16. Testimoni
“Vika!! Ini sesuatu banget!”
Setelah beruluk salam dan masuk secara tak beradab ke rumah Avika, aku melemparkan kalimat penuh esmoni itu kepada Avika. Aku bilang apa? Esmoni?! Voni gila, itu maksudnya adalah esmosi. Hampir seperti testimoni. Selalu dan selalu aku melakukan testimoni kepada Avika. Dia sudah menjadi semacam tong curahan kalbu pribadiku.
Aku pun mengambil posisi duduk di kursi kebesaran Avika, sebuah sofa besar dengan sandaran yang mewah tinggi tempat aku menjatuhkan seluruh berat tubuhku.
“Ada apa lagi dengan kamu?”
“Kamu pasti nggak percaya!”
“Heh, yang jelas dong! Aku nggak akan tahu kalau kamu tidak bicara!”
“Ya Allah ... Aku rasa aku sudah gila. Aku punya banyak rasa dalam kalbuku!” keluhku mungkin bagi Avika terdengar lebay.
“Ya Allah ya Tuhanku. Kamu ke sini niatnya ingin cerita atau membuat aku mati meregang dalam penasaran yang menggerogoti hingga ke darah?”
“Kamu baru nonton film apa sih sampai aneh begitu?” Sekarang aku yang penasaran sama Avika. Masa tiba-tiba dia jadi aneh gini?
“Aku tebak, kamu diterima kerja?”
“Bukan itu. Nih ya, ini berita heboh seantero abad.”
“Hmm,” tanggap Avika malas.
“Kamu tahu Mas Awan?”pancingku.
“Kamu sudah menceritakan itu. Dia papanya Cika, kenapa sama Mas Awan?” Avika bersedekap yang ada tangannya menimpa perut balonnya. Ah aku jadi ingin pegang juga perutnya Avika.
“Aku kangen deh sama ponakan.” Aku pindah duduk di samping Avika.
“Iya, kamu kemana aja sih kemarin-kemarin? Nggak datang ke masjid juga nggak main ke sini,” rajuk Avika.
“Sedikit nggak enak badan,” jawabku. Kini aku memutar ulang kejadian naas yang menimpa sahabatku. Sudut-sudut hatiku terasa seakan disuntik paku karatan.
“Kamu sakit? Terus gimana? Udah ke dokter? Siapa yang jagain kamu di rumah sendirian?”
“Aku sih nggak apa-apa. Cuma hatiku aja yang nggak enak, kamu tahukan Vika? Aku sayang banget sama Zura. Dia udah seperti saudaraku sendiri. Kita sama-sama nggak dibesarkan oleh orang tua kita. Dan parahnya dia jatuh di depan mataku sendiri.”
“Ya Allah!” Avika menutup mulutnya tak percaya.
“Coba aja aku nggak pingsan waktu itu. Jahatnya lagi aku baru ingat sama dia waktu kamu telepon.”
Dan kami semua kehilangan jejaknya.
Satu jam kami habiskan untuk mengulang kebersamaan dengan sahabat kami Zura. Mungkin Allah punya jalan berliku untuk kehidupan sahabat kami. Aku percayakan semuanya kepada Allah. Dalam kehidupan kita, Allah memberikan dua hal yaitu hal baik dan hal buruk. Setelah melalui hal buruk, Allah pasti memberikan kebaikannya kepada dia.
“Jadi inti kedatangan kamu adalah ....”
Aku melirik jam di dinding. Pukul tiga sore. Sebentar lagi akan berkumandang seruan salat dan artinya aku harus bergegas ke masjid jika tidak ingin terlambat datang.
“Aku udah dilamar,” akuku akhirnya.
“Ah kamu yang serius dong!”
“Ya Allah nggak percaya. Beneran loh Vik. Kemarin malam dia datang.”
***
“Saya memiliki seorang putri dan umur saya sudah tidak pantas untuk memulai pendekatan tanpa adanya kepastian.” Mas Awan berkata mantap.
“Jadi, maksud Awan adalah ingin memberikan hubungan pasti kepada Voni?” tanya Tante Vana.
“Betul, Bu. Saya ingin melakukannya sesuai ajaran agama kita. Saya ingin mengenal Voni lebih jauh lewat beberapa pertemuan yang insya Allah mendapat restu dari Ibu.”
“Sepertinya kamu sudah tahu kalau Voni tidak memiliki mahram?”
Mas Awan melihatku sekilas lalu kembali lagi kepada Tante Vana.
“Ya. Maaf Bu, saya sudah mencari tahu sebelumnya.”
Otomatis aku diserbu rasa takut oleh pengakuan Mas Awan. Yang benar saja, dia udah stalking-stalking?
“Tidak masalah. Pada akhirnya kau memang berniat serius kepada Voni, bukan?”
“Iya.”
“Voni, bagaimana denganmu?”
Tante Vana menanyai pendapatku? Tumben banget.
Aku nggak bisa menjawab ini langsung. Ya aku tahu, cinta bisa dipupuk setelah halal karena aku nggak mau memupuk dosa beralasan atas cinta. Aku mau perasaanku diselamatkan oleh sebuah status pasti atas izin Allah. Tapi apakah harus sama Mas Awan?
Jadi kau maunya dengan siapa, Voni?
“Kita baru kenal, Mas?” Aduh kenapa aku bertanya? Mas Awan pasti bilang kalau kita udah kenal dari dulu dulu banget.
“Itu lebih bagus. Kita bisa terhindar dari berkhalwat,” jawab Mas Awan.
Jantungku seperti dicubit jari berkuku panjang dan hitam. Sakit. Aku ingat dosa-dosaku. Ya Allah, aku nggak bisa lupa apa yang pernah kulakukan di masa lalu. Atas dasar cinta aku melakukan dosa besar itu. Lalu apakah Mas Awan mau menerimaku yang seperti ini? Apakah aku harus mengatakan semuanya kepada Mas Awan? Untuk apa? Agar Mas Awan mundur? Kalau dia mundur lalu aku akan senang? Sebenarnya inginnya hatiku apa?
Seperti tahu pertarungan dalam hatiku, Tante Vana menyelamatkan keadaan. “Kau sudah mengenal Voni? Kau yakin dengan keputusanmu?”
“Insya Allah, Bu. Saya yakin karena saya mencintai Voni. Membebaskan perasaan ini adalah dengan memberikan hubungan pasti yang diridhai Allah. Jika perkenalan ini nantinya berhasil, insya Allah saya akan segera menyunting Voni.”
“Saya akan menyerahkan keputusan kepada Voni.”
Tante Vana kini menatapku. Di saat seperti ini, kenapa Tante Vana harus meminta pendapatku? Kenapa tidak seperti sebelum-sebelumnya dia paksa aku menerima apa yang dia mau? Itu lebih simpel yang nggak bikin aku pusing tujuh keliling.
“Voni...”
Aku tahu, Mas Awan punya niat baik. Memang beginilah harusnya memulai hubungan. Datangi orang tuaku, minta izin kepada ibuku–tanteku.
“Tapi Voni—”
Aku memohon bantuan kepada Tante Vana, tapi tanteku tak bergeming. Dia menyerahkan semua keputusan di pundakku. Jadi kalau aku bilang menolak, tante nggak marahkan?
Tante Vana kayak bisa baca gelagatku, dia pun melotot padaku.
“Aku banyak kurangnya, Mas.”
Ini bukan merendah ya, ini jujur. Kalau Mas Awan, jelas dia statusnya duda punya anak satu. Eh tapi Mas Awan nggak bilang kalau dia udah duda. Apakah aku bakalan dijadikan istri kedua? Beginikah yang harus aku jalani untuk menebus dosaku di masa lalu?
“Mas Awam sudah bercerai?”
Lidah! Aku segera menggigit lidahku. Nggak sopan banget tahu! Udah jelas dia mau melamar kamu, masa kamu nanya seperti ini, Voni?! Sewaktu aku melirik Tante Vana, tante tersayangku itu mengangguk setuju. Huuft ... Tante Vana juga aneh, dia kok kayak ibuku aja? Eh salah, ibuku nggak sebaik ini. Aku nggak pernah tahu gimana sifat ibuku.
“Saya tidak memiliki istri, Fey.”
Aku mengembuskan napas. Itukan jelas. Tapi tetap aja aku nggak enak udah nanya seperti itu.
“Tidak apa-apa, kau wajar bertanya banyak hal kepada Awan. Tidak ada yang harus disembunyikan kalau memang dia serius.”
Nah, jadi bagaimana denganku, Tante? Apa aku harus jujur juga kalau aku nggak bisa memberikan dia sesuatu yang sangat berharga bagiku dari seorang wanita?
“Keputusan ada padamu, Von.”
Balik lagi ke aku. “Aku akan—”
“Fey!”
Menggerakkan kepala ke pintu masuk. Netraku diperlihatkan sebuah pemandangan yang mencubit hati—lagi. Tiba-tiba keputusan itu sejelas siang. Aku bisa mengangguk dan menatap Mas Awan dengan mantap.
Semua ini demi dia.
“Bismillah aku menerima Mas Awan.”
***
“Kamu nggak pakai pikir panjang lalu menerima Mas Awan gitu aja?”
“Itu keputusan terbaik, Vik. Tante Vana senang dan Melo ... Melo ... Akan melupakan aku.”
“Kamu kenapa? Kenapa kamu selalu mengambil keputusan tergesa-gesa?”
“Aku nggak mau pacaran, itu alasannya. Aku nggak mau Tante Vana pusing dengan keadaanku dan aku akan menjelaskan secara perlahan kepada Mas Awan.”
“Kenapa semuanya kamu bilang demi Tante Vana? Kalian nggak punya hubungan baik dari dahulu, Voni.”
Ini seperti sidang. Avika banyak tanya dan kelihatan meragukan hasil testimoniku.
Avika harusnya menerima pengakuanku.
“Dia itu ibuku, Vik. Meskipun dia kasar dan jahat, tapi dialah yang membesarkan aku. Seorang diri lagi, Vik. Dia punya anak kandung, tapi dia masih mau mengurusku. Dia nggak pernah nyuruh aku ngerjain apa-apa baik kerja rumah maupun bantu-bantu di toko. Dia hanya nggak suka aku dekat sama Melo. Kurasa karena itulah Tante Vana selalu berkata kejam sama aku.”
“Ya Allah. Maafkan aku Voni. Aku nggak bermaksud menghasut kamu jadi anak durhaka. Aku kasihan—”
“Aku nggak suka dikasihani, Vik.”
“Maaf.” Avika memelukku.
Insya Allah, aku akan menjalani hidup ini sesuai dengan apa yang dimaui oleh jalanku. Aku nggak akan memaksakan keinginanku. Sesungguhnya, aku belum tahu apa maunya hatiku.
***