Bab.4

1126 Kata
  Dret ... dret ... dret ....   Kembali ponselnya berdering.   Andra mengamati nama yang tersembul dalam layar.   Marcel dan Kaira menunggu reaksi Andra.   "Halo, Mbok. Ada apa?"   "..."   "Nangis lagi? Apa masih tentang mommy lagi?"   "..."   "Baiklah, aku akan segera pulang. Tolong buat dia diam dan ajak dia main sesuka hatinya!" ucap Andra sembari bangkit.   "Erly lagi?" tanya Marcel setelah Andra menutup teleponnya.   "Ya, mommy lagi. Pusing aku." Andra mengusap rambut depannya kasar.   "Sepertinya kamu harus mempertimbangkan usul kami, Bos!" desak Kaira.   Seperti lomba lari, ketiga orang berlomba masuk ke rumah dengan langkah cepat. Bagaimanapun tetap Andra yang menjadi nomor satu.   "Daddy!" teriak Erly.   Gadis kecil itu berlarian menyambut kedatangan Andra. Tentu saja dia langsung membungkuk untuk menyambut Erly.   "Sayang, kenapa menangis lagi?" Andra menggendong Erly.   "Aku mimpi mommy datang," ucapnya menatap wajah Andra penuh harap.   Seketika senyum Andra menghilang. Wajah pria itu berubah datar penuh misteri kehidupan.   Bukan hanya wajah Andra yang berubah sedih. Marcel dan Kaira juga ikut sedih melihat kerinduan Erly yang dalam terhadap seorang mommy.   "Erly, mau tante gendong?" ucap Kaira mengulurkan tangan pada Erly.   "Tante Kaira." Kini wajah mungil Erly dihiasi senyuman.   "Sini!" Kaira meraih tubuh Erly dan mengambil alih dari gendongan Andra.   "Cantiknya keponakan tante ini," ucap Kaira menarik hidung mancung Erly.   "Tante, Tante Kaira tau mommy aku ga?" ucap Erly tidak peduli dengan pujian Kaira.   Lagi-lagi Kaira dan yang lainnya harus menahan senyum. Pertanyaan Erly membuat semua orang di ruangan itu terpaku saling lempar pandang. Tidak terkecuali Kaira. Matanya menatap Andra seolah meminta usul sebuah jawaban.   Kaira akhirnya tersenyum. Dia tidak mendapat jawaban apa pun dari Andra maupun Marcel.   "Bagaimana kalau Erly panggil tante, mommy? Tante mau kok," ucap Kaira menawarkan diri. Dia tidak tau lagi mau ngomong apa.   "Ga mau, Tante. Tante Kaira akan selalu menjadi tante Erly, tapi mommy ya tetap mommy. Ga bisa diganti," tolak Erly to the poin tanpa tedeng aling-aling.   'Mampus, gue. Anak kecil saja menolak aku menjadi mommynya. Bagaimana daddynya, langsung ditendang jauh aku,' gumam Kaira dalam hati.   Kaira kembali tersenyum, tapi kali ini senyumnya lebih ke arah nyengir.   "Ya, selama Erly belum menemukan mommy. Tante rela kok kalau Erly mau panggil tante, mommy," ucap Kaira lagi.   Seolah sekretaris Andra itu tidak putus asa. Dia tidak sadar kalau ada sepasang mata yang melotot melakukan protes secara tidak langsung. Kaira tidak peduli.   Melihat wajah imut dan cantik Erly saja sudah membuatnya lupa diri. Apa lagi sampai bisa memeluknya setiap hari dan bermain bersamanya. Pasti akan sangat menyenangkan.   "Tante bantuin daddy cari mommy aja!" ucap Erly polos, tapi terkesan cetus.   Mendengar bantahan Erly membuat Marcel tertawa sedikit keras. Dia sangat setuju dan senang mendengar ucapan gadis cilik itu.   Tawa Marcel seperti hiburan bagi Erly, gadis cilik itu ikut tertawa kecil. Sesaat dia melupakan kesedihannya.   Melihat Marcel tertawa, Kaira langsung menghujamnya dengan tatapan tajam. Seketika tawa pria itu terhenti. Begitu juga dengan tawa Erly. Dia kembali murung.   "Daddy tidak butuh bantuan, sayang. Daddy hanya butuh agar Erly bersabar. Yang daddy butuhkan itu Erly tidak menangis lagi. Kalau kamu selalu menangis, bagaimana daddy mau cari mommy?" Kaira tidak hilang akal.   "Tapi aku kangen sama mommy. Semua teman sekolahku punya mommy. Mereka selalu diantar oleh mommy mereka. Sedangkan aku, hanya diantar sama mbok," ucap Erly.   Sedih.   Memang sedih bila mendengar kisah Erly. Setiap hari dia hanya ditunggui oleh pengasuh saat sekolah. Andra memang mengantar mereka, tapi hanya sekedar mengantar saja. Dia terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan.   Andra harus menjalankan dua perusahaan sekaligus. Dua perusahaan yang mempunyai latar belakang dan bidang yang berbeda. Satu berjalan dalam bidang kuliner dan wisata. Satu lagi dalam bidang jasa kesehatan dan perkebunan. Dia harus pandai membagi waktu dan pikiran.   "Bagaimana kalau tante yang antar Erly sekolah?" Lagi-lagi Kaira menawarkan diri.   "Ga mau, Tante! Aku mau mommy, bukan tante!" Erly memberontak dan menolaknya secara tegas.   Dia melepaskan diri dari gendongan Kaira. Wajahnya cemberut merasa kesal karena Kaira selalu menawarkan diri menjadi pengganti mommy.   Gadis kecil itu memilih duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan d**a. Bibirnya manyun, maju dan mengerucut. Matanya menyipit menandakan kalau dia sedang marah besar. Sesekali napasnya ditarik dan diembuskan kasar. Erly marah pada semua orang yang ada di ruangan itu.   "Sayang." Andra mendekatinya. "Jangan cemberut gitu, donk." Andra mencubit dagunya.   "Aku kesel sama Daddy!" ucapnya ngambek.   "Kenapa? Bukankah daddy minta Erly untuk sabar?"   "Iya, tapi sampai kapan? Sabar terus, lama-lama tubuhku lebar!"   Andai ini bukan sebuah kisah yang menyedihkan, mungkin mereka sudah tertawa mendengar jawaban konyol Erly.   Erly menghentakkan tubuhnya kesal. Dia memutar menghadap Andra.   "Sampai daddy menemukan mommy."   "Kapan?" Matanya meminta kepastian.   "Belum tau," jawab Andra.   Dia tidak tau lagi mau menjawab apa. Dalam kepalanya sudah tidak ada lagi ide-ide dan alasan untuk mengakali putrinya.   "Ish," desis Erly kesal.   Bocah kecil itu kembali meluruskan tubuh dan kembali melipat tangan di depan d**a. Wajahnya kembali cemberut.   "Erly, bagaimana kalau kita makan bakso?" Marcel mendekati bocah itu.   Pria yang sedari tadi hanya menjadi penonton itu mulai beraksi. Marcel berjongkok di depan Erly. Dia mulai merayu gadis cilik cantik putri Andra.   "Tapi gendong," ucap Erly. Terukir senyum tipis dari bibir gadis cilik itu.   Seketika perubahan sikap Erly membuat semua mata yang ada di ruangan itu terbuka lebar. Marcel menang.   "Siap! Apa pun akan om lakuin untuk bidadari kecil yang cantik ini," ucap Marcel membalas senyum Erly. Tidak lupa jemarinya memberi cubitan kecil pada dagu Erly.   Erly tersenyum manja. Gadis kecil itu langsung merentangkan tangan agar Marcel menggendongnya.   Tentu saja uluran tangan Erly langsung disambut girang oleh Marcel.   "Mari kita OTW!" teriak Marcel girang.   Pria itu tanpa permisi membawa Erly pergi. Menggendongnya di atas punggung. Entah dibawa ke mana gadis kecilnya, Andra tidak ambil pusing.   "Ish, ganjen juga putrimu, Bos." Kaira merasa gemas melihat Erly.   Tadi dia merayu sudah sampai menurunkan harga diri, tapi tidak juga digubris. Sekarang hanya tawaran makan bakso dari Marcel langsung setuju. Bahkan senyumnya mengembang bebas.   "Masih kecil saja sudah tau cowok ganteng," ucap Kaira lagi.   "Kamu cemburu dengan putriku?" Andra menatap sekretarisnya.   Kaira tertawa kecil. Dia tau bosnya itu akan tidak suka bila ada yang mengusik kebahagiaan putrinya.   "Dia kekasihku, Bos," ucap Kaira bersungut-sungut.   "Yaelah, masih banyak pria lain yang lebih tampan dari Marcel. Lagian kamu kena pelet kali ya sampai mau sama pria macam itu," ucap Andra bercanda.   "Ish, Bos ini." Kaira memukul lengan Andra. "Biar begitu dia juga asistenmu, Bos."   "Iya, juga ya. Sudahlah aku mau istirahat sebentar. Mumpung Erly bersama Marcel." Andra bangkit dari duduknya.   "Bos, boleh aku minta makan? Aku lapar," ucap Kaira menghentikan langkah Andra.   "Cari gratisan." Andra melirik sekilas.   Kaira tersenyum.   "Cari saja sendiri!" Andra kembali melangkah ke kamar.   "Terima kasih, Bos," teriak Kaira senang.   Kaira sibuk mencari apa yang bisa dia makan. Makan Kaira kuat dan banyak, tapi body dan postur tubuhnya tetap langsing, ramping. Kaira tipe wanita yang tidak bisa gemuk. Berbahagialah dia, tidak perlu diet untuk menjaga bentuk tubuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN