Bab.8

997 Kata
  "Ya ampun. Ini anak pingsan atau tidur sih? Kenapa ga bangun-bangun? Kata dokter dia cuma pingsan dan akan segera bangun. Lha ini udah sore belum bangun juga."   Wajahnya terlihat cemas. Beberapa kali dia mondar-mandir hanya untuk memastikan keadaan anak kecil itu.   "Apa aku bawa ke dokter aja lagi ya?" Dia berpikir sejenak. "Ah, pasti dokter akan mengatakan hal yang sama juga. Dia hanya tidur. Ish, itu lagi yang harus aku dengar. Biar saja deh, aku tunggu sampai dia bangun."   Kembali kakinya meninggalkan kamar dan kembali ke dapur. Dia sedang memasak bubur untuk berjaga-jaga kalau bocah cilik itu bangun dan minta makan.   Beberapa kali matanya melirik jam yang tergantung di kontrakan yang sederhana.   "Sudah pukul lima sore, kenapa tidak bangun juga?"   Ara semakin cemas. Dia tidak mungkin menahan bocah itu lama-lama di kontrakannya. Bisa-bisa dia jadi tersangka penculikan. Apa lagi kalau sampai orang tua bocah itu melapor pada polisi. Bisa berabe urusannya. Runyam. Dia tidak mau dipenjara.   "Kenapa aku tidak memeriksa tas anak itu ya? Siapa tau ada petunjuk yang bisa aku gunakan untuk mengetahui siapa dia."   Ara berjalan lagi ke kamarnya. Dia ingin mencari tau siapa anak itu dari dalam tasnya.   Ara membuka tas anak itu satu persatu setiap tempatnya.   "Erlyana Mutiara Tirta Kencana." Ara membaca lirih nama yang tertera dalam sampul buku.   "Nama anak ini pasti Erlyana Mutiara Tirta Kencana. Tirta kencana, pasti ini nama orang tuanya. Hey, kenapa namanya sama denganku? Mutiara. Ah, mungkin ini hanya kebetulan."   Ara sempat terkejut saat membaca nama lengkap anak kecil itu. Ada nama yang sama dengan namanya Mutiara.   "Mungkin hanya sama nama saja. Toh namaku bukan nama paten. Sudahlah, aku harus cari alamatnya," ucap Ara kembali mengacak isi tas Erly.   "Ah, tidak ada. Bagaimana aku bisa menghubungi mereka? Pasti mereka sangat khawatir." Ara termenung sedih.   Ara kembali mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mencari tau alamat Erly.   "Handphone? Ini handphone bocah cilik ini?" Ara menemukan handphone canggih di tas Erly.   "Bodoh sekali orang tuanya! Ini mah sama saja dia menjadikan anaknya sebagai umpan tangan-tangan jahat. Gila! Orang tua macam apa ini memberi anaknya handphone canggih?"   Ara tidak percaya bocah sekecil itu sudah membawa handphone canggih keluaran baru. Bagi Ara itu tidak benar. Perbuatan itu bisa memicu kejahatan.   Ara menekan dan memperhatikan handphone milik Erly. Mati. Handphone itu mati. Ara cepat-cepat mencari kabel cas dan mengisi daya baterainya.   Dia harus menunggu cukup lama untuk bisa menggunakan handphone itu. Bagaimana tidak? Baterainya kosong blong. Sama sekali tidak hidup lagi. Butuh waktu untuk mengisinya lagi.   "Sial, untuk apa coba orang tuanya membawakan handphone mati begini? Aku rasa mereka sama sekali tidak peduli dengan keselamatan anak ini. Gila ya, orang tua jaman sekarang. Oh, no. Aku yakin tidak semua orang tua seperti ini. Andai suatu saat nanti aku menjadi orang tua, apakah aku juga akan menjadi seperti mereka? Membiarkan anak-anakku sendirian begini?"   Ara malah larut dalam hayalan dan lamunan akan masa depan yang belum jelas arah tujuannya.   "Mommy, mommy."   Ara terkejut mendengar Erly mengigau. Dia pikir bocah kecil itu sudah bangun, tapi ternyata tidak. Dia hanya mengigau. Ara mendekatinya.   "Mommy jangan pergi! Aku kangen mommy." Kembali Erly mengigau.   Ara meletakkan punggung tangannya pada dahi bocah itu.   "Ya Tuhan, panas sekali badannya."   Ara terkejut saat kulit tangannya bersentuhan dengan kulit Erly. Suhu tubuh bocah kecil itu sangat panas. Dia terserang demam tinggi. Bahkan tubuh dan bibirnya hingga menggigil. Erly kedinginan.   "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kompres, aku harus mengompresnya."   Ara berlari dengan cepat mengambil waslap dan baskom berisi air untuk mengompres. Ara yang memang masih single dan belum pernah mempunyai anak menjadi sangat panik. Situasi ini membuatnya semakin gugup, tapi dia masih bisa bertindak tenang. Dia tidak pernah dalam keadaan seperti ini.   Berkali-kali dia mengganti waslap dan terus mengompresnya, tapi sudah tiga puluh menit suhu tubuhnya tidak turun juga. Suhu tubuh Erly malah semakin naik. Kulitnya semakin terbawa panas dan dia semakin menggigil. Ara mencoba memeluknya agar bocah itu tidak menggigil lagi, tapi sia-sia. Tubuh Erly semakin bergetar hebat.   "Mana aku punya obat turun panas? Aku khan tidak punya anak kecil." Ara semakin bingung dan cemas.   Kepanikan Ara bertambah ketika mendengar bocah itu kembali mengigau hingga menangis. Tangisnya terdengar memilukan. Ara tertegun sejenak. Dia lupa dengan hal utama yang harus dia lakukan.   "Mommy, aku mau mommy. Daddy, bawa mommy pulang! Aku mau mommy," racau Erly tidak berhenti.   Entah ada angin apa, air mata Ara tiba-tiba terjun bebas. Ara menitikkan air mata. Hatinya terasa sesak melihat dan mendengar bocah kecil itu menyebut mommy dalam tangis.   Refleks Ara mengangkat kepala Erly dan lagi-lagi dia mendekap erat tubuh mungil itu. Ara memeluk bocah kecil itu. Matanya masih berkaca-kaca dan basah.   "Kasihan kamu, Nak. Aku tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi aku bisa merasakan kesedihanmu," bisik Ara menahan sesak di d**a.   Hatinya terasa sakit, dadanya sesak. Ara merasakan apa yang bocah kecil itu rasakan. Dia merasa ada ikatan batin yang kuat saat memeluk tubuh mungil itu.   "Mommy."   Erly sempat membuka matanya sebentar menatap Ara.   Hanya sebentar, bocah kecil itu kembali tertidur. Bukan, mungkin dia pingsan lagi.   "Sayang, buka matamu, Nak! Sayang, Erlyana. Buka matamu!" Ara menepuk pelan pipi Erly mencoba untuk membangunkannya.   Ara semakin panik lagi. Suhu tubuhnya semakin meningkat. Erly mengalami hipertermi akut.   "Kita ke rumah sakit, sayang."   Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan bocah kecil itu.   Ara dengan cepat mengangkat tubuh Erly dan membawanya mencari taksi. Dia tidak peduli dengan yang lain. Dalam kepalanya hanya ada keselamatan bocah kecil itu.   Dalam taksi pun bocah itu kembali mengigau.   "Pak, bisa lebih cepat lagi tidak jalannya? Tolong percepat!" ucap Ara pada sang sopir.   "Ini sudah cepat, Nyonya. Jalanan sangat ramai." Sopir itu melihat Ara dari kaca spion.   Wajah sopir itu turut panik ketika melihat kepanikan Ara.   "Sayang, sabar ya. Kita akan segera sampai," ucap Ara mengusap rambut Erly.   "Pak, cari rumah sakit yang terdekat ya. Tidak harus besar." Ara tidak sabar lagi.   "Iya, Nyonya."   Tidak mau melihat penumpangnya semakin panik, sopir mengambil jalan lain. Dia membawa penumpangnya ke klinik kesehatan terdekat yang dia tau. Dia juga tidak mau ada orang mati di dalam taksinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN