Meski keras kepala dan egois, akhirnya Andra mengikuti saran Marcel. Asistennya itu benar. Dia tidak mau saat Erly membuka mata nanti, malah Ara yang mati. Hal itu sama saja dia akan kembali membunuh putrinya sendiri. Demi sang putri semata wayangnya, dia akan melakukan apa saja. Itu janjinya. "Kita pulang!" ucap Andra. Ara yang merasa diajak bicara oleh Andra masih saja cuek bebek. Gadis itu masih setia menggenggam tangan Erly dan mengusapnya lembut. Ara duduk di kursi samping bed pasien. "Hey! Apa telingamu tidak mendengar aku bicara?" teriak Andra sedikit lebih keras. Dia kesal karena Ara mengabaikan dirinya. Ara menoleh. "Kamu bicara denganku?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa. "Bukan, sama tembok!" sahut Andra bertambah kesal melihat ekspresi Ara. "Oh." Ar

