Part 8: Senyap Malam

1245 Kata
"Kak Mai, ada yang cari di depan." Maitaya yang baru saja selesai menjemur pakaiannya membeku di pijakannya. Merasa sangat dejavu. Semua membawa Maitaya ke masa lalu. Dulu saat Maitaya duduk di bangku SMA. Maitaya juga pernah tinggal di indekos seorang diri. Dalam senyapnya malam. Dalam keadaan perut yang benar-benar kosong karena Maitaya tidak memiliki sepersenpun uang untuk membeli makan. Dua orang depkolektor berdiri di depan pintu indekosnnya. Tubuh Maitaya gemeteran. Maitaya begitu takut. "Dengan Maitaya?" Dua orang itu menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi. Bahkan ekspresi wajah mereka itu membuat Maitaya tidak berani bergerak. Maitaya berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Memegang handle pintu dengan erat. "Keluar dulu Maitaya. Ada hal yang ingin kami bicarakan sama kamu." Maitaya menggelengkan kepala dengan mata yang memanas. "Aku tidak tahu apapun. Jangan tanya aku, Pak. Pergi sana." Maitaya masih berusaha melindungi dirinya. Meminta dua orang itu pergi dari indekosnnya. Maitaya sangat takut esok pagi semua hal yang terjadi malam ini akan menjadi pertanyaan bagi teman-temannya. "Kamu keluar dulu, kita ngobrol." Dua orang depkolektor itu masih tetap keras kepala. Maitaya semakin takut. Dia melihat sekelilingnya. Tidak ada satupun orang yang terlihat di indekos. Weekend seperti ini biasanya orang-orang akan memilih kembali ke rumah. Maitaya tidak bisa melakukannya. Bogor terlalu jauh. Maitaya menarik nafasnya perlahan. Mengusap air matanya yang mengalir tiba-tiba kemudian Maitaya melangkah keluar indekosnnya. Berdiri di hadapan dua orang bertubuh sangar yang membuat d**a Maitaya semakin sesak karena rasa takutnya. "Dimana bapak kamu?" "Bogor. Bapakku ada di Bogor. Aku nggak tahu apapun. Jangan tanya dan ganggu aku. Aku mohon Pak." Maitaya kembali memohon kepada dua orang bertubuh sangar itu. Namun keduanya sepertinya juga tidak akan menyerah. Maitaya berusaha untuk menelpon papa nya namun tidak kunjung di angkat oleh pria itu membuat Maitaya semakin merasa kalang kabut. Gerimis tidak lama menyapa malam yang senyap itu membuat Maitaya semakin ketakutan. Indekosnnya berada di perumahan. Jika sudah malam suasananya benar-benar hening. "Telpon bapak aja. Jangan ganggu aku." Maitaya kembali memohon saat dua orang itu tidak kunjung beranjak pergi dari indekosnnya. "Kamu yang telpon bapakmu." Maitaya terdiam di pijakannya. Menggenggam ponselnya kian erat. Menggelengkan kepala. "Bapak saja yang menghubungi bapak saya. Saya benar-benar tidak tahu apapun Pak." Suara Maitaya tercekat seiring dengan matanya yang kian memanas. "Hubungi bapak kamu sekarang." Pada akhirnya Maitaya mengangguk. Jika Maitaya tetap pada pendiriannya. Sudah di pastikan dua orang ini tidak akan pernah melepaskannya. Keduanya akan tetap berdiri di depan pintu indekosnnya. Jika orang lain melihat itu jelas akan membuat semuanya semakin kacau. "Bapak nggak angkat. Aku kasih nomor bapak aja ya. Aku benar-benar nggak tahu apapun Pak. Selesaikan segala urusan sama Bapak ku aja." Suara Maitaya benar-benar sudah bergetar. Air mata yang sudah mati-matian ia tahan pada akhirnya luruh juga. Rasa takutnya begitu besar. "Hubungi sampai di angkat Maitaya. Kalau tidak kami tidak akan pergi dari sini." Maitaya masih mencoba. Menghubungi bapaknya atau orang-orang yang berada di rumahnya. Namun hasilnya tetap sama. Mereka tidak mengangkat telepon. Mereka mengabaikan Maitaya. Maitaya Azyumardi Piliang: Ada depkolektor di depan kos nya Mai. Maitaya nggak tahu dari mana mereka tahu indekosnnya Mai. Mereka cari bapak. Hutang apa lagi yang kita miliki Pak? Maitaya Azyumardi Piliang: Pak, Mai takut. Maitaya tidak tahu bagaimana cara mengusir mereka. Maitaya Azyumardi Piliang: Bapak angkat telepon. Tolongin Maitaya, Pak. Maitaya terus mengirim pesan. Terus berusaha menelepon bapak dan orang-orang rumah namun pada akhirnya sia-sia. Tangis Maitaya pecah. Isakkannya terdengar memilukan. Namun tidak ada satupun orang yang berpihak padanya. Maitaya Azyumardi Piliang: Mereka tidak mau pergi dari kosannya aku. Gimana cara mengusirnya? Maitaya Azyumardi Piliang: Pak, bisa telepon sebentar? Masih tidak ada respon apapun dari bapaknya. Dua orang depkolektor itu masih menatapnya penuh dengan selidiki. Maitaya tidak peduli lagi dengan air matanya. Maitaya benar-benar tidak tahu cara menghadapi mereka. "Motornya di bawa ke Bogor Pak. Aku tidak tahu apapun lagi selain itu. Bapakku juga tidak angkat telepon nya. Bapak hubungi sendiri saja ya. Aku masih harus mengerjakan tugas sekolah." Dengan wajah penuh dengan air mata. Maitaya berharap dua orang itu sedikit menaruh sedikit rasa kasihan padanya namun nyatanya mereka tetap tidak memberikan itu. "Kami akan menunggu sampai bapak nya Maitaya mengangkat telepon." Maitaya menggigit bibirnya sendiri. Dia terus berusaha menghubungi orang rumahnya. Dengan harapan mereka akan memberikan respon padanya namun sayangnya tidak ada. "Pak, tetap tidak diangkat. Saya rasa bapak saya sudah tidur. Bapak hubungi dia sendiri saja Pak. Saya mohon." Untunglah setelah itu depkolektor itu menyetujui permintaan Maitaya. Hujan kebetulan juga semakim deras membuat mereka tidak bisa bertahan lagi. Namun mereka sama sekali tidak melepaskan Maitaya begitu saja. Selain meminta nomor kedua orang tuanya. Mereka juga meminta nomor telepon Maitaya. Walaupun rasa takut Maitaya semakin besar namun Maitaya tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan dua orang itu. "Tolong jangan menghilang dari tanggungjawab setelah malam ini Maitaya. Kalau bapak kamu tetap tidak dihubungi. Kami tetap akan datang mencari kamu sampai sini." Maitaya hanya mengangguk. Menutup pintu kemudian masuk ke dalam kamarnya. Tangis Maitaya benar-benar pecah. Tangis yang benar-benar pilu. Tangis penuh dengan ketakutan. Suara ponselnya kemudian membuat perhatian Maitaya terpecah. Orang yang ia telepon dan kirimi pesan berulang kali pada akhirnya menelpon. Maitaya memejamkan mata. Mengatur nafasnya berulang kali. Memastikan suaranya stabil sebelum akhirnya Maitaya mengangkat telepon itu. "Kenapa Mai?" Suara bapak nya terdengar mengalun. Dan sialnya air mata Maitaya kembali mengalir setelah mendengar suara itu. Gerombolan rasa sesak kembali menghantam dadanya. "Dua orang depkolektor datang ke kosanku. Cari bapak." "Lalu orangnya sudah pergi kan?" Maitaya terdiam mendengar pertanyaan itu. Lagipula apa yang Maitaya harapkan dari bapaknya? Perhatian? Pria itu jelas bukan orang yang mau repot melakukan itu. "Sudah." "Yaudah kalau begitu." Dan lihat. Pria itu benar-benar tidak memiliki perasaan. Maitaya baru saja menghadapi dua orang depkolektor yang bisa melakukan apapun pada Maitaya namun pria itu tidak khawatir sedikitpun. "Uang aku habis." "Nanti dikirim mama kamu. Seratus ribu dulu ya." Maitaya hanya mengangguk. Seratus ribu juga tidak apa-apa. Maitaya akan bisa bertahan setidaknya lima hari itu kalau Maitaya benar-benar menghemat uangnya dengan baik. Duduk di bangku kelas dua belas membuat pengeluaran Maitaya membengkak. Dan orang tuanya selalu menganggap Maitaya boros. Mereka tidak mengerti tentang hal itu. "Kak Mai!" Teman kos nya melambaikan tangan di hadapannya membuat Maitaya sadar sepenuhnya. "Aku kesana. Makasi ya." Maitaya sedikit merapikan rambutnya. Untung saja Maitaya masih menggunakan pakaian saat dia kuliah tadi. Setidaknya pakaian itu masih sangat layak untuk bertemu dengan tamu. Lobi indekos seperti biasa. Saat sehabis maghrib seperti ini ramai. Kebanyakan anak kos sedang menunggu pesanan makanan mereka. Ada juga yang memang sengaja berdiskusi tentang tugas kuliah. "Mas Rimba ngapain?" Maitaya benar-benar terkejut melihat siapa yang berdiri di depan gerbang. Rimba Darma Sakti dengan hoodie yang di padukan dengan celana pendek. Menggunakan sedal jepit pula. Namun pria itu tetap saja terlihat keren. "Maitaya, saya belum makan malam. Temani saya makan yuk." "Kenapa nggak ngabarin aku dari tadi mas Rimba. Penampilanku udah berantakan banget. Nggak mau keluar lagi." "Nggak papa. Seperti itu juga sudah bagus. Kita cari makan di pinggir jalan sini aja." "Mas Rimba." "Maitaya." Maitaya menarik nafasnya pelan. "Aku ambil lipstik dan handphone dulu. Lima menit." Maitaya melesat masuk ke dalam indekosnnya. Menggunakan Lipstik secepat kilat. Mengambil ponsel kemudian kembali menghampiri Rimba. "Maitaya, kamu lagi sedih ya?" "Nggak ya Mas. Nggak usah sok tahu." Maitaya memalingkan wajah. Menatap langit penuh dengan bintang malam ini. Dengan Rimba yang terus berjalan di sampingnya. "Mas Rimba ini sebenarnya kosan dimana?" "Lima menit dari kosan kamu. Maitaya sebagai tetangga yang baik. Kita harus sering makan bersama." "Nggak ada tetangga yang makan bersama Mas." "Kita akan mewujudkan tetangga yang guyup rukun."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN