Erly sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Kamarnya sangat sederhana. Tentu saja, tempat itu hanya klinik rawat inap saja, bukan rumah sakit. Dengan duduk di kursi menghadap bed pasien, Ara memandangi wajah Erly. Cantik dan imut. Dilihat dari kulit dan wajahnya, Ara yakin bila bocah itu anak orang kaya. Tentu saja, handphone yang ada dalam tasnya saja canggih. "Handphone." Mata Ara terbelelak. Dia tersadar dari lamunannya. Dia juga baru tersadar kalau dia tidak membawa apa pun saat ini. Hanya tangan kosong. Pikiran cemas dan panik membuat dia melupakan semuanya. Saking cemasnya, dia tidak memikirkan hal lain. Ara hanya membawa diri dan Erly. Untung saat berlari ke luar tadi tangannya sempat menyambar dompet sehingga Ara membawa uang seadanya. Bukan seadanya, memang hanya i

