tak terasa sekarang aku sudah kelas 12, sebentar lagi aku akan meninggalkan putih abu abuku, semenjak aku tinggal dengan paman, ibu tak pernah menjengukku, aku maklum karena keadaan ekonomi. ibu hanya mengirim uang ke pamanku mengganti beras yang aku makan selama tinggal di rumah tante,
akhirnya tanpa kabar ibu datang menjengukku. katanya beliau sangat merindukanku, aku senang sekali mendengarnya
"mana adek adek bun" tanyaku karena aku hanya melihat ibu tanpa adek adekku
"mereka di kampung makanya bunda tak bisa lama lama disini. bunda cuma mau melihat keadaanmu cin" jawab ibu
"gimana sekolahmu nak?" ibu membelai rambutku
"baik bu, nilai cinta meningkat setiap semester bu" jawabku agar ibu bisa tenang dengan prestasiku.
"setelah tamat, sebaiknya kau ke kampung bunda tidak sanggup menguliahkanmu" wajah ibu sedih dan terus membelai rambutku.
"aku akan mencari bea siswa bun, dan bekerja sambilan untuk biaya hidupku" kataku agar ibu menijinkanku tetap di kota.
"semangatmu dalam menimba ilmu membuat bunda kagum nak" ibu memelukku
"maafkan bunda nak" ibu mengecup puncak kepalaku dengan lembut
"jangan meminta maaf bun, doakan cinta agar bisa menjadi kebanggaan bunda" jawabku membuat ibu meneteskan air mata
***
hari ini ada kerja kelompok lagi. aku sudah menyiapkan bahan yang akan kami bahas setelah pulang sekolah, seperti biasa aku dan clarista sarapan dan berangkat keluar rumah walaupun kami beda sekolah, aku mencium punggung tangan paman, tante dan ibuku.
"tante, paman, bunda kami berangkat" sapaku, lalu kami berjalan ke ujung jalan menuju halte untuk menunggu bis umum yang mengantarkan aku dan cla ke skolah
saat ibu cinta membuat teh di dapur, tante menjumpai ibu
"mbak, cinta itu tidak bisa diatur akhir akhir ini. hampir setiap hari keluyuran bersama teman temannya sepulang sekolah. capek saya menasehati cinta" fitnah tanteku disaat pamanku sudah berangkat kerja
"hah... kenapa kalian tak pernah memberitahukanku selama ini? aku akan bicara padanya setelah dia pulang sekolah" ibu sangat terkejut karena setiap kali ibu menelepon paman ke kantor paman, paman tak pernah mengeluh tentang sikap cinta
"saya udah elus d**a mbak, itu mas sakti selalu menahan saya buat tidak marah marah melihat sikap cinta" tante menambah minyak diatas api
ibu terdiam dan mencerna kata kata yang disampaikan tante kepada bunda
"cinta juga udah malas bantuin saya di warung mbak" tante semakin tak terkendali dengan kebohongannya
lalu ibu sudah mengerti maksud tujuan ucapan tante
"baiklah, nanti saya akan bicara pada cinta. maafkan mbak" jawab ibu lesu
***
sore menjelang maghrib, kami baru selesai kerja kelompok.
aku buru buru berkemas untuk pulang karena teman teman masih betah di rumah intan.
saat aku melangkah dengan tergesa gesa ke depan pintu rumah,
BRRUUUKKK.... "maaf" kataku, ternyata aku menabrak kakak intan yang baru pulang kerja. buku dan kertas hasil kerja kelompok kami yang aku pegang berhamburan di lantai
mata kami beradu, ada getaran di sekujur tubuhku. aisss... kenapa aku seperti tersengat listrik
tanpa ekspresi dia melanjutkan langkahnya masuk ke rumah.
'ada apa cinta?" intan buru buru datang menjumpaiku karena dia mendengar beberapa buku terjatuh. intan membeku melihatku bertabrakan dengan kakaknya.
"tidak apa apa in, aku pulang ya karena pasti tante menungguku di rumah" sambil memungut buku dan kertas
sampai di rumah, ibu sudah di depan pintu dengan wajah merah karena mungkin sedang marah tapi tidak tau marah kepada siapa.
tiba tiba saja "DARI MANA SAJA KAU INTAN?" bentak ibuku, aku sangat terkejut selama ini aku belum pernah dibentak ibuku, 'kerja kelompok bu' jawabku mulai ketakutan
'alasanmu selalu kerja kelompok, siapa yang tau kalo kau kerja kelompok, bisa jadi kau sedang bersama om om atau siapalah yang bisa kau ajak jalan jalan" timpal tanteku.
padahal selama ini aku mengajak cla ikut bersamaku bila aku kerja kelompok. baru sekali ini cla tidak ikut
seketika itu aku marah yang tertahan karena pasti ibu sudah dibohongi sama tanteku karena tante dan clarista sangat tidak menyukaiku. aku sangat disayang paman, setiap paman membeli sesuatu pada clarista, akupun dibelikan.. padahal aku selalu menolak.
"apa betul yang dikatakan tantemu?" tanya bunda
aku hanya diam karena bila aku menjawab akan membuat tante semakin marah padaku
"JAWAB!!!!" bentak ibuku lagi. karena aku terus diam seketika itu juga ibu menampar pipiku sampai aku terjatuh ke lantai seketika itu air mataku membasahi pipiku.
"mbak, apa yang mbak lakukan' jeritan paman yang baru pulang kerja. paman membantuku berdiri, seketika itu juga tanteku marah " mas lebih sayang cinta dibanding clarista, selalu membela cinta"
"aku tidak ngerti kenapa kau katakan itu, jelas aku sayang keduanya" timpal pamanku.
"apa mas tidak tau kalau selama ini cinta udah sering keluyuran setelah pulang sekolah. alasan selalu kerja kelompok. pulang sekolah semua sudah dikerjakan clarista. cinta tinggal makan dan bobok" bohong tante ke paman. tak ada alasanku untuk membela diri. karena paman tak pernah ada di rumah pagi sampai maghrib
.seperti artis sinetron tanteku berteriak sambil menangis 'bawa pulang cinta ke kampung. aku tak tahan dia di rumah ini" aku seperti tersambar petir, padahal bulan depan aku sudah ujian akhir.
akhirnya ibuku mengerti knapa tanteku mengatakan hal hal yang tak masuk akal
***
kamar cinta yang sempit, dekat dapur membuat hati ibu sebenarnya sedih, berbanding terbalik dengan kamar cinta yang super besar dan ada kamar mandinya tapi ibu tak bisa berbuat banyak karena beliau tak mampu membayar uang kos
"cinta sebaiknya besok kau cari tempat tinggal sementara menunggu kau ujian akhir, bunda harus balik ke kampung karena adekmu tidak bisa ditinggal terlalu lama" ibu memelukku sambil tiduran. aku tau ibu kecewa tapi aku tak akan mengecewakan ibu
"bunda jangan bersedih, cinta tak apa apa bu" cinta menghibur ibunya
"kau sangat menderita sayang"
"setiap keputusan pasti ada pengorbanan bun. aku siap dengan semuanya. bunda doakan aku agar bisa mencapai cita citaku" ujarku menguatkan hati ibuku
ibu menangis memelukku "bunda selalu mendoakanmu dan adik adikmu sayang"
saat itu aku ingat doni tapi sayang aku tak tau dimana doni sekarang....seandainya aku tau mungkin aku bisa minta tolong padanya
ah sudahlah, Tuhan memberi cobaan tidak diluar kemampuan umatNya. aku percaya Dia akan selalu melindungiku. amin
***
pagi ini aku berangkat ke sekolah tanpa sarapan karena aku mendengar tante dan pamanku bertengkar di dapur karena aku. ibuku enggan kluar kamar mendengar keributan mreka. ibu siap siap akan pulang ke kampung
"mbak biar saya antar sampai stasiun" paman mengambil tas ibuku
" tidak usah dek, mbak akan naik bis aja" ibu menolak secara halus
"iya mbak, jarak stasiun dan kantor mas itu sangat jauh nanti mas terlambat"
paman menatap tajam istrinya lalu menoleh pada ibu
"tidak apa apa mbak, saya tidak akan terlambat. ayo mbak" paman sedikit memaksa membuat tanteku geram
....
saat di depan kelas, intan menemuiku, hai... kok keliatan sedih? intan mendekatkan wajahnya padaku
"aku mau pindah dari rumah pamanku tapi aku bingung mau pindah kemana padahal bulan depan udah ujian akhir" jawabku.
intan terdiam beberapa saat lalu mengambil handphone dan menelepon seseorang sambil berjalan meninggalkanku. aku berjalan lesu menuju bangku dan menyandarkan bokongku diatas kursi kayu
intan menghampiriku "cin gmana kalau kau tinggal di rumahku menunggu ujian akhir kita jadi kita lebih sering belajar kelompok"
"ah... tidak usah, nanti aku cari yang dekat dengan sekolah ini. terima kasih intan" aku menolak secara halus
"ayolah... aku sering sendiri di rumah, aku kesepian, lagian mamiku setuju kok, barusan aku hubungi mamiku"
setelah maghrib, aku menceritakan apa yang dikatakan intan ke pamanku yang baru pulang kerja. lalu aku mengemasi barangku,
tak lama kemudian mobil intan datang, intan keluar dari mobil menyapa paman dan tanteku
tanteku langsung masuk ke kamar karena samakin tak suka melihat kedekatanku dengan intan
"paman tolong beri alamat ini bila ibu menelepon paman, katakan bahwa aku baik baik saja" aku memberi secarik kertas yang tertera alamatku tinggal
"jaga dirimu baik baik ya cin, paman menyayangimu" paman memelukku
"tolong kabari paman kalau terjadi sesuatu dengan cinta ya nak" paman berkata pada intan. intan tersenyum dan mengangguk
cla yang enggan keluar kamar karena merasa hal yang sama dengan perasaan ibunya yaitu tak menyukai kedekatanku dengan intan
akhirnya aku keluar baik baik dari rumah paman dan tanteku, bagaimanapun mereka sudah berjasa menampungku selama ini
***