Mendengar suara tangis bayi yang memekak telinga. Itu yakin suara tangisan Dion, lantas Akmal dan Boni berlari menuju sumber suara. Di pertigaan jalan terdapat pohon kapuk yang usinya sudah ribuan tahun, sangat besar sekali. Setiba di depan pohon kapuk. Akmal dan Boni terbelalak saat tahu jika Dion melayang-layang di dekat pohon itu, tampaknya penghuni pohon kapuk menyukai bayi yang tidak lain adalah Wewe gembel. Bagi Wewe gembel Dion termasuk bayi yang tampan untuk kalangan genderewo. Makanya ketika Dion ditinggalkan sendirian di waktu azan magrib, Wewe gembel itu mengambil kesempatan untuk mendapatkan Dion karena dia tahu bahwa bayi itu adalah bayi genderewo. Boni komat-kamit merafalkan doa. Berusaha mengambil Dion, tetapi Wewe gembel itu justru menertawakan Boni yang sedang berdoa.

