Ia melihat ke kanan dan ke kiri, sepatu dan tas miliknya tidak ada. Ia berniat keluar dari ruangan itu dan terkejut saat pria itu telah berdiri di belakangnya.
Tanpa suara ternyata pria itu masuk dan menatapnya dengan tatapan yang membuatnya tak ingin membalas, lebih tepatnya ingin menjitak kepalanya agar sadar.
“Kamu cari sepatu dan tas mu?” tanyanya sambil menyodorkan kedua benda itu.
Sepatu dan tas miliknya diletakkan begitu saja dan Amara tanpa banyak basa-basi langsung memungutnya.
Ia tidak mau menjawab apalagi berbasa-basi basi agar tidak dipecat. Memangnya salah apa sampai dipecat, memukul anunya dan menolak dicium. Hal gila yang dilakukannya karena terdesak. Jika diam saja, bisa-bisa nanti diperkosa.
Begitu sudah ada di tangannya, ia keluar dari ruangan itu dengan cepat.
Ia muak sebenarnya mengingat kejadian kemarin, tapi karena butuh uang lah yang membuatnya bertahan disini.
Ia masih ingin gaji dan persetan dengan kelakuan Radith yang menjengkelkan.
Meski bisa saja meminta langsung tambahan uang pada papanya tapi Yudis pasti tidak menginginkannya seperti itu.
Hari ini ada rapat yang lebih awal dimulai. Sekitar jam 9 pagi mereka sudah harus mengikuti rapat begitu juga dengan dirinya.
Amara duduk berlawanan arah dengan Presdir itu. Wajahnya benar-benar menjijikkan.
Ia hampir ingin memukulnya dengan asbak kemarin, tapi ingat dengan adanya kasus kekerasan pasti akan membuatnya masuk penjara.
Akibatnya, ia selalu memalingkan wajahnya karena kesal dengan tingkah dengan presdir yang aneh.
Sepanjang rapat pria itu selalu memandangnya. Apalagi setelah rapat selesai, tiba-tiba sang presdir mendekat ke arahnya.
Dan tanpa ada angin tanpa ada hujan, mengajaknya makan siang di restoran favoritnya.
Pria itu tanpa merasa malu datang mendekatinya. Lebih tepatnya mendatanginya saat rapat bubar dan menyuruhnya untuk menerima ajakannya.
Sebuah ajakan yang cukup memaksa, pria kaya yang benar-benar sesuka hati dalam berucap.
“Aku minta maaf tentang semalam, tolong jangan lakukan hal yang di luar dugaan seperti resign atau lainnya. Aku butuh kamu menyelesaikan proyek disini,” pintanya.
Amara meliriknya tajam. Pendidikannya tidak main-main, tapi pria ini menganggap dirinya ini manusia rendahan yang tiba-tiba disentuhnya.
Dirinya jijik jika membayangkan hal yang kemarin.
“Bisa kan, Ra? Aku butuh presentasi buat besok dan cuma kamu yang bisa membantuku?”
“Apa hubungannya dengan makan siang, Pak?”
“Ada, sebagai permintaan maafku. Bisa kan, Ra?”
Pria itu seperti memohon, wajahnya sendu dan seolah merayu. Ini kesempatan baik untuknya membalas dendam. Pria itu pasti tak akan menolaknya.
“Bisa, asal bapak tetap bayar uang lembur kemarin, aku juga minta tambahan lagi uang insentif sebagai ganti rugi rasa malu dan …”
“Tidak masalah, mengenai kemarin aku minta maaf. Aku melakukannya secara sadar karena … karena kamu … “
Pria itu tak melanjutkan ucapannya, malah tersenyum dan memberinya setangkai bunga mawar untuknya.
Amata bertambah geli bercampur jijik.
“Simpan mawar itu, Pak. Jangan buat aku jadi berubah pikiran nantinya,”
Sengaja ia berkata ketus agar tidak menimbulkan keresahan lagi seperti kemarin.
“Tapi kamu mau maafin aku, kan?”
“Tergantung,”
“Tergantung gimana?”
“Gajiku dibayar lembur dua kali lipat,”
Radith melotot. “Daripada bayar lemburan, mending kamu jadi pacarku saja, Ra!” tukasnya, entah jengkel entah apa.
“Pak Radith mau masuk penjara gara-gara kasus pelecehan? Daripada kita ribut masalah itu, mendingan bapak bayar saja yang lemburannya,”
Radith menggeleng. “Ok, asal kamu nggak resign aja aku udah lega. Dan untuk masalah kemarin, aku benar-benar minta maaf,” ucapnya lagi.
Karena tidak ingin menjawab, Amara langsung melengos menuju meja kerjanya. Ia benar-benar sebal, tak mau berlama-lama berhadapan dengan pria itu. Beberapa teman kerjanya bertanya-tanya kenapa dia marah-marah pada atasan mereka.
“Atasan kalian itu bersalah jadi aku minta lemburnya dibayar dua kali lipat, Itu juga kalau dia mau dan mampu,”
Semuanya terheran-heran karena seringkali mendapati amarah dan atasan mereka sang presdir, selalu bertengkar seperti kucing dan tikus.
***
Sebenarnya ia tidak mau bersikap kasar ataupun selalu marah-marah, Tapi selama kerja di kantor ini, Radith selalu menatapnya dengan m***m.
Dan tanpa merasa bersalah menciumnya kemarin. Ciuman pria itu jika dirasa-rasa memang sangat berbeda dengan ciuman Yudis.
Ciumannya lebih terasa lembut bahkan penuh dengan perasaan berbeda dengan kekasihnya ketika mereka berciuman.
Tapi dia tidak memungkiri karena Radith ini adalah seorang playboy kelas berat.
Banyak yang bilang kalau atasannya ini memiliki banyak pacar tetapi yang sering ditampilkan dalam setiap pesta hanyalah satu orang saja yang bernama Bianca.
Bianca ini adalah anak orang yang cukup tersohor di kota ini. Dan hubungan mereka sudah cukup dekat bahkan hampir bertunangan.
Tapi, dengan melihat kelakuannya kemarin dia memastikan bahwa nanti pasti pernikahan yang akan dilangsungkan atasannya dengan Bianca pasti tidak akan berlangsung lama.
"Ra, pak presdir minta kamu masuk ke ruangannya tuh,"
"Ngapain? Aku banyak kerjaan?"
"Cuma kamu yang masih di sini, Pak Radith minta tolong kamu untuk menyelesaikan berkas yang masih kurang beberapa bagian revisinya,"
Dengan malas-malasan ia bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju ke ruangan atasannya.
Sampai di sana ternyata tadi tidak menyuruhnya untuk merevisi berkas tapi untuk mengingatkan bahwa siang nanti mereka harus makan siang bersama.
Karena kesal akhirnya dia keluar lagi dari ruangan itu dengan bersungut-sungut membuat teman-temannya keheranan.