Klarifikasi

1832 Kata
17. Klarifikasi   “Kenapa kamu nggak mau memberikan kesempatan sekali saja untukku?” Aku sedang menikmati awan-awan bak kapas yang melukis di langit petang sembari mengulang diskusi bersama Melo kemarin malam. Melo mencegat langkahku sepulang dari kota. “Kamu pernah jatuh cinta, Fey?” Melo bertanya banyak hal yang nggak bisa aku jawab. Jangan tanyakan perkara cinta kepadaku karena cinta bagiku hanyalah kehancuran. Seolah aku paham sekali soal cinta. Bagiku mencintai berarti melepaskan. Ketika aku jatuh cinta maka aku akan melepaskan perasaan itu kepada seseorang atau kepada Tuhanku. Dan aku memilih opsi kedua. Aku nggak mau menjadi bodoh karena cinta dan aku berharap nggak akan pernah jatuh cinta. “Melo ... Aku nggak suka dengan kata itu. Kamu tahu aku pernah tersesat olehnya.” “Kamu nggak pernah tahu kalau Damelo selalu berdiri di depan pintu untuk menunggumu. Tanganku terulur menyambut kapan pun Vifey datang.” Melo memainkan ponselnya di tangan. Benda pipih itu ia putar di atas meja. “Nggak Melo. Aku nggak suka kamu menghabiskan waktumu untuk sesuatu yang nggak pasti.” “Fey. Selama ini aku kurang pasti gimana lagi? Masalah saudara? Kita bukan mahram! Masalah usia? Hubungan nggak bisa dipatokkan dengan usia. Masalah materi?” “Melo. Kamu ini nggak bisa diajak serius sih!” Aku menawar emosinya dengan senyuman dan sedikit tuduhan. “Jangan merusak mood Damelo! Aku sedang nggak pingin becanda, Vifey!” berangnya. “Memangnya aku nggak serius?!” “Aku cinta kamu! Aku sayaaang kamu! Aku nggak suka melihat kamu bersama orang lain lagi. Sudah cukup aku nunggu kamu yang nggak ingat jalan untuk pulang!” “Mulut kamu enaaak banget bilang cinta-cintaan! Memangnya kamu tahu cinta itu apa?” ejekku. “Cinta itu Vifey.” “Cuma itu?” Aku melipat kedua lengan di meja. Melo menarik kemeja putihnya hingga ke siku. Memosisikan dirinya menyandar pada bangku ‘leyeh-leyeh’ di teras rumah. Melo menerawang jauh. “Aku nggak bisa melihat orang lain. Aku nggak bisa merasakan detakan hebat kalau bukan atas kehadiran Vifey. Aku nggak bisa melihat kelebihan di dalam kekurangan selain aku melihat kamu.” “Coba kamu ucapkan kalimat yang tadi sama orang lain, pasti akan manjur.” Aku kembali memancing Melo agar mau rileks dan tersenyum. Dia kelihatan serius banget! “Memangnya nggak berpengaruh untuk Vifey?” Aku menggeleng. Tapi Melo nggak tahu kalau batinku menerima dengan suka cita. Aku belajar bahwa cinta janganlah diumbar jika belum menemukan pasangan yang halal. Kepada pasangan yang telah direstui Allah-lah kita ikrarkan cinta itu. Aaah kenapa dahulu aku sangat memuja cinta? Apa benar yang dulu itu adalah cinta? Cinta dari Allah? Yang pasti bukan. Cinta dari Allah itu baik dan cinta yang dulu kurasakan adalah cinta dari setan, buruk. Astagfirullah, Voni kamu mengumpat, Nak! “Sebaiknya kamu jaga cinta kamu untuk istrimu kelak!” “Ya ampun, Fey! Terus, kamu pikir aku bakalan mencari orang lain untuk aku jadikan istri kalau cinta aku hanya sama kamu, dari dulu meskipun kamu nggak pernah balas? Aku udah jaga perasaan aku, Fey! Kamu mau aku nggak setia dengan perasaanku?” Tuh kan, mulai emosi Melonya. “Coba kamu jangan marah-marah dulu dong, Melo! Dengar, kamu pernah baca nggak hadist ini?” “Jangan meledek Damelo!” Melo kesal. Aku tertawa kecil, namun bahuku ikut bergetar. Aku tertawa. “Aku punya screenshoot-nya. Aku bacain ya,” ucapku. Melo pasrah. “Dari Anas r.a. berkata: Nabi saw bersabda, “Ada tiga perkara yang barang siapa memilikinya akan merasakan kelezatan iman yaitu jika ia mencintai Allah dan Rasulullah melebihi cintanya kepada yang lain; jika ia mencintai sesama manusia semata-mata karena Allah dan jika ia enggan kembali kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya, sebagaimana ia enggan dimasukkan ke dalam neraka.” (Bukhari - Muslim).” Kuletakkan kembali ponselku ke meja di samping ponsel Melo. “Jangan kalah oleh cinta, Melo. Cinta itu hanya kepada Dia dan Rasulullah. Oke, aku nggak tahu kamu akan terima apa nggak. Aku hanya ingin membuka mata kamu bahwa cinta itu nggak seperti ini. Kamu harus lebih mencintai Dia di atas cinta kamu kepada makhkuk-Nya.” “Bisa nggak kita nggak membahas hal yang sangat tinggi seperti ini? Aku hanya ingin jujur dan ingin membuat kamu percaya sama perasaanku itu aja.” Tuhkan Melo, nggak bisa diajak bicara serius. “Aku percaya kok.” Melo terkesiap. Memang aku berkata apa sampai Melo terkejut sekali? “Kamu percaya sama Damelo?” “Iya aku percaya kok.” “Jadi kamu mau nikah sama orang lain yang juga nggak kamu cintai?” “Iya, Melo.” Ini karena kamu yang nggak bisa melepaskan tanganku. Coba kamu sudahi masalah ini, mungkin aku nggak akan cepat-cepat menjawab ‘iya’. Padahal aku tidak ingin memikirkan masalah hubungan pernikahan untuk waktu yang sangat lama. “Kenapa kamu seperti ini? Dia kamu terima sedangkan aku enggak.” Melo kembali mengulang jawabanku atas lamaran Mas Awan kemarin. Baiklah. Masalah tidak akan selesai dan akan terus berputar-putar kalau aku nggak jujur. “Aku nggak ingin mengubah apa yang ada pada ‘kita’, Melo.” “Kamu nggak ingin mengubah persaudaraan kita? Begitu maksudmu?” Aku mengiakan lewat beberapa kali anggukan. Kulihat Melo sudah nggak emosi lagi. Syukurlah, dia akhirnya sadar bahwa kami nggak bisa lebih dari sepupu. Kalau ditanya siapa yang menang, aku akan jawab bahwa aku memenangkan Melo. Aku ingin membebaskan Melo hidup bersama wanita baik-baik, wanita yang bisa menjaga kehormatannya, dan wanita yang akan membalas perasaan cintanya. Insya Allah, wanita yang akan mengajarkan Melo soal agama lebih dalam. Aku berhenti memikirkan Melo ketika tanah tempatku berpijak bergetar. Mulanya ringan kemudian agak keras dan bertahan selama beberapa detik kemudian ringan dan hilang. Gempa bumi. Aku segera mengecek twitter. InfoSumbar menjelaskan bahwa gempa yang baru saja terjadi ternyata berpusat di Kepulauan Mentawai pada kedalaman 10 kilometer dengam kekuatan gempa adalah 6,2 Skala Richter. Bagiku gempa bumi merupakan peristiwa alam yang wajar. Sejak kecil aku sudah merasakan kedahsyatan gempa yang bermacam-macam. Jiwaku sudah ditempa dan tidak takut menyambut kedatangannya. Kata Zura, percayakan hidup dan matimu kepada Dia Pemilik Hidup. Meskipun saat ini aku sedang berdiri di pinggir laut, dimana banyak orang akan merasa takut akan datangnya bencana yang lebih besar, bagiku wallahu’alam. Hidup dan matiku Allah-lah yang menguasai. Mau dimana pun aku berada jika ajalku datang, aku tak akan bisa menghindar. Aku menuruni batu pantai satu per satu. Senja mulai tiba, waktunya aku memotong jarak pulang. Saat ini aku berada di Kota Kabupaten. Kegiatan mengajar ngaji juga sudah kulakukan tadi ba’da Asar. Agak lain dari biasanya, tadi aku nggak melihat Mas Awan bersama Chika melainkan neneknya. Kemana Mas Awan? Apakah aku hanya berkhayal menerima dia sebagai calon suamiku? Ketika tiba di rumah, aku langsung mengecek ponsel. Tidak ada satu pun pesan dari Mas Awan. Aku jadi curiga bahwa dia hanya main-main. Atau barangkali dia lupa dengan peristiwa kemarin? Apa aku hubungi dia dan menanyakan kabarnya? Apakah dia mengujiku? Aku nggak mau memikirkannya! Lebih baik aku mandi dan membersihkan tubuhku untuk mempersiapkan diri menghadap Tuhanku. Azan magrib sebentar lagi akan berkumandang.   ***   “Voni!!” Setelah menutup Al-Quran, aku bergegas ke luar kamar untuk menemui si pemanggil. “Siap-siap! Pakai baju yang agak bagus kita akan ke rumah Uni Runa!” perintah Tante Vana. “Mau ngapain Tante?” Aku bergegas membuka perlengkapan salatku dan mendekati Tante Vana. “Tak usah banyak tanya! Cepatlah bersiap. Tante tunggu di rumah.” Tunggu-tunggu! Tante Runa ... Itu bukankah mertuanya Zura, astagfirullahal’adzim. Ada apa dengan Zura? Apakah ada kabar terbaru tentang Zura? Aku memakai terusan berwarna hitam. Untuk saat ini aku lebih suka hitam. Namun, aku nggak mau disangka meledek yang memiliki hajat dengan memakai serba hitam maka untuk atasannya, aku memakai hijab abu-abu dengan corak bunga di pinggirannya. Aku menemui Tante Vana di rumahnya. Ketika masuk, Melo serta merta berdiri dari kedudukannya. Ia menghampiriku. “Ya Allah, Vifey cantik banget! Nggak bisa apa kamu jelek bentaaaaar aja!” Aku melibas bibir Melo dengan tasku. Dia langsung mengusap-usap wajahnya yang terkena belaian tas pradaku. Melo nggak protes oleh kebiadaban tasku yang sama tak pedulinya ia saat mamanya melarang Melo ikut ke dalam mobil. “Kalau Melo ikut, kamu deh yang nyetir, masa harus aku?” Melo membuka pintu belakang, kukira ia akan masuk ke sana ternyata tidak. Melo mendorong punggung mamanya dan menutup pintu setelah Tante Vana duduk. Melo membuka pintu pengemudi dan mendorongku juga, sama seperti apa yang dia lakukan kepada mamanya. Setelah itu, dia duduk di bangku penumpang di sebelahku. Kurang asih kan, Melo?! Tante Vana sebenarnya dari tadi udah ngomel. Tapi sadarlah wahai kalian! Melo nggak akan dengar rentetan indah yang mengalun dari bibir mamanya! Melo itu kepalanya terbuat dari biji timah dan kalau dipanaskan akan cair lalu membentuk timah yang baru semau seenak dia. Dia nggak akan dengar apa yang nggak dia sukai. Apalagi ini mamanya, orang tempat dia bermanja. Jadi yang Melo tuntut dari mamanya adalah apa yang Melo inginkan bukan sebentuk larangan. Kami akhirnya tiba di kediaman keluarga Zahfiyyan. “Siapa yang mau nikah, Fey?” tanya Melo ketika kami berdiri di pintu masuk. Aku mengangkat bahu pertanda tak tahu. Beberapa orang tampak duduk di ruang tamu seolah sedang mengelilingi meja akad. Mahar berbentuk peralatan salat juga sudah dipersiapkan dan beberapa dokumen tertata di atas meja. “Assalamualaikum.” Tante Vana mengucap salam. Beberapa kepala mendongak untuk melihat kehadiran kami. Lalu seorang wanita cantik, sepantaran Tante Vana keluar dari sebuah kamar dan langsung menuju ke arah kami. Aku yakin, dia pasti Tante Runa. Masya Allah! Cantik benar! Cantik banget! Wajahnya keibuan banget. Ckckck... Pantesan punya anak laki, kadar ketampanannya nau’dzubillah. Tapi, mana Zahfiyyan? Tante Runa mengajak kami untuk duduk di bagian samping, dekat sebuah pintu kamar. Pintu ini tertutup rapat membuatku sedikit yakin kalau di dalamnya ada sesosok penghuni. “Ini Voni, ya? Kamu manis sekali, Zura sering cerita soal teman-temannya. Katanya kamu yang paling bawel sebelum Vayola,” terang Tante Runa sebelum meninggalkan kami. Tante Runa kelihatan sibuk sekali. Wah, sahabat macam apa yang menjelekkan temannya kepada mertuanya? Sebutir air mata lolos dari pelupuk mataku ketika mengingat sosok Zura. Aku segera mengusapnya hati-hati. Dari sekian banyak kepala, hanya dia yang tidak bisa kulihat. Apa Zura nggak kasihan sama mertuanya yang mondar-mandir sendirian melayani tamu? Beberapa menit kemudian hening menguasai ruangan. Tata tertib acara dibacakan. Segalanya tiba-tiba membuat aku tidak mampu berkedip. Kejadian cepat sekali atau aku yang terlalu larut dalam ijab kabul ini? Wanita itu adalah Eya Driella. Kenapa bisa menjadi saudara ipar Zura? Ternyata jodoh memang tidak ada yang tahu. Aku kembali merasakan sebutir air mata luruh. Segera kuseka sebelum ia merusak dandananku. Di saat itulah, aku melihat Melo terdiam dengan pikiran jauh. Dia duduk berseberangan denganku, tepatnya di bagian laki-laki. Pandangannya terpusat ke arahku, tapi maniknya menatap jauh. Aku tak bisa membaca apa yang tengah ia pikirkan. Melihatnya seperti itu, sudut hatiku terasa seperti disuntik oleh dua puluh jarum injeksi. Hiks, kurasakan tubuhku bergetar. Entah sudah berapa lama, aku nggak ingat. Akhirnya Tante Vana mengagetkan dengan melabuhkan sebuah cubitan di pinggangku. “Apa yang kau tangisi hah?!”   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN