Bab.3

1155 Kata
  "Nona."   Andra memberanikan diri hendak menyibak rambut yang tergerai menutupi wajah wanita itu. Entah kenapa dia ingin sekali melihat wajahnya.   "Jangan mendekat!"   Wanita itu melangkah menjauh tanpa mengangkat wajahnya. Sehingga wajah itu tetap tersembunyi di balik rambut hitam yang tergerai.   "Nona." Kembali Andra ingin mendekat.   "Ara," panggil seorang pria mendekati wanita itu.   "Mas," sahut wanita itu.   "Kenapa pakaianmu?" tanyanya khawatir.   Pria itu terlihat sangat khawatir melihat pakaian Ara kotor. Saat ini dia tidak menghiraukan kehadiran Andra di sana. Mungkin belum.   Benar, pria itu belum menyadari kehadiran Andra karena sibuk mengkhawatirkan dan membantu membersihkan pakaian Ara. Saat dia selesai dengan Ara, mata pria itu baru menatap Andra.   "Apa pria ini yang telah membuat pakaianmu kotor?" ucapnya dengan tatapan marah pada Andra.   "Sudah, Mas. Bukan salahnya, dia tidak sengaja." Ara melerai kemarahan pria itu.   Ara menahan lengan Baim, masih membelakangi Andra.   "Dia sudah membuat pakaianmu kotor, Ara."   "Tidak, Mas. Kalaupun orang lain yang lewat pasti akan mengenai pakaianku juga. Lagi pula semalam hujan, makanya lubang itu tergenang air. Makanya besok Mas Baim suruh orang untuk memperbaikinya," ucap Ara mencari pembenaran sendiri.   Meski dia bicara panjang lebar, tapi wanita itu sama sekali tidak pernah menunjukkan wajahnya pada Andra. Dia terus membelakangi Andra. Seakan dia tidak peduli akan kehadiran Andra atau memang tidak mau melihatnya. Entahlah, hanya Ara yang tau.   Andra masih berdiri dengan kotak tisu di tangannya. Matanya terpaku pada punggung wanita yang tidak pernah dia lihat rupa wajahnya. Hanya sekilas. Andra sempat melihatnya sekilas, tapi sudah membuat jantungnya berpacu hebat.   Andra sendiri tidak mengenalnya dan belum pernah melihat wanita itu. Dia sendiri tidak tau kenapa tubuhnya seakan tersengat aliran listrik. Saat sekilas melihat wajah Ara.   "Kamu beruntung, Tuan. Kamu beruntung karena bertemu dengan orang baik. Andai bukan karena dia melarangku, mungkin saja wajah tampanmu itu sudah berubah wujud karena tanganku ini," ucap Baim.   Pria itu mengepalkan tinjunya pada satu tangan lainnya.   "Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja. Aku sudah menawarkan ganti rugi padanya, tapi dia menolak," ucap Andra.   Pria itu tersenyum masam mendengar ucapan Andra.   "Kamu pikir semua bisa selesai dengan uang? Tidak!"   "Mas, sudah." Ara menarik tangan Baim.   Wanita itu membawa Baim pergi dari situ. Dia tidak suka memperpanjang masalah yang kecil.   Andra masih saja terpaku. Matanya masih terus tertuju pada punggung wanita yang menggandeng tangan pria di sampingnya. Pikiran Andra tiba-tiba bleng, kosong.   Dia baru tersadar saat ponselnya berdering.   "Ah." Andra mengambilnya.   "Kaira."   Sekretarisnya menghubungi. Andra baru sadar kalau dia sudah terlambat cukup lama.   "Kaira, maaf. Sebentar lagi aku sampai. Tunggu!" ucap Andra sembari berjalan ke mobil.   Sebelum masuk ke dalam mobil, Andra kembali menoleh ke arah wanita dan pria tadi. Dua orang itu terlihat sangat dekat dan akrab. Mereka terlihat sedang bercanda. Meski dia tidak melihat pasti, tapi dari gerakan tubuh mereka, itulah yang terjadi.   Seketika terlintas bayangan wajah putri kecilnya yang merindukan sosok seorang ibu.   "Erly, maafkan daddy," gumamnya lirih.   Andra melajukan kendaraan dengan pikiran kacau. Banyak hal yang harus dipikirkannya. Banyak hal yang harus dia selesaikan. Baik urusan kantor, maupun urusan Erly.   Masa depan gadis cilik itu ada di tangannya. Kebahagiaan Erly tergantung padanya. Tidak ada pengalaman membesarkan dan mendidik seorang putri, membuat Andra melangkah dalam kegelapan. Dia meraba-raba sendiri tanpa pendamping.   Mungkin apa yang dipikirkan Andra pasti dipikirkan oleh semua orang tua. Bedanya mereka memikirkan bersama pasangan, sedangkan Andra. Dia sendirian tanpa ada yang mendampinginya. Itu yang membuat Andra berpikir keras dalam kekhawatiran.   "Bos," sambut Kaira melihat Andra datang.   "Maaf, Kaira." Andra duduk pada kursi kosong.   "Ada apa, Bos?" Kaira melihat ada kekacauan dalam wajah Andra.   "Erly."   "Ada apa dengan putrimu?" sahut Marcel dari arah belakang.   "Marcel." Andra menoleh.   "Ada apa dengan gadis kecil itu?" tanyanya memilih duduk di samping Kaira.   "Sudah hampir seminggu ini dia selalu menangis," ucap Andra dirundung sedih.   "Apa kamu tidak memenuhi permintaannya?"   Andra menggeleng.   "Apa tidak mau sekolah?"   "Bukan." Andra kembali menggeleng.   "Lalu apa, Bos?" Kaira yang sedari tadi mengikuti percakapan ikut bingung dengan bosnya.   "Erly meminta mommynya kembali," ucap Andra.   Pria itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sikunya tertambat pada meja sebagai penopang kepala.   Mendengar pengakuan Andra membuat Marcel menarik napas dan mengeluarkan secara perlahan. Ada helaan yang sulit diartikan.   "Kenapa tidak kamu bawa pulang saja mommy Erly, Bos?" ucap Kaira asal bicara.   "Hust!" Marcel menyenggol lengan Kaira dengan lengannya.   Sekretarisnya itu memang tidak tau masa lalu Andra. Dia baru dua tahun ini bekerja dengan Andra. Itu pun karena Marcel yang membawanya. Kaira kekasih Marcel.   "Apa?" Kaira berbisik pada Marcel.   Andra tidak menggubris ucapan Kaira. Baginya itu hanya bunyi kosong yang lewat saja. Dia sudah menduga kalau sekretarisnya itu akan bicara seperti itu.   "Kenapa tidak kamu kenalkan pada Airin?" usul Marcel.   Andra menanggapi usul Marcel dengan senyum kecut.   "Kamu tau bagaimana Airin, Marcel. Lagi pula dia tidak di sini. Dia lebih sibuk dengan pemotretan dari pada mengurus aku." Andra tersenyum kecut mengingat wanita itu.   "Kalau bukan dia, siapa lagi? Airin itu kekasihmu. Kelak dia juga yang akan menjadi mommy bagi Erly."   "Aku tidak yakin," ucap Andra.   "Kenapa? Bukankah Airin cantik, Bos?" Kaira kembali nimbrung.   "Dia memang cantik, tapi selama ini dia selalu mencari alasan setiap akan aku kenalkan pada Erly."   "Paksa dia!" usul Kaira.   "Percuma. Airin keras kepala."   "Kalau begitu, cari wanita lain!"   Entah sudah dipikir dulu atau belum Marcel memberi usul begitu.   Tentu saja usulan Marcel membuat mata Andra terbuka lebar menatapnya.   Nah, lho. Sekarang salah tingkah sendiri khan, Marcel. Makanya kalau ngomong tuh dipikir dulu, jangan asal bunyi. Asbun.   "Coba bicarakan dengan Airin soal ini, Bos! Jangan sampai putrimu terus menangis karena ingin sosok mommy," ucap Kaira.   "Ya, tapi bagaimana kalau Airin tidak bisa kembali dalam waktu dekat ini?"   Andra tidak yakin kekasihnya itu akan kembali hanya untuk alasan Erly. Baginya karir lebih penting dari apa pun. Airin, wanita yang gila ketenaran dan harta.   Sebenarnya soal harta, Andra bisa memberinya lebih dari apa yang dia dapat dari menjadi seorang model. Hanya saja wanita itu selalu punya banyak alasan untuk menolak ajakan Andra menikah.   "Terpaksa kita lakukan usulan Marcel," ucap Kaira.   Andra melayangkan pandangnya pada Marcel dan Kaira bergantian. Kedua orang itu sama-sama mengangguk mendukung Andra.   "Kenapa tidak kamu saja yang berpura-pura menjadi mommy bagi Erly?" ucap Andra melihat intens Kaira.   "Aku?" Kaira menunjuk dirinya sendiri dengan mata melotot.   "Jangan main-main, Bos! Bisa digorok leherku oleh kekasihku ini," ucap Kaira melirik Marcel.   Pria di sampingnya itu sudah memasang wajah sangar siap menelannya.   Andra tertawa melihat ekspresi Marcel.   "Kamu mau jadi pagar makan tanaman, Bos?" ucap Marcel dengan mata tajam.   Lagi-lagi Andra tertawa.   "Kamu tenang saja, Marcel! Kaira bukan tipeku. Aku tidak suka wanita yang suka molor di jam kerja," ucap Andra menyindir sekretarisnya.   Kaira yang tersindir tersipu malu. Wajahnya sudah mirip dengan tomat buah yang ranum.   "Hanya sekali, Bos. Itu pun karena begadang," elak Kaira membela diri.   "Makanya kalau pacaran itu ingat waktu!" cibir Andra.   "Bos!" Kaira membuka mata lebar pada Andra.   Yang mengajaknya begadang bukan Marcel, tapi dia sendiri. Andra yang meminta Kaira untuk lembur menyelesaikan laporan akhir tahun sampai pukul satu malam. Alhasil, esok harinya dia ngantuk berat dan ketiduran di kantor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN