“Apa lebih baik dicium orang asing dibanding dicium saya?” “Hah?” “Kamu terlihat lebih lega mengetahui bercak merah itu bukan dari saya.” “Karena kak Arik nggak akan mau mencium aku juga.” “Saya memang nggak mau mencium kamu kalau kamu mabuk.” “Apa?” Dara perlu mengorek telinganya sebab ia sempat berpikir Arik ingin menciumnya. “Aku menangkap seolah kak Arik mau mencium aku saat aku nggak mabuk.” “Apa?” Arik mengucapkan kaya yang sama sebab ia tidak ingat apa yang barusan ia katakan. Seperti sebuah celetukkan darinya dan Arik menyadari bahwa ia harus menegaskannya agar tidak ada yang salah paham. “Maksud saya, sangat nggak sopan mencium seseorang yang sedang mabuk—itu mencari kesempatan namanya. Saya bukan lelaki seperti itu,” kata Arik kepada Dara. “Dan saya nggak mau mencium kamu

