
Kalau bukan mati lalu apa?
Maitaya Azyumardi Piliang, gadis 26 tahun, hidup penuh dengan cerita kelam. Masa kecil sampai dewasanya penuh dengan rasa sakit yang membuatnya depresi bahkan hampir mengakhiri hidup dengan tangannya sen diri.
Maitaya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya (Padang, Sumatera Barat) setelah dia tidak mampu mengendalikan dirinya. Maitaya ingin sembuh. Disana semua rasa sakitnya dimulai. Maitaya ingin menghadapinya.
Dalam proses penyembuhan. Maitaya bertemu dengan hal-hal yang jauh lebih menyakitkan lagi. Orang-orang memakinya, dilangkahi adik perempuannya menikah, bahkan di khianati oleh keluarganya sendiri.
Maitaya hancur berantakan sampai akhirnya dia berusaha mencari ketenangan yang lain. Rumah Elok. Panti Asuhan yang selalu Maitaya kunjungi di tengah kekosongan hidupnya.
Rumah Elok satu-satunya tempat yang membuat Maitaya merasa begitu aman dan tenang.
Kehadiran sosok Rimba Darma sakti sebagai donatur baru Rumah Elok membuat Maitaya merasa terusik. Maitaya berpikir lebih keras untuk bisa menjadi sosok hangat, tenang dan penuh percaya diri itu. Namun saat Maitaya berusaha melakukannya. Maitaya menyadari. Sosok Rimba berada di level paling tinggi dalam kehidupan. Pria itu sama sekali tidak bisa Maitaya samai.
***
"Kamu begitu ingin menjadi seperti saya?"
"........ "
"Jika kamu merasa kedinginan saya bisa menjadi matahari untuk kamu."
"?"
"Maitaya, hidup sama saya. Kamu tidak perlu melarikan diri lagi."
"Mas Rimba?"
"Saya mencari calon istri. Saya rasa kamu begitu tertarik sama saya. Mau mempelajari saya lebih jauh, Maitaya?"
"...... ""
"Jadi istri saya, Maitaya.

