Tamu(ku)?

1616 Kata
15. Tamu(ku)?   Damelo kembali menjadi adikku yang manis. Tante Vana kembali menjadi tante yang judes. Pelukan tempo hari terasa tiada artinya. Kejadian hari itu  menguap begitu saja dibawa panas sinar matahari esok harinya. “Fey!” Damelo menerobos ke kamarku seperti biasa. Untung aku lagi nggak ngapa-ngapain. Aku sedang baca portal berita di smartphone sambil mencari-cari info loker. Ya Allah, aneh banget ya diriku, tamat sudah lama tapi masih menganggur sampai sekarang. Hidupku terasa nggak b*******h, tak ada tujuan yang pasti. Aku tidak punya keinginan yang menggebu untuk menjalani hidup dalam bidang tertentu. Singkatnya, aku nggak tahu mau kerja apa. Hingga detik ini, aku menikmati apa yang aku dapatkan. Biaya hidupku masih menggunakan harta peninggalan Papa. Untuk makan, aku numpang makan di rumah Tante Vana. Sebenarnya aku parasit di rumah Tante Vana. Numpang makan tanpa ingat bantu Tante Vana memasak atau mencuci piringnya. Itu semacam kebiasaanku sejak kecil. Karena selama ini Tante Vana nggak pernah membahas kemalasan diriku. Oke untuk ke depannya, aku akan menolong Tante Vana. Paling nggak aku makan pagi dan siang saja di sana. Untuk makan malamnya, aku makan apa saja yang ada dalam lemari penyimpananku. Ya Allah, oke aku nggak akan bikin-bikin alasan untuk kemalasanku. Intinya, aku akan mulai membantu Tante Vana sebelum aku bekerja. Astagfirullah, aku kok ngeles terus sih? Intinya lagi aku nggak mau berdua aja sama Tante Vana dalam dapur sempit miliknya. Aku merasa akan diulek-ulek olehnya. “Eeh eeh! Nggak sopan banget masuk-masuk sembarangan!” Aku sudahi selancarku di dunia maya. Kuturunkan kaki dari ranjang lalu memberikan Melo sebuah sentilan di telinganya. Dia mengaduh sedikit dan langsung tebar senyum dengan gigi rapinya kepadaku. “Balik kerja bukannya pulang malah masuk kamar anak orang!” omelku kepada lelaki yang memakai kemeja putih yang sedang memanggul jas kerjanya. “Fey, makan es krim yuk!” “Nggak ah males. Aku nggak mau kemana-mana. Aku mau menikmati hari libur terakhirku sebelum ngajar sore lagi.” “Nggak bisa! Hari terakhir liburan, harus dinikmati berdua!” “Aaaaw, Melo Melo apaan sih narik-narik?! Melo lepasin tangan aku!” Kurang asih si Melo. Ya dia jadi adik manjaku lagi, tapi tetap aja kita bukan mahram! Nggak bisa main pegang-pegang begini. Setelah dia melepaskan tanganku, aku langsung menendang tungkainya yang panjang. Aku turunkan lengan bajuku yang tersingkap oleh tarikannya tadi. “Ayo masuk!” Melo membuka pintu mobil miliknya. “Tumben naik mobil, motor kamu kemana?” Setelah aku duduk dengan baik di samping kursi pengemudi, seperti dalam adegan novel, Melo ‘membantu’ mengunci sabuk pengaman. “Ah Vifey bisa aja modusnya,” ujar Melo dengan senyum lebarnya. Ia duduk menghadap kepadaku dan ini terasa aneh. Von, Melo itu saudara! Aku membuang pandanganku ke depan. “Jangan bicara sembarangan deh kamu!” balasku keki. Enak aja dibilang modus. Aku nggak pernah punya niat modusin cowok. “Yeee dibilangin juga. Naik mobil nggak masalah sih. Tapi kalau naik motor, Vifey boleh kok peluk-peluk Damelo lagi, pilih yang mana? Vifey maunya kita naik motor aja? Kamu tahu kan gimana posisi kamu kalau duduk di boncengan motor Damelo?” Ya Tuhan!! Beneran ini mulut Melo minta dicubit pake kuku panjang. Sepeda motor Melo yang gede, tapi tempat duduk di belakangnya yang kecil itu nggak mungkin bisa aku lupakan. Dulu sih fine-fine aja aku naik motor dia. Sekarang enggak deh, mending aku pake motor bebek Papa atau pinjem matic Tante Vana aja. Nggak mau peluk-peluk dia kayak dulu hiii... Bisa-bisa pulangnya diarak ke KUA oleh warga! “Lanjut! Nggak jalan ya udah aku keluar nih?” Ancamanku berhasil. Melo menjalankan mobilnya.   ***     “Masih suka pantai?” tanya Melo. Melo berdiri di sebelahku. Kami menatap laut yang tengah disinari mentari sore. “Hm. Setiap melihat pantai, aku jadi ingat dia,” kenangku. “Siapa?” Melo terdengar penasaran. “Orang yang kusayang.” “Kalau untuk mengingatku, kamu akan pergi kemana?” Pelan Melo bertanya. “Kemana ya? Kita selalu kemana-mana. Nggak ada yang paling berkesan.” “Fey.” Melo mulai nada manjanya. “Hm.” “Maaf karena terus-terusan memaksa kamu. Aku akan sadari posisiku, tugasku adalah menunggu kamu.” “Melo—” “Jangan takut. Ketika dunia ingin menyayangi kamu, aku akan menjadi orang pertama yang menyayangimu. Ketika dunia ingin membuatmu menangis, akulah orang pertama yang mengembalikan kebahagiaanmu. Mudah memang diucapkan, tapi kamu harus melihat usahaku yang keras untuk memperjuangkan kebahagiaanmu.  Aku ingin mengembalikan tawamu. Aku nggak suka melihat kamu tertekan.” Kenapa Melo begitu baik kepadaku? Kenapa dia tumbuh menjadi seorang pria yang hangat? Hati perempuanku akan luluh lantak jika lama-lama disirami kebaikannya. “Kamu tempat aku pulang, Melo. Jadi aku akan mencari kamu ketika aku lelah. Tidak, aku nggak harus mencari kamu karena kamu selalu berdiri di belakangku.” Sedikit senyuman dilemparkan Melo kepadaku. Aku suka ketika dia tidak petakilan  seperti sekarang. Aku bisa menjadikan sandaran seolah dialah kakaknya dan aku adiknya. Kenapa laki-laki bisa memposisikan dirinya berbeda? “Jadi, Damelo akan selalu di belakangmu? Tidak adakah kesempatan Damelo untuk berdiri di sampingmu, Fey?” “Kamu nggak sadar ya? Kamu sekarang sedang berdiri di sebelahku?” “Uuuuh!!” Melo mengacak rambutnya, menghentakkan kaki kanannya lalu melemparkan tangannya ke udara. Kelihatan banget Melo kesal oleh kalimatku. Giginya ia ketatkan dan matanya nggak tau deh udah semarah apa. “Pengen banget cubit bibir kamu yang ngasal itu!” ucapnya dengan kedua tangan siap untuk mencubit. “Aku sudah lama punya niat itu, Melo!” Melo tersenyum. Anehkan dia? Tadi marah, sekarang senyum. Eeh tapi senyumannya nggak enak nih kayaknya. Pasti ada maksud lain! “Sini, Damelo cubit kamu, kamu cubit aku!”   ***   Kami akhirnya melakukan perjalanan pulang ketika arloji di tangan Melo menunjukkan pukul 20.00 WIB. Itu artinya kami akan sampai di rumah sekitar pukul sembilan. Kami menikmati sun set di atas batu pantai bersama lelehan es krim yang Melo beli sebelumnya dengan berlari-lari. Aku bahagia bisa menghabiskan senja bersama Melo. Melo lucu. Dia bisa menjadi reality show dadakan untukku. Seandainya, nanti Melo sudah mendapatkan seseorang yang akan ia jaga seperti ia menjagaku, bisakah aku bertahan dalam sendiriku? Ya Allah, aku nggak bisa bersama dia. Saat ini dia bilang akan bahagia jika melihat aku juga bahagia. Tapi bagaimana caranya sebab yang membuatku selalu bahagia adalah bersama dia? Apa yang harus aku lakukan agar tetap bahagia meskipun tidak ada dia? Lalu bagaimana dia akan mendapatkan kebahagiaannya  sendiri jika dia terus menungguku? Ya Allah. Aku nggak tahu kenapa aku bisa menyayangi Melo seperti ini. Aku nggak bisa melihat dia bersedih dan aku nggak sanggup membuat dia tertawa. Kenapa hanya dia yang berjuang? Aku sudah berjanji kepada Tante Vana bahwa aku tidak akan mengabulkan permintaan Melo. Itu artinya aku harus menjauhi Melo. Bagaimana caranya? Sanggupkah aku? Oke, dulu sewaktu tinggal di Padang ketika kuliah, aku hidup berjauhan dari Melo. Namun, Melo tidak pernah absen menghubungiku. Sama seperti dia-masa-laluku, mereka mengambil waktuku sama banyak melalui sebuah ponsel. Terkadang, Anel yang lebih dahulu menelepon, terkadang Melo. Lain lagi kalau berbalas pesan, mereka selalu datang bersamaan. Aku harus hati-hati dan fokus ketika membalas chat dari mereka berdua agar tidak tertukar. “Kita harus sering-sering refresing seperti ini,” ungkap Melo membuyarkan lamunanku. Aku melihatnya yang sedang menyetir. Senyuman Melo tidak luntur dari wajahnya. Aku juga ikut tersenyum senang, tapi ada yang mencubit sisi lainnya sehingga senyumanku terasa kecut. Melo membelokkan mobilnya ke pekarangan rumahku. Cepat-cepat aku melepas seat belt sebelum dia yang melakukannya. Melo ini aneh. Aku rasa dia kebanyakan membaca novel. Dia berusaha mencuri kesempatan untuk dekat denganku. Melo itu bodoh! Dia seharusnya mendekati wanita bermartabat dan cantik, dan pintar dan polos. Mereka pasti menjadi pasangan lucu. Bukannya aku yang udah dipolosin orang! “Ada tamu, Fey.” Aku melihat ke rumahku. Benar ada seseorang yang datang. Mungkin Tante Vana yang menemani tamu itu. “Ayo!” Aku mengikuti langkah kaki Melo yang panjang-panjang. Melo masuk tanpa mengucapkan salam sementara aku terperangah di depan pintu. Bukan, bukan tatapan tajam Tante Vana yang menahan kakiku di sini. Bukan amarah Tante Vana saat melihat aku dan Melo pulang bersama, bukan. Lebih dari itu, aku sedang bingung. Kenapa dia bertamu malam-malam? Kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu nanti? Sebuah tangan meremas jemari kananku. Aku tersentak dan mengalihkan pandangan dari tamu Tante Vana. Tangannya ia telusupkan ke celah-celah jemariku. Ia terlihat memelas dan hatiku terasa kelu melihat dia kehilangan senyumannya. Ini gila! Aku membalas genggaman tangannya! Ya Allah, maafkan aku! Aku menyudahi memandangnya lalu memutar kepala ke kanan, ke arah Tante Vana. Tante Vana terlihat sangat ingin mencekikku. Melo menarik tanganku untuk duduk di hadapan tamu Tante Vana –atau tamuku? Mata lelaki itu mengamati tanganku yang diletakkan Melo di atas pahanya. Ya, dia tidak akan mau memandangku, begitu sejak pertemuan kami yang pertama. Dia selalu menjaga pandangannya. Lalu apa maksudnya bertamu ke mari? Tiba-tiba tubuhku ditarik dan kini pindah duduk ke bangku single sementara posisiku tadi dihuni oleh Tante Vana. Aku bernapas lega. Minimal, Tante Vana sudah menyelamatkanku. “Tante tidak ingin menanyakan dari mana kalian dan apa saja yang kalian lalukan di luar. Kamu lihat sendiri, di sini ada orang yang ingin bertemu kita, kamu dan Tante. Damelo, kamu sebaiknya pulang dan mandi!” “Mama! Mama anggap Damelo anak kecil apa disuruh mandi segala!” “Pulang!” tegas mama Melo. “Mama jangan ngusir Damelo! Melo mau tahu apa tujuan orang ini ke rumah Voni!” “Orang ini punya nama, Damelo!” bentak mamanya. “Ya ya ya ... Siapa namanya?” “Kenalkan, saya Syafwan panggil saja Awan.” “Sariawan?” tanya Melo pura-pura b***k. Aku tertawa mendengar cemoohannya. Lalu cepat-cepat menutup mulut ketika Mas Awan melihatku. Melo cerewet akan keluar kalau dia nggak suka dengan apa yang dia lihat. Fokus, Voni! “Mas Awan, ingin bertemu denganku? Ada apa, Mas?”   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN