bc

Diary Depresi (Bertemu Matahari)

book_age18+
26
IKUTI
1K
BACA
family
HE
fated
kickass heroine
confident
bxg
like
intro-logo
Uraian

Kalau bukan mati lalu apa?

Maitaya Azyumardi Piliang, gadis 26 tahun, hidup penuh dengan cerita kelam. Masa kecil sampai dewasanya penuh dengan rasa sakit yang membuatnya depresi bahkan hampir mengakhiri hidup dengan tangannya sen diri.

Maitaya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya (Padang, Sumatera Barat) setelah dia tidak mampu mengendalikan dirinya. Maitaya ingin sembuh. Disana semua rasa sakitnya dimulai. Maitaya ingin menghadapinya.

Dalam proses penyembuhan. Maitaya bertemu dengan hal-hal yang jauh lebih menyakitkan lagi. Orang-orang memakinya, dilangkahi adik perempuannya menikah, bahkan di khianati oleh keluarganya sendiri.

Maitaya hancur berantakan sampai akhirnya dia berusaha mencari ketenangan yang lain. Rumah Elok. Panti Asuhan yang selalu Maitaya kunjungi di tengah kekosongan hidupnya.

Rumah Elok satu-satunya tempat yang membuat Maitaya merasa begitu aman dan tenang.

Kehadiran sosok Rimba Darma sakti sebagai donatur baru Rumah Elok membuat Maitaya merasa terusik. Maitaya berpikir lebih keras untuk bisa menjadi sosok hangat, tenang dan penuh percaya diri itu. Namun saat Maitaya berusaha melakukannya. Maitaya menyadari. Sosok Rimba berada di level paling tinggi dalam kehidupan. Pria itu sama sekali tidak bisa Maitaya samai.

***

"Kamu begitu ingin menjadi seperti saya?"

"........ "

"Jika kamu merasa kedinginan saya bisa menjadi matahari untuk kamu."

"?"

"Maitaya, hidup sama saya. Kamu tidak perlu melarikan diri lagi."

"Mas Rimba?"

"Saya mencari calon istri. Saya rasa kamu begitu tertarik sama saya. Mau mempelajari saya lebih jauh, Maitaya?"

"...... ""

"Jadi istri saya, Maitaya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1: Perselingkuhan
"Dia si tukang selingkuh itu?" Seorang gadis berdiri di sudut ruangan yang mendadak menegang karena kedatangan sosok yang tidak pernah mereka harapkan sedikitpun. Sosok itu membuat suasana Rumah Elok yang selalu tenang menjadi sangat panas. Nada bicaranya sangat tinggi seolah dia satu-satunya orang yang berhak untuk marah di ruangan itu. Padahal jika ditelaah lebih jauh. Pria itu bahkan tidak memiliki hak untuk marah. Pria itu adalah penjahatnya. "Benar. Dia si tukang selingkuh dan mencampakkan Hanif dan mbak Hannah." Gadis berambut sebahu menatap banjingan tidak jauh dari mereka dengan tatapan penuh emosi. Maitaya yang bertanya sebelumnya menarik nafas namun raut wajahnya tidak seperti Larasati. Raut wajah gadis berambut ikal sepunggung itu terlihat begitu tertekan bahkan Maitaya menggenggam erat kedua tangannya. "Kenapa dia datang kesini? Bukan sebelumnya hanya ada mbak Hannah dan Hanif yang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup?" Maitaya masih berusaha untuk berdiri tegak di samping Larasati walaupun tanpa dia sadari dia bergerak mundur untuk meraih dinding di belakangnya. Maitaya membutuhkan sesuatu untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas. Apa yang terjadi sore ini mengingatkan Maitaya pada kisah masa lalunya. Perselingkuhan pada kenyataannya sudah menjadi sebuah budaya tanpa disadari. Maitaya tidak pernah mengerti kenapa orang-orang melakukan hal seperti itu. Hal yang begitu menjijikkan. Setiap kali Maitaya mendengar perselingkuhan. Detak jantungnya akan menggila. Sekujur tubuhnya mendingin. Maitaya ketakutan. Di hari kelahirannya. Ayahnya datang melihatnya bersama dengan selingkuhan pria itu. Tersenyum tidak tahu diri bahkan mengucapkan selamat tanpa rasa bersalah pada mama nya yang berjuang hidup dan mati untuk melahirkan anak dari pria itu. Sialnya anak perempuan itu adalah dirinya. Maitaya Azyumardi Piliang. Maitaya masih tidak mengerti kenapa hal menjijikkan seperti itu bisa dilakukan oleh seorang suami yang bahkan tidak menemani istrinya melahirkan. Jika Maitaya diizinkan untuk memilih. Maitaya tidak pernah ingin mengetahui hal menjijikkan itu. Namun di lingkungannya. Hal itu sudah seperti cerita umum. Maitaya mendengarnya dari banyak orang. Semakin Maitaya memikirkan tentang hal itu. Maitaya semakin menyadari. Hubungannya dan ayahnya sudah rusak bahkan sebelum dia dilahirkan. "b******n itu menikahi selingkuhannya dua tahun yang lalu. Selama pernikahan mereka tidak kunjung memiliki anak. Kedatangannya kesini untuk membawa Hanif pergi. Mbak Hannah jelas tidak setuju. Laki-laki itu mencampakkan mbak Hannah saat hamil. Mbak Hannah pernah memohon pada b******n itu berulang kali namun pada akhirnya mbak Hannah tetap dianggap seperti sampah. Keluarga b******n itu bahkan ikut terlibat dalam kehancuran mbak Hannah." Suara Larasati terdengar sayup-sayup walaupun Maitaya berdiri tepat di samping gadis berambut pendek itu. Pendengaran Maitaya dipenuhi oleh makian orang-orang disekitarnya yang berbicara tentang sikap b******n ayahnya "Kamu nggak memiliki hak untuk membawa Hanif." Suara mbak Hannah terdengar bergetar membuat Maitaya tersadar sepenuhnya. Dia kembali berdiri tegak namun memejamkan matanya saat melihat pria yang mengaku sebagai ayah biologis Hanif itu mengangkat tangan tinggi seperti ingin menampar mbak Hannah yang sejak tadi memeluk Hanif begitu erat namun untung saja tindakan itu terhenti ketika muncul sosok tinggi dengan kemeja slim fit yang terlihat sangat mencolok di tengah-tengah ketegangan yang terjadi. Mbak Hannah dan Hanif melangkah mundur. Berlindung di balik sosok yang baru Maitaya lihat semenjak dia menjadi relawan Rumah Elok. "Tempat ini punya aturan. Tolong perhatikan tindakan anda." Suara berat itu membuat Maitaya berdiri tegak. Memberanikan diri melangkah mendekati mbak Hannah dan Hanif. Mengusap lengan mbak Hannah berulang kali kemudian memeluk Hanif erat. Anak laki-laki berumur empat tahun itu menangis dalam pelukannya membuat Maitaya semakin mengeratkan pelukannya dengan jantung berdebar kencang apalagi saat dia mendengar sebuah kursi jatuh ke lantai dengan suara yang begitu nyaring. "Kak Mai, Hanif takut." Suara Hanif tenggelam lirih di pundaknya yang basah karena air mata anak kecil itu. Mata Maitaya memanas. Maitaya sudah mendengar begitu banyak cerita tentang Hanif dan mbak Hannah. Setiap kali Maitaya datang ke Rumah Elok di waktu luangnya. Maitaya selalu berusaha untuk membuat anak laki-laki yang tumbuh tanpa sosok ayah itu nyaman dan tersenyum. "Nggak papa, Sayang. Kak Mai ada disini. Selalu ada disini buat Hanif." Suara Maitaya sama tercekatnya dengan Hanif. Tenggorokan Maitaya kering. "Gue nggak punya urusan apapun sama lo. Nggak usah sok jadi pahlawan. Lo nggak memiliki hak apapun!" Suara ayah Hanif semakin keras. Pria itu semakin memberontak. Menarik paksa Hanif dari pelukan Maitaya. "Berhenti bersikap b******n tidak tahu malu seperti ini. Jika anda semakin bersikap tidak tahu aturan. Saya akan memastikan anda berakhir di penjara." Suara tegas itu kembali terdengar. Pria itu mengambil alih Hanif dari pelukan pria b******n itu sedangkan Maitaya terduduk di lantai. Tidak mampu menopang dirinya lagi. "Lo nggak usah jadi pahlawan deh. Kasih anak itu ke gue. Dia nggak pantas hidup dengan ibu yang miskin dan tempat kumuh seperti ini." Ayah Hanif tidak menyerah sedangkan Hanif terus menangis. Memeluk pria yang baru pertama kali Maitaya lihat sedangkan Maitaya berusaha untuk berdiri dibantu oleh Larasati. "Mbak ikut aku. Bang Rimba dan kepala Rumah Elok akan menyelesaikan ini untuk kita." Larasati membawa Maitaya menjauh dari ruangan itu. Maitaya menurut. Lagi pula Maitaya tidak akan berguna di ruangan itu dengan kondisinya yang sangat kacau. Maitaya jelas akan menyesali semua ini nanti namun Maitaya benar-benar tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melindungi Hanif dan mbak Hannah. Jangankan untuk melindungi keduanya. Melindungi diri sendiri saja Maitaya tidak mampu. Jika Maitaya tetap bertahan di sana dia akan merepotkan orang lain. "Minum dulu Mbak." Larasati memberikan sebotol air mineral padanya kemudian ikut duduk di samping Maitaya di bawah pohon ketapang atau orang minangkabau menyebutnya sebagai pohon katapieng yang cukup rindang di halaman Rumah Elok. "Jangan terlalu banyak berpikir tentang apa yang mbak Mai lihat hari ini. Mbak Mai nggak salah. Lagipula orang seperti ayah nya Hanif tidak bisa dihadapi dengan lembut. Dia nggak punya otak Mbak." Larasati lebih muda sekitar dua tahun darinya. Namun Larasati memiliki kepribadian yang hangat dan terlihat tidak pernah mengkhawatirkan apapun. Khas seorang anak yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga cemara. Larasati sudah menyelesaikan pendidikan magister psikologi beberapa bulan yang lalu. Bekerja sebagai seorang psikolog di sebuah rumah sakit di kota mereka. Maitaya salah satu pasien Larasati sejak satu bulan yang lalu. "Bang Rimba pasti bisa mengatasi ini. Dia sudah menyelesaikan banyak masalah orang lain." Larasati tersenyum pada Maitaya. "Bang Rimba?" Maitaya pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Larasati. Gadis itu sudah dia kali mendengar Larasati menyebutkan nama Rimba. "Orang yang memeluk Hanif. Namanya Rimba. Lebih lengkapnya Rimba Damar Sakti. Jika mbak Mai ingin tahu lebih banyak tentang latar belakangnya mbak bisa langsung ke Linkedin miliknya. Dia sangat aktif disana dengan ratusan ribu pengikut. Tambahan Mbak umurnya baru tiga puluh tahun ini." "Calon suamimu?" Larasati menatap Maitaya takjub. Gadis itu bahkan sampai menggeser sedikit posisi duduknya supaya bisa menatap wajah Maitaya jauh lebih jelas. "Mbak dari banyaknya pertanyaan kenapa tiba-tiba banget calon suamimu?" "Kalau bukan?" "Bang Rimba itu single, Mbak. Maksud hatiku memberikan informasi sedetail itu siapa tahu mbak Mai tertarik sama abang ku itu." "Abang ku?" "Dia abang sepupuku, Mbak." Maitaya mengangguk. Dia kembali menatap ke arah Rumah Elok. Tidak ada tanda-tanda Hanif dan mbak Hannah keluar dari sana. Mungkin masih belum menemukan titik terang dalam menyelesaikan masalah dengan banjingan tidak bertanggung jawab itu. "Dia tidak pernah kelihatan sebelumnya." "Bang Rimba kerja di Jakarta. Sangat jarang pulang ke Padang. Kepulangannya hari ini sebagai donatur utama Rumah Elok menggantikan bapak dan ibu nya yang sudah mau pensiun." Maitaya sekarang mengerti kenapa sosok Rimba terlihat begitu berani dan tegas saat menghadapi sosok ayah Hanif yang keras kepala dan penuh dengan emosi. Pria itu memiliki kekuatan untuk menyelesaikan masalah. Maitaya tahu betul. Orang tua Rimba adalah donatur tetap Rumah Elok sejak berdiri. Jumlah donasi mereka juga tidak pernah sedikit. Melihat penampilan Rimba dan setiap barang yang menempel di tubuh pria itu termasuk dengan mobil yang terparkir di halaman Rumah Elok. Maitaya sangat mengerti. Rimba adalah orang yang sudah sangat stabil secara finansial bahkan sudah melampaui kata stabil itu sendiri. "Orang seperti dia tidak mungkin sendirian apalagi tinggal di ibukota Larasati. Dia hanya tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk memperkenalkan seorang perempuan ke keluarga besar kalian." "Aku harap perempuan yang dikenalkan bang Rimba pada keluarga besar kami nanti adalah mbak Maitaya." Maitaya terkekeh pelan mendengar itu. Dia menatap Larasati geli. "Kami tidak saling mengenal. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sangat berbeda. Harapan kamu itu terlalu berlebihan Larasati." "Mbak Mai. Tidak ada yang tidak mungkin. Mbak Maitaya gadis yang sangat baik. Bang Rimba insyaallah juga orang baik. Orang baik akan selalu bertemu dengan orang baik. Bukannya hukum alamnya seperti itu?" "Tidak selalu seperti itu Larasati." "Bang Rimba tidak memiliki riwayat perselingkuhan mbak Mai. Bukannya ini bisa menjadi pertimbangan untuk menjadi suami mbak Maitaya?" "Lara..." "Tolong pertimbangkan abangku Mbak Maitaya." "Kenapa?" "Kasihan nggak laku-laku. Sebentar lagi expired dia." Maitaya terkekeh pelan. Merasa sangat lucu mendengar ucapan Larasati. Dengan wajah, postur tubuh dan segala hal yang dimiliki oleh Rimba Damar Sakti. Pria itu pasti sangat sulit untuk dilewatkan begitu saja oleh perempuan. Rimba pasti memiliki banyak perempuan yang mengejarnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.9K
bc

Kau Berikan Uangku Untuk Maduku

read
2.8K
bc

Stuck With You

read
76.2K
bc

Happier Then Ever

read
93.9K
bc

23 VS 38

read
302.1K
bc

Hidden Love

read
139.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook