandu. Ya Allah ... Zura ... Aku lupa. Aku nggak boleh nangis. Aku harus ke rumah Zura. Aku nggak boleh pingsan lagi! “A ... Ak ... Aku ke rumah Zura sekarang. Kamu nunggu di rumah, jangan ke sini, Zura pasti dibawa ke rumah sakit di kota.” Kubersit hidungku agar memudahkan pernapasan. “Kamu sakit, Von? Suara kamu lemes banget?” Avika malah mengkhawatirkan keadaanku. “Aku nggak sakit, Vik. Aku cuma baru bangun tidur, maklum lagi free jadi bangunnya sengaja siangan dikit dari biasa,” dustaku. “Ya udah, hati-hati di jalan ya.” Aku segera mengganti pakaian yang layak dan memoleskan sedikit bedak agar wajahku lebih segar. Ah, bibirku masih pucat, aku harus menambalnya dengan lipstik. Sepertinya pingsanku sekalian tidur malam. Kemarin waktu keluar dari Istana Cokelat masih sore dan kecelakaan Zura terjadi seketika itu. Kemudian aku pingsan dan baru sadar ketika matahari mengintip dari celah jendela kamar. Tunggu tunggu! Aku pingsan atau tidur sih? Kalau pingsan kok kama banget? Damelo pasti tahu. Aku yakin dia nggak akan meninggalkan aku semalam. “Tante Vana, Melo udah berangkat?” Sebelum pergi, aku mau bertemu Melo dulu. Takutnya nanti tuh anak kerjanya nggak bagus karena masalah yang aku buat. “Jam segini? Kau sadar apa yang kau tanyakan?” Kulihat jam tangan yang melingkar di lengan kiriku, jarumnya menunjukkan delapan tiga puluh. “Kok Tante masih di rumah?” “Eh, Voni! Jangan abaikan kesehatanmu! Jangan lupa makan kau! Badan sudah seperti papan kubur masih saja menahan-nahan makan. Mau jadi cantik juga percuma karena kau sudah bekas orang. Jangan sampai kamu bikin Melo tidak menuruti kata-kata Tante hanya karena menunggu kamu yang sakit.” Benar jadi memang Melolah yang menemaniku semalam? Pantes dia berantakan banget tadi pagi. “Jadi Melo sudah berangkat, Tante?” “Voni! Kemana kau sembunyikan otakmu? Melo itu bekerja di bank, mereka punya jam masuk. Kalau jam segini masih di rumah, itu hanya pengangguran seperti dirimu.” Tante harus gitu ya dari tadi menyindir? Aku nggak ada bagus-bagusnya di mata Tante Vana. “Aku mau ke Kampung Lilin sebentar, Tante. Temenku dapat kemalangan.” Kenapa ya mulutku baik banget pake pamit segala sama Tante Vana. Ckckcck... “Teman kamu yang mana? Di Kampung Lilin, bukannya cucu Anduang Rafiyah?” Perkampungan kami yang berdekatan membuat para warga mengenal satu sama lain. Apalagi aku berteman dengan Zura sejak sekolah. Jadi Tante Vana juga kenal dengan keluarga teman-temanku. “Iya Tante. Jadi kemarin aku lihat Zura dibawa ke rumah sakit. Tapi karena aku keburu nggak sadarkan diri, aku sampai lupa sama kejadian itu. Untung tadi ada Avika yang mengingatkan.” “Tante sudah maklum sama kepala kamu, Von. Kapan kau bisa diandalkan untuk hal-hal yang penting? Teman sendiri dapat kemalangan, kamu enak-enakan tidur, ditemani pula oleh anakku.” Tante Vana mendengkus. Abaikan saja, Voni! “Tante mau ikut menjenguk Zura?” tawarku. “Lain kalilah. Toko kita belum dibuka sejak pagi.” Oh iya, hari ini biasanya Tante ke toko agak lambat. Jadi, Tante Vana bekerja di toko yang menjual makanan ringan. Selain itu Tante Vana juga menyewakan beberapa rukonya di kota. Aku juga hidup dari hasil sewa ruko milik papa. Sedikit kebun kelapa sawit di Pasaman yang dikelola oleh orang lain. Karena itulah kami hidup sederhana, cukup untuk hidup dan sekolah. “Ya udah aku berangkat, Tante.” Tante Vana udah capek kali berbicara denganku. Jadi kalimat terakhirku ia anggap angin. ***   “Ayo kita cari langsung ke rumah sakit, Fey.” Ketika aku akan membuka pintu mobil, Mas Awan datang ke rumah. Dia memaksa menjadi supirku ke rumah keluarga Zura. Bagaikan petir yang menyambar tubuh, ternyata puncak masalah terjadinya kecelakaan pada sahabatku adalah suaminya sendiri. Aku nggak nyangka orang seperti Zahfiyyan akan berbuat seperti itu terhadap istrinya. Zahfiyyan seperti mayat hidup waktu aku datang ke rumah mereka. Suaminya Zura itu duduk terpekur di rumahnya, sendirian, dan tidak berniat sama sekali mencari tahu keadaan istrinya. Percuma aku datangi rumah mereka kalau nggak dapat info apa-apa. Mau nggak mau, aku harus ke rumah papa Zura. Setibanya di rumah Om Heri, papa Zura, aku juga mendapatkan zonk. Nggak ada yang tahu di mana Zura berada. “Kita cari ke beberapa rumah sakit saja, Mas.” Pada akhirnya, aku setuju dengan usul Mas Awan untuk mencari keberadaan sahabatku. Sudah beberapa rumah sakit yang kami datangi, namun tidak ada korban  kecelakaan bernama Zura Azzahra dimana-mana. Jadi, kemana sahabatku dibawa? Kenapa Zura bisa hilang tanpa bekas seperti ini sih? “Kita makan siang dulu yuk, Fey. Kamu kelihatannya belum makan sejak pagi.” Mas Awan mengemudikan mobil menuju Kota Padang. Sepertinya aku harus mencari beberapa rumah sakit di sini juga. Ya Allah, Ra! Kamu dimana? “Teman kamu pasti baik-baik saja. Siapa pun yang menyelamatkannya, dia pasti sedang memperjuangkan keselamatan teman kamu. Kamu harus percayakan semuanya kepada Allah. Allah akan menolong teman kamu,” papar Mas Awan. Mendengar penuturannya, aku menjadi agak tenang.   ***   Siang sudah kehilangan kegagahannya ketika kami memasuki restoran. Mas Awan mengajakku duduk di kursi dengan meja untuk berdua orang, terletak di bagian dalam, dekat bar. Setelah menyebutkan pesanan kami, pelayan meninggalkan aku dan Mas Awan yang saling bungkam. Mas Awan melihat ponselnya. Ngomong-ngomong, Mas Awan kerjanya apa sih kok bisa keluar di jam kerja seperti sekarang? “Aku mau bilang makasih kepada Mas Awan karena kemarin udah bantu aku pulang.” Mas Awan meletakkan ponselnya di atas meja. “Sekarang gimana keadaan kamu? Apakah masih pusing?” Entahlah ini aku yang kegeeran—lagi—atau memang benar, sepertinya Mas Awan sudah menahan pertanyaan ini keluar dari bibirnya sejak kami bertemu tadi. Wajah Mas Awan kelihatan seperti seseorang yang sangat mengkhawatirkan pasangannya. “Sudah sehat, Mas. Hanya saja aku terlalu takut nggak bisa bertemu dengan Zura lagi.” Kenapa hal buruk bisa terjadi kepada sahabatku? Kenapa lagi-lagi, Zura yang menderita? Apa Allah sangat sayang kepada Zura sehingga memberikan ia cobaan yang berat? Aku rasa kesedihanku nggak ada apa-apanya dibandingkan perasaan Zura saat ini. Ya Allah, dia sedang hamil, Ya Allah. Jangan sampai kandungannya kenapa-kenapa, Ya Rabb. Tolong selamatkan Zura dan calon bayinya. “Demi Allah, jangan menangis di depanku, Fey!” Mas Awan menggertakkan giginya. Buku-buku jari tangannya menegang. Urat yang mengular di balik kulit lengannya pun kelihatan menonjol. Melihatnya seperti itu, membuatku ketakutan. “Aku mengkhawatirkan Zura, Mas.” Setelah berbicara, aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. “Kita akan cari dia. Tapi tolong, jangan menangis!” Suara Mas Awan melemah. Dengan perlahan aku berusaha menyusutkan air mata. Namun ketika bayangan Zura yang tergolek di jalan raya melintas, isakanku kembali datang. “Kalau kamu nggak berhenti menangis, aku akan tarik tangan kamu dan bawa kamu ke rumah.” Mas Awan kembali marah. Ya Allah, orang ini kenapa nggak bisa merasakan kesedihanku? Aku nggak ingin menangis, tetapi air mata ini keluar sendiri saat bayangan sahabat yang kusayangi itu melayang dalam kepalaku. Kenapa dia memaksa agar aku berhenti? “Makan dulu, biar punya tenaga.” Mau nggak mau, aku terpaksa mengikuti perintah Mas Awan. Daripada dia ngamuk lagi. Aku juga harus memberikan nutrisi untuk tubuhku agar memiliki tenaga untuk mencari keberadaan Zura.   ***   Tidak ada jejak keberadaan Zura Azzaara. Dalam perjalanan pulang aku diam seribu bahasa. Begitu juga Mas Awan yang tidak ingin mengajakku berbicara. Aku membebaskan penglihatan kepada jalan-jalan yang kami lewati menuju pulang. “Makasih, Mas Awan.” Aku segera keluar dari mobilnya. Tapi, kulihat Damelo datang mendekat kepadaku. Wajahnya kelihatan khawatir sekali. Dia masih menggunakan setelan kerjanya. Tapi, dasinya sudah ia campakkan entah kemana. Dua kancing teratasnya ia tanggalkan dan lengan kemejanya ia gulung. Rambutnya sudah tak lagi rapi. Mas Awan belum pergi. “Fey, kenapa kamu nggak ngajakin aku untuk mencari Kak Zura?” tanya Melo ketika sudah berdiri di hadapanku. “Aku tadi terburu-buru, Lo.” “Tapi kamu ngajak dia.” Melo menunjuk Mas Awan di dalam mobil. “Hanya kebetulan kok.” “Fey.” Aku berbalik ketika namaku dipanggil. Mas Awan berdiri tegap dan tinggi di belakangku. “Ya, Mas? Ada yang ketinggalan?” “Nggak ada. Hanya mau mengucapkan selamat malam. Jangan sampai sakit lagi, ya. Semoga besok sudah bisa beraktivitas seperti biasa.” Setelah itu, Mas Awan kembali ke mobilnya. Mobil gede itu dilajukan cepat meninggalkan asap-asap yang mengganggu pandanganku. “Fey.” Aku kembali menginjak bumi oleh sapaan Melo. Kutolehkan kepalaku kepada Melo. Irisnya dipenuhi emosi. “Ikut Damelo!” Aaaauh ... Melo menarik tanganku. Langkahku mengikuti irama kecepatan Melo yang panjang-panjang. Kami tiba di rumah Melo. “MA!” Melo masih memegang tanganku. Aku sudah meronta minta dilepaskan, namun tangan Melo keras banget. “MA!” Akhirnya Tante Vana keluar juga. Mata Tante Vana langsung tertuju kepada tanganku yang dipegang Melo. Tante Vana pun mendekati kami. “Kamu mau ngapain, Damelo?” teriak Tante Vana. “Damelo ingin menikah sama Voni.” “DAMELO!!” Tante Vana menarik tanganku yang sebelah lagi. “Lepaskan tangan Voni, Damelo!” Tante Vana melotot garang kepada Melo. Mereka menarikku di kedua sisi. “Damelo ingin menikah, Ma. Voni nggak boleh dekat dengan orang lain! Nggak boleh!” Melo menarikku ke sisinya. “Kalian bersaudara, Damelo!” Aku mengangguk ke arah Melo. “Nggak ada yang melarang Damelo menikahi anak mamak*, Ma.” Melo kukuh bertahan. Aku hanya bisa menggeleng-geleng untuk menidakkan perkataan Melo. “Mama tetap tidak akan mengizinkan kamu menikahi Voni! Kamu dan dia, kalian berbeda jauh. Sampai Mama mati, Mama tidak akan merestuinya, Damelo. Bunuh dulu Mama agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau!” Tante Vana menangis. Baru hari ini aku melihat sosok lemah Tante Vana. Aku nggak akan tahan melihat Tante Vana yang kuat memohon sambil menangis kepada putranya sendiri. Aku harus menyelesaikan semuanya. “Tante. Damelo. Aku hanya memiliki kalian sebagai keluarga. Tante adalah pengganti ibuku dan Melo adalah adik kesayanganku. Kalian yang menjagaku selama ini. Aku nggak ingin kalian bertengkar hanya karena wanita seperti diriku. Melo, kumohon turuti apa kata mama kamu! Aku nggak baik, Melo. Kamu bisa mendapatkan wanita yang tepat. Aku mohon, Melo, demi Tante Vana. Jangan buat ibu kamu nangis.” Pegangan Melo pada tanganku mulai mengendur begitu juga tangan Tante Vana. Aku tatap raut wajah Tante Vana dan Damelo. Entah kenapa mulai saat ini, aku rasa Tante Vana sesungguhnya menyayangiku, tapi ada sesuatu yang ia sembunyikan sehingga selama ini dia sangat memusuhiku. Tante Vana hanyalah seorang ibu biasa. Seorang ibu tegar yang telah berhasil mendidik anak lelakinya hingga seperti sekarang. Juga dengan ikhlas—aku yakin itu—Tante mengurus dan menjagaku selama ini. “Maafkan aku yang membuat Melo melawan sama Tante.” “Bukan salah kamu, Fey.” Aku menggeleng. “Iya, itu karena aku, Lo. Aku sudah mengambil kamu dari Tante Vana sejak kamu masih kecil. Aku yang mengambil seluruh perhatian kamu padahal Tante Vana juga kesepian tanpa kamu. Aku nggak sadar sudah memonopoli kamu dari ibumu sendiri.” Tante Vana melepas tanganku lalu ia memelukku. Demi Allah, kenapa bisa menjadi seperti ini? “Tante mohon, Von. Jangan ikuti Melo.” Tante Vana menangis di bahuku. Mana Tante Vana yang menghina-hinaku? Kenapa Tante Vana nggak membicarakan aibku? Kenapa Tante Vana tidak menggunakan alasan itu sebagai alasan agar Melo menjauhiku? Aku mengangguk turut larut dalam tangisan. Mungkin karena kejadian beberapa hari ini yang cukup berat, membuat mataku memproduksi air mata yang melimpah. Aku ambil tangan Melo. Aku genggam tangannya. “Aku nggak tahu apa yang bakalan terjadi nanti, Melo. Kuharap kamu nggak akan membenciku kalau aku mengambil jalan yang salah lagi.”   ***   *menikah anak mamak di Sumatera Barat adalah menikah dengan anak paman
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN