"Kamu Wowo bukan Akmal!" pekik Nirmala sembari melangkah mundur dan melempari benda tumpul sekitarnya untuk menjadi tameng pelindungnya. Beringsut ke arah meja rias, sisir, bedak, botol parfum, doeodorant ia lempar ke arah lelaki berbaju putih yang duduk santai. "Nirmala, kenapa? Semalam 'kan kita udah nina-nunu-nana masa iyah nggak bisa ngenalin aku," protes Akmal sembari mengancingkan kancing kemejanya yang terbuka setengah menampilkan d**a bidang tatakan es batu terpampang. Wanita bermata bule itu mengendikkan bahu, menggeleng kasar, rasanya dunia hancur di depan matanya. Tidak mungkin ada dua Akmal di hari yang sama. "Wowo, sudahlah nggak usah drama atau akting, kecium bau badanmu. Bau singkong bakar menyeruak di ruangan kamar ini!" Akmal bangkit dengan rahangnya yang mengatup dan

