Hingga sore belum ada kabar keberadaan Erly. Orang-orang suruhan Marcel juga tidak memberi kabar lagi. Andra semakin kalut. Hati dan hidupnya semakin hancur. Harta satu-satunya yang dia jaga terancam hilang juga.
"Apa aku harus kehilangan lagi? Kenapa Tuhan tidak pernah membiarkan aku bahagia, Marcel? Kenapa?!" Andra bersimpuh lemah.
"Jangan pernah mengatakan hal itu, Andra!" bentak Marcel. Dia tidak suka melihat Andra putus asa.
Wajahnya yang tampan sudah tidak karuan lagi. Tubuhnya yang tegap kuat sudah tidak kentara lagi. Andra menjadi pria yang paling lemah. Andra hancur.
"Tuan, bukankah dalam tas non Erly ada ponselnya?"
Seorang pengasuh baru ingat kalau Andra pernah menyuruh dirinya untuk memasukkan satu ponsel di dalam tas Erly. Dari sejak saat itu sampai sekarang, ponsel itu tidak pernah ke luar dari tas Erly.
Mungkin gadis kecil itu juga tidak tau kalau ada ponsel dalam tasnya karena Andra meminta pengasuh itu menonaktifkan deringnya. Tujuan utamanya hanya digunakan untuk menghubungi Erly bila sewaktu-waktu diperlukan.
Andra bangkit dari kelemahannya. Dengan segera di menyambar ponsel miliknya dan mencoba menghubungi nomor yang pernah dia masukkan dalam ponsel itu.
Semua orang yang ada di situ menunggunya dengan cemas. Tidak ada satu orang pun yang bergerak. Bahkan bernapas saja mereka enggan dan sangat berhati-hati. Mungkin takut menganggu sinyal.
"Sial! Nomornya mati." Andra kembali resah.
Jelas saja mati. Ponsel itu sudah dari kapan masuk dalam tas Erly.
"Kapan terakhir Erly ganti tas, Mbok?"
"Tiga hari yang lalu, Tuan."
"Apa tidak kamu periksa baterainya?"
"Maaf, Tuan. Saya lupa. Biasanya dua hari sekali non Erly minta ganti tas dan saat itu saya cas baterainya, tapi sudah tiga hari ini dia tidak mau ganti tas. Maafkan saya, Tuan. Ini salah saya," ucap salah satu pengasuh yang Andra suruh memasukkan ponsel itu.
"Ahk!" Sekali lagi tinju Andra mendarat dengan keras pada dinding di depannya.
"Percuma kamu sakiti diri sendiri, Bos. Itu tidak akan membuat Erly kembali. Sebaiknya kita tunggu kabar dari mereka atau kita cari sendiri saja," ucap Marcel.
"Kita cari!" Andra bangkit kembali.
Dia memutuskan untuk kembali mencari keberadaan Erly sendiri. Dia tidak sabar menunggu kabar dari orang-orang yang dikerahkan Marcel. Mereka semua lelet dan tidak berguna, begitulah kata Andra.
"Mbok, kabari aku bila ada kabar tentang Erly!" pesan Andra sebelum dia pergi.
"Baik, Tuan."
Sementara sebelum berita hilangnya Erly mengguncang kediaman Andra Tirta Kencana.
"Sebaiknya aku bantu daddy cari mommy," ucap Erly dengan wajah sumringah.
Kerinduan akan kehadiran seorang ibu membuat gadis cilik itu bersemangat. Dia terus berjalan menelusuri jalan raya dan gang-gang sempit. Erly tidak tau sudah berapa lama dia berjalan dan sudah seberapa jauh dia meninggalkan gedung sekolah.
Hingga matahari bertengger tepat di atas kepalanya, dia masih terus berjalan tanpa henti. Seakan kakinya tidak mempunyai rasa lelah.
"Mommy, mommy di mana? Aku pingin ketemu mommy. Aku kangen mommy. Ayo pulang, mommy. Aku janji aku tidak akan nakal asal mommy tidak pergi."
Mungkin kaki mungilnya mulai lelah, Erly duduk sendirian di tepi jalan. Dengan tangan menggenggam plastik es dan sesekali menyeruputnya, wajah dan matanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
Air matanya hampir jatuh, kulit wajahnya mulai memerah karena panas. Rambutnya yang tadi terikat rapi kini telah kusut bau matahari. Erly lelah dan mulai putus asa.
"Mommy, aku takut. Daddy, tolong aku! Aku takut, aku mau pulang. Aku janji ga akan maksa daddy untuk cari mommy lagi. Aku tau ternyata cari mommy itu susah. Daddy, tolong aku!" ucap Erly mulai menangis.
Meski tangis gadis cilik itu terdengar cukup keras, tapi tidak ada satu pun manusia yang mau menghampirinya. Erly menyembunyikan wajahnya di antara lutut dan memeluk kedua kakinya. Gadis itu meringkuk menangis.
"Hay, nona kecil," sapa seseorang menyentuh punggungnya.
Erly perlahan mengangkat wajah. Dia ingin melihat siapa yang telah menyapanya, tapi sia-sia. Pandangannya kabur, matanya terasa berkunang dan menjadi gelap.
"Mommy."
Erly jatuh tak sadarkan diri.
"Hey!"
Melihat gadis cilik itu pingsan Ara semakin bingung dibuatnya. Dicarinya bantuan, tapi tidak ada yang peduli sama sekali. Dengan cepat dia membangunkan Erly dan membawanya ke dokter terdekat. Bukan rumah sakit atau klinik, hany dokter praktek biasa.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanyanya cemas.
"Nonya, putri Anda hanya kelelahan saja. Dia hanya butuh istirahat."
"Jadi dia hanya pingsan?" Ara kembali memastikan ucapan dokter.
"Ya, aku rasa begitu. Dan sekang dia sedang tidur. Silahkan Anda bawa pulang dan biarkan dia istirahat!"
"Baik, terima kasih dokter."
Senyum Ara lega. Mendengar kalau gadis cilik itu tidak apa-apa, dia membawa kembali pulang ke rumahnya.
Dengan sangat pelan dan hati-hati, Ara menidurkan anak itu di atas ranjang miliknya. Ya, hanya ranjang itu yang dia punya.
Dibelainya rambut halus yang telah menjadi kusut. Dengan lembut pula dia menyisirnya.
Ada rasa yang sulit diartikan dalm hatinya. Melihat wajah polos gadis cilik itu, membuat Ara senang. Ada daya tarik sendiri yang membuatnya ingin terus membelainya.
"Siapa orang tuamu, Nak? Kamu cantik, pasti mereka bukan orang biasa dan sembarangan, tapi kenapa sampai kamu terlantar di pinggir jalan? Apa kamu korban broken home?" Ara terus memandangi wajah imut dan cantik itu.
"Kamu anugerah terindah yang pernah aku lihat."