Dara berdiri di depan toko roti yang kini rutin ia kunjungi bukan karena rotinya enak—meski sebenarnya memang enak—namun karena ia ingin tahu apakah pemilik tempat ini adalah betul-betul ayah kandungnya. Amar Akbar sepertinya sudah mulai menyadari bahwa ada seorang gadis yang membeli satu menu berulang-ulang kali. Gadis itu tampak ingin menanyakan sesuatu namun selalu berakhir dengan memberikan uang sebagai pembayaran, lalu ke luar dari toko. Sore ini Amar memberanikan diri untuk menyapa terlebih dahulu, “Kak, coba makan rotinya di sini. Kami punya menu kopi dan teh yang cocok dimakan bersamaan sore-sore begini.” “Ah… iya.” Kebetulan Dara memang merasa ini waktu yang tepat untuk berbicara dengan Amar Akbar. Terlalu membuang-buang waktu tidak akan menyelesaikan rasa penasarannya. Ditamb

