Pukul sepuluh.
Kelas Erly sudah pulang. Sebagian besar murid lainnya sudah dijemput dan sudah pulang. Sekarang tinggal ada gadis kecil dan cowok kecil.
"Erly, kamu main ke rumahku saja yuk. Nanti biar daddymu jemput ke rumah aku," ajak cowok imut itu pada Erly.
"Ga mau. Aku tunggu daddy di sini saja," tolaknya mentah-mentah.
"Erly, apa yang dikatakan Carlo benar. Kamu ikut dengan kami saja, biar nanti daddymu jemput ke rumah," ucap mami Carlo.
'Ish, tante ini khan genit juga pada daddy aku. Ogah deh,' batin Erly kesal.
"Ga ah, Tante. Aku di sini saja. Pasti daddy lagi di jalan," tolak Erly lagi.
Bukan tega meninggalkan Erly sendirian, hanya saja wanita itu ada janji penting siang ini. Mau tidak mau dia meninggalkan Erly. Cowok yang telah berjanji pada Andra pun tidak bisa menolak ajakan sang mami untuk pulang.
Ada rasa bersalah pada wajah Carlo saat meninggalkan Erly. Berbeda dengan wajah Erly, gadis itu tersenyum melepas kepergian Carlo. Dia melambaikan tangan tanda perpisahan.
"Erly, jaga dirimu!" teriak Carlo dari dalam mobil.
"Ya," sahut Erly berteriak juga.
Kini Erly tinggal sendirian. Tidak ada kawan dan tidak ada teman. Sekolah juga sudah tutup.
"Ih, mana sih daddy?" Erly mulai capek menunggu.
Karena lama dan merasa haus, gadis cilik itu berjalan mencari kios minuman. Semakin lama dia berjalan, semakin jauh meninggalkan sekolah. Dia tidak tau sudah melangkah ke mana. Gadis itu hanya terus saja berjalan tanpa arah.
"Mang, beli es," ucap Erly saat ada gerobak es.
Dia kembali berjalan tak tau arah. Erly bingung. Dia berhenti di pinggir jalan.
"Wah, ke mana aku harus melangkah?" Erly menoleh ke kanan dan ke kiri menentukan arah yang akan dia ambil. "Kanan atau kiri?" Dia mulai bingung.
Sementara di kediaman Andra.
"Sial! Ini semua salahku. Kenapa aku menuruti permintaannya dan dengan mudahnya meninggalkan Erly." Andra menyalahkan diri sendiri.
"Apa kamu sudah mencarinya, Bos?" Marcel ikut cemas.
"Sudah. Aku sudah mencari ke sekolahnya dan sekitar sekolah Erly, tapi tidak ada yang melihatnya."
Andra kebakaran jenggot. Dia kehilangan Erly, putri semata wayangnya. Ada penyesalan yang sangat dalam pada dirinya. Niat hati ingin membahagiakan putrinya, malah menjadi kesedihan yang tak berujung. Erli hilang, tidak ada yang tau dia ke mana.
"CCTV sekolah," ucap Marcel.
"Mereka bilang CCTV luar rusak," ucap Andra geram.
"Sial!" Marcel tidak kalah geram.
"Aku mau besok kamu panggil pengurus sekolah itu dan beri dia peringatan keras karena tidak merawat peralatan sekolah dengan baik!" perintah Andra.
Seperti dia itu bos pemilik sekolah, tapi meski dia bukan pemilik sekolah. Andra mempunyai kekuasaan yang bisa digunakan untuk menghancurkan siapa saja. Andra salah satu pemegang saham di sekolah yayasan itu.
Apa saja yang berkaitan dengan putrinya bisa berurusan serius dengannya. Meski sebenarnya hilangnya Erly bukan salah pihak sekolah sepenuhnya, tapi salah Andra juga. Tidak seharusnya dia meninggalkan Erly. Bukankah dia tidak masuk kerja untuk menemani Erly seharian? Mana?
Seharusnya dia bisa meminta pengasuhnya untuk menggantikan dirinya. Nasi sudah menjadi bubur. Siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi hari esok atau nanti?
Hari ini kediaman Andra menjadi hujan tangis. Empat pengasuh setia Erly dirundung kesedihan yang amat sangat. Mereka tidak sanggup bila harus kehilangan gadis cilik yang sudah menjadi mutiara hati dalam hidup mereka.
Erly lebih dari seorang nona kecil bagi mereka. Gadis kecil itu adalah putri mereka. Dari orok hingga sekarang, mereka yang merawat dan mengasuhnya. Mereka adalah mommy terhebat.
"Tuan, kenapa tidak lapor polisi saja?"
"Sudah, Mbok. Mereka bilang belum dua puluh empat jam."
"Apa mau menunggu putriku menjadi mayat?!" teriak Andra tidak terima mendengar jawaban Marcel.
"Itu sudah ketentuan dari mereka, Bos."
"Ahk!" Andra mengarahkan tinjunya pada dinding.
Buku-buku jemarinya lecet dan mengeluarkan darah. Andra tidak peduli.
"Tuan." Salah satu pengasuh Erly berlari mendekati Andra.
"Jangan pedulikan aku, Mbok!"
Andra menepis tangan wanita yang ingin mengobati lukanya.
"Tapi, Tuan."
"Biarkan saja! Ini semua salahku. Aku pantas menerima ini."
"Tuan, kalau non Erly tau. Dia pasti sedih."
"Biar!" teriak Andra tidak peduli.
Luka itu tidak ada artinya dibanding Erly. Kini gadis itu menghilang karena dia. Sampai tangannya patah pun tidak akan bisa berarti bila dibanding putrinya.
Marcel sudah mengerahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Erly. Sampai sekarang belum ada kabar satu pun yang mereka dapat.
Setelah beberapa waktu baru ada kabar dari salah satu orangnya. Mereka mengabarkan kalau ada yang melihat anak kecil di pinggir jalan dan dibawa oleh seorang wanita. Dia sendiri tidak yakin apakah anak kecil itu anak yang mereka maksud atau bukan, tapi ciri-cirinya sama dengan yang ada di dalam foto.
"Cari tau siapa wanita itu!" perintah Andra geram.
Dia tidak akan mengampuni orang yang berani menculik putrinya. Apapun alasannya, dia akan tetap memberi pelajaran pada orang itu. Apa lagi sampai ada luka lecet sedikit pun pada kulit Erly, Andra tidak akan pernah melepaskan orang itu.
"Cari tau ke mana arah orang itu membawa Erly!"
Mendengar nona kecilnya diculik orang, keempat pengasuhnya menangis histeris.
"Apa salah nona kecil? Kenapa mereka tega menculiknya?"
Tangis mereka tidak henti.
"Mbok, apa yang menculik non Erly itu mommynya sendiri?" terka salah satu pengasuh.
"Siapa pun mereka, aku tidak akan membiarkan dia hidup!" sahut Andra mendengar perbincangan mereka.