Beberapa kali Fattah menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangan. Tidak adanya presensi Syakira di dalam rumah membuat laki-laki itu dilanda gusar. Kepalanya kontan berpikir bagaimana cara menghubungi Syakira untuk meredakan rasa cemas sementara ia sendiri tidak memiliki nomor teman satu atapnya tersebut? Sungguh ironi.
Entah apa yang ada dalam pikirannya, sampai tak pernah berpikir untuk meminta nomor telepon istrinya.
Benar-benar.
Fattah mematikan layar monitor yang tak lagi diminati dan membawa tubuhnya bersandar.
"Pergi ke mana dia ?" ujung jari panjangnya mengetuk beberapa kali permukaan meja kerja dalam kamar dengan gestur gelisah.
Sedang mencoba melenyapkan rasa sialan itu, tetapi alih-alih hilang rasa itu justru kian datang berduyun-duyun.
Tak ingin berlarut-larut dalam kegundahan, Fattah bangkit, bergegas menyambar kunci mobil di atas meja dan melangkah cepat ke arah carport. Fattah tahu ke mana tujuannya pergi untuk menjawab kekhwatiran yang memuakkan ini –mengunjungi rumah Rizal. Tak masalah jika harus menempuh jarak yang terbilang cukup jauh, asal otaknya berhenti berpikir impulsif.
Fattah memacu kendaraan roda empat dalam keadaan stagnan, sepanjang proses menuju rumah paman dari istrinya tersebut, mencoba fokus pada lengannya jalanan sebab sore tadi hujan turun cukup deras, aspal menjadi sangat basah dan rawan sekali kecelakaan, untuk itu kewaspadaan perlu ditingkatkan.
Tiba-tiba saja ia mengerem mendadak ketika sepintas melihat sesuatu lewat di depan mobilnya, setelah dipastikan dengan benar, rupanya tidak ada apa-apa di sekitaran sana. Ia kembali masuk dalam mobil, tidak langsung kembali menjalankan kendaraannya, pria itu masih termenung untuk beberapa saat.
Ada apa ini sebetulnya? Kenapa ia merasa jika ada yang aneh dalam dirinya? Apa semua berkaitan dengan Syakira? Hah perempuan itu! Apa di sana Syakira juga memikirkan hal yang sama, sampai harus kehilangan separuh konsentrasi sepertinya?
Setibanya di rumah Rizal, laki-laki itu lekas turun dan menghampiri pintu. Karena tidak ada bel, ia terpaksa harus menggunakan punggung tangan untuk mengetuk pintu bertekstur keras tersebut. Semoga saja orang di dalam sana mendengar ketukan pintu dari luar.
Satu menit ... dua menit ... tiga menit berlalu ...
Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Fattah menghela napas, terasa sia-sia kedatangannya kemari jika pada akhirnya tak mampu membunuh rasa cemas yang merajai hati. Tubuhnya berbalik hendak meninggalkan teras rumah tersebut.
Tiba-tiba ...
Klek!
Suara kunci pintu berputar, spontanitas kepala Fattah menoleh ke belakang, ratusan otot yang mengendur barusan kembali pada posisi normal, ia tarik kembali rasa sesal yang sempat menyeruak karena menganggap dirinya sia-sia datang ke rumah ini.
"Mas Fattah?" Syakira mendadak rikuh, ia belum pernah memperlihatkan penampilan yang seperti ini, jadi sangat terasa aneh jika Fattah melihatnya. Biasanya ia akan bertemu Fattah ketika sudah mandi dan berpakaian rapi, tidak seperti sekarang–hanya memakai setelan piyama usang dan hijab alakadarnya. Sungguh kedua pipinya memerah seperti tomat karena sadar Fattah memandangi cukup lama.
"Silakan masuk, Mas."
"Terima kasih," ujar pria itu seraya melangkah masuk ke dalam rumah. Tatapannya kembali datar setelah beberapa waktu lalu sempat gusar.
"Kenapa tidak menghubungiku kalau mau menginap di sini?"
"Maaf, aku belum punya nomor Mas."
"Oh ..." sahut Fattah singkat.
"Jadi, itu alasan Mas datang?"
"Nggak juga. Saya ke sini ya karena ingin sekadar mampir saja," kilahnya. Fattah tentu saja gengsi jika harus mengakui kebenaran yang ada.
"Mau minum sesuatu?"
"Tidak perlu." Syakira menghela napas.
Cukup bingung bagaimana menjamu suami sendiri sebab Fattah seperti membangun pembatas yang kokoh dan menjulang, sehingga untuk ukuran Syakira yang kecil tak mampu menggapai dengan mudah.
"Kalau mau tidur di sini, Mas bisa pakai kamarku, biar aku tidur di sofa sana." Ia menunjuk pada sofa ruang tengah yang terhubung langsung dengan dapur. Tidak ada pilihan lain karena di sini hanya terdapat dua kamar tidur, satu kamar Rizal dan satu lagi kamar pribadinya. Sedangkan selama tinggal di rumah Fattah, keduanya tidur dalam keadaan terpisah.
"Dan membuat Om Rizal curiga?" Fattah mengangkat sebelah alis, mencemooh ide Syakira yang cukup bodoh.
Fattah menghela napas membawa pandangannya menatap Syakira yang masih setia berdiri di bawah lukisan pohon di sebelah kanan pintu.
"Saya tidak masalah jika berada dalam satu kamar sama kamu untuk malam ini saja."
_____________
Fattah menatap punggung Syakira yang sedang melakukan salat malam. Ia menghela napas melihat pemandangan yang menyejukkan itu. Seminggu setelah perempuan itu tinggal di rumah besarnya, ia merasa situasi dalam rumah perlahan berubah. Rumah yang dulu biasa hanya disinggahi untuk sekadar tidur, kini lebih hidup oleh kehadiran Syakira dan lantunan ayat sucinya.
Dia berpikir, sebetulnya apa kekurangan Syakira sehingga ia begitu tak menyukai perempuan itu? Apa semua karena kesalahan ayah gadis itu? Fattah tertawa dalam hati mengingat hal menyedihkan itu lagi.
Syakira bergerak melepas mukenanya, dan melipatnya seperti semula.
"Mas belum tidur?" tanyanya dengan tutur kata yang kemah lembut. Sangat sopan ketika menepi di gendang telinga.
"Belum," sahut pria itu singkat, laki-laki itu menyambar ponsel yang semula tersimpan di atas meja dan mulai mengoperasikannya.
"Mumpung belum tidur, boleh aku bicara sesuatu?" Syakira rasa ini adalah waktu yang tepat, memang kapan lagi ada kesempatan seperti ini jika bukan pada malam ini saja? Karena jika di rumah besar Fattah, tentu saja mereka tidak akan pernah berada dalam satu ruang yang sama seperti ini. Jangan berada dalam satu ruangan, pertemuan mereka saja terbilang jarang karena lebih banyaknya Fattah sering menghindari pertemuan mereka.
"Bicara apa?" tanya Fattah tanpa menggeser kedua bola matanya.
"Bagaimana tentang perceraian?"
Pertanyaan Syakira yang cukup mengejutkan, sedikit berhasil membuat Fattah akhirnya memberi tatapan padanya.
"Katakan!"
"Aku tahu pernikahan ini adalah beban buat kamu, Mas. Kamu menikahiku bukan berlandaskan oleh sebuah cinta, tapi ada hal lain yang mendasari. Benar begitu kan, Mas?" Fattah buru-buru membuang muka, percayalah saat ini dia sedang bertanya-tanya dari mana perempuan di depannya ini tahu?
"Lalu?" Syakira tertunduk lidahnya mendadak kelu ketika pertanyaan singkat itu terlontar dari bibir suaminya.
"Apa tidak sebaiknya kita bercerai?" Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya. Tetapi bisa bisa didengar oleh Fattah.
"Tidak akan pernah ada perceraian di antara kita, Sya." Fattah menjawab lugas.
Tidak akan pernah bercerai?
"Kenapa?"
"Jangan tanya alasan apa pun." Karena saya nggak akan mengatakannya! Nikmati saja penderitaan selama seumur hidup bersama saya nanti.
"Kita sudahi sekarang, saya mau istirahat." Fattah merebahkan tubuh dan langsung memunggungi Syakira yang masih terdiam dalam posisi duduk. Sembari memandangi pria yang berusaha menghindarinya, dipejamkan kedua kelopak mata seerat mungkin.
Kenapa mencintai itu sangat menyakitkan? jeritnya dalam hati.