BAB 1 BAGAI LANGIT DAN BUMI.
"Heh! pedagang sayur gak guna! kamu bayar pajak sekarang, mau dagangan mu saya bakar!" bentak seorang pria dengan badan penuh tato.
"A ampun bang! saya janji besok saya bayar!" rintih pedagang pasar.
"Braak!" suara dagangan di lempar.
"Kamu pikir bos saya gak makan apa! jangan sampai dia marah! kalau itu terjadi, mampus kamu!".
Terdengar suara mobil datang dari arah belakang mereka. Sesosok pria dengan ciri khasnya memakai topi koboi turun dari mobil itu.
"Rendi!" ujar pria itu memanggil anak buahnya.
Bergegas pria tadi menghampiri sang bos.
"Siap bos!".
"Gimana setoran hari ini?" tanya si bos sambil mematik api untuk menyalakan cerutu yang ada di mulutnya.
"Sabar bos, tinggal pedagang sayur itu saja yang belum setor" jawab rendi gemetaran.
Tiba-tiba terdengar suara pukulan mengenai wajah rendi " plaak!".
"Arggh!" rintih rendi.
"Anak buah g****k! gitu saja gak becus" ucap si bos lalu berjalan ke arah pedagang sayur.
Sambil berlutut, ibu itu terus menangis meminta ampun kepada si bos yang sudah berada di depannya.
"Ampun, pak bos! besok saya janji bayar setorannya" ucap pedagang sayur.
"w************n! rendi bawa sini bensin itu".
Ibu tadi terus memohon ampun kepada di bos supaya dapat membayar setoran pasar besok hari. Namun nampaknya si bos marah besar dan tanpa ampun mengguyur seluruh dagangan ibu itu dengan bensin.
"Jangan pak bos! saya makan apa kalau bapak bakar dagangan saya!".
"Makan abu dagangan mu, hahaha" jawab si bos lalu mematik korek apinya dan dengan cepat membakar seluruh dagangan ibu tadi.
"Perhatian untuk pedagang yang lain! jangan coba-coba tak membayar uang setoran, jika tak mau senasib dengan ibu ini, cuiih!" teriak si bos sambil meludah tepat mengenai tubuh ibu pedagang sayur itu, yang meratapi dagangannya ludes terbakar.
Pedagang pasar disana di wajibkan menyetor uang setiap bulannya terhadap pak burhan sang bos mafia pasar. Itu sudah menjadi kewajiban sejak dulu yang harus di laksanakan kepada setiap para pedagang pasar.
Bila tidak mau menuruti kewajiban tersebut maka akan senasib dengan ibu pedagang sayur tadi.
Di suatu rumah yang sederhana.
"Andi! kamu kerjaannya hanya tidur aja, ayo makan dulu" ucap tini ibu andi.
"Biarin bu, anaknya masih tidur gitu kok" jawab sugeng bapak andi.
"Bapak jangan manjakan anak pak! liat tuh udah umur kepala dua masih belum juga dapat kerja".
"Sabar bu, belum ketemu rejekinya. Nanti juga ada aja".
Mendengar keributan di depan kamarnya, andi terbangun dari tidurnya.
"Huaam! eh bapak, ibu ngapain marah-marah bu?" tanya andi sembari mengucek matanya.
"Marah-marah!, liat kamu, teman sebaya kamu pagi gini sudah sibuk berangkat kerja, la kamu malah masih enak-enakan tidur" kesal tini.
"Belum dapet kerjaan bu" jawab andi sambil berlalu meninggalkan orang tuanya masuk ke kamar mandi.
"Liat tuh, anak kamu. Kerjaannya tiap hari seperti itu, kalau gini terus, bisa-bisa kita mati kelaparan pak".
"Sabar bu, nanti biar bapak yang jelasin ke anaknya".
Mereka adalah keluarga yang kurang mampu hidup dalam garis kemiskinan. Memang di perkampungan tersebut jarang ada keluarga yang mapan.
Semua hidup kesusahan seperti keluarga andi ini yang hanya mengandalkan pemasukkan dari ayahnya saja.
Sugeng bekerja serabutan seadanya, bila tak ada kerjaan, ia biasanya mencari barang-barang bekas yang memiliki harga jual kembali.
Sedangkan tini tak bekerja, kerjaannya setiap hari hanya mengomel li anak semata wayangnya itu, yaitu andi.
Andi seorang pria bujang tanpa pekerjaan berumur 25 tahun. Kehidupan sehari-harinya hanya nongkrong tak jelas di pinggir jalan. Sebenarnya ia ingin mengubah nasibnya itu, tapi semuanya hanya menjadi isapan jempol belaka mengingat mecari pekerjaan sekarang yang sangat sulit.
Ditempat terpisah...
"Pah! merry boleh belanja ke mall gak pah!" ucap seorang wanita muda ber umur 20 tahun dengan pakaian yang mahal membalut tubuhnya.
"Boleh sayang, mau di kawal berapa orang?" tanya paul ayah merry.
"Hem! satu aja pah. Gak usah banyak-banyak".
"Ok!, sst, sini kamu!" bentak paul memanggil salah satu anak buahnya.
Bergegas anak buah paul menghampiri bosnya itu.
"Kamu jaga anak saya, jangan sampai lecet sedikitpun! awas kalau itu terjadi!" ancam paul.
"Siap bos!".
Merry merupakan anak orang kaya raya, ayahnya, paul, menjalankan bisnis gelap yaitu mengimpor minuman keras. Karena bisnisnya inilah yang membuatnya memiliki banyak pesaing.
"Pah! mau kemana anak kita?" tanya kristin mama merry.
"Biasa mah, belanja ke mall".
"Owh, pah. Ada permintaan miras tambahan dari negara timur tengah. Kita kirim atau gimana?" tanya kristin.
"Masak! padahal cukup ketat untuk bisa masuk ke negara itu, tapi tenang aja. Kita lebihkan pengiriman bulan ini".
"Iya pah".
Kristin, istri paul juga berperan penting dalam bisnis ilegal itu. Ia berperan dalam menyuplai miras selundupan di berbagai negara.
Kehidupan antara andi dengan merry bagaikan langit dengan bumi. Keluarga andi yang masih bingung mencari makan setiap harinya, sedangkan keluarga merry yang malah kebingungan menghabiskan uangnya.
***
Selesai mandi, andi pamit kepada orang tuanya untuk nongkrong di pinggir jalan. Seperti biasa, tini memarahi anaknya itu setiap kali ia akan pergi untuk nongkrong.
Namun itu sudah menjadi makanan sehari-hari andi, ia hanya mendengarkan omelan ibunya itu lalu pergi meninggalkan rumah.
Sesampainya di pinggir jalan, andi berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang cukup banyak agar kehidupannya bisa berubah dan bermanfaat bagi kampungnya.
Adakah secercah harapan itu bisa terkabul? mungkin benar kata orang-orang bahwa yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terjerat dalam kemiskinannya.
Sesekali ia melempar batu kerikil ke seberang jalan, entah apa tujuan dan maksudnya lalu tiba-tiba...
"Pruang" suara batu mengenai kaca mobil.
"Ciiit!" berbarengan dengan suara rem mobil secara mendadak.
Karena terkejut dengan ulahnya barusan, andi berlari menjauh dari pinggir jalan dan bersembunyi di balik beton jembatan.
Ia mengintip di balik beton, dan bertanya-tanya mobil siapa yang terkena lemparan batu kerikilnya.
Turunlah anak buah paul untuk mengecek kaca mobil, namun tidak ada masalah yang berarti karena mobil tersebut anti peluru.
Merry yang penasaran atas kejadian yang baru dialaminya, segera membuka jendela kaca mobil untuk melihat keadaan.
Dari kejauhan andi memandangi wajah merry yang begitu cantik rupawan bak bidadari turun dari kayangan. Sontak andi terpukau, terpesona melihat wajah cantik merry.
"Andai aku menjadi suaminya" gumam andi sembari tersenyum kecil.
Karena situasi aman terkendali, anak buah paul kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju ke mall.
Andi yang masih terngiang-ngiang dengan wajah merry, bergegas mengikuti mobil itu dengan mengendarai motor yang di tinggalkan oleh pemiliknya karena sedang memancing.
"Pak saya pinjam dulu! nanti saya kembalikan" ucap andi tanpa basa-basi langsung tancap gas.
"Woi, maling!" teriak pemilik motor menyadari motornya di pakai seseorang.
Andi tak menggubris teriakkan pemilik motor, terus saja ia memacu motor membuntuti mobil yang di tumpangi merry.
Cukup jauh perjalanan andi mengikuti mobil itu karena kampung andi yang berada di pinggiran kota.
Selama satu jam lebih andi mengejar mobil tersebut hingga membawanya ke sebuah mall yang berada di pusat kota.
Ia memarkirkan motornya di pinggir gedung mall dan berjalan kaki mendekati mobil itu yang sedang mencari tempat parkir.
"Kamu tunggu di sini ya, aku sendirian aja masuk mall nya" ujar merry.
"Siap non, kalau ada apa-apa, hubungi saya non" jawab anak buah paul.
"Iya" ucap merry lalu turun dari mobil dan mulai memasuki mall.
Andi terus membuntuti merry dari belakang, sedangkan merry tak menyadari bahwa ada seseorang yang membuntutinya.
Sampailah merry di sebuah toko sepatu dengan merek yang cukup terkenal. Ia memilih-milih sepatu yang cocok untuk kakinya.
"Ini kekecilan, kalau ini, model gini dah punya. Jadi bingung" gumam merry.
"Kaki seindah yang kamu miliki, walaupun tanpa alas kaki tetap memancarkan sinarnya" ucap andi secara tiba-tiba dari belakang merry.
"Eh, siapa kamu! gembel!" bentak merry.