"Kamu kenapa?" Saat ini posisi Syakira sudah sampai di ruangan Rizal, dan tetangga yang mengantar Rizal ke rumah sakit tadi sudah berpamitan pulang. Sebelum itu, tak lupa Syakira mengucapkan rasa terima kasih sebab telah berkenan membawa Rizal ke rumah sakit.
"Kenapa apanya, Om?" tanya Syakira pura-pura bodoh. Sepertinya Rizal mencurigainya.
"Mata kamu sembab, habis nangis?" Syakira terdiam, bingung harus menjawab apa ketika bengkaknya kelopak mata tak mampu disembunyikan dari orang lain. Beberapa kali ia menarik masuk ingus yang hendak keluar.
"Sya? Kenapa cuma diam? Jawab pertanyaan Om, ada apa? Kamu ada masalah sama Fattah sampai nangis kaya gini?" Syakira menghela napas dan buru-buru menggeleng. Dia tidak mau membuat Rizal terbebani jika mengetahui bagaimana sesungguhnya kelakuan Fattah di belakang. Biar saja dia menahan dan menelan kepahitan itu sendiri, hingga pada puncaknya nanti, ia akan membebaskan diri dari belenggu pria tersebut, membebaskan hati yang terperosok jauh dalam kesakitan tak menepi. Hanya menunggu waktu minimal sampai Rizal sembuh dulu. Untuk sekarang ini, ia akan kesampingkan dulu egonya untuk kepentingannya Rizal.
"Terus?"
"Aku cuma lagi sedih aja, Om. Khawatir kalau Om kenapa-kenapa, makanya nangis," pungkasnya berbohong. Sebelum berhasil berada dalam ruang ini tadi, Syakira telah lebih dulu pergi ke toilet untuk menuntaskan rasa sesak yang teramat dalam. Sampai tak kuasa ia meremas d**a dan memukul berkali-kali.
Di ruang yang tertutup rapat, ia menangis sejadi-jadinya melepas sesak yang mencekik hingga seakan membawanya mati.
"Yakin cuma karena cemas sama Om?" Syakira mengangguk, sebetulnya ia hendak kembali menangis, tetapi berusaha menahan diri agar air mata yang merebak tak berjatuhan begitu saja.
"Apalagi coba? Om adakah segalanya buatku, wajar kalau Om sakit, aku nangis kayak gini. Om kenapa bisa kayak gini? Awalnya gimana? Sembari menahan diri, Syakira mencoba melakukan komunikasi agar kesedihan itu teralihkan. Mencoba banyak bicara agar tak lagi mengingat sesuatu yang seharusnya punah dari ingatan.
"Biasa, Sya, Om sudah tua. Wajar kalau penyakit sering kambuh kayak gini."
"Jangan dianggap biasa! Om harus sehat, nggak boleh sampai masuk rumah sakit lagi. Tua bukan tolak ukur menjadikan manusia boleh berpenyakit," ujar Syakira masih dalam kondisi menahan tangis. Kali ini kesedihannya bertambah, membayangkan seandainya Rizal pergi dari dunia ini, siapa yang akan menemaninya? Apakah ia akan benar-benar menjadi sebatang kara atau justru akan kembali pada ibunya?
Syakira menggeleng pelan, tak membayangkan bagaimana jika harus kembali pada ibunya yang tak pernah berubah meski ayahnya sudah tiada.
"Om berusaha untuk sehat, tapi kembali lagi, kalau takdir Om untuk kembali pada Sang Pencipta, Om bisa apa? Seperti yang kamu tahu, Om jaga pola makan dan minum obat teratur. Tapi nyatanya, sakit ini kembali kambuh." Syakira mengangguk pelan, benar juga.
Dia tahu perjuangan Rizal untuk terlepas dari penyakitnya benar-benar keras, tetapi jika Yang Maha Kuasa sudah punya jalan lain, apa boleh buat?
"Kamu ke sini sama siapa?"
Syakira terhenyak, menarik kembali bawah alam sadarnya ketika Rizal menanyai perihal Fattah.
"Sendiri, Om. Mas Fattah masih kerja."
"Naik apa?"
"Taksi. Mungkin aku bakal nginep di sini."
"Terus Fattah, gimana? Dia tahu kamu mau nginep? Udah pamit?" Rentetan pertanyaan mengudara, membuat perempuan itu mau tidak mau berbohong pada Rizal.
"Udah, kok. Dan beliau kasih izin," tukasnya sembari membenahi selimut larik berwarna biru.
Tidak masalah untuk malam ini ia tidur di sofa berukuran kecil di sebelah meja kecil tepi ranjang, asal jangan bertemu dengan Fattah terlebih dahulu.
Fattah menelpon balik nomor Syakira yang sempat melakukan panggilan sampai tiga kali banyaknya, tetapi sayang sekali, nomor itu sedang berada di luar jangkauan malam ini. Fattah berdecak lalu melempar asal ponselnya di atas ranjang dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Selagi membiarkan tubuhnya berada di bawah kucuran shower, Fattah memejamkan mata di sana. Ingatannya kembali berputar pada insiden beberapa waktu silam, ia tahu perbuatannya tadi adalah sebuah dosa karena alih-alih melakukannya dengan istri sah, ia malah melakukannya dengan Laras.
Ia mengusap wajahnya lalu beralih pada rambut tebalnya. Kejadian tersebut tak berhenti berputar-putar dalam kepala, membiarkan mereka tak berhenti merecoki.
Setelah sepuluh menit membersihkan tubuh, Fattah keluar dari kamar mandi, dan langsung kembali mengambil ponselnya.
Entah apa yang ditunggu, yang jelas begitu melihat isi ponselnya kosong dari pesan, dia kembali berdecak kesal.
[Kamu di mana?] Merasa tidak sabar, Fattah pada akhirnya mengirimi Syakira pesan, tetapi percuma karena pesan itu tidak terkirim.
Fattah bergegas memakai baju dan celana, keluar rumah dengan membawa serta ponsel yang dimasukkan ke dalam saku celana.
_________________
Syakira baru selesai menunaikan ibadah salat ashar. Selama sehari penuh–terhitung sejak semalam ia menginap–Syakira belum pulang sama sekali ke rumah, entah hasrat untuk pulang rasanya lenyap tak bersisa. Kalau bisa ia ingin tinggal saja di rumah sang paman. Meski sebetulnya Rizal berkali-kali mendesaknya karena barangkali Fattah membutuhkannya, tak ayal membuat perempuan itu bersikap patuh. Ia kukuh tetap berada di sini menunggui sang paman–selain karena malas pulang, Syakira tidak tega jika harus meninggalkan sang paman seorang diri.
Baru saja memasang sandal, tatap matanya beralih pada sepasang sepatu pantofel yang berhenti tepat di depannya. Ia menengadah sebelum akhirnya tertunduk.
"Syakira ..." Syakira yang baru saja hendak berjalan maju, menghentikan laju langkahnya.
"Ya? Aaa yang bisa dibantu?"
"Boleh saya bicara sesuatu?" Syakira menatap lalu lalang orang-orang sekitar yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Suasana sore banyak pasien yang menghilangkan stress dengan pergi ke taman rumah sakit. Memantik rasa khawatir jika bisa saja di antara para pasien itu, ada Laras salah satunya.
"Maaf, saya tidak bisa."
"Ini tentang Laras dan Fattah."
Syakira menelan saliva kelat.
Yorda ... Syakira mengenal Yorda, tetapi hanya sebatas kenal saja, tidak lebih. Laki-laki yang ia ketahui merupakan sahabat suaminya itu dan calon tunangan dari Laras.
"Mungkin sudah saatnya kamu tahu, Sya ... karena di sini, aku berusaha untuk memahami posisimu yang pelik."
"Maksudnya apa?"
"Kamu harus tahu, mereka bedua bukan saudara sepupu. Om Chandra adalah seorang pewaris tunggal, beliau tidak memiliki saudara sehingga mustahil bagi Fattah tiba-tiba mempunyai sepupu."
Syakira menoleh kasar, menatap wajah pria tampan pria yang lebih tinggi darinya. Perempuan yang mungkin sedang bergumul dengan segudang pertanyaan itu memilih untuk menghela napas.
"Terima kasih atas informasinya, saya permisi dulu." Alih-alih menggubris ucapan Yorda, Syakira buru-buru menghindar dari sana. Kendati ia berusaha menjauh dari laki-laki tersebut, percayalah, perasaannya memikirkan tentang ucapan itu.
Benarkah? Benarkah faktanya adalah Fattah dan Laras bukanlah sepupu seperti apa yang dikatakan Fattah? Lantas untuk apa Fattah berbohong?
Sekali lagi, niat untuk bertemu ayah mertuanya dalam waktu dekat selangkah lebih maju.