Andra tersenyum sangat teduh.
"Tentu saja mereka adalah mommy Erly. Mereka yang merawat kamu sampai sebesar ini. Dari tangan-tangan mereka kamu bisa hidup seperti ini, sayang. Mereka lebih dari seorang mommy. Maka hargai mereka dan jangan buat mereka kecewa!" jelas Andra.
"Tapi semua teman Erly punya mommy, Daddy." Erly masih saja melakukan protes.
Wajah gadis cilik itu masam mendengar penjelasan Andra. Dia tidak suka dengan apa yang dikatakan Andra.
"Jangan memasang wajah seperti itu! Lihat wajahmu, apa kamu mau terlihat jelek sekali?" goda Andra mencubit pipi Erly.
"Daddy selalu bohong pada Erly!" Matanya menatap garang Andra.
"Sayang, kapan daddy bohong?" Andra sudah habis akal meyakinkan bocah itu.
"Kalau ga bohong, sekarang katakan padaku! Di mana mommy?"
Erly memiringkan wajahnya. Seolah wajah itu menantang dan memaksa Andra untuk menjawabnya dengan jujur.
Dengan berat pria yang kini tengah berjongkok di hadapan Erly menarik napas panjang. Dia sudah menyerah bila membahas soal wanita yang telah melahirkan putrinya.
Ada kepedihan dalam hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tidak satu pun yang tau kepedihannya. Tidak juga keempat pengasuh Erly.
"Pada saatnya nanti kamu akan tau, sayang. Tidak sekarang," ucap Andra lemah.
"Aku mau mommy, Daddy!"
"Tidak ada mommy untuk saat ini! Nurut sama daddy atau daddy marah!" Suara Andra mulai meninggi.
Bukan karena dia marah pada Erly, tapi dia marah pada dirinya sendiri. Andra merasa putus asa dan menyerah bila berbicara mengenai mommy. Hatinya sensitive bersinggungan dengan hal itu.
Mendengar bentakan Andra membuat tubuh Erly mengkerut. Gadis cilik itu mundur dua langkah dari hadapan Andra. Tangannya menyingkirkan tangan Andra yang ada di lengannya.
Melihat putrinya mundur ketakutan membuat hati Andra semakin sakit. Dia menyesal sudah membentaknya.
"Sayang, maafkan daddy." Andra kembali mendekat.
Pria itu kembali meraih tubuh mungil Erly. Kali ini dia memeluknya erat. Menyesal telah membuat senyum si mungil hilang.
"Maafkan Dady. Daddy janji, Daddy akan bawa mommy untuk Erly," bisik Andra dengan lembut.
"Daddy janji ya?" ucap Erly dalam tangis.
"Iya, sayang. Erly sabar ya."
"Iya, Daddy. Maafkan Erly. Aku hanya kangen sama mommy. Semua temanku punya mommy. Mereka selalu diantar sama mommy, sedangkan aku, aku ga punya mommy," ucapnya sedih.
Andra tidak pernah menangis, tapi kali ini air mata yang telah lama tersimpan itu berhasil meloloskan diri. Setitik air bening meluncur membasahi pipinya.
Suasana haru itu bukan hanya membuat Andra menitikkan air mata, keempat pengasuh Erly pun turut terisak. Satu persatu mereka menyeka air matanya sendiri-sendiri. Bahkan ada yang sampai menyembunyikan wajahnya pada pundak temannya satu sama lain.
Selama empat tahun mereka merawat dan membesarkan Erly, baru akhir-akhir ini Erly menanyakan keberadaan mommy. Mereka sendiri tidak tau di mana wanita itu. Saat mereka bekerja pada Andra, wanita itu sudah tidak ada. Hanya ada Andra, Erly dan orang tua Andra.
Bahkan rumah itu pun sama sekali tidak ada foto pernikahan atau foto keluarga yang bisa menunjukkan bagaimana wajah mommy Erly.
Hanya satu di antara mereka yang pernah melihat foto wanita dalam kamar Andra. Dia melihat karena waktu itu Erly tidak sengaja menemukan foto itu dalam kamar Andra.
Dia sendiri sangsi apakah wanita dalam foto itu memang mommy Erly atau wanita lain. Hanya saja wajahnya mirip dengan Erly. Senyum dan matanya tidak ada bedanya dengan Erly.
"Mbok, tolong jaga Erly jangan sampai dia menanyakan soal mommynya lagi!" ucap Andra setelah menidurkan Erly dalam kamarnya.
"Baik, Tuan," ucap wanita yang paling tua di antara lainnya.
Andra melihat ke arah Erly yang sudah tidur nyenyak. Mungkin dia telah lelah setelah menangis lama. Ada guratan kesedihan dalam wajah putrinya itu. Kerinduan akan seorang mommy terlihat jelas dalam mulus wajahnya.
"Tuan," panggil wanita itu sedikit ragu.
Andra mengarahkan mata padanya.
Wanita itu terlihat ragu dan gemetar menerima tatapan Andra. Meski pria itu tidak pernah marah pada mereka, tapi Andra jarang sekali bicara bila tidak penting.
"Ada apa, Mbok?" Andra terus menatapnya.
Bagi Andra, pantang untuk menghentikan ucapan yang akan diutarakan.
"Mbok," panggilnya lagi dengan mata semakin tajam melihatnya.
"Maaf, Tuan, kalau saya lancang. Sungguh saya tidak bermaksud lancang," ucapnya merunduk.
"Katakan, Mbok! Jangan bertele-tele!" Andra melirik arloji di tangannya.
"Kemarin lusa, Non Erly melihat foto wanita di kamar Taun Andra," ucapnya dengan rasa takut.
Dia telah siap menerima ocehan dan amarah Andra.
Andra menarik napas panjang dan mengeluarkan dengan kasar. Kembali matanya menatap gadis cilik itu. Malaikat kecilnya kini dirundung rindu yang dalam pada seorang ibu.
"Apa dia bertanya itu siapa?" tanya Andra tanpa mengalihkan mata.
"Tidak, Tuan. Non Erly hanya diam saja, setelah itu saya bawa dia ke luar dari kamar Tuan. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tau kalau dia masuk kamar dan mengacak laci Tuan Andra."
"Lain kali jangan biarkan dia mengacak-acak barang-barang di kamarku!" Suara Andra datar, tapi terkesan menjadi peringatan pada keempat pengasuh Erly.
"Baik, Tuan."
Mereka sama-sama mengangguk.
"Aku ada urusan penting. Tolong beritahu aku bila dia sudah bangun! Jangan lupa beri makan, aku yakin dia kelaparan. Bukankah dia belum makan sama sekali?" Andra mengedarkan mata pada keempat pengasuh Erly.
"Iya, Tuan. Non Erly terus menangis dan menolak untuk makan."
"Baiklah, beri apa saja yang dia minta! Aku pergi," ucap Andra.
Sebelum pergi, Andra menyempatkan mengecup pucuk kepala Erly. Lembut dan halus, kulit wajah bocah kecil itu bak kain sutera.
'Maafkan daddy, sayang. Daddy tidak akan pernah bisa membawa mommy kembali.' Sekali lagi air matanya lolos begitu saja.
Ah, kenapa Andra menjadi pria cengeng? Sesakit apa pun tubuhnya, dia tidak pernah menangis. Kali ini, mengenang kerinduan Erly pada seorang mommy mampu membuat hatinya terenyuh.
"Kaira temui aku di ruangan sepuluh menit lagi!" Andra menghubungi sekretarisnya saat melangkah pergi dari kamar Erly.
Sepuluh menit berlalu, ternyata Andra masih dalam perjalanan. Jalanan yang ramai dan macet membuat laju kendaraannya lambat. Hatinya mulai gelisah. Beberapa kali matanya melirik arloji di tangan.
Dia bukan tipe orang yang suka terlambat. Kali ini dia sendiri yang telat.
"Kaira, sepertinya aku tidak akan bisa sampai di kantor tepat waktu. Tolong temui aku di restauran saja! Minta Marcel untuk mengantarmu!" Andra kembali menghubungi Kaira.
Andra memutar mobilnya mengambil arah yang berlawanan. Entah ada apa di depan sana sehingga jalanan sangat macet.
Tidak mau kembali terlambat dan membiarkan Kaira dan Marcel menunggu lama, Andra menginjak pedal gas sangat dalam.
"Woy!" teriak seseorang padanya.
Karena terlalu terburu-buru, Andra tidak sadar kalau mobilnya melewati jalanan berlubang. Semalam habis turun hujan sehingga lubang yang ada di jalan digenangi oleh air.
Andra dengan kuat menginjak pedal rem. Andra menghentikan mobilnya. Bagaimanapun itu salahnya. Dia yang tidak berhati-hati.
Dilihatnya seorang wanita sedang membersihkan pakaiannya yang kotor karena ulah dirinya.
"Sial!" maki Andra pada dirinya sendiri. Dia merasa bersalah.
Didekatinya wanita yang tengah sibuk dengan pakaian kotornya.
"Nona, maafkan saya. Saya sungguh tidak sengaja," ucap Andra.
Dia mencoba membantu wanita itu membersihkan pakaiannya dengan tisu yang sengaja dia bawa ke luar.
"Jangan sentuh saya!" ucap wanita itu tanpa mengangkat wajahnya. "Makanya lain kali kalau jalan pelan-pelan, Tuan! Jangan sampai merugikan orang lain," ucapnya masih sibuk membersihkan pakaian.
"Iya, maaf. Ini semua salah saya. Apa yang bisa saya lakukan untuk mengganti rugi semua ini?" ucap Andra menyesal.
"Kamu pikir semua bisa diselesaikan dengan uang?" ucap wanita itu melihat Andra sekilas lalu merunduk lagi.
Jantung Andra tiba-tiba berdetak cepat. Jantungnya dag dig dug. Dia sendiri tidak tau kenapa semua itu terjadi.
"Nona."