7

1058 Kata
Masih menunggu kepulangan Fattah dalam keadaan khawatir, Syakira belum bisa bersikap tenang sebagaimana mestinya. Raut kecemasan yang tercetak di wajah selaras dengan gambaran di dalam hati. Seharusnya tidak perlu memikirkan keberadaan Fattah di luar sana, toh laki-laki itu pun tak pernah berharap apa pun darinya. Lupa kah jika kehadirannya di rumah ini sekadar seonggok sampah, yang mana Fattah selalu menghindari seolah jika mereka berdekatan, maka akan datang virus menyebar ke seluruh tubuh. Laki-laki itu hanya akan bersikap baik jika itu di hadapan Rizal pun Chandra saja, selebihnya tidak. Kembali ia melongok dari jendela ketika mendengar suara deru mesin mobil, ternyata salah praduga, bukan kendaraan milik Fattah, melainkan milik tetangga sebelah. Kembali ia menutup jendela berikut tirai berwarna coklat. Kecemasan semakin merajalela tatkala suara alarm berdering mengejutkan aksinya. Syakira bergegas mendekati benda pipih yang tersimpan di meja kecil di samping ranjang dan menggeser layar agar alarm itu berhenti berdenting. Sementara di tempat lain, Fattah masih setia menemani Laras yang saat ini telah pulas dibuai mimpi. Tangan pria itu tak berhenti mengusap pucuk kepala Laras secara konstan. Tatapannya begitu teduh memandangi kontur wajah Laras, tak menyangka jika sekarang mereka berdua akan memiliki kehidupan berbeda. Janji untuk tetap satu selamanya, harus pupus tatkala sebuah restu menjadi penghalang utama. Entah mengapa Chandra tak sekalipun memberikan sejumput restu pada hubungan yang berjalan cukup lama. Tangan kanan yang menganggur, menggenggam erat tapak tangan tersebut dan membawanya mendekati pada permukaan bibir. Kapan lagi momen kebersamaan ini terjalin jika bukan hanya malam ini, jika dulu Fattah adalah pemenang di dalam hati Laras, maka sekarang kemenangan itu tak lagi menjadi pihaknya. Baru hendak melabuhkan kecupan pada punggung tangan milik Laras, Yorda mendorong pelan pintu ruang rawat inap itu sehingga niat tersebut pudar bersamaan dengan rasa terkejut yang timbul. "Terima kasih sudah menjaganya, sekarang kamu boleh pulang, Fat!" Yorda berujar cukup lugas tanpa mau memandangi Fattah sedikit saja, sepasang netra justru jatuh pada sosok Laras yang tertidur nyenyak di sana. "Oke." Fattah bangkit dari posisinya, melepas genggaman tangan yang masih terpaut dengan tangan Laras. "Lain kali, kalau Laras meminta bantuan jangan pernah menggubrisnya. Hargai keberadaan aku sebagai calon tunangan dia." Penuturan Yorda berhasil menghentikan langkah Fattah. Pria itu menoleh hingga tatap mata kedua beradu. Tak ada yang mau mengalah, mereka seakan berkompetisi di sini. Jika dulu ia mengalah demi kebahagian Fattah, maka kali ini ia akan berjuang untuk meraih kebahagiaan sendiri. Fattah bukan lagi orang yang perlu diprioritaskan mengingat status pria itu sudah menjadi suami orang. Sangat gila jika di dalam situasi ini, Yorda mendukung keduanya tetap bersama. "Ya. Jangan khawatir." Hubungan keduanya menjadi renggang cenderung gambar pasca Fattah menikahi Syakira. Yorda menganggap jika Fattah telah berkhianat pada Laras dan melupakan janji untuk tetap bersama, sejak itu Yorda seakan mengibarkan bendera peperangan pada sahabatnya. Padahal kejadian tersebut sama sekali tidak seperti prespektif Yorda. Fattah melangkah keluar, membawa raga letih nya melangkah melintasi lorong rumah sakit yang mulia lengang. Sekilas kepalanya menoleh ke belakang lalu mengepalkan tinju seerat mungkin. _______ "Kenapa belum tidur?" "Aku ... menunggu kepulangan Mas," sahut Syakira sembari menatap lantai. Sungguh ia berdebar-debar tidak menentu dalam posisinya. Tatap mata Fattah yang tajam tak mampu membuatnya berani menatap balik sepasang netra tersebut. "Lain kali nggak usah susah payah menunggu. Jangan membuat saya berhutang karena membuatmu repot." Usai mengatakan demikian Fattah bergegas meninggalkannya, sempat ia melihat bagaimana sirat kekesalan dari wajah Fattah sebelum bergegas pergi begitu saja. Senyumnya memudar dan kedua bahunya merosot spontan, perempuan itu pun menghela napas, sebelum akhirnya menutup pintu dan menguncinya kembali. Mengikuti jejak Fattah–memasuki kamar. Tubuh Syakira terhempas di atas ranjang, pandangannya pergi berkelana menjelajahi seisi sudut kamar. Dia pikir, semua akan membaik setelah mereka sempat berada dalam satu kamar yang sama malam kemarin di kediaman Rizal, tetapi nyatanya semua tetap sama. Fattah tak pernah berubah. Syakira mengubah posisi, memiringkan posisi sembari memeluk guling di sampingnya. Berharap ada perubahan dalam hubungan ini rasanya bagai menegakkan jarum basah, sukar sekali. Sebetulnya apa mau laki-laki itu? Jika memang tidak bisa bersikap baik mengapa hubungan ini tidak lebih baik disudahi saja? Jika memang kendalanya ada apa Chandra, maka Syakira tidak segan mendatangi rumah mertuanya dan berupaya untuk membuat kebersamaan yang tak pernah dilingkup ruang bahagia ini usai sampai di sini. Dipuncak kegundahan yang menekan d**a, di tempat lain Levin menatap dari samping tempat tinggal yang hanya dibatasi oleh tembok setinggi d**a orang dewasa. Rumah itu adalah rumah yang ditinggali oleh Syakira–perempuan yang memiliki tempat spesial di hatinya. Levin tahu tidak seharusnya membiarkan perasaan itu selalu berdebar setiap kali berjumpa Syakira. Karena walau bagaimanapun kesempatan untuk bisa mendapatkan hati dan raga perempuan itu adalah hal mustahil, mengingat Syakira adalah istri orang lain yang notebene tetangga sendiri. Peria tampan itu lantas tertawa kecil mengingat kebodohan yang sengaja dipelihara. Bisa-bisanya dia membiarkan rasa terlarang itu berkembang seiring berjalannya waktu. Yang seharusnya terjadi adalah ia mengubur perasaan aneh tersebut sebelum menjadi lebih besar jumlahnya, tetapi apa-apaan ketika ia tak mencegahnya? Gila! Ini benar-benar gila. Apakah Levin falling in love first sight di tempat ini? Tidak! Sebetulnya perjumpaan mereka untuk pertama kali bukan setelah Syakira menjadi istri dari Fattah, melainkan jauh dari pada ini. Levin kerapkali melihat Syakira ketika perempuan itu hendak pulang bekerja dan menunggu angkutan umum. Maklum arah tempat kerja mereka satu arah dan terbilang cukup dekat. Dan karena ketertarikan tersebut, Levin pun tak segan mencari tahu tentangnya hingga pada berakhir mendapatkan informasi jika perempuan tersebut akan menikah dalam waktu dekat. Dan siapa yang mengira jika perempuan tersebut menikah dengan Fattah–tetangganya. Levin Adrial Atmajaya, putra sulung dari dua bersaudara dari sepasang suami istri yang merupakan petinggi di perusahaan ternama–salah satu anak cabangnya adalah empat ia mendedikasikan diri menjadi seorang presiden direktur. Dan Yorda Alaska Atmajaya adalah saudaranya. Kepribadian yang sederhana tak menunjukkan jati diri sesungguhnya jika Levin merupakan konglomerat muda, terbukti dari kendaraan setiap harinya hanya sebatas motor matic alih-alih mobil sport dengan nilai fantastis. Levin cukup tahu bagaimana sepak terjang kehidupan tetangga yang merupakan sahabat karib adik kandungnya tersebut, pernah mengetahui konflik di antara mereka lantaran menyukai perempuan yang sama. Pertanyaan Levin adalah, apakah Fattah sudah melupakan cinta pertamanya ketika menikahi Syakira? Levin menggeleng pelan. Seharusnya ia tidak perlu repot-repot memikirkan hal yang bukan wewenangnya, memangnya untuk apa? Ini bukan berhiaskan bagiannya bukan? Tubuhnya menegak siap beranjak, udara malam kian dingin dan ia tak bisa membiarkan terlalu lama diterpa angin. Dibunuhnya bara api pada rokok dan benar-benar meninggalkan teras rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN