Arik adalah pria dewasa dan ia tahu bahwa dirinya bisa melakukan kesenangan kepada dirinya sendiri. Arik tidak naif, ia pernah menyentuh dirinya sendiri saat masih di bangku sekolah menengah atas, namun ia tidak menyukainya. Alih-alih menyalurkan hasratnya, Arik lebih memilih membaca buku dan mengasah kemampuannya dalam berpikir dibanding membuang waktu menonton film dewasa atau membayangkan model-model seksi di majalah yang dibeli diam-diam tanpa ketahuan orang tua. Tentunya Arik adalah manusia biasa, ia penasaran bagaimana rasanya menyenangkan penisnya—terutama meniduri wanita, sayangnya keinginan Arik itu belum bisa tercapai sebab kesempatan dan mimpinya sudah hancur begitu saja karena sebuah pengkhianatan dari kekasihnya sendiri. Jika Arik adalah pria yang mementingkan dirinya sendir

