Tiba-tiba saja Dara berada di perjalanam satu rute ke Jakarta. Arik pun ikut pulang. Dara tidak bertanya apa yang mendasari pria itu kembali begitu saja. Bisa karena Arik shock dengan pernikahan Dila, atau karena Arik sudah punya rencana. Pilihan yang kedua lebih memungkinkan sebab tidak ada raut kesedihan dari wajah Arik. Entah dia pintar menyembunyikannya atau Arik menganggap semuanya belum berakhir. “Saya akan menggelar pesta resepsi,” kata Arik ketika mereka berdua berada di pesawat. “Sampai di Jakarta kamu harus langsung fitting gaun.” “Resepsi?“ kening Dara mengerut bingung. “Resepsi siapa? Aku dan… kak Arik?” “Iya,” jawab Arik tanpa ragu. “Untuk apa?” Dara bertanya lagi. “Pernikahan aku dan kak Arik nggak memerlukan resepsi.” “Kamu jangan ge-er dulu,” sahut Arik. “Memang perni

