Feeling

1857 Kata
19. Feeling   Seperti janjiku kepada diri sendiri, beberapa hari yang lalu aku mulai membantu Tante Vana di dapur. Ada beberapa hal yang harus kuingatkan kepada diri sendiri sebelum menggabungkan diri bersama Tante Vana. Pertama, jika Tante Vana berkata yang menyakitkan, aku harus diam saja. Kedua, jika Tante Vana memancing emosiku agar aku membalas sama sengitnya seperti dahulu, aku tidak boleh terpancing. Ketiga, akan aku pikirkan jika ada hal yang baru nanti. Setelah mandi pagi, aku segera ke rumah Tante Vana. Ikut bergabung sarapan bersama Tante. Kalau dua hari di awal ada Melo bersama kami, beberapa hari ini tidak tahu kenapa Melo berangkat kerja lebih pagi. Setibanya aku di rumahnya, asap knalpot sepeda motornyalah yang kudapati. “Masak apa, Tante?” Aku berlari kecil mengejar Tante Vana yang membawa piringnya dan gelas bekas pakainya ke belakang. Kami baru saja selesai sarapan dengan mi goreng buatan Tante Vana. “Bisa tidak, tak usah ikut-ikut aku mengerjakan hal-hal ini?” Tuh denger, Tante Vana memang nggak suka padaku yang mengacak-acak dapur miliknya. Sejak kecil, aku nggak boleh mengerjakan kerjaan rumah tangga. Entahlah aku juga bingung kenapa Tante Vana begitu pelit membagikan ilmu keibuannya kepadaku. Nih ya, kalau diibaratkan, Tante Vana itu bertolak belakang ibu tiri Cinderella dan ibu tiri Bawang Putih. Kalau ibu tiri kedua gadis itu suka memaksa mereka mengerjakan pekerjaan rumah, Tante Vana justru sebaliknya. Tante Vana bahkan nggak memperbolehkan aku memegang tangkai sapu. Waktu masih muda jelas aku senang diperlakukan seperti itu, bebas. Kalau sekarang tidak lagi! Aku jadi tidak mampu mengerjakan apa-apa dan hancurlah aku nanti kalau memang Ibu Hafsa yang jadi mertuaku. “Bahan-bahannya masih ada, Tante? Atau perlu belanja dulu? Aku bisa kok belanja kalau sudah Tante catatkan apa saja yang mau dibeli.” Aku mengejar Tante Vana yang membawa tubuh berdasternya ke ruang depan. Ia melipat lengan daster lalu membenahi gulungan rambutnya. Tante Vana memang belum mengenakan hijab jika di rumah. Tapi kalau keluar seperti ke toko atau acara lain, Tante Vana memakai kerudung kok. “Voni! Kamu di rumah saja! Tante sakit kepala melihatmu mengikutiku kemana-mana!” Tante Vana menghardikku dan setelah itu memijit pelipisnya. “Kepala Tante sakit, ya?” Aku mendekat kepada Tante Vana, berniat untuk mengecek suhu tubuhnya. Belum sampai dua langkah di depannya, tubuhku didorong oleh kekuatan Super Emak Tante Vana. Aku meringis, merasakan sedikit sakit di dadaku yang kena tinjuan lengan kecilnya. Sakit juga rasanya dihantam oleh tinjuan Tante Vana. Aku mengusap bagian itu. Lagi-lagi Tante Vana melakukan tindakan tak terduganya. Ia menarik ujung hijabku hingga membuat kepalaku miring ke kanan dan mulutku mengeluarkan kata aduh tiba-tiba. “Memang tidak tahu malu,” cetus Tante Vana yang meninggalkan aku dalam kebingungan. Malu kenapa? Aaah Ya Allah! Pantas, Tante Vana tega menarik hijabku. Ternyata tanganku berada di tempat yang sangat salah. Malu jika sampai ada orang yang melihat aku mengusap-usap payudaraku sendiri.   ***   “Kenapa akhir-akhir ini kau paksa Voni ikut belanja, Na?” Tante Vana memperhatikan deretan sayur kacang panjang yang digantung pada kayu melintang di gerobak sayur. “Aku tidak memaksanya!” Tante Vana tidak buyar ketika diajak bicara. Ia masih memilih-milih sayuran yang segar dengan mata jelinya. “Aku yang memaksa ikut, Buk. Soalnya mau membantu Tante dan sekalian belajar memasak dari Tante Vana,” jawabku sopan. Kalau aku menjadi Voni yang lama, aku tak akan susah-susah menjawab kekepoan orang ini. “Oh bagus. Memang seperti itulah harusnya anak gadis zaman sekarang. Tak usah malu belanja di gerobak sayur. Walau belanja di mall besar sekalipun, sayurannya ya tetap sama, sama-sama dari tanah juga,” kata ibu tadi. “Atau sudah merasa butuh makanya kau mau belajar, Von?” tanya ibu itu lagi. “Maksud Ibuk apa?” Aku menaruh beberapa bawang merah dalam piring timbangan. “Berapa ons, Tante?” “Dua saja.” Tante Vana menyahuti. Dia sudah selesai memilih kacang panjang dengan pemilihan berdurasi tiga puluh dua menit. “Biasanya perempuan kalau sudah berkeinginan menikah, baru mencari ibunya untuk diajarkan hal-hal yang berhubungan dengan tiga er,” jawab ibu yang tadi. “Nggak juga. Aku cuma ingin menolong Tante Vana saja, Buk.” Tante Vana meletakkan ayam potong di atas tumpukan belanjaan kami. Ia mengeluarkan napas kasar. “Pandai sekali mencari alasan. Lagak tinggi! Seminggu ini bukannya kau sedang diberikan pelajaran oleh calon mertuamu? Karena itu pula ‘kan kau ingat belajar memasak kepadaku?” Itu juga alasannya. Tapi yang benarnya karena aku memang mau menolong Tante Vana. Lagian Tante Vana nggak akan percaya, untuk apa kukonfirmasi? Biarkanlah Tante Vana dengan pemikirannya. “Mau bermenantu, Na? Dapat orang mana?” Kalau kita udah selesai, mending kita pulang Tante, jeritku tertahan di kerongkongan. “Orang Jawa juga, tinggal di kota. Tak tahu aku apa yang dilihatnya bagus dari si Voni,” terang Tante Vana jujur. “Kerja apa dia?” “Entahlah. Yang penting bagiku sekarang ini adalah melepaskan Voni untuk laki-laki yang mau jadi suaminya. Masalah pekerjaan, rejeki itu datang saja nanti dengan jalan-Nya, lagipula kulihat calonnya Voni ini laki baik-baik.” “Beruntung kau, Na. Oh kenapa tidak dengan anakmu saja?” Mati! Tante Vana keluar asap dari hidungnya. “Kenapa dengan putraku?” tanya Tante Vana yang suaranya ditekan dengan bibir sudah segaris. “Yah kita semua lihat ‘kan, dulu Voni dan Damelo lengket terus. Kemana-mana nempel, kami kira sudah pasti nanti mereka kau nikahkan melihat kedekatan mereka berdua.” Bom! Dan Tante Vana membanting terong ungu hingga menyebabkan cabe-cabe yang ditindihnya bersebaran jatuh ke tanah. Kulihat bapak tukang sayur mengusap d**a. Pasti si bapak berusaha sabar. Siapa pun sudah kenal gimana temperamen Tante Vana. Kalau dia sudah emosi, jangan halang! “Jangan bicara sembarangan, Yati! Mereka adik kakak! Voni, cepat kau bawa belanjaan Tante pulang!” “Tapi belum bayar,” sambarku. “Nanti kuurus, cepat bawa pulang!” Aku memasukkan semua belanjaan kami ke dalam kantong plastik hitam. Setelah itu aku berlari-lari kecil menuju pulang. Biarkan Tante Vana menyudahi pertikaian yang akan dimulai.   ***   Ya Allah, kasihan Tante Vana. Jadi selama ini aku dan Melo sudah jadi bahan bibir orang-orang. Apakah karena itu makanya Tante Vana selalu marah kepadaku? Nggak henti ngomel tiap harinya. Kadang Tante Vana khusus datang ke rumah untuk mengomeliku hal apa saja. Kalau aibku sampai terbuka, bagaimana tanggapan orang-orang? Ya Allah lindungilah apa yang ingin kulindungi, Ya Rabb. Aku nggak tahu apakah aku bisa sama tidak pedulinya seperti Zura saat ia menjadi buah bibir warga di lingkungannya. Tante Vana semakin memojokkanku sepulangnya ia dari penjual sayuran. Ia mengungkit lagi perangai lamaku. “Kelakuanmu itu, Von. Makanya jadi perempuan itu jaga baik-baik nama keluarga! Sudah berapa kali Tante larang kau mengikuti Melo! Kau senang ‘kan karena dia bilang suka kepadamu?” Itu salah satu tuduhan Tante Vana yang kujawab dengan diam. Percuma saja aku tidakkan, Tante Vana tak akan mendengarkanku. Kalau soal kedekatanku dahulu, yah memang kuakui. Karena waktu itu aku pikir, toh Melo adikku. Aku nggak tahu kalau warga memikirkan hal yang berbeda. Aku tengah berbaring di depan televisi ketika sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah. Aku segera bangun dan mencari tahu siapa yang datang. Seorang wanita berambut pendek, masih muda, dan cantik. Siapa, ya? “Rumahnya Mbak Voni?” tanyanya setelah beruluk salam. Setelah menjawab salam, aku mengangguk. “Mbak, aku diminta Mas Awan menjemput Mbak Voni ke rumah,” terangnya tanpa aku tanya. “Maksudnya apa?” “Mulai hari ini, aku yang akan mengantar Mbak ke rumah Mas Awan lalu mengantar pulang lagi ketika selesai mengajar,” jawabnya. “Kenapa?” Aku masih bingung. Jadi kenapa harus diantar jemput kalau aku juga biasanya datang sendirian ke rumahnya? “Aku hanya menjalankan perintah Mas Awan, Mbak.” Ini maksudnya apa? “Silakan masuk dulu. Duduk di sini, ya. Aku mau ke dalam dulu.” Aku mengajak perempuan itu duduk di ruang tamu. Haruskah aku tanyakan kepada Mas Awan sekarang? Kenapa Mas Awan mempekerjakan seorang perempuan? Kasihan adik itu yang harus nyetir pulang ke rumahku dari rumah Mas Awan. Itu jauh dan perjalanannya panjang lho. Sementara aku sebenarnya masih sanggup melakukannya. Dan sepertinya, aku sudah ditetapkan harus hadir di rumah gedongan itu setiap hari.   ***   Aku duduk di depan di samping Tami. Namanya adalah Utami Azalena, nama yang manis. Tapi dia lebih suka dipanggil Tami supaya kedengaran tegas katanya. Utami sebenarnya melarangku duduk di sampingnya. Kata dia supir itu biasa duduk sendirian di depan sementara aku harus duduk di bekakang. Teori dari mana itu? Daripada diam, lebih baik aku kirim pesan kepada Mas Awan. Nggak enak juga aku mengajak Utami ngobrol.   Assalamualaikum, Mas Awan. Mas Awan, maksudnya apa ini? Kenapa aku dijemput sama Utami?   Pesan beruntunku tidak kunjung dibalas. Mas Awan lagi ngapain sih?   “Halo, Mas.” Akhirnya Mas Awan menjawab telponku juga. “Sudah di jalan, Fey?” Ya Allah, kenapa aku jadi suka sih dengar suara Mas Awan? Uuups, Voni sadar! “Iya. Mas kenapa harus nyuruh Tami nganter jemput aku?” todongku pertama kali. Kalau nggak langsung ditanyakan, bisa-bisa Mas Awan kabur tanpa memberikan apa yang kuingin tahu. “Biar kamu ada teman di jalan,” jawab Mas Awan kalem. “Biasanya juga sendirian, Mas. Kasihan Utami karena kadang aku pulangnya agak malam. Nanti dia balik ke kotanya jam berapa?” “Utami tinggal di daerah rumahmu. Aman kok. Mas nggak akan membiarkan gadis seperti Utami melakukan perjalanan malam sendirian,” jelas Mas Awan. Aku menoleh ke arah Utami.  “Ya udah, nanti aku hubungi Mas. Assalamualaikum. Tami. Kamu tinggal di daerah Mbak?” “Iya, Mbak Voni. Mas Awan yang nyariin kontrakan di sana. Kebetulan ada rumah kosong yang ditinggal orangnya merantau. Di sanalah aku tinggal, Mbak.” “Kenapa kamu menyanggupi pekerjaan ini?” Dia masih muda, perempuan lagi, kasihan harus kerja seperti ini. Aku aja yang umur segini masih belum merasakan gimana rasanya bekerja memeras keringat. “Sebelum ini aku kerja di kafenya Mas Awan, Mbak. Part time sambil kuliah. Terus sekarang di kampus lagi sibuk-sibuknya. Aku mau resign.” Kalau lagi sibuk, kenapa ambil kerjaan yang lebih berat? Aku nggak bisa menebak jalan pikiran gadis ini. “Mas Awan menawarkan, apakah aku mau kerja anter jemput calon istrinya pagi dan mengantarkan lagi sorenya? Nah, aku jawab bisa, Mbak.” Blush. Wajahku terasa hangat karena mendengar cerita Utami. Bukan soal kebijakan Mas Awan yang memang sangat baik sama orang dan melindungi perempuan. Iya untuk bagian itu aku menambahkan poin plus untuk Mas Awan. Ini tentang bagaimana Mas Awan memperkenalkan aku kepada orang lain. Mas Awan nggak malu menyebutku sebagai calon istrinya. “Jadi kamu kuliah dimana, Tami?” “Kuliah di Bung Hatta, Mbak.” Ternyata Utami ini juga gadis perantau di Sumatera Barat. Dia berasal dari Bengkulu. Katanya ia nggak ingin merepotkan keluarganya untuk biaya hidup di Padang. Makanya Utami mencari kerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya plus uang kontrakan. Gadis yang kuat. Kata Utami, dia dibebaskan tinggal di kontrakannya yang sekarang asal hati-hati dengan pekerjaannya. Mas Awan hanya berpesan agar Utami melakukan pekerjaan dengan baik dan tidak meninggalkan kuliahnya. Mas Awan juga memberikan mobil ini untuk dipakai Utami ke kampusnya. Mas Awan adalah laki-laki yang menghormati dan melindungi perempuan. Rasa kagumku semakin bertambah untuknya. Tapi ... Orang sebaik Mas Awan apakah cocok dengan wanita seperti aku? Haruskah aku membohongi Mas Awan?   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN