Mereka masih disana, di dalam mobil dan saling berdebat kecil. Amara yang tidak mau mengalah terus saja menuduh atasannya akan berbuat m***m.
Dan saat ini, Amara masih bergeming, terbungkus rapat dalam selimut darurat seperti lemper raksasa.
Terlihat lucu tapi juga kasihan karena mereka akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan di dalam mobil ketimbang masuk losmen.
Amara memang bersikeras tidak ingin masuk losmen, ia tidak mau nanti ada sesuatu yang membuat hubungannya dengan Radith jadi terganggu.
Ia tahu atasannya seperti apa, dan untuk mengantisipasi, ia memilih bertahan di dalam mobil.
Meski kepalanya nyut-nyutan dan tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan duri landak, ia tetap memelototi Radith dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
"Kenapa Bapak masih di sini? Tadi katanya mau ke losmen," suara Amara keluar dalam nada alto yang sangat parau.
Ia hampir kehilangan suaranya dan tenggorokannya mulai sakit. Tandanya ia hampir kena flu.
Radith tidak menjawab. Ia malah sibuk menyandarkan kursi kemudinya, lalu melonggarkan dasinya sedikit.
"Tadi ada yang bilang aku m***m kalau masuk ke sana. Padahal niatnya baik dan nggak mau sekretarisnya sakit. Daripada nama baik tercemar karena laporan sekretaris sendiri, mending aku di sini jadi satpam kamu."
Hening sejenak. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap mobil dengan brutal.
Hatchi!!
Amara bersin dengan sangat keras sampai tubuhnya yang terbungkus selimut itu mental sedikit ke depan.
"Tuh kan," gumam Radith tanpa menoleh. "Mulai keluar itu naga di dalam hidung."
"Ini bukan naga, Pak! Ini alergi sama bos yang nggak peka!" balas Amara, lalu ia kembali mengoleskan minyak angin ke area dadanya dari balik selimut.
Bau aromaterapi yang menyengat kembali memenuhi kabin.
Radith mengendus udara. "Mara, kamu tahu tidak? Bau kamu sekarang ini lebih mirip minyak kayu putih satu liter dibanding wangi sekretaris eksekutif. Kalau aku mau macam-macam pun, yang ada malah teringat nenekku di kampung."
Amara mendelik tajam, matanya hampir keluar dari tempatnya. "Ooh, jadi sekarang Bapak menghina bau minyak anginku? Tadi m***m, sekarang menghina! Lengkap ya paket penderitaanku hari ini!"
"Aku nggak menghina, aku kan cuma bilang kalau pertahanan diri kamu dengan minyak angin itu sangat efektif. Kamu bakal aman sepuluh kilometer dari godaan pria manapun," sahut Radith tenang, meski sebenarnya ia cemas melihat wajah Amara yang makin pucat.
Tapi sekretarisnya itu benar-benar keras kepala, ia hampir gila dibuatnya. Tak ada lagi alasan yang masuk akal yang bisa membuat Amara percaya padanya.
Tiba-tiba, suara petir menggelegar sangat kencang sampai mobil terasa bergetar. Suaranya sangat keras membuat dunia teras bergetar.
Amara yang dasarnya memang penakut, langsung refleks memekik dan tanpa sadar mencondongkan tubuhnya ke arah Radith.
"Aaaaa! Pak!"
Radith refleks menangkap bahu Amara yang terbungkus selimut. Posisi mereka mendadak sangat dekat.
Wajah Radith hanya terpaut beberapa senti dari wajah Amara yang panas karena demam.
Amara membeku, matanya melotot lurus ke mata Radith. Ingatan tentang ciuman paksa itu mendadak terputar kembali di otaknya secepat speed internet kantor.
Radith menatap bibir Amara sejenak, lalu beralih ke matanya. Suasana mendadak tegang.
"Pak... Bapak jangan macam-macam ya..." cicit Amara, jantungnya berdegup lebih kencang dari suara hujan.
“Mara, aku nggak macem-macem, kok,” keluh Radith kesal.
"Tangan Bapak... itu... di bahu."
Radith berdehem, tapi tidak langsung melepaskan tangannya.
"Kamu gimana sih, Ra, aku cuma jaga supaya kamu nggak kepentok dashboard. Lagipula, kamu sendiri yang nyosor ke arah sini."
"Aku nggak nyosor! Aku juga kaget tadi, Pak!" teriak Amara sambil melotot.
"Kaget atau rindu?" goda Radith dengan suara baritonnya yang paling menyebalkan sekaligus bikin merinding.
Amara kembali melotot, berusaha mendorong d**a Radith dengan tangan yang masih memegang botol minyak angin.
"Tuh kan! Mesumnya kumat! Keluar nggak Pak dari mobil?! Biar Bapak yang jadi kerupuk di luar!"
Radith akhirnya melepas pegangannya sambil tertawa kecil—suara tawa yang jarang didengar Amara tapi entah kenapa terdengar lebih menyebalkan daripada suara petir tadi.
"Galak sekali. Orang sakit biasanya manja, ini malah mau gigit."
Radith kemudian mengambil botol minyak angin yang hampir jatuh dari tangan Amara, lalu menaruhnya di tempat gelas. "Tidur, Mara. Aku janji nggak akan bergerak dari kursi ini. Kalau sampai aku gerak satu senti saja ke arah kamu, kamu boleh potong gajiku bulan depan."
"Deal! Aku rekam ya omongan Bapak!" ancam Amara sambil mencoba memejamkan mata, meski tangannya tetap memegang erat ujung selimutnya, berjaga-jaga kalau bosnya itu tiba-tiba amnesia lagi soal janjinya.
Ia benar-benar takut dan juga tidak percaya pada pria satu ini. Rasanya menyebalkan dan menjijikkan jika diingat.
Sekilas ia ingat mantan kekasihnya, air matanya hampir jatuh karena karena mengingat semua kebersamaannya dengan Yudhis.
Ia memergoki Yudhis bersama seorang wanita yang merupakan atasannya sendiri.
Dulu ia berpikir, kok atasan dia baik bener sampai berani meminjamkan mobilnya.
Mobil itu dipakai secara bebas oleh Yudhis tapi belakangan ia mengetahui rahasia kelam dibalik kebaikan itu.
Rasanya sakit jika mengingatnya, ia ... syok saat tahu Yudhis memiliki hubungan spesial dengan atasannya sendiri.
Ia mengakhiri secara sepihak dan Yudhis tidak mempermasalahkan itu. Kini ... ia dan Yudhis sudah berbeda pandangan dan jalan masing-masing tanpa melanjutkan hubungan.