Dara bergegas ke luar dari teater untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya pada wastafel dapur Arik yang mewah. Ia yakin Arik akan mengomel namun ternyata pria itu mengikutinya dan membiarkan Dara muntah sampai Dara merasa kerongkongannya sakit dan mual yang ia rasa membuat kedua tangannya bergetar. Arik berjalan menghampirinya, berdiri di sisi kanan untuk memberikan tisu. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, dan Dara juga tidak mampu membahas apa yang terjadi kepadanya selain mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan bibirnya. “Makasih,” ucapnya kepada Arik. “Kamu tahu air hangat di mana,” kata Arik. Dara mengangguk, namun ia memilih air putih biasa untuk ia minum. Berharap tenggorokannya bisa lebih baik. Melihat cara Dara memegang gelas dengan tangan gemetar, Arik berkomentar

