Dalam perjalanan, dia membayangkan perlakuan atasannya yang sedikit kurang waras hari ini.
Hanya karena mereka sering bertemu, pria itu seenaknya saja mencium dan melumat bibirnya yang biasanya dicium oleh Yudhis.
Hanya Yudhis yang selalu mencium dan menyentuh tubuhnya, dalam artian bukan berhubungan badan.
Tapi lebih ke sentuhan tangan dan gandengan tangan serta pelukan yang acap kali mereka lakukan di tempat gelap.
Presdir sialan itu mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan. Motor yang melaju cepat itu berhenti di sebuah kawasan pertokoan yang cukup lengkap.
Mereka mampir di sebuah toko buah dan dia terpaksa menunggu tanpa ingin ikut masuk.
“Ayo, ikut masuk, Ra!”
Amara menggeleng, “Nggak, Mas. Aku disini saja,”
“Beneran, nggak masuk?”
“Nggak, Mas. Aku cape, ehhm … mau beli sandal aja nanti,”
“Biar aku belikan, kamu disini saja,”
“Ta-tapi …”
Belum sempat dia menjawab, Danu telah pergi dan masuk ke sebuah yang menjual sandal dan sepatu.
Tak lama kemudian kembali lagi dan memberikan sandal pilihannya untuk dipakai.
“Pakai ini, aku mau ke toko buah, ya?”
Setelah berbelanja buah, Danu kemudian mengantarnya pulang. Ibunya bertanya-tanya kenapa dia diantar pulang oleh kakaknya Yudhis.
"Tadi, Amara sedang buru-buru dan minta dijemput Mas Yudhis, Bu. Tapi Mas Yudhis nya malah ada kerjaan,"
"Jangan terlalu sering minta dijemput Danu, nggak enak lho sama Yola," sahut ibunya mengingatkan.
"Iya Bu, Amara tahu,"
Ia pun masuk ke kamarnya kemudian berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Rasanya seperti mimpi, mencari uang tambahan dengan bekerja lembur malah tiba-tiba dicium si bos, gila bener Bos Radith, gumamnya kesal.
Karena hari sudah hampir malam ia pun memilih untuk mandi dan menunaikan shalat Maghrib setelah itu dia akan menghubungi Yudhis.
Hingga malam menjelang, nomor Yudhis tidak bisa dihubungi. Karena kecewa dia pun mematikan ponselnya dan berharap Yudhis juga akan sama kecewanya jika menghubunginya nanti.
Kepalanya menjadi pusing karena terus memikirkan kejadian sore tadi di kantor. Rasanya dia ingin resign saja.
Tapi gajinya lumayan besar disana dan untuk mencari pekerjaan yang baru sepertinya tidak mungkin bisa didapatkan secara langsung.
Karena itu besok dia akan tetap masuk kerja dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
**
Pagi yang cukup cerah, suasana di rumahnya sedang sangat ramai. Adiknya baru pulang dari rumah nenek mereka yang ada di Bogor.
“Dion, ngapain kamu disitu mojok?” tanya Amara sambil merapikan pakaiannya.
Dion adiknya sedang duduk di lantai sambil menelepon seseorang.
Amara berdecak saat tahu adiknya itu memiliki seorang kekasih yang usianya sedikit berbeda jauh.
“Mau kemana, Kak?” tanyanya.
“Pakai nanya, ya kerja lah,”
Dion tersenyum saat dia memberikan kode pada seorang gadis yang diajaknya ke rumah.
Mereka baru saja datang dan akan meninggalkan kota tempat mereka kuliah karena sudah lulus tahun ini.
Amara bersiap pergi tapi ibunya langsung menghampirinya dan memberikan dia bekal.
“Untuk apa bekal ini, Bu?”
“Untuk kamu makan, ayo berangkat dan lekas kerja dengan giat. Yudhis ajaklah kesini kalau sore nanti menjemputmu,”
“Dia sibuk, mungkin nanti juga tidak bisa menjemputku,” keluhnya sambil berjalan keluar.
Ia menunggu taksi online datang. Sudah sering dia menggunakan jas taksi online ketimbang memakai kendaraan pribadi. Lebih nyaman begini dan dia bisa dijemput Yudis, tunangannya.
Pria itu selalu sibuk. Apalagi akhir-akhir ini. Langkahnya terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
Ia terkejut karena Yudhis ternyata yang keluar dari mobil itu dan tersenyum lebar.
“Mas, mobil baru?” tanyanya.
“Bukan,”
Pria itu menggeleng, senyum yang merekah dari bibirnya hilang seketika. “Aku pikir punya mobil baru,” ketusnya.
Yudhis menggaruk kepalanya, lalu menarik tangannya agar masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari rumahnya.
“Memangnya ini mobil siapa?” tanya Amara saat mereka sudah berada dalam mobil.
Yudhis melirik sambil tersenyum dan meremas jemari tangannya.
“Ini mobil atasanku, dia meminjamkan mobilnya ini padaku dan menyuruh menyimpannya di rumah,” jawabnya.
“Aku pikir kamu beli, ngomong-ngomong, Bos kamu baik, boleh bawa mobil ini pulang ke rumah. Nanti sore berarti aku dijemput pakai mobil lagi, ya Mas?”
“Kurang tahu, Ra. Maaf aku nggak bisa janji,”
“Nggak bisa janji gimana? Kan Mas bilang boleh bawa mobil ini selama belum diambil yang punya?”
Yudhis menjelaskan kalau mobil itu sewaktu-waktu bisa saja diambil tanpa menunggu atasannya pulang.
“Jadi, aku nggak harus jemput kamu pakai mobil, Ra. Pakai motor juga ok, kan?”
Amara mengangguk, ia memang harus memakluminya. Yudhis dan dia bagai langit dan bumi.
Yudhis adalah anak yang terlahir dari keluarga sederhana sedangkan dia, terlahir dari keluarga yang cukup berada.
Tapi karena mengikuti gaya hidup tunangannya ini, Amara pun ikut melakukan pola hidup yang cukup sederhana.
Dia bekerja mengumpulkan uang untuk membantu Yudhis mencari tambahan persiapan pernikahan mereka.
Amara yang jarang bekerja di luar kantor papanya terpaksa menjalani ini demi sang kekasih yang hidupnya sederhana.
“Mas, ini aku bawakan bekal. Ibuku yang buat, kamu makan, ya? Aku sudah kenyang soalnya,”
Yudhis menoleh dan tersenyum karena merasa senang bisa mencicipi masakan mamanya setiap saat.
Seperti hari ini yang kebetulan juga dia belum sarapan katanya.
Mereka tiba di depan sebuah gedung yang menjadi tempat Amara bekerja. Keduanya saling melambaikan tangan dan Amara masuk ke dalam gedung itu sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
Lalu dia setengah berlari masuk ke dalam ruangan atasannya mengambil beberapa barang yang tertinggal disana.
Semalam dia meninggalkannya. Rasanya mendebarkan saat ruangan itu tampak sepi.