Petir menggelegar memecah keheningan malam. Amara menggigil, tubuhnya mulai demam saat Radith menyentuhnya.
Kepanikan terpancar di wajah pria itu, ia tidak menyangka mereka akan terjebak dalam suasana yang cukup mencekam. Ia berusaha untuk meredam demam Amara dengan mengoleskan minyak angin pada area dadanya.
Amara menepis tangan sang presdir dan mengoleskan sendiri minyak angin itu. Ia terbatuk-batuk.
Tubuhnya tidak kuat dingin mengakibatkan tubuhnya demam.
“Kita menginap di losmen itu, ya?” tanya Radith dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Amara yang sedang sibuk mengoleskan minyak angin ke lehernya—sampai aromanya memenuhi seisi mobil seperti bau apotek berjalan—langsung berhenti mendadak.
Matanya yang sayu karena demam tiba-tiba terbuka lebar. Ia melotot ke arah Radith seolah-olah pria itu baru saja mengusulkan untuk terjun payung tanpa parasut.
"Pak... Bapak tadi bilang apa?" suara Amara serak, antara batuk dan kaget. "Losmen? Bapak mau mencoreng nama baik saya sebagai sekretaris teladan tahun ini?"
Radith menghela napas kasar. Ia kembali mencoba menyentuh kening Amara untuk mengecek suhu, tapi Amara justru mundur sampai kepalanya membentur kaca jendela. Duk!
"Aduh..." ringis Amara sambil memegangi kepalanya.
"Nah, kan. Sudah sakit, tambah amnesia nanti kalau begini terus," gerutu Radith. "Mara, dengar. Jalanan di depan itu banjirnya sudah tidak masuk akal. Tubuh kamu sudah panas begini, kamu butuh tempat tidur yang layak, bukan kursi mobil yang sempit. Aku nggak mau besok pagi sekretarisku berubah jadi patung es."
Amara masih menatap curiga, meskipun badannya menggigil hebat.
"Tapi Pak, losmen itu... lampunya kedap-kedip horor begitu. Nanti kalau ada apa-apa gimana? Maksudku, kalau Bapak khilaf atau aku yang saking pusingnya malah narik dasi Bapak?"
Radith tertegun sejenak, lalu mendengus geli. Ia melepas jas mahalnya dan menyampirkannya ke bahu Amara yang mungil.
"Percaya sama aku, Mara. Dalam kondisi kamu yang bau minyak angin sekuat ini, jangankan khilaf, mau niat modus saja aku sudah bersin-bersin duluan," ujar Radith sambil mulai menjalankan mobil perlahan menuju parkiran losmen.
"Aku ini Presdir, seleraku tinggi. Setidaknya aku butuh wanita yang tidak sedang batuk-batuk seperti knalpot bajaj."
Amara mengerucutkan bibirnya, meski dalam hati ia merasa sedikit tenang (dan sedikit tersinggung).
"Bapak menghina aroma terapiku ini? Tapi kenapa kemarin main cium paksa? Yang amnesia mungkin bapak," tukasnya tegas.
"Aku hanya mencoba menyelamatkan nyawa kamu," potong Radith tegas. Darahnya berdesir saat Amara menyebut kata cium paksa, mengingatkan akan hari yang telah lalu, yang membuatnya khilaf.
"Bapak nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan, ya!" suara Amara meninggi, meskipun setelah itu ia langsung terbatuk-batuk sampai dadanya sakit.
“Aku lebih baik kedinginan di mobil sampai jadi kerupuk daripada masuk ke sana sama Bapak."
Radith yang baru saja hendak membuka pintu mobil, menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah Amara, alisnya bertaut. "Mara, kamu sudah menggigil parah. Jangan keras kepala."
"Keras kepala itu perlu kalau lawannya serigala berbulu domba kayak Bapak!" Amara melotot, matanya yang memerah karena demam menatap Radith dengan penuh kewaspadaan.
"Bapak pikir aku lupa? Kejadian di kantor bulan lalu, saat Bapak... Bapak main cium sembarangan itu! Itu namanya pemaksaan, Pak! Harassment!"
Suasana di dalam mobil mendadak lebih panas daripada suhu tubuh Amara. Radith terdiam, tangannya masih menggenggam kemudi dengan erat.
Ia tahu ia punya "catatan kriminal" di ingatan Amara yang membuatnya dicap sebagai bos m***m.
"Itu... itu kan karena aku terbawa suasana, Mara. Dan aku sudah minta maaf," gumam Radith, suaranya sedikit merendah, tampak merasa bersalah namun tetap merasa tindakannya sekarang benar demi kesehatan sekretarisnya.
"Terbawa suasana di kantor saja Bapak bisa begitu, apalagi di losmen yang suasananya mendukung begini? Wah, bisa habis aku!"
Amara memeluk tasnya lebih erat, seolah tas itu adalah perisai pelindung kehormatannya.
"Minyak angin ini saksinya, Pak! Kalau Bapak berani macam-macam, aku colok mata Bapak pakai tutup botol ini!"
Radith menghela napas panjang, antara ingin marah karena dituduh macam-macam dan ingin tertawa melihat Amara yang sedang sakit tapi masih punya energi untuk memberikan ancaman sekecil itu.
"Mara, lihat mukaku," kata Radith sambil mendekatkan wajahnya sedikit—yang langsung membuat Amara mundur sampai mentok ke pintu.
"Aku memang pernah salah, aku akui. Tapi aku tidak akan sebodoh itu untuk mengulanginya saat kamu sedang megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen begini."
"Nggak! Tetap nggak mau!" Amara memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang makin merah (entah karena demam atau teringat ciuman itu).
"Bapak tidur saja sana sendiri di dalam. Aku tetap di sini, setia bersama hujan dan wiper mobil ini."
Radith melihat ke luar jendela, hujan makin menggila dan kilat menyambar tepat di atas bangunan losmen.
Ia kemudian menatap Amara yang bibirnya sudah mulai membiru karena kedinginan.
"Oke, kalau itu mau kamu," ujar Radith tiba-tiba.
Ia kembali duduk tegak, melepas sabuk pengamannya, lalu meraih sesuatu dari kursi belakang.
Amara curiga. "Bapak mau apa?"
"Aku tidak akan masuk ke losmen," kata Radith tegas.
Ia menarik selimut darurat yang selalu ada di mobilnya dan membungkus Amara seperti kepompong—dengan gerakan yang sangat cepat hingga Amara tidak sempat protes.
"Aku akan di sini, menemani kamu 'aman' di dalam mobil yang dingin ini sambil mendengarkan kamu batuk-batuk sampai pagi. Puas?"
Amara tertegun di balik bungkusan selimutnya. Ia melotot ke arah Radith yang sekarang malah melipat tangan di d**a dengan wajah merajuk.
"Bapak nggak masuk?" tanya Amara polos.
"Katanya aku m***m? Ya sudah, aku di sini saja jadi penjaga keamanan kamu. Tapi jangan salahkan aku kalau besok suara kamu hilang total dan aku potong gaji kamu karena tidak bisa presentasi," jawab Radith ketus, meski tangannya diam-diam menaikkan suhu AC agar kabin lebih hangat.
Amara tertegun, ia tidak menyangka atasannya ini cukup mengimbangi dirinya yang keras hati ini.