Syakira menyingkap tirai kamar, sekejap menoleh pada figur Fattah masih dalam keadaan tidur dengan napas teratur. Ia tersenyum kecil, kapan lagi bisa melihat Fattah dalam keadaan tidur? Dia memutar tubuh, bergerak beberapa langkah ke depan guna memangkas jarak. Tangannya bergerak menaikkan selimut hingga batas d**a dan Syakira bergegas meninggalkan kamar.
"Selamat pagi, Om." Di meja makan, Syakira mendapati Rizal sudah rapi mengenakan pakaian salatnya dan sedang menikmati kopi.
"Pagi juga, udah bangun?"
"Iya Om, mau siap-siap masak. Ada bahan apa di kulkas?" Sanya Syakira sembari menuang air minum ke dalam gelas.
"Ya, paling ayam sama sayuran. Tahu, tempe juga masih ada beberapa potong." Syakira mengangguk, tangannya menyimpan cangkir dan bergerak mendekat pada lemari pendingin.
"Sya, Fattah sejak kapan ada di sini?"
"Tadi malam, sekitar jam sebelas," sahutnya sembari mengutip beberapa bahan makanan ke dalam baksom untuk siap dimasak.
"Oh, kayaknya Fattah nggak mau jauh-jauh dari kamu, deh. Sampai tengah malam rela nyusulin kamu ke sini." Syakira hanya tersenyum singkat, tidak terlalu merespon ucapan Rizal. Kembali ia menutup pintu lemari pendingin dan membawa bahan-bahan masakannya ke dapur.
"Ayamnya tinggal sedikit, terus sayuran udah pada habis. Nanti habis masak, aku mau belanja dulu ke pasar." Syakira mengalihkan pembicaraan, sengaja melakukan itu sebab tak mau membahas lebih banyak lagi terkait Fattah. Karena baginya membahas tentang pria yang belum selesai dengan kisah masal lalu hanya akan menambah luka sayat di hati.
"Sama Fattah?"
"Sendirian aja, biar nggak ribet."
"Sya, kamu adalah perempuan bersuami, tidak baik kalau keluar rumah sendiri seperti seorang perempuan lajang. Alangkah baiknya kamu harus mulai membiasakan diri."
"Ya, Om. Maaf."
"Oke, nggak masalah. Sekarang lebih baik kamu ke kamar, bangunin suamimu. Om mau bicara banyak sama dia."
Syakira mengangguk, meninggalkan pekerjaannya dan menjauhi dapur.
Di dalam kamar Fattah sudah selesai mandi dan kembali mengenakan pakaian yang dipakai semalam. Biarpun sebetulnya risih karena tidak terbiasa, tetapi apa boleh buat? Tidak ada baju cadangan dalam mobilnya.
"Mas udah bangun?" Fattah menoleh ke belakang, menyisir postur tubuh Syakira dari atas hingga bawah.
"Sudah," sahutnya singkat, lalu kembali memusatkan atensi pada cermin.
Tak dapat ditampik jika sesekali ekor matanya melirik pada gadis yang masih bertahan dalam posisinya. Entah mengapa, Fattah merasa tertarik untuk selalu mencuri-curi pandang pada perempuan di belakang punggungnya itu.
"Kalau sudah, cepat keluar ya, Mas. Om sudah menunggu di meja makan." Fattah mengangguk dua kali, sebelum akhirnya Syakira beranjak menutup kembali pintu kamar. Meski kamar Syakira tidak seluas kamar di rumah mewah miliknya, tetapi cukup nyaman untuk ditempati. Terbukti ia nyenyak tidur semalam.
___________
"Halo ..."
"......"
"Apa? Kecelakaan? Di mana?" Intonasinya meninggi, panik.
"....." Fattah buru-buru menoleh ke samping, tepat pada refleksi Syakira yang masih sibuk memilih-milih bahan,Fattah menjilat bibir bawah dan menggigitnya.
"Aku di luar." Eksistensi Syakira masih menjadi pusat perhatian.
" ....."
"Iya, kamu tenang, ya. Aku ke sana sekarang!" Ibu jarinya bergegas mematikan sepihak panggilan tersebut. Sebelum akhirnya berjalan menghampiri Syakira.
"Sya."
"Ya, Mas?"
"Saya harus ke rumah sakit sekarang. Bisa pulang sendiri kan?" Pertanyaan itu begitu mudhsnya mengudara, tak memikirkan bagaimana perasaan Syakira yang menganggap dirinya tak pernah berharga di mata Fattah.
"Silakan, Mas. Nanti aku pulang naik taksi, hati-hati, ya," ujar Syakira lalu tersenyum. Fattah tidak bereaksi apa-apa dan hanya memberikan tatapan datar seperti biasa.
Tanpa bicara, Fattah beranjak menjauh hingga menghilang di balik kerumunan para pengunjung yang berlalu lalang di koridor pusat perbelanjaan.
Sesampainya di rumah sakit, kaki yang dibalut oleh sepatu pantofel hitam dengan tektur mengkilap memasuki ruang rawat inap di mana Laras terbaring tak berdaya.
"Laras ...?"
"Kamu kenapa bisa kayak gini?" tanya Fattah dalam keadaan panik. Melihat pujaan hati dalam keadaan terluka, tentu saja Fattah tak bisa tenang sedikit saja. Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang mungkin lebih buruk daripada yang dilihatnya saat ini.
"Aku nabrak pembatas jalan, Fat. Rem motorku blong," sahut Laras sembari menggenggam erat tangan Fattah, kedua alis perempuan itu menggambarkan sebongkah ketakutan.
"Makasih udah mau sempat datang ke sini, maaf aku udah bikin waktu kamu terbuang." Laras bangkit dari posisinya dan bergerak impulsif memeluk Fattah, gerakan itu spontan dilakukan, tetapi ada percikan-percikan tak biasa dari dalam diri Fattah yang masih sangat berharap pada Laras.
"Nggak kok. Untuk kamu nggak ada waktu yang terbuang sia-sia," sahut laki-laki itu seraya mengusap surai panjang Laras yang terurai.
"Terus Yorda tahu tentang ini?" imbuh Fattah lagi.
"Belum ... kamu orang pertama yang aku kabarin, Fat. Aku belum bisa hubungi Yorda karena dia pasti masih sibuk di kantor." Setelah mengatakan hal demikian, Laras mengendurkan pelukannya, dan memberikan tatapan teduh pada laki-laki bermata pasir tersebut, hingga keduanya saling melempar senyum.
"Terus, Syakira nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa maksudnya?"
"Nggak masalah kalau kamu datang ke sini buat jenguk aku?"
"Aku nggak kasih tau dia," sahut Fattah, tangannya dengan lincah bergerak membuka wrap food pada mangkuk berisi bubur ayam dan mulai menyuapi perempuan itu.
"Gimana enak?"
"Nggak enak, ya namanya makanan rumah sakit, tapi karena disuapin sama kamu, its oke lah ya, rasanya bisa kembali aku pertimbangkan." Fattah tertawa mendengar ocehan Laras. Dan kembali menyendok bubur untuk kedua kali.
"Bentar ya, aku angkat telepon dulu." Fattah menyimpan mangkok dan buru-buru mengangkat panggilan dari sang ayah.
___________
"Selamat sore Mbak Syakira." Baru saja turun dari taksi, seseorang di sebelah rumah menyapanya. Pria yang sedang mencuci motor tersebut menghentikan sejenak aktivitasnya guna memberikan sapaan pada Syakira.
"Sore juga, Mas." Syakira membalas senyum pria itu, hanya singkat saja, kemudian tertunduk. Tangannya terulur membuka gerbang yang tertutup rapat, ingin segera masuk ke dalam.
"Dari mana, Mbak? Seharian kemarin kok nggak kelihatan?" Syakira kembali mengarahkan tatapan pada Levin, lalu menjawab, "Oh, saya menginap di rumah Om. Saya masuk duluan, Mas. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Syakira mendorong gerbang dan cepat-cepat melangkah masuk. Perasaannya mendadak tidak enak ketika tak didapati mobil suami di carport , kembali menarik kilas balik beberapa waktu lalu ketika suaminya pergi dalam keadaan terburu-buru ketika di pusat perbelanjaan tadi.
"Ini sudah hampir malam. Kenapa belum pulang?"
Perasaannya menjadi sangat was-was. Tangan kanannya spontan bergerak meraba d**a dan mengusapnya konstan.
Sejauh yang ia tahu jika hari ini merupakan jadwal libur, tidak mungkin di hari libur ini Fattah pergi bekerja.
Syakira membasahi bibir bawah dan mengigitnya.
Sekejap ia menoleh ke belakang, memerhatikan pintu gerbang bercat hitam untuk beberapa saat.
Dia memutar tubuh dan kembali mendekati gerbang, kemudian didorongnya pintu berbahan teralis hingga terbuka separuh.
Tatap mata Syakira jatuh pada Levin yang masih sibuk memandikan motor. Sebetulnya ada hal yang ingin ditanyakan, tetapi tidak jadi.
Opsional bertanya perihal intimate pada pria asing sepertinya bukan ide bagus. Dia tidak kenal Levin secara menyeluruh, hanya kenal biasa saja. Tetapi, ia yakin Levin tahu banyak tentang seluk beluk kehidupan Fattah mengingat mereka bertetangga sejak lama sekali.