Dara merasa de javu. Seharusnya ia berada di suatu ruangan bersama Dila yang sedang dirias menjadi pengantin jauh dari sebelum hari ini. Seharusnya Dila sangat cantik mengenakan gaun pengantin dari desainer ternama dengan harga fantastis lalu duduk di pelaminan bersama pria yang sangat mencintainya. Seharusnya Dila mendapatkan yang terbaik. Namun, detik ini Dara memang berada di ruangan yang menunjukkan bahwa Dila tengan berdandan. Namun tidak ada make up artis mahal yang merias wajah cantiknya, melainkan Dila berias untuk dirinya sendiri. Dila sudah memiliki wajah yang cantik, sehingga riasan sederhana pun cukup. Masalahnya, itu terlalu sederhana. Nyaris apa adanya—tidak ada modal. “Kakak seneng kamu di sini, Ra.” Dila tersenyum kepada adiknya yang sejak tadi berdiri di pojok kamar

