Bab.9

1088 Kata
  Kecemasan Ara sedikit berkurang setelah bocah yang dia bawa mulai mendapat penanganan dari tim medis kesehatan di sebuah klinik kesehatan. Ara tidak membawa Erly ke rumah sakit, tapi hanya di sebuah klinik saja.   "Nyonya," sapa petugas kesehatan.   "Bagaimana, Dokter? Apa putri saya baik-baik saja?" Ara terlihat cemas.   "Putri Nyonya hanya butuh istirahat. Apakah saya bisa bicara berdua dengan Anda?" ucap dokter itu ragu.   "Tentu saja." Ara merasa ada yang aneh dari cara bicara dokter itu.   Dengan ragu dia mengikuti langkah dokter itu menuju sebuah ruangan.   "Silahkan duduk, Nyonya!" ucap dokter itu.   "Terima kasih."   Ara duduk di depan dokter yang memeriksa Erli.   Sebelum bicara, mata dokter itu menatapnya beberapa saat. Tentu saja hal itu membuat Ara gugup dan risih.   "Maaf, Dokter. Apa ada yang berbahaya pada putri saya?" tanya Ara ingin cepat-cepat ke luar dari ruangan itu.   Dia merasa tidak nyaman dengan cara dokter itu menatapnya. Tatapannya seperti sedang mengintimidasi dirinya. Ara layaknya seorang penjahat yang akan diadili.   "Apa dia putri Anda, Nyonya?" tanya dokter itu.   Matanya masih tidak beralih pada wajah Ara. Bahkan dokter itu mencondongkan tubuhnya ke arah Ara.   Dari pancarana mata itu terlihat ada keraguan mengenai status Ara dengan Erly. Hal itu semakin membuat Ara gugup.   "Ya, apa itu salah?" Ara mulai bisa menguasai kecemasannya.   "Apa Anda yakin?"   Sekali lagi dokter itu memastikan jawaban Ara. Bahkan pria itu tetap mempertahankan posisi tubuhnya yang condong ke arah Ara.   "Maaf, Dokter. Saya ke sini mencari obat untuk anak saya. Kenapa dokter memperlakukan saya seperti seorang penculik yang sedang diadili?" protesnya dengan nada tidak suka. Kesabaran Ara mulai hilang.   "Maaf, Nyonya. Bukan begitu. Hanya saja-"   Dokter itu tidak meneruskan ucapannya. Dia menarik tubuhnya dan bersandar, tapi mata itu tetap tidak mua lepas dari Ara.   Ara masih diam menunggu dokter itu melanjutkan ucapannya. Dia harus pandai memainkan pikirannya agar tidak menimbulkan kecurigaan yang lebih lagi.   "Apa dokter tidak lihat siapa nama anak itu?" ucapnya karena dokter itu sama sekali tidak mengalihkan cara pandangnya.   Ara menarik napas untuk kembali berbicara.   "Namanya Erlyana Mutiara," jawab dokter itu dengan melipat kedua tangan di depan d**a, santai.   "Ya, namanya Erlyana Mutiara. Dokter tau siapa nama saya? Nama saya Mutiara Senja. Nama kami sama," jelas Ara tiba-tiba muncul ide untuk meyakinkan dokter itu. "Apa gitu belum cukup membuktikan kalau dia putri saja?" lanjut Ara.   "Siapa nama ayahnya?" Sekali lagi dokter itu berlaku seolah sedang mengintrogasi Ara.   Ara sempat tersentak ketika dokter itu menanyakan siapa nama ayah Erly. Tentu saja dia tidak tau siapa ayahnya. Bertemu saja tidka pernah.   Seketika Ara teringat akan nama Erly yang tertulis dalam buku pelajaran Erly. Ara tersenyum merasa akan menang, tapi sebelum Ara menjawab seorang perawat tiba-tiba masuk dengan tergesa-gesa.   "Dokter, suhu tubuh pasien kembali naik. Dia juga selalu memanggil mommynya," ucap seorang perawat tiba-tiba muncul dari balik tirai dengan wajah panik.   "Erly!" Ara langsung berdiri dan berlari disusul sang dokter.   Ara berlari tanpa peduli pandangan mata sang dokter yang terus mengikutinya. Di saat genting pun, mata dokter itu masih saja menyelidiki Ara.   "Sayang," panggil Ara setelah sampai.   Ara langsung memeluk tubuh mungil Erly. Benar, kulit tubuhnya teraba sangat panas. Erly kembali mengalami demam tinggi.   "Mommy, aku kangen Mommy. Jangan pergi lagi," panggil Erly membuka mata.   Mata itu sangat sayu, lemah. Matanya merah karena suhu tubuh meningkat dia menatap Ara sejenak lalu terpejam lagi. Erly tidak mampu menahan rasa panas tubuhnya.   "Iya, sayang. Mommy ada di sini." Ara terus memeluknya. "Bangunlah, Nak!" Ara kembali menepuk lembut pipi Erly berharap bocah kecil itu mau membuka matanya lagi.   "Biar saya periksa lagi, Nyonya," ucap dokter meminta Ara menyingkir sedikit.   Sebelum Ara menggeser tubuhnya, dia kembali menatap mata sang dokter. Lagi-lagi mata itu masih sama, menyimpan kecurigaan padanya.   Mau tidak mua dia pun harus memberi ruang dan waktu agar dokter kembali memeriksa gadis kecil itu. Dia menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan dokter.   Meski dia tidak mengenal gadis itu, tapi rasa khawatir dan kepanikannya sama persis dengan seorang ibu terhadap kondisi anaknya. Ara semakin tidak bisa menahan rasa cemas dan takutnya.   "Bagaimana, Dokter" tanya Ara super panik.   Bukannya menjawab, dokter itu malah kembali menatap Ara seperti tadi. Dia kembali mengarahkan mata dengan pancaran mencurigai.   Tidak nyaman dengan cara dokter itu melihatnya, Ara memilih mengabaikan dan mendekati Erly. Ara mengangkat tubuh Erly dan menggendongnya.   "Saya akan pindahkan perawatan putri saya ke rumah sakit lain," ucap Ara kesal.   "Maafkan kami, Nyonya. Kalau Anda memindahkan pasien dalam keadaan seperti ini, sama saja Anda membunuhnya secara perlahan," ucap dokter itu mencegah Ara membawa pergi Erly.   Ara menghentikan niatnya. Dia memandangi wajah sang dokter mencari keseriusan dari ucapan pria itu. Erly masih dalam gendongannya. Ara mulai ragu.   Mata itu beralih menatap wajah pucat Erly. Ada rasa sakit dalma d**a ketika melihat wajah polos tak berdosa Erly.   'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku semakin takut kehilangan anak ini? Aku baru melihatnya, tapi rasanya aku telah memilikinya.'   Mungkin apa yang dikatakan dokter itu benar. Bila sampai bocah kecil itu meninggal, dia bukan hanya dituduh sebagai penculik, tapi dia juga seorang pembunuh.   "Tolong Anda baringkan kembali putri Anda agar saya bisa memeriksanya lebih lanjut!" pinta dokter itu melihat keraguan Ara.   Masih ragu, Ara mencoba menyingkirkan keraguannya demi keselamatan Erly. Perlahan dibaringkan tubuh Erly di atas bed periksa.   "Mommy, jangan pergi!" Erly kembali memeluk leher Ara.   "Mommy tidak akan pergi, sayang. Mommy ada di sini bersamamu," bisik Ara tepat di telinga Erly.   "Aku tidak mau Mommy pergi lagi. Kalau mommy pergi, bawa aku pergi," racaunya.   Ara tersenyum menanggapi permintaan Erly.   "Kita tidak akan ke mana-mana hingga kamu sembuh. Berbaringlha di sini, mommy akan selalu menemanimu!" pinta Ara dengan lembut.   Setelah mendengar bisikan Ara, bocah kecil itu perlahan melepaskan tangannya. Mata Erly kembali tertutup. Ada senyum bahagia setelah mendenfar janji Ara. Mungkinkah bocah kecil itu masih mengigau lagi atau memang sudah bangun sepenuhnya.   Melihat Erly mulai tenang, Ara melangkah mundur beberapa langkah. Dia memberi tempat agar dokter bisa memeriksanya kembali.   "Putri Anda harus di rawat inap. Dia memerlukan cairan. Dia mengalami dehidrasi sedang," jelas dokter setelah memeriksanya.   "Apa harus?" Ara mencoba menawar.   "Ya, kalau tidak mendapatkan perawatan, kondisinya bisa lebih buruk lagi."   "Lakukan yang terbaik untuknya," ucap Ara manut.   "Baik."   Sebelum meninggalkan kamar periksa, kembali dokter itu menatap Ara aneh. Tatapan yang sama dengan sebelumnya, tapi kali ini pancaran mata itu lebih sedikit bermakna iba.   'Ya Tuhan, apa sebenarnya yang dokter itu sembunyikan dariku? Apa dia curiga aku menculik anak ini? Apa dia akan lapor polisi?' Ara berkutat dengan hal terburuk yang bisa saja menimpanya.   Ya, orang tua Erly bisa saja menuduhnya telah kenculik anak mereka. Hal terburuk adalah masuk buih, tapi melihat wajah Erly, ketakutan itu seakan hilang dengan sendirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN