Pandangan netra Fattah bersitatap sepasang mata Levin. Mereka tidak sengaja berjumpa, di mana saat itu Levin hendak menaiki kendaraan kesayangan untuk pergi bekerja. Laki-laki berusia dua tahun lebih tua dari Fattah itu tersenyum miring seakan mencemooh, sebelum akhirnya memasang helm full face dan segera memacu motornya melewati sisi tubuh Fattah yang bergeming. Fattah jelas tidak terima dengan perilaku congkak tersebut, tangannya spontan mengepal kuat di sisi tubuh masing-masing. Hubungannya dengan Levin tidak terlalu dekat meski bertetangga sudah lama.
Sekilas kepala Fattah menoleh ke dalam, tepat sasaran ketika netranya berhasil menyoroti Syakira yang tengah sibuk memainkan laptop.
Sejak beberapa hari lalu, wanita itu sudah resmi mengundurkan diri sesuai permintaannya, selalu di standby di rumah seperti keinginannya.
Tetapi, entah mengapa pengorbanan Syakira yang rela meninggalkan pekerjaan di puncak gemilang, tak kunjung membuatnya puas.
Fattah lekas menaiki mobil, meninggalkan carport dalam keadaan kesal dan memanas. Jujur saja, pertemuannya dengan Levin barusan berakhir membuat suasana hati tercekik dan penuh sesak.
Dulu ia akan merasa biasa saja jika berpapasan dengan Levin, tetapi semenjak tahu jika ternyata diam-diam Levin kerap memerhatikan Syakira dalam setiap kesempatan, Fattah jadi sedikit meradang kerapkali bertemu.
"Ayo, buburnya dimakan! Dingin nanti nggak enak." Yorda menyendok sesuap bubur, lalu mendekatkan sendok pada Laras.
Alih-alih membuka mulut, perempuan itu hanya bergeming.
Yorda menghela napas, menjauhkan sendok dari permukaan bibir Laras dan menyimpan kembali di dalam mangkuk.
"Kenapa? Nggak suka kalau aku di sini? Mau Fattah aja yang nemenin dan suapin kamu?" Seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Laras, Yorda langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Eh, nggak gitu, Yor. Tolong jangan tersinggung. Aku cuma lagi males aja sarapan," elak Laras.
Ucapan itu membuat Yorda terkekeh.
Malas sarapan?
Apa penyebabnya? Bukankan kemarin Laras
berhasil mengabiskan sarapan dengan benar ketika ditemani Fattah, kenapa sekarang tidak? Kemana perginya antusiasme itu?
"Mau sampai kapan?"
"Apanya?"
"Bersembunyi? Aku tahu kalau kamu masih berharap sama Fattah, ya kan?"
"Kalau aku masih berharap sama dia tentu saja aku nggak akan menerima lamaran kamu, Yor. Jangan menuduhku sembarangan," sanggahnya tidak terima.
"Kamu terlalu denial, Ras. Kamu memang menerima lamaranku, tapi bukan berarti kamu sudah berhasil melupakan dia. Aku lebih percaya sama tatapanmu dibanding ucapanmu. Mereka terlalu kentara untuk bisa memanipulasi."
Laras tertunduk, memandangi tangannya yang saling menggenggam di atas paha. Ia terdiam untuk beberapa saat lamanya.
Lalu, tiba-tiba ...
"Apa aku salah kalau masih berharap sama dia, Yor?" Tatapannya naik, menatap Yorda yang menatapnya lekat.
"Ya, salah. Sangat salah," sahut Yorda dengan suara lirih.
"Kenapa harus sesakit ini mencintainya?"
Yorda bergeming, bibirnya terkunci sangat rapat.
Tanpa tahu malu, Laras justru mendaratkan kepalanya pada d**a bidang Yorda dan tergugu.
"Aku udah berusaha, bahkan sangat keras. Tapi ..." Laras menengadah menatap Yorda dari bawah.
"Aku nggak bisa, hatiku belum rela. Aku mau dia, aku mau dia, Yor."
Ungkapan dari bibir Laras. Tentu saja menghunjam perasaan Yorda hingga palung terdalam, tidak ada perihal paling menyakitkan dibanding harus mendengar pengakuan wanitanya yang masih berharap pada masa lalu.
Kalau kamu saja sesakit itu? Apalagi aku yang terlalu lama mencintaimu tanpa balas apa pun.
__________________
"Astagfirullah, masuk rumah sakit?"
"....."
"Baik, Pak. Nanti saya ke sana. Tolong titip Om Rizal dulu sebentar, saya pasti akan segera ke sana. Terima kasih atas infonya."
"....."
"Walaikumsalam." Syakira menjauhkan ponsel dari daun telinga lalu membawa ponselnya di depan d**a, ia terduduk lesu di sofa sembari memejamkan mata.
Ujian apa lagi ini? Punggungnya disandarkan pada punggung sofa dan berkomat kamit membaca istighfar.
Dirasa sedikit tenang, ia mencoba menghubungi nomor suaminya, Syakira merasa perlu mengabari Fattah terkait musibah yang menimpa Rizal sekaligus meminta izin pada suaminya itu untuk menjenguk.
Satu, dua, sampai tiga kali panggilan diabaikan oleh si pemilik nomor, pada akhirnya Syakira memutuskan untuk lebih baik pergi tanpa pamit.
Sebetulnya ada sebongkah rasa takut yang mengganjal di hati, tetapi apa boleh buat? Rizal lebih membutuhkannya saat ini.
Dalam keadaan gundah, Syakira bergegas meraih tas yang tersimpan di dalam kamar dan pergi keluar dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di rumah sakit, langkah kaki yang bergerak cepat mendadak berhenti usai sudut matanya menangkap keberadaan Fattah di area sini.
Syakira berpikir kedatangan Fattah ke sini karena akan menjenguk Rizal, maka dari itu tak ragu Syakira mengekor di belakang laki-laki itu.
Ternyata praduganya salah, alih-alih berjalan lurus untuk menghampiri bangsal sang paman dirawat, Fattah justru berbelok ke arah kiri, di mana lorong itu mengarah pada ruang rawat inap dengan fasilitas VIP.
Mas Fattah mau ke mana? Kedua alisnya kontan mengerut, karena dibekali rasa penasaran cukup kuat, pergilah Syakira mengekori langkah Fattah. Berjalan tanpa menimbulkan suara agar Fattah tak menyadari presensinya di sini.
Begitu Fattah berhasil menjangkau pintu berwarna coklat tua dan masuk ke dalam sana, Syakira mempercepat langkah.
Jaraknya sudah cukup dekat dengan pintu, tiba-tiba saja jantungnya berdegup cukup keras. Suara obrolan antara perempuan dan laki-laki? Buru-buru tubuhnya merapat pada dinding dan membuat kedua matanya mengintip di celah pintu.
Spontan tas jinjing di tangan kiri terlepas begitu saja, bersamaan dengan air mata menetes dari kedua pelupuk mata.
Apa ini? Apakah yang dilihatnya ini benar?
Syakira menutup mulutnya dengan telapak tangan meredam suara yang hendak keluar dari kerongkongan. Jangan sampai kesedihannya di sini membuat ia lupa di mana ia berada sekarang.
Sungguh, melihat laki-laki yang dicintai apalagi berstatus sebagai suami, mengecup kening wanita lain dengan penuh kasih sayang, benar-benar berhasil meluluh lantakkan perasaannya.
Oh, ini bukan pertama kali Syakira melihat kemesraan mereka. Tetapi, kali ini ... Kali ini cukup keterlaluan. Apa yang mereka lakukan ini tidak dibenarkan. Syakira bisa mentolerir semua ini jika Fattah bukan suaminya tetapi situasinya sekarang berbeda. Fattah bukan lagi pria lajang, pria itu sudah menjadi suaminya.
Mana mungkin ada sekarang istri yang rela melihat suaminya memberikan melakukan ini semua?
Baiklah! Keputusannya sudah bulat, jika Fattah mengabaikan permintaannya untuk bercerai, maka Syakira akan mengambil langkah kedua. Ia menyeka kasar air matanya dan pergi dari sana. Meninggalkan sepasang sejoli yang tengah dimabuk cinta di dalam sana.
Sepanjang jalan melintasi lorong menuju bangsal di mana Rizal di rawat. Hatinya tak berhenti berdenyut-denyut tak karuan. Rasa-rasanya ada ratusan anak panah tak kasat mata yang menusuknya secara bertubi-tubi tanpa ampun. Masih terekam jelas bagaimana Fattah mengistimewakannya Laras, memberikan kecupan manis pada permukaan kening perempuan itu cukup lama dan cukup dalam, bukan hanya di kening, tetapi ... di bibir.