Bab.5

1140 Kata
  Andra merasa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Pagi-pagi sudah disuguhkan dengan permasalahan yang dihadapi perusahaannya. Belum lagi urusan Erly yang selalu menangis karena kangen seorang mommy. Sungguh melelahkan.   Andra berbaring di ranjang besarnya. Kedua tangan dijadikan bantal. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Sebenarnya tidak ada yang menarik di sana, tapi mata Andra tidak beralih.   "Apa yang harus aku lakukan? Aku hampir menyerah," ucap Andra.   Mungkin dia telah puas memandangi langit tanpa cakrawala. Matanya mulai terpejam. Andra ingin melepas semua kepenatan dalam kepalanya.   "Siapa wanita itu?" Andra kembali membuka mata.   Bayangan wanita yang pakaiannya kotor karena ketidaksengajaan tadi tiba-tiba melintas begitu saja.   "Siapa pria itu? Apa itu suaminya? Ahk! Kenapa malah aku memikirkan orang yang tidak aku kenal?"   Andra menarik bantal dan mendekap wajahnya sendiri. Dia sudah seperti orang gila, berteriak sembari memukul bantal.   Maksud hati ingin beristirahat malah kekacauan pikirannya bertambah. Andra semakin galau dan pusing.   "Lama-lama aku bisa gila dan butuh psikiater kalau begini terus."   "Selamat pagi, cantik," sapa Andra.   "Pagi, Daddy."   Pagi ini Erly terlihat lebih segar. Meski di wajahnya tidak dihiasi senyum seperti biasanya, wajah gadis cilik itu masih terlihat cantik dan imut.   "Daddy tidak kerja?" tanyanya heran melihat Andra hanya mengenakan kaos santai.   "Khusus hari ini daddy free. Daddy mau menemani putri cantik ini," ucap Andra mengusap rambut halus Erly.   "Benar, Daddy?" Mata Erly berbinar girang.   "Ya, apa kamu senang?" Andra tersenyum lebar.   Dia berharap dengan dirinya membatalkan semua agenda kerjanya hari ini bisa membuat Erly senang. Dia berharap dengan bersama putrinya seharian akan membantu Erly melupakan soal mommy.   "Tentu saja aku senang, Daddy. Dan akan lebih senang lagi kalau ada mommy juga," ucap Erly penuh harap.   Seketika senyum Andra hilang. Mood yang tadi terkumpul penuh kini surut tinggal setengahnya. Ternyata gadis kecilnya itu masih belum bisa melupakan soal mommy.   "Sayang." Andra membelai rambut panjang Erly.   Meski masih kecil, tapi rambut Erly sudah panjang. Rambut pirang menambah imut dan cantik wajahnya. Pipinya sedikit berisi, imut dan chuby. Matanya sipit dengan kulit putih mulus semakin membuat orang-orang gemas.   Setiap orang yang melihatnya pasti langsung mendekat dan mencubit pipinya. Sering kali Erly ngambek karena ulah emak-emak yang gemes.   "Wah, pantas saja putrinya cantik kayak boneka. Papanya saja gantengnya ga ketulungan."   "Busyet deh! Ini beneran daddy Erly? Wow, tampan sekali!"   "Wah, Erly. Kenalin donk daddynya sama tante!"   "Mas, masih ada lowongan ga untuk menjadi istri dan mommy Erly?"   Dan masih banyak lagi rayuan dan pujian yang dilontarkan emak-emak pengantar anak mereka sekolah.   Seseorang yang sedang melintas tertawa geli melihat ada pria tampan dikerumuni banyak emak sosialita.   "Kasihan pria itu. Aku yakin sebentar lagi dia akan menjadi dendeng daging. Habis dimakan sama tuh wanita-wanita genit."   Mereka seperti tidak pernah melihat pria tampan. Sama dengan emak-emak sedang berkerumun menawar ikan di tempat lelang.   Erly sendiri cemberut melihat daddynya digandrungi banyak wanita. Gadis kecil itu melipat tangan di depan d**a. Matanya melotot sempurna menatap pada kerumunan. Bibirnya mengerucut siap mengeluarkan boom molotof.   Andra sendiri merasa risih menjadi pusat perhatian. Dia sudah sama dengan tumpeng di acara ulang tahun desa. Dikerumuni dan menjadi rebutan emak warga seantero desa.   Andra telah ternoda. Bukan hanya bibir mereka yang nerocos dengan berbagai pujian, tapi tangan mereka. Tangan-tangan genit para wanita itu telah m*****i tubuh Andra. Bukan hanya tubuh saja, pipi Andra menjadi sasaran empuk para emak. Untung bibirnya tidak menjadi sasaran empuk juga. Bisa hilang manisnya.   Andra bisa galak dan sangar mengerikan bila berurusan dengan pekerjaan, tapi saat menghadapi serangan emak-emak, nyalinya melempem. Dia tidak sanggup lagi melawan mereka.   Memberontak dan lari dari kerumunan pun tidak akan mungkin bisa. Andra bagai madu di tengah kerumunan lebah. Hanya bisa cengar-cengir menahan amarah dan melindungi aset yang paling berharga agar tidak ternoda juga.   "Stoppp!!!" teriak Erly melengking.   Gadis kecil itu berdiri di atas gundukan batu sehingga tubuhnya sedikit tinggi.   Mendengar teriakan Erly, para emak yang tadinya riuh rendah menjadi hening. Semua mata tertuju padanya.   "Stop! Jangan sentuh daddy aku!" ucapnya dengan berkacak pinggang.   Di samping gadis cilik itu beberapa langkah, berdiri seorang anak kecil laki-laki. Anak itu juga berkacak pinggang, sama seperti Erly.   "Ya, stop! Tante-tante genit jangan pernah ganggu daddy Erly!" sahutnya membantu Erly.   Kini perhatian mereka tertuju pada anak laki-laki itu. Tidak terkecuali Andra. Matanya terbuka sempurna melihat ada anak kecil membela putrinya. Senyum Andra mengembang.   'Ya Tuhan, apa-apaan ini? Apa putriku sudah punya penggemar?' Andra menepuk dahinya.   "Daddy, sebaiknya Daddy cepat pulang! Ga usah nungguin aku lagi!" ucap Erly pada Andra.   Jelas saja Andra menaikkan alisnya. Dia tidak mengerti kenapa Erly memintanya pulang. Padahal tadi mereka sudah sepakat kalau dia akan menemani dan menunggu Erly sampai pulang.   "Tapi, sayang?" Andra mencoba melakukan protes.   "No, Daddy!" Erly merentangkan tangan ke depan. "Daddy jangan membantah! Aku tidak suka Daddy jadi rebutan para tante genit itu!" tunjuk Erly pada para emak.   Andra menoleh ke kanan ke kiri melihat emak-emak yang mengerumuninya. Andra nyengir.   "Ish, galak sekali gadis kecil ini," ucap salah satu dari mereka.   "Sayang, jangan begitu donk. Biarkan daddymu ada di sini bersama kami," ucap salah satu dari mereka lagi.   Dasar emak-emak, bibirnya ada dua. Begitu kata orang. Satu bersuara, semua ikut bersuara. Suasana kembali riuh, ribut kayak lebah.   "Stop!!!" Erly kembali berteriak.   "Stop! Kalian berisik!" ucap anak laki-laki di samping Erly. "Mami, Mami juga menjauh dari daddy Erly! Kenapa Mami ikut di situ? Mami mau aku bilang sama papi?" ucap anak laki itu pada seorang wanita yang ikut mengerumuni Andra.   "Aduh, sayang. Jangan ya. Mami menyingkir, mami ga ikutan kok. Nih mami pergi," ucap wanita itu menyingkir dari kerumunan para emak.   "Bubar, bubar semua!" teriak Erly.   Tangannya bergerak-gerak seperti mengusir ayam tetangga.   "Hust! Hust! Pergi jauh sana!"   Apa yang dilakukan Erly selalu diikuti oleh anak laki-laki itu. Hal itu membuat Andra tersenyum geli. Ternyata kecantikan putrinya telah berhasil menghipnotis lawan jenis.   "Daddy pulang aja!" ucap Erly setelah semua bubar.   "Sayang, daddy khan-"   "Pulang aja, Daddy! Aku ga mau mereka kembali menyakiti Daddy." Erly mendorong tubuh Andra untuk pergi.   "Iya, Om. Om pulang aja! Biar Erly aku yang jagain. Om tenang saja! Nanti kalau ada yang nakal, biar aku yang hajar," ucap anak cowok di samping Erly.   Gayanya membuat Andra tidak bisa menahan untuk membuka mata lebar. Gaya cowok kecil itu seperti pria dewasa yang tangguh dan bertanggungjawab. Andra terkekeh melihat tingkah konyolnya.   "Om, Om jangan tertawa! Aku serius. Ya ga, Erly?" ucap sang cowok kecil meminta dukungan Erly.   "Ish, sok jagoan," cibir Erly dengan wajah sok kesal.   'Ya Tuhan, mereka ini.' Andra menahan kegelian hatinya.   Karena terus diusir oleh Erly, putrinya sendiri. Mau tidak mau Andra akhirnya pergi juga. Dia akan menjemputnya lagi setelah jam pulang sekolah.   "Om pegang janjimu. Kalau sampai ada apa-apa pada putri om, kamu yang bertanggungjawab," bisik Andra pada anak cowok yang sok jagoan itu.   "Siap, Om," jawabnya sangat angkuh. Tangannya menepuk d**a yang sudah dia busungkan.   'Dasar buaya darat! Kecil-kecil sudah menjadi perayu ulung! Bagaiamana besae nanti? Bisa jadi master buaya ini.' Andra hanya bisa menggelengkan kepala, konyol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN