18. Ujian
Aku masih takjub dengan kemewahan rumah bertingkat dua ini meskipun sudah beberapa kali tinggal di sini. Rumah ini sangat luas, jangan tanyakan seberapa luasnya. Barangkali ruang tamu rumah ini luasnya bisa tiga kali luas rumahku.
Mataku memindai satu per satu barang mewah yang tidak mungkin sanggup kubeli dengan uang sendiri hingga maut datang menjemput. Pemikiran ini mustahil. Berangkat dari ruang tamu bertingkat dua yang cukup besar, yang terpisah dan mandiri dengan pintu masuk pribadi. Kemudian mataku berpindah kepada lounge dengan dapur kecil, dan kamar tidur di lantai dua dengan dinding kaca. Aku tiba-tiba teringat rumah kediaman Dokter Cullen, itu lho ayahnya Edward Cullen dalam novel Twilight. Mereka juga memiliki rumah kaca yang membuat rumah tunggal dalam hutan itu menyatu dengan alam.
Rumah mewah ini yang sejak dari awal sudah membuat aku gagal fokus memiliki langit berkubah dan balkon kecil. Langit-langit dengan gambar-gambar awan ‘unyu’ dan kaligrafi yang nggak sanggup aku baca. Menaungi ruang tamu berdinding putih yang berlantai kayu. Ruang tamu terbuka dengan bioskop rumah atau bahasa kerennya home theatre? yang canggih berlayar besar dengan suara membahana. Di sanalah Chika sedang menonton acara kartun kesukaan anak kecil seusianya.
“Ayo, Von!” Aku kembali memungut kesadaranku ketika mama Mas Awan menegurku.
Aku diajak ke area lebih dalam dari rumah ini. Seperti kemarin-kemarin, mata dan jiwaku dibuat terpesona melihat kolam renang tanpa batas tepat di bagian belakang rumah utama. Kami menyusuri bagian dalam rumah yang bersebelahan dengan kolam renang. Ada pembatas kaca yang memisahkan kolam dengan rumah sehingga dapat memperlihatkan secara jelas seseorang yang tengah berenang.
Dia mencapai tepian kolam dan meletakkan tangannya di pinggir kolam renang. Panas matahari siang menimpa rambut basahnya. Memperlihatkan ribuan partikel air melayang di udara yang kemudian jatuh dan kembali bergabung bersama teman lainnya, kolam.
Dia melihatku ada. Sepersekon yang lalu pandangannya jatuh ke retinaku lalu dia masuk lagi ke dalam air. Dadaku berkontraksi. Untunglah, aku berjalan di belakang Bu Hafsa. Semoga ibu ini tidak menyadari perubahan warna wajahku yang tak kalah merah daripada cabe goreng yang kelamaan dimasak.
“Ibu sedang masak ya?” Kami tiba di kitchen set yang serba wah. Tidak ada yang tidak mewah dalam rumah ini. Lagi-lagi aku mengagungkan nama Allah dalam hati.
Kenapa seonggok manusia diciptakan dengan kelebihan dan kenapa yang lainnya serba kekurangan? Apakah ini karena usaha dari insan atau memang sudah Allah takdirkan?
“Iya. Kamu bisa membantu Ibu?” Ibu Hafsa lagi dan lagi mengetes kemampuanku.
Kemarin beliau mengajak aku ke taman pribadi. Ada bunga-bunga yang baru pertama kali aku lihat. Mana mungkin aku tahu nama-nama bunga itu kalau fisiknya saja baru bersemuka? Aku diminta memetik daun yang kuning. Beberapa kali tanganku ditusuk duri widuri bunga yang entah apa namanya. Untunglah wangi bunga itu mampu menenangkan jiwa dan ragaku. Biar ragaku tersakiti tapi otak dan pikiranku diterapi oleh aroma maha wanginya.
Kemarinnya lagi aku diajak berbelanja. Wajah ‘ndeso’ Voni keluar waktu itu. Iya, aku nggak nyangka Ibu Hafsa berbelanja sebanyak itu. Beliau menghabiskan beberapa uang untuk membayar uang semester kuliahku. Ya Allah, kenapa aku harus ikut melihat penghambur-hamburan harta semacam ini? Cocokkah aku bergabung dan bernaung di bawah atap mereka?
Siang ketika aku tiba di rumah ini, aku seperti sedang melakukan tes profesi untuk menaikkan pangkat. Ibu Hafsa membawa ragaku yang tercecer oleh kemewahan rumahnya ke sebuah ruangan mirip masjid. Mungkin mushala di kampungku memiliki luas yang sama dengan ruangan itu. Namun, ruangan milik Ibu Hafsa modern banget, seperti melihat acara safari Ramadhan ke masjid-masjid. Pokoknya seluruh ruangan di rumah ini meneriakkan kata ‘wah’ dan membuat Voni Femitha mengusap d**a sambil membaca kalimat tayyibah.
Masya Allah
Kata-kata ulama terngiang di telingaku ketika berdiri penuh kagum di pintu masuk mushala pribadi rumah Mas Awan. “Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Kahfi,”
وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maa syaa-allaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. al Kahfi: 39)
“Kamu temani Chika baca iqro’, ya!”
Nah, kalimat itu yang aku maksud sebuah ujian untuk kenaikan pangkat. Ibu Hafsa ingin mengujiku saat mengajar ngaji cucunya. Dadaku berkontraksi hebat, peluh menetes di punggung, menganak pinak di dahi dan membasahi hijab bagian muka. Dengan gugup aku menuntun Chika mengucapkan satu per satu huruf hijayah lengkap dengan hafalan salah satu juz amma yaitu Surat An-Nas.
Aku kira itu pengalaman paling menakutkan ternyata bukan. Ujian paling menakutkan adalah hari ini. Aku diajak memasak di dapur dengan berbagai macam bahan dan aku nggak tahu mau memulai dari mana.
“Kamu cuci dulu tanganmu agar lebih higienis!”
Ya Allah, iya aku lupa!
Aku melakukan apa yang diminta Ibu Hafsa dengan butiran keringat sebesar kacang bogor. Butiran yang keluar dari rambut di balik hijabku benar-benar bikin gerah hati. Aku takut Ya Allah!
“Hati-hati diciprat minyak!”
Terlambat! Ketika Ibu Hafsa mengingatkan, lengan kiriku telah sukses ditempeli cairan panas yang berasal dari minyak cumi-cumi. Ingatkan Voni ya Allah untuk nggak akan mengulangi perbuatan ini! Seharusnya cuminya aku masukkan ke dalam cabai goreng bukan langsung ke minyak kosong!
Ya Allah, sakit banget!
“Lukamu harus dicuci, ini adalah pertolongan pertama yang sangat penting dilakukan. Tunggu airnya mengalir selama sepuluh menit!” Ibu Hafsa membawa lenganku ke bawah kucuran air dari wastafel.
Ya Allah, kok sakitnya begini amat ya?
“Di lemari itu ada salep luka bakar, kamu olesi ke lukamu!” Ibu Hafsa mengipasi lenganku dengan tangan dan meniupnya sekali. Beliau menunjuk sebuah lemari kecil berwarna putih di dekat meja makan panjang.
Aku melebarkan langkah menuju lemari yang beliau tunjuk. Mataku memindai berbagai obat yang berjejer rapi di rak. Banyak dari obat ini yang nggak aku kenali. Jelaslah Von! Yang kamu tahu cuman bodreks sama promah. Tapi tunggu-tunggu! Aku rasanya ingat ada satu salep yang dikasih Melo ke kakiku yang nggak sengaja ‘say hallo’ sama knalpot motornya waktu itu.
Apa ya namanya?
Bioplacenton! Aaah iya, plangton! Namanya mengingatkanku kepada makhluk nakal yang suka cari perkara sama Mister Kreb. Iya itulah nama merek obat luka bakar yang kucari-cari. Salep ini banyak digunakan untuk mengobati luka bakar grade satu. Oke, Voni harus cek dulu komposisinya.
“Setiap kemasan tube lima belas gram salep Bioplacenton mengandung Neomycin Sulphate sebanyak nol koma lima persen serta ekstrak Placenta sebanyak sepuluh persen.”
Apa ini? Aku nggak paham deh. Tapi pakai deh, supaya sakitnya hilang.
“Gimana? Sudah kamu obati luka di tanganmu?” tanya Ibu Hafsa ketika aku kembali berdiri di depan kitchen set.
“Sudah, Bu. Sekarang sudah agak mendingan rasa sakitnya.”
“Hmmm.”
Apakah aku boleh menangis sekarang? Ya Allah, bantu aku dari ujian ini! Sebenarnya aku mau pedekate sama calon suamiku atau calon mertua?
***
Selesai sudah ujian hari ini. Aku akhirnya dipulangkan sampai depan pintu rumah mewah mereka. Kenapa hanya sampai depan pintu? Karena aku juga datang sendiri dengan kedua kakiku yang membawa tanganku menyetir mobil sendirian untuk sampai ke rumah ini.
Miris?
Jangan ditanya. Aku sedang mengusap d**a biar sabar dan tenang.
Aku izin mengajar hari ini. Aku lelah dan aku nggak sanggup membawa mobilku untuk pulang kalau aku nekat pulang malam setelah mengajar. Untunglah Bang Andy paham dengan keadaanku.
Memang benar, aku sudah menceritakan semuanya kepada Avika. Kepada dialah aku memberikan testimoni setiap waktu. Aku ceritakan apa yang aku alami dan apa yang aku rasakan.
Avika tertawa senang di atas penderitaanku. Katanya, beginilah rasanya ditempa di rumah calon mertua. Kalau aku kuat melewatinya, maka nanti aku juga kuat menghadapi prahara rumah tangga!
Masya Allah. Aku hanya meringis dalam hati. Diam-diam berusaha kuat karena inilah pilihanku.
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri. Menyelimuti diri dengan air wudhu dan menunaikan salat Asar yang agak terlambat.
Satu pesan masuk ke ponselku.
Papa Chika
Assalamualaikum, Fey.
Waalaikum salam, Mas.
Papa Chika
Sudah sampai di rumah?
Alhamdulillah, sudah. Aku mau istirahat.
Read.
Mas Awan hanya membaca pesanku tanpa balasan salam seperti ketika dia mulai mengirimiku chat. Mungkin Mas Awan nggak mau mengganggu waktu istirahatku.
Kami hanya berkomunikasi lewat aplikasi pesan di ponsel. Selama aku berada di rumah Mas Awan, aku nggak pernah bertemu dengannya kecuali bersemuka seperti di kolam renang tadi. Wajar saja karena rumah mewah itu mampu menyembunyikan para penghuninya. Apalagi seperti Mas Awan yang sepertinya tidak ingin bertemu denganku.
Apakah aku berkecil hati dengan sikap Mas Awan?
Tidak! Aku tahu Mas Awan tengah menjaga jarak denganku karena status kami yang belum ‘halal’ menurut agama. Anehnya, aku nggak terganggu dengan cara Mas Awan ini. Menurutku, ini cara yang benar untuk menghindari sesuatu yang menjurus kepada perbuatan terlarang.
Mas Awan tidak menjemputku. Tidak menyambutku di depan pintu. Tidak ikut makan bersama. Tidak menemani kami—aku dan Ibu Hafsa—bermain dengan Chika. Tidak membalikkan badan setelah salat jamaah yang ia imami.
Ini benar-benar hubungan yang aneh. Aku merasa sedang melakukan pendekatan dengan ibunya, bukan dia. Mas Awan tidak mungkin tidak tahu apa saja yang kualami di rumahnya. Mas Awan selalu di rumah saat aku berada di rumahnya. Kapan Mas Awan kerjanya kalau dia senantiasa berada di rumah pada saat jam kerja?
Papa Chika
Jangan lupa obati lukamu dengan benar ya.
Semoga saja Mas Awanlah jodoh yang Kau berikan, Ya Allah. Insya Allah aku akan menjalani apa yang sudah Engkau tetapkan untukku.
***